Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Duh Studi Ungkap Ivermectin Sebabkan Kemandulan pada Lelaki
10 September 2021
Duh, Studi Ungkap Ivermectin Sebabkan Kemandulan pada Lelaki
foto: Ivermectina (afp)


itoday - Ivermectin sempat digadang-gadang punya manfaat untuk obat Covid-19. Tapi, banyak studi menentang hal tersebut.

Bahka, studi terbaru mengungkapkan bahwa efek terapi Ivermectin pada laki-laki dapat berpengaruh pada kesehatan reproduksi laki-laki.

Para peneliti di tiga universitas di Nigeria mempelajari efek Ivermectin, yang digunakan untuk mengobati kebutaan sungai atau kebutaan yang terjadi karena penyakit dan kondisi medis lainnya pada manusia, terhadap jumlah sperma laki-laki.

Menurut penelitian mereka, 85 persen lelaki yang menggunakan Ivermectin menjadi steril atau bisa mengarah ke kemandulan.

Ivermectin sering digunakan sebagai obat cacing untuk memerangi parasit pada hewan dan beberapa orang telah menggunakannya untuk melawan COVID-19 meskipun ada rekomendasi para ahli kesehatan yang melarangnya.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Nigeria menyaring 385 pasien dengan kebutaan sungai untuk menyelidiki efek Ivermectin pada fungsi sperma.

Para peneliti menemukan bahwa 85 persen dari semua pasien lelaki yang dirawat di pusat tertentu dengan ivermectin di masa lalu yang pergi ke laboratorium untuk tes rutin ditemukan telah mengembangkan berbagai bentuk, tingkat dan derajat disfungsi sperma.

Disfungsi antara lain sebagai berikut:

- Jumlah sperma rendah
- Morfologi sperma yang buruk
- Dua kepala
- Kepala kecil
- ekor ganda
- Tidak adanya ekor
- Sel sperma albino
- Azoospermia, atau tidak adanya sperma motil
- Motilitas sperma yang buruk

“Ada penurunan yang signifikan dalam jumlah sperma pasien setelah perawatan mereka dengan Ivermectin,” penulis penelitian menyimpulkan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak mengizinkan atau menyetujui Ivermectin untuk mengobati atau mencegah COVID-19 pada manusia atau hewan.

“Jangan pernah menggunakan obat yang ditujukan untuk hewan pada diri sendiri atau orang lain. Produk hewan Ivermectin sangat berbeda dari yang disetujui untuk manusia. Penggunaan Ivermectin hewan untuk pencegahan atau pengobatan COVID-19 pada manusia berbahaya,” lapor FDA.

Dr Ogechika Alozie, pakar penyakit menular di El Paso, mengatakan untuk menggunakan metode pengobatan Covid-19 yang sudah teruji.

“Kenyataannya adalah ini: hal-hal yang kita tahu bekerja sejauh ini, deksametason, actemra, remdesivir di rumah sakit. Hal-hal yang berfungsi sebelum Anda pergi ke rumah sakit seperti infus antibodi dan vaksin memiliki lebih banyak data daripada Ivermectin, ”katanya.

Uji klinis yang mengevaluasi apakah tablet Ivermectin dapat digunakan untuk mengobati COVID-19 sedang berlangsung, tetapi saat ini tidak ada data yang tersedia untuk menunjukkan kemanjuran dalam memerangi virus.

sumber: suara.com
Risiko COVID19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
09 September 2021
Risiko COVID-19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
foto: ilustrasi (liputan6)


itoday - Obesitas atau kegemukan dapat berdampak buruk pada kesehatan. Bahkan, di masa pandemi COVID-19, obesitas dapat menjadi faktor risiko yang memperparah keadaan pasien.

Seperti disampaikan pulmonolog dari Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Efriadi. Menurutnya, pada pasien dengan masalah berat badan, reseptor atau tempat melekatnya virus Corona cukup banyak atau lebih banyak ketimbang orang yang tidak obesitas.

“Sederhananya, virus Corona yang menempel pun jadi lebih banyak. Artinya reaksinya akan lebih cepat,” ujar Efri kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, (8/6/2021).

Efri, menambahkan, masalah kesehatan pada orang dengan masalah berat badan tidak hanya terkait obesitasnya saja. Pada orang obesitas, umumnya ada penyakit penyerta atau komorbid lain.

“Kalau orang dengan obesitas biasanya masalahnya bukan hanya dengan obesitas, ada penyakit penyertannya. Seperti masalah hipertensi, kolesterol, diabetes, dan penyakit lainnya,” katanya.

Penyakit Penyerta

Walau demikian, COVID-19 pada orang yang murni obesitas tanpa komorbid juga tetap dapat jadi masalah apalagi jika sampai dirawat di rumah sakit.

“Tentunya dengan kondisi obes biasanya bernapas aja susah kan, apalagi jika kena parunya, bisa lebih susah lagi bernapas.”

Berlaku pada Semua Usia

Risiko COVID-19 gejala parah tidak hanya berlaku pada orang obesitas dari golongan usia tua saja, melainkan dari berbagai tingkat usia.

“Dari seluruh tingkatan usia, kita sempat ketemu pasien COVID-19 dengan obesitas dari usia muda sekitar 23 tahun dan gejalanya berat.”

Bahkan, pemuda obesitas tersebut sempat dipasang ventilator kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19, tambahnya.

“Jadi, obes itu bukan hanya pada orang tua saja yang bermasalah, bagi usia muda pun ketika obes bermasalah.”

Efri pun berpesan, bagi teman-teman yang memiliki masalah berat badan tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Hindari kerumunan, kalau tidak ada sesuatu yang mendesak enggak usah keluar dulu. Kurangi juga mobilitas, kalau acara bepergian tidak terlalu penting sebaiknya ditunda dulu.”

“Yang tak kalah penting, lakukan pola hidup sehat, tidur cukup, makan makanan bergizi, olahraga disesuaikan kemampuan, dan jaga kondisi mental,” tutupnya.

sumber: liputan6.com
Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal Ini Respons Kemenkes
08 September 2021
Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal, Ini Respons Kemenkes
foto: Sertifikat Vaksin (menpan)


itoday - Lebih dari 13,8 ribu warganet mengisi petisi yang disediakan Change.org mengenai 'Batalkan Kartu Vaksin sebagai syarat Administrasi'. Pembuat petisi diketahui bernama Lilis.

Kementerian Kesehatan dalam hal ini diwakili Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu, berkomentar bahwa itu bukan kewenangannya memberikan pernyataan mengenai petisi penolakan sertifikat vaksin sebagai syarat administrasi.

"Saya jawab, kewenangan itu bukan di saya," terang Maxi saat webinar daring di Youtube FMB91D_IKP, Selasa (7/9/2021).

Namun, Maxi menilai bahwa sangat wajar ketika ada segelintir masyarakat yang melakukan penolakan, protes, hingga membuat petisi seperti yang tengah ramai sekarang.

"Wajarlah kalau ada yang melakukan petisi, protes, tidak suka, kalau kartu vaksin menjadi syarat. Saya lihat juga di daerah tertentu ada penolakan seperti ini, itu wajar. Itu kan aspirasi dari warga. Ini harus kita terima," lanjutnya.

Di kesempatan itu, Maxi coba mengambil sisi lain dari upaya penolakan vaksin yang dilayangkan di media sosial bahwa mungkin masyarakat juga banyak yang menanti vaksin siap di wilayahnya, namun hingga sekarang stoknya masih kurang.

"Mungkin, yang menjadi protes, ... jangan-jangan mereka sudah punya kesempatan, sudah mau, sudah ada waktu, tapi vaksinnya masih kurang. Itu yang kami rasa perlu dan harus diperbaiki segera," paparnya.

"Kalau syarat itu bisa (diperbaiki), dengan ketersediaan vaksin dan akses yang lebih mudah. Kalau memang soal itu, kami akan benahi," tambah Maxi.

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan bahwa syarat menunjukkan sertifikat vaksin saat masuk mal atau kafe itu bukan bentuk diskriminasi dan konspirasi.

"Itu bukan diskriminasi apalagi konspirasi. Pihak mal atau kafe hanya melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk mendukung kesehatan karyawan dan pengunjungnya, plus taat aturan," paparnya di Twitter, belum lama ini.

Ia menambahkan, "Lagipula, akses vaksinasi di Jakarta amat luas. Apakah kalian belum menemukan alasan enggan divaksin selain isi vaksin itu terdapat microchip? Pun jika tidak bisa atau ditunda vaksinnya karena komorbid, Anda bisa gunakan surat keterangan dokter untuk masuk mal," terang Prof Beri.

Ya, salah satu kegelisahan yang diutarakan pembuat petisi adalah mempertanyakan kebijjakan pemerintah soal sertifikat vaksin sebagai syarat masuk mal, tetapi bagaimana dengan mereka yang secara medis tidak direkomendasikan menerima vaksin Covid-19 karena komorbid yang dimiliki.

"Jika aturan ini dibuat sebagai dasar untuk memasuki area mal, bagaimana dengan orang yang tidak memenuhi syarat untuk divaksinasi? Terutama bagi mereka para penderita komorbid yang seharusnya ada perhatian khusus terkait hal ini. Jika aturan ini tetap diberlakukan bagaimana dengan orang yg tidak memenuhi persyaratan vaksin namun mereka tetap harus melakukan vaksin karena kebijakan tersebut," ungkap keterangan yang ada di laman petisi tersebut.

sumber: okezone.com
Pemerintah Tingkatkan Pengawasan Pintu Masuk Cegah Penyebaran Covid19 Varian Mu
07 September 2021
Pemerintah Tingkatkan Pengawasan Pintu Masuk Cegah Penyebaran Covid-19 Varian Mu
foto: Johnny G. Plate (merdeka)


itoday - Pemerintah bergerak cepat dalam mengantisipasi masuknya virus Covid-19 varian Mu ke tanah air dengan meningkatkan pengawasan di seluruh area pintu masuk ke Indonesia dari luar negeri.

"Pemerintah bergerak cepat dan tepat untuk mengantisipasi masuknya Covid-19 Varian Mu atau B.1.621. Semua ini dilakukan agar Indonesia tidak mengalami gelombang ketiga Covid-19," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate, Selasa (7/9).

Johnny memastikan bahwa pengawasan dilakukan di seluruh pintu masuk, seperti bandara dan pelabuhan. Pemeriksaan dilakukan secara whole genome sequencing kepada seluruh WNI atau WNA yang memiliki riwayat perjalanan ke negara dengan tingkat penyebaran Varian Mu tinggi, seperti Kolombia, Jepang, India, Hongkong, Ekuador.

Whole genome sequencing merupakan upaya untuk mengetahui penyebaran mutasi virus SARS-Cov2 atau Covid-19. Meskipun per Senin (6/9), Varian Mu telah ditemukan di 46 negara, namun varian ini belum ditemukan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Johnny melanjutkan hingga kini WHO mengategorikan Varian Mu sebagai Variant of Interest (Vol) atau varian yang perlu kajian lebih lanjut terkait dampak dalam penularan dan tingkat laju penularannya.

Johnny juga menyebutkan bahwa pemerintah mendorong seluruh pemangku kebijakan di daerah untuk mendukung pemeriksaan whole genome sequencing dengan mengirimkan sampel. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses analisis dan pemeriksaan.

"Pemerintah minta masyarakat untuk tak terjebak euforia penurunan kasus harian Covid-19 dan pembukaan di beberapa sektor secara gradual, karena potensi masuknya varian baru tetap ada. Seluruh masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan disiplin memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan serta menyegerakan vaksinasi bagi yang belum," ujar Johnny.

sumber: merdeka.com
Satgas Covid19 IDI Ungkap Efek Samping Vaksin yang Bisa Berbahaya Apa Saja
06 September 2021
Satgas Covid-19 IDI Ungkap Efek Samping Vaksin yang Bisa Berbahaya, Apa Saja?
foto: ilustrasi vaksinasi (ist)


itoday - Efek samping setelah disuntik vaksin Covid-19 menjadi kekhawatiran terbesar bagi masyarakat. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) prof. dr. Zubairi Djoerban mengatakan, hal tersebut lumrah saja.

Hanya saja, masyarakat juga perlu tahu perbedaan efek samping vaksin yang bisa berbahaya bagi tubuh dan umum terjadi. Dokter Zubairi menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

"Harus dipahami dulu. Efek samping pascavaksin adalah normal. Itu tanda vaksinnya “nendang” dan sistem kekebalan tubuh Anda melakukan tugasnya. Dia itu sedang membangun perlindungan terhadap virus," kata prof Zubairi dikutip dari tulisannya di akun Twitter pribadinya, Minggu (5/9/2021).

Meski begitu, tidak terjadi efek samping sama sekali atau hanya ringan pasaca vaksinasi juga hal yang normal, lanjutnya.

"Seperti saya, ketika divaksin Moderna. Saya demam setengah jam setelah disuntik. Tapi ada juga memang yang demam tiga hari dan lengan bekas suntikannya bengkak," cerita dokter Zubairi.

Adapun efek samping vaksin yang harus diperhatikan, jika mengalami sakit kepala parah lebih dari tiga hari, sakit perut parah, bintik-bintik merah kecil di bawah kulit, atau sesak napas. Dokter Zubairi menyarankan, harus segera konsultasi dengan petugas medis jika kondisi tersebut terjadi setelah vaksinasi.

"Apalagi jika ada anafilaksis (reaksi alergi) atau sampai pingsan. Segera konsultasi," imbuhnya.

Karena alasan itu pula kondisi seseorang harus diamati selama seperempat jam pascavaksin. Dokter spesialis penyakit dalam itu juga menyarankan, setelah divaksin, ada baiknya juga minum parasetamol tiap delapan jam selama 24 jam.

sumber: suara.com
Deteksi COVID19 dengan Metode Kumur BioSaliva Miliki Sensitivitas Hingga 95 Persen
04 September 2021
Deteksi COVID-19 dengan Metode Kumur, BioSaliva Miliki Sensitivitas Hingga 95 Persen
foto: Bio Saliva (ist)


itoday - Kini PT. Biofarma memproduksi alat diagnosis COVID-19 dengan metode kumur (garled). Alat tersebut dinamai BioSaliva yang diklaim nyaman saat digunakan.

Alat tes RT Polymerase Chain Reaction (PCR) tersebut memiliki sensitivitas hingga 95 persen sehingga dapat digunakan sebagai alternatif selain menggunakan PCR Kit.

BioSaliva juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 1 April 2021 dengan Nomor KEMENKES RI AKD 10302120673.

Media pembawa virus ini berfungsi untuk deteksi RNA Sars-CoV2 penyebab COVID-19 dengan metode RT PCR menggunakan sampel saliva atau air liur.

Umur simpan BioSaliva bisa mencapai 2 tahun. Sampel saliva juga dapat stabil di suhu ruang hingga 30 hari, suhu -20°C, dan suhu -80°C,” seperti mengutip sehatnegeriku.kemenkes.go.id, Sabtu (4/9/2021).

Cara Menggunakan

Biofarma tengah melakukan uji post market BioSaliva di Kementerian Kesehatan dan di tiga laboratorium, yakni:

-Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

-Laboratorium Biomedik Lanjut, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran.

-Laboratorium Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.

Pengguna BioSaliva dianjurkan tidak makan dan minum, merokok, berkumur dengan mouthwash selama 1 jam sebelum tes.

BioSaliva digunakan dengan cara berkumur di bagian tenggorokan dalam. Sebelum berkumur, pengguna BioSaliva dianjurkan menarik napas secara kuat, lalu batuk sedikit untuk mengeluarkan dahak tanpa dibuang.

Selanjutnya, masukkan cairan kumur yang tersedia dalam kemasan BioSaliva ke dalam mulut dan mulai berkumur di bagian dalam tenggorokan.

Setelah itu, keluarkan cairan kumur dari dalam mulut ke dalam wadah dan campurkan dengan larutan pencampur yang juga tersedia dalam kemasan. Kemudian kocok dan sampel siap dites di laboratorium.

Terkait Produk

Dalam satu kemasan BioSaliva terdapat petunjuk penggunaan, satu wadah cairan kumur, satu wadah larutan pencampur, dan satu corong.

Produk ini menjawab tantangan laboratorium klinis akan kebutuhan tes dengan kondisi lapangan di Indonesia, yang umumnya jauh dari fasilitas kesehatan.

“Diharapkan pula, tes PCR dengan metode kumur ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas tracing nasional terutama untuk kalangan anak-anak dan Lansia yang membutuhkan kenyamanan lebih dalam pengambilan sampel.”

Ke depannya proses pengambilan sampel dapat dilakukan di area non-medis dengan pengawasan tenaga kesehatan, sehingga mengurangi kerumunan dan menghindari kontak.

Proses pengambilan sampel yang praktis juga memungkinkan pengambilan sampel dalam jumlah yang sangat besar tanpa perlu menambah tenaga medis.

Direktur Pemasaran Bio Farma, dr. Sri Harsi Teteki, mengatakan Biofarma terus berkontribusi dalam melakukan proses kemandirian dalam hal diagnosis COVID-19.

“Seperti kita ketahui banyak sekali produk yang masih impor, sehingga atas riset yang kita lakukan (melalui BioSaliva) mudah-mudahan bisa menjadi pilihan dari Kementerian Kesehatan untuk regulasi ke depannya produk dalam negeri ini bisa diutamakan,” katanya dalam pertemuan langsung antara Biofarma dan Kementerian Kesehatan di gedung Biofarma, Bandung, Kamis (2/9/2021).

Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Ir. Sodikin Sadek, M.Kes mengapresiasi Biofarma atas produk BioSaliva.

“Saya apresiasi hasil penelitian ini karena ini produk dalam negeri,” kata Sodikin.

sumber: liputan6.com

Terpopuler