Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

5 Minuman Ini Bisa Bikin Hasil Tes Antigen Positif Palsu Hindari Konsumsinya
28 September 2021
5 Minuman Ini Bisa Bikin Hasil Tes Antigen Positif Palsu, Hindari Konsumsinya!
foto: ilustrasi test swab (detik)


itoday - Saat hendak tes antigen sebaiknya hindari konsumsi lima minuman ini. Peneliti menyebut konsumsinya bisa membuat hasil tes antigen positif palsu. Apa saja lima minuman tersebut?

Saat ini tes antigen masih diandalkan sebagai salah satu upaya diagnosis Covid-19. Tes antigen berfungsi mendeteksi protein di permukaan virus. Cara kerjanya dengan mengambil sedikit cairan hidung atau tenggorokan sebagai spesimen untuk diuji.

Mengenai keakuratannya, tes antigen mungkin memberikan hasil positif atau negatif yang palsu. Artinya seseorang bisa jadi tidak benar-benar positif Covid-19, meskipun hasil tes antigen menunjukkan positif.

Terkait makanan, peneliti baru-baru ini juga menyebut konsumsi minuman tertentu bisa memicu hasil positif palsu pada tes antigen. Mengutip Express (27/9), hal ini disampaikan oleh kelompok peneliti Tübingen University di Jerman.

Lewat International Journal of Infectious Disease, mereka mengungkap lima jenis minuman yang dimaksud. Minuman ini memberi hasil positif palsu pada tes antigen menggunakan Abbott Panbio COVID-19 Ag Lateral For Test.

"Semua soft drink (Coca-Cola, Coca-Cola Zero, Fanta-Orange, Orange soft drink), energy drink (Red Bull), minuman alkohol (vodka, whiskey, dan brandy), air mineral botolan, dan air mineral berkarbonasi menyebabkan munculnya garis merah," kata peneliti. Garis merah sendiri menunjukkan positif Covid-19.

Peneliti lantas mengungkap kemungkinan alasan hasil positif palsu ini. "Bisa jadi karena pH yang berubah dalam larutan ini, yang dapat memodulasi fungsi antibodi yang dilapisi pada garis uji," katanya.

Mereka menyarankan tes antigen paling bagus dilakukan di pagi hari, sebelum seseorang makan atau minum apapun. Hasilnya diyakini bakal lebih akurat.

Lantas sebenarnya seberapa efektif tes antigen dalam mendeteksi Covid-19?

Sebuah penelitian pada Maret 2021 memeriksa hasil 64 studi akurasi tes yang mengevaluasi tes antigen atau molekular cepat yang diproduksi secara komersial. Hasilnya, para peneliti menemukan keakuratan tes yang sangat bervariasi.

Untuk orang dengan gejala COVID-19, tes dengan benar memberikan hasil positif rata-rata 72 persen. Interval kepercayaan 95 persen adalah 63,7 hingga 79 persen, yang berarti para peneliti yakin 95 persen bahwa rata-rata berada di antara kedua nilai ini.

Para peneliti kemudian menemukan orang dengan gejala COVID-19 yang benar dinyatakan positif oleh tes antigen hanya 58,1 persen. Interval kepercayaan 95 persen adalah 40,2 hingga 74,1 persen.

Peneliti menyimpulkan bahwa tes antigen akan lebih akurat jika dilakukan pada minggu pertama seseorang merasakan gejala. Jumlahnya mencapai 78,3 persen. Sementara pada minggu kedua, akurasi hasil tes antigen rata-rata turun menjadi 51 persen.

sumber : detik.com
Bolehkah Minum Air Kelapa Setelah Suntik Vaksin Covid19
21 September 2021
Bolehkah Minum Air Kelapa Setelah Suntik Vaksin Covid-19?
foto: ilustrasi (detik)


itoday - Air kelapa terkenal dengan segudang manfaat sehatnya, terutama untuk hidrasi tubuh. Bolehkah minum air kelapa usai suntik vaksin Covid-19?

Air kelapa memiliki rasa manis yang menyegarkan. Sejak dulu mengonsumsi air kelapa dipercaya bermanfaat baik untuk kesehatan.

Air kelapa mengandung elektrolit yaitu mineral alami yang dapat dengan mudah diserap oleh tubuh sehingga bisa menghidrasi tubuh lebih cepat. Konsumsi elektrolit ini juga bermanfaat untuk menyeimbangkan kadar pH dalam tubuh.

Manfaat lainnya, air kelapa bisa menambah energi karena mengandung vitamin C. Juga menyehatkan sistem pencernaan karena ada magnesium di dalamnya.

Dalam kaitannya dengan Covid-19, belum lama ini air kelapa hijau viral dan sangat diburu karena diklaim bisa menyembuhkan Covid-19. Namun informasi ini tidak benar sebab klaim tersebut belum teruji secara klinis.

Lalu bagaimana dengan konsumsi air kelapa usai vaksin Covid-19? Bolehkah minum air kelapa setelah vaksin Covid-19?

Mengutip India (31/5/21), Dr Sushma Motilal Nehru ternyata justru menyarankan orang-orang untuk minum air kelapa jika mengalami efek demam usai vaksin Covid-19. Air kelapa disebut bisa mengontrol tekanan darah menjaga seseorang tetap terhidrasi usai mengonsumsinya.

Sementara itu menurut Dr Mansoor Ahmad, air kelapa memiliki nutrisi lebih banyak daripada susu dan tidak mengandung lemak ataupun kolesterol. Ia menjelaskan kalau air kelapa mengandung antioksidan, kalsium, magnesium, potassium, vitamin C, dan fosfor yang menjadikannya substitusi baik untuk larutan glukosa dan garam.

Dr Akhauri juga menambahkan, air kelapa membantu detoksifikasi dengan 'membuang' racun yang ada di usus. Minum air kelapa usai vaksin Covid-19 pun merupakan hal yang aman.

Pada intinya, memastikan tubuh terhidrasi adalah hal penting sebelum dan sesudah melakukan vaksin Covid-19. Hal ini salah satunya bisa dibantu dengan konsumsi air kelapa yang bernutrisi.

sumber: detik.com
Samasama Jadi Incaran Ini Perbandingan Vaksin Moderna Pfizer Janssen
18 September 2021
Sama-sama Jadi Incaran, Ini Perbandingan Vaksin Moderna, Pfizer, Janssen
foto: ilustrasi (detik)

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengungkap perbandingan vaksin Moderna, vaksin Pfizer, dan vaksin Johnson & Johnson terkait ketahanan antibodi pasca divaksinasi dosis lengkap.
Melibatkan lebih dari 3.600 orang dewasa, studi menemukan vaksin Moderna 93 persen efektif mencegah pengidap COVID-19 mengalami gejala hingga harus dirawat di rumah sakit.

Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan vaksin Pfizer dan J&J masing-masing 88 persen dan 71 persen efektif mencegah gejala berat COVID-19.

Dalam studi tersebut, CDC melibatkan 3.600 orang dewasa yang menderita COVID-19 dan dirawat di rumah sakit selama rentang waktu 11 Maret hingga 15 Agustus 2021.

"Di antara orang dewasa tanpa kondisi gangguan imun, efektivitas vaksin terhadap kemungkinan rawat inap COVID-19 selama 11 Maret hingga 15 Agustus 2021 lebih tinggi untuk vaksin Moderna (93 persen) daripada vaksin Pfizer-BioNTech (88 persen), dan vaksin Janssen (71 persen)," jelas tim tersebut dalam laporan mingguan CDC soal angka kematian dan penyakit seperti dikutip dari laman CNN.

Selain itu, mereka menemukan perbedaan terbesar antara vaksin yang dibuat oleh Moderna dan vaksin Pfizer/BioNtech didorong oleh adanya penurunan antibodi yang dimulai sekitar empat bulan setelah orang divaksinasi penuh dengan vaksin Pfizer.

"Perbedaan efektivitas antara vaksin Moderna dan Pfizer/BioNTech mungkin disebabkan oleh kandungan mRNA yang lebih tinggi dalam vaksin Moderna, perbedaan waktu antara dosis (3 minggu untuk Pfizer/BioNTech versus 4 minggu untuk Moderna), atau kemungkinan perbedaan antara kelompok yang menerima setiap vaksin yang tidak diperhitungkan dalam analisis," bunyi laporan tim tersebut menambahkan.

Vaksin Pfizer dan Moderna mereka keduanya menggunakan materi genetik yang disebut messenger RNA (mRNA) untuk memberikan kekebalan pada tubuh, namun keduanya menggunakan dosis dan formulasi yang sedikit berbeda.

Vaksin J&J menggunakan virus flu biasa yang tidak aktif yang disebut adenovirus (vektor virus) untuk memunculkan instruksi genetik ke dalam tubuh.

"Satu dosis vaksin vektor virus Janssen memiliki respons antibodi anti-SARS-CoV-2 yang relatif lebih rendah dan efektivitas vaksin terhadap rawat inap COVID-19," kata tim tersebut.

sumber: detik.com
Satgas Beberkan Fakta Pola Lonjakan COVID19 RI yang Berbeda dari Dunia
14 September 2021
Satgas Beberkan Fakta Pola Lonjakan COVID-19 RI yang Berbeda dari Dunia
foto: Ilustrasi (detik)


itoday - Indonesia pada bulan Juli 2021 sempat disebut jadi episentrum pandemi karena mengalami lonjakan kasus COVID-19. Kala itu Indonesia mencatat bisa ada lebih dari 50.000 kasus baru COVID-19 setiap harinya.

Kini situasi di Indonesia sudah lebih baik. Pada Minggu (13/9/2021), Indonesia mencatat 2.577 kasus baru COVID-19, terendah sejak puncak kasus di bulan Juli dan kasus aktif juga turun menjadi di bawah 100.000.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasimito menjelaskan faktanya pola wabah COVID-19 di Indonesia berbeda dengan pola dunia. Ini menjadi bukti bahwa lonjakan COVID-19 di Indonesia sebetulnya tak terlalu berkontribusi pada kasus dunia.

"Uniknya adalah ketika dunia dan negara lain mengalami puncak kedua pada April 2021, Indonesia justru masih terus mengalami pelandaian kasus. Dan ketika Indonesia mengalami puncak kasus kedua di bulan Juli lalu, justru negara-negara lainnya dan dunia tidak mengalami kenaikan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Selasa (14/9/2021).

"Lonjakan kedua pada bulan Juli lalu yang tidak diikuti dengan lonjakan kasus dunia menunjukkan bahwa: meskipun Indonesia mengalami kasus signifikan, namun tidak cukup signifikan untuk berkontribusi terhadap kasus dunia," lanjutnya.

Wiku menyebut saat ini kasus COVID-19 dunia sedang mengalami peningkatan. Beberapa negara melaporkan mengalami lonjakan kasus, termasuk di antaranya negara tetangga.

Kondisi Indonesia yang sudah membaik ini diharapkan dapat bertahan dengan orang-orang tetap menjaga disiplin protokol kesehatan.

sumber: detik.com
Pakar Prediksi Status Pandemi Dicabut Akhir 2022 Ini Alasannya
13 September 2021
Pakar Prediksi Status Pandemi Dicabut Akhir 2022, Ini Alasannya
foto: Budi Gunadi (kompas)


itoday - Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memprediksi pandemi Corona akan terkendali akhir tahun depan. Namun, untuk memastikan terkendalinya wabah Corona hingga masa tersebut masih cukup panjang.

Sementara tren kasus COVID-19 di Indonesia diakuinya sudah begitu membaik ketimbang puncak kasus COVID-19 yang dilaporkan akhir Juli menjelang Agustus. Meskipun positivity rate Corona mencetak rekor terendah di angka 3 persen, Dicky mengingatkan jumlah testing memakai PCR masih sangat rendah.

"Sayangnya testing masih belum memadai, karena pcr test-nya kecil sekali di bawah 50 ribu, untuk negara yang sebesar kita 270 juta, amat sangat kecil, dan ini perlu menjadi catatan, karena kita tidak boleh abai, pandemi ini masih ada, masih jauh," ingatnya.

"Walapun saya memprediksi mudah-mudahan akhir tahun depan sudah bisa dicabut paling tidak status pandeminya oleh WHO," sebut dia.

Dicky melanjutkan, sembari menunggu tahapan pandemi menuju epidemi dan endemi, banyak yang perlu dipersiapkan. Hal ini dikarenakan bukan suatu hal yang mustahil jika lonjakan kasus COVID-19 kembali terjadi.

Terlebih Indonesia adalah negara kepulauan. Penting menurutnya, untuk memastikan intervensi pencegahan kasus COVID-19 hingga sejumlah daerah terpencil.

Maksimal berapa jumlah kasus saat Corona terkendali?

"Setidaknya 10 kasus infeksi per kapita, per 100 ribu itu sudah bagus, itu harus jadi target, kematian 2 kasus per kapita dengan tes positivity rate yang terus menerus stabil, paling tinggi 5 persen dan itu harus dicapai di semua wilayah," pungkas dia.

sumber: detik.com
Kemenkes 224 Persen WNI Positif COVID19 Saat Tiba di Indonesia
11 September 2021
Kemenkes: 2,24 Persen WNI Positif COVID-19 Saat Tiba di Indonesia
foto: ilustrasi (liputan6)

itoday - Data Kementerian Kesehatan mencatat, 2,24 persen Warga Negara Indonesia (WNI) positif COVID-19 saat tiba kembali di Indonesia. Mereka terdeteksi positif setelah dilakukan pemeriksaan di pintu kedatangan Tanah Air, yang mana sebelumnya dinyatakan negatif saat keberangkatan dari negara lain.

"Kami sampaikan data, bahwa 2,24 persen Warga Negara Indonesia yang kembali dari perjalanan luar negeri ini teridentifikasi positif setelah kembali ke Indonesia," ungkap Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers Mengantisipasi Varian Baru COVID-19, Jumat (10/9/2021).

"Meski tes dari negara asal datang sebelumnya dinyatakan negatif."

Selain WNI, sebanyak 0,83 persen Warga Negara Asing (WNA) yang datang ke Indonesia dinyatakan positif Corona setelah dites di pintu masuk kedatangan Indonesia, yang sebelumnya dari negara asal kedatangannya dinyatakan negatif.

Dari data di atas, Nadia menegaskan, virus Corona semakin mudah bermutasi ketika seseorang yang terpapar melakukan aktivitas perjalanan yang tinggi. Semakin banyak infeksi juga akan menyebabkan semakin mudah virus ini bermutasi.

"Tentunya, Kementerian Kesehatan selalu terus-menerus melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait dalam rangka pengawasan di pintu-pintu masuk negara Republik Indonesia ini," tegasnya.

"Upaya tersebut demi mengantisipasi masuknya varian Virus Corona baru ke Indonesia."

Pemeriksaan PCR dan Pengetatan Karantina

Terkait pengawasan para pelaku perjalanan di pintu masuk kedatangan, Kemenkes mengimbau pintu-pintu masuk ke Indonesia, seperti bandara udara dan pelabuhan laut internasional untuk terus memperketat prosedur skrining dan prosedur pengawasan.

"Hal-hal yang menjadi mandatory atau kewajiban adalah melakukan pemeriksaan PCR pertama saat hari pertama kedatangan," jelas Siti Nadia Tarmizi.

"Dilanjutkan dengan menjalankan karantina sampai hari ke-8 bila pemeriksaan hasil PCR pertamanya negatif dan pada hari ke-7 dilakukan pemeriksaan PCR kedua saat yang bersangkutan masih menjalani karantina."

Pemeriksaan kedua di hari ke-7 untuk memastikan juga pelaku perjalanan luar negeri positif atau negatif COVID-19. Jika hasilnya negatif, baru dinyatakan selesai melaksanakan karantina.

"Tetapi bila pada hasil pemeriksaan PCR kedua di hari ke-7 kedatangan pelaku perjalanan luar negeri ini menjadi positif COVID-19, maka harus melanjutkan untuk laksana. Artinya, melakukan isolasi terpusat ataupun perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit," imbuh Nadia.

Kerja Sama Pengetatan Karantina dengan Pemda

Protokol pemeriksaan PCR dan pengetatan karantina bisa diterapkan Satgas COVID-19, bandar udara dan pelabuhan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Ini karena beberapa pintu masuk dari pelaku perjalanan internasional ada di beberapa provinsi lainnya.

Menurut Siti Nadia Tarmizi, karantina harus dilakukan di daerah yang menjadi pintu masuk kedatangan luar negeri, terutama di Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan pintu masuk ke luar negeri lainnya.

"Dukungan dari pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan dalam menjaga mobilisasi pintu masuk ke Indonesia ini," terangnya.

"Tentunya, demi melindungi masyarakat kita agar tidak terpapar dari Virus Corona varian baru yang kita ketahui lebih cepat penularannya dan akan menjadi tantangan cara pengendaliannya."

sumber: liputan6.com

Terpopuler