Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Gunakan NIK Jokowi untuk Lihat Sertifikat Vaksin Kemendagri Ada Sanksi Pidananya
03 September 2021
Gunakan NIK Jokowi untuk Lihat Sertifikat Vaksin, Kemendagri: Ada Sanksi Pidananya
foto: Joko Widodo (setpres)


itoday - Warganet dihebohkan dengan beredarnya sertifikat vaksin Covid-19 yang diduga milik Presiden Joko Widodo atau Jokowi, yang memuat NIK, dan diduga dari aplikasi PeduliLindungi.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakhrulloh mengingatkan, hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Pasalnya, ada sanksi pidananya, lantaran dianggap bukan kebocoran NIK.

"Ini bukan kebocoran NIK, tetapi menggunakan data orang lain untuk mendapatkan data informasi orang lain. Ada sanksi pidananya untuk hal seperti ini," kata Zudan saat dikonfirmasi, Jumat (3/9/2021).

Menurut dia, ketentuan pidana tersebut diatur dalam UU Administrasi Kependudukan (Adminduk) Nomor 24 Tahun 2013.

Adapun secara spesifik yaitu pada pasal 94 yang berbunyi; Setiap orang yang memerintahkan dan/atau memfasilitasi dan/atau melakukan manipulasi Data Kependudukan dan/atau elemen data Penduduksebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).

Sertifikat Vaksin Covid-19 Presiden Jokowi
Warganet dikejutkan dengan beredarnya sertifikat vaksinasi Covid-19 yang diduga milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media sosial. Pantauan Tekno Liputan6.com, foto sertifikat vaksin dengan tulisan Ir Joko Widodo muncul di lini masa Twitter, Jumat (3/9/2021) pagi.

Selain nama, di gambar sertifikat vaskinasi Covid-19 itu juga terlihat NIK dan tanggal lahir, nomor ID vaksinasi, tanggal vaksinasi, QR code, serta jenis vaksin dan batch vaksinasinya.

Warganet pun banyak yang mengomentari isu kebocoran data pribadi ini di Twitter.

sumber: liputan6
Kemenkes Klaim Penuhi Target Jokowi Soal Vaksinasi 1 Juta Dosis di Agustus
02 September 2021
Kemenkes Klaim Penuhi Target Jokowi Soal Vaksinasi 1 Juta Dosis di Agustus
foto: Nadia Tarmizi (rmmol)


itoday - Vaksinasi yang menjadi andalan pemerintah untuk menyelesaikan masalah pandemi Covid-19 di dalam negeri selalu ditetapkan naik target jumlah sasarannya oleh Presiden Joko Widodo.

Pada bulan Agustus 2021, Jokowi meminta agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merampungkan target 1 juta vaksinasi untuk warga Indonesia.

Target tersebut diklaim Kemenkes telah tercapai pada akhir Agustus kemarin, atau tepatnya pada Selasa (31/8).

"Sesuai dengan peta jalan kita tanggal 31 Agustus kemarin kita mencapai 100 juta dosis vaksin Covid-19," ujar jurubicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi dalam jumpa pers virtual yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (1/9).

Siti menyatakan, vaksinasi Covid-19 yang menjadi game changer yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan potensi penularan virus di masyarakat harus terus menerus dilaksanakan.

"Kita tahu bahwa vaksinasi merupakan salah satu yang penting dalam menurunkan laju penyebaran virus Covid-19," demikian Siti.

Dalam pendataan yang dicatat Kemenkes pada Selasa (31/8), terdapat 63.491.357 warga yang sudah menerima vaksin Covid-19 untuk dosis yang pertama.
Sementara untuk warga yang sudah menrima vaksinasi dosisi kedua ada sebanyak 36.050.688 orang. Kemudian, yang menerima dosisi ketiga ada 640 532 orang.

sumber: rmol.id
Varian Mu Bikin WHO Resah Kemungkinan Resisten Terhadap Vaksin
01 September 2021
Varian Mu Bikin WHO Resah! Kemungkinan Resisten Terhadap Vaksin
foto: Varian Mu (ist)


itoday - Varian Mu, varian baru mutasi Covid-19 menjadi perhatian dariBadan Kesehatan Dunia (WHO). Daam laporan terbaru mereka bahwa pihaknya tengah memantau varian baru Covid-19 yang dikenal sebagai Mu. Varian ini pertama kali teridentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.

Menurut laporan France 24, varian Mu secara ilmiah dikenal dengan kode B.1.621 ditetapkan oleh WHO sebagai variant of interest (VoI) berdasar laporan mingguan mereka yang terbit Selasa, (31/8/2021).

Dalam penjelasannya, WHO mengatakan bahwa varian ini memiliki mutasi yang menunjukkan risiko resisten terhadap vaksin dan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami varian Mu ini.

"Varian Mu ini memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan (vaksin)," kata laporan WHO tersebut, dikutip MNC Portal, Rabu (1/9/2021).

Kemunculan varian baru ini memunculkan kekhawatiran kembali warga global, terlebih kasus infeksi kembali meningkat di beberapa negara, didominasi infeksi varian Delta, terutama bagi mereka yang belum divaksin. Pun wilayah dengan pelonggaran prokes yang sangat bebas.

"Semua virus, termasuk SARS-CoV2 penyebab Covid-19 bermutasi dari waktu ke waktu dan sebagian besar mutasi memiliki sedikit atau tidak pengaruh pada sifat virus itu sendiri," ungkap laporan tersebut.

Menjadi catatan bersama, tetapi mutasi tertentu dapat memengaruhi sifat virus dan ini memberi dampak buruk pada eksistensi virus itu sendiri yaitu sifat menyebarnya lebih mudah atau lebih kuat untuk menginfeksi manusia. Ini yang menjadi bahaya.

"Saat mutasi virus terjadi dan memengaruhi virus, ada yang membuat virus itu semakin kuat dan menyebabkan tingkat keparahan saat menginfeksi manusia semakin parah, penularan semakin gampang, dan ketahanan terhadap vaksin semakin besar, pun pada obat-obatan atau terapi pencegahan lainnya," tambah laporannya.

Sampai saat ini, WHO menetapkan 4 varian Covid-19 sebagai kelompok VOC atau variant of concern, termasuk Alpha yang diidentifikasi di 193 negara dan Delta di 170 negara.

Varian Mu sendiri tak hanya dilaporkan di Kolombia. WHO menerima laporan kasus varian Mu di Amerika Selatan lainnya dan beberapa negara Eropa. Itu kenapa level varian Mu ditetapkan sebagai VoI.

"Secara global, kasus varian Mu itu di bawah 0,1 persen, tetapi di Kolombia angkanya hingga 39 persen," terang WHO.

sumber: sindonews.com
Percepat Herd Immunity Serbuan Vaksinasi TNI Dosis Kedua Digelar di Perumahan Pesona Cilebut 2
30 August 2021
Percepat Herd Immunity, Serbuan Vaksinasi TNI Dosis Kedua Digelar di Perumahan Pesona Cilebut 2
foto: ilustrasi (rmol)


itoday - Percepat vaksinasi nasional dalam upaya membentuk herd immunity, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bekerja sama dengan warga Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15, Desa Cilebut Barat, Kabupaten Bogor menggelar serbuan vaksinasi dosis kedua untuk warga. Sedikitnya ada 417 warga yang ikut serbuan vaksinasi TNI ini.

“TNI terus mendukung percepatan vaksinasi yang dicanangkan oleh bapak presiden, selama ini sentra vaksinasi belum banyak menyentuh ke wilayah tingkat RW dan perumahan, alhamdulillah kita sudah lakukan hingga dosis vaksin kedua di wilayah RW 15 di perumahan Pesona Cilebut 2, Desa Cilebut Barat ini,” tutur Letkol Kesehatan Ahmad Triono, penanggungjawab pelaksana vaksinasi kepada wartawan dalam keterangan tertulis, Senin (30/8).

Dalam sebulan terakhir ini TNI terus berupaya melakukan serbuan vaksinasi di berbagai daerah. Tak hanya di Kabupaten Bogor, serbuan vaksinasi juga serentak dilakukan di Jakarta yang dipusatkan di Cilandak Town Square atau Citos, Jakarta Selatan, ada juga di Semarang, Jawa Tengah, Jogja dan baru-baru ini akan dilakukan di Papua. “Dengan banyaknya kegiatan vaksinasi lewat serbuan vaksinasi, kami berharap pandemi ini bisa kita tekan jadi endemik,” tambah Ahmad.

Sementara itu warga Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15 Desa Cilebut Barat berterima kasih atas kegiatan serbuan vaksin TNI dosis kedua ini. “Alhamdulilah saya sudah vaksin dosis kedua, semoga sehat. Terima kasih TNI, “ ungkap Lisa, salah seorang warga.

Hampir sebagian besar warga yang divaksin dosis kedua di Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15 ini adalah pelajar yang rencananya akan segera kembali melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah dalam waktu dekat.

“Dalam vaksinasi ini banyak pelajar warga sini yang ikut juga, karena kan mereka katanya akan kembali melakukan pembelajaran tatap muka, jadi merasa terbantu, dan alhamdulillah warga hari ini bisa mendapatkan vaksin dosis kedua,” ucap Gilang Wardana, panitia penyelenggara vaksinasi dari RW 15.

Audrey salah satu pelajar yang ikut dalam vaksinasi begitu senang bisa mendapatkan vaksin dosis kedua dalam serbuan vaksinasi TNI ini, dirinya mengungkap sudah siap kembali melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. “Saya ikut vaksin ini supaya bisa cepat-cepat sekolah, karena bosen di rumah,” tandasnya.

sumber: rmol.id
Benarkah Vaksin Pfizer Paling Unggul Dibandingkan Vaksin Covid19 Lain
28 August 2021
Benarkah Vaksin Pfizer Paling Unggul Dibandingkan Vaksin Covid-19 Lain?
foto: Vaksin Pfizer (rmol)


itoday - VAKSIN Covid-19 Pfizer dan Moderna adalah vaksin yang dibuat dengan menggunakan teknologi messenger RNA atau mRNA. Keduanya adalah produksi Amerika Serikat yang pada awalnya dberikan untuk para tenaga kesehatan di sana, kemudian digunakan pula oleh banyak negara Eropa dan Timur Tengah.

Saat ini, baik vaksin Moderna dan Pfizer sudah masuk ke Indonesia. Moderna didatangkan dengan tujuan utama menjadi booster bagi para nakes di Tanah Air, sebelum kemudian juga bisa didapat oleh masyarakat umum sebagai vaksin pertama dan kedua. Demikian pula dengan Pfizer.

Sebagai vaksin berbasis teknologi terbaru (mRNA), efikasi maupun efektivitas Pfizer dan Moderna diklaim lebih tinggi dibanding vaksin lain. Tak heran bila banyak orang mulai 'pilih-pilih' demi mengejar mendapatkan salah satu vaksin tersebut, terutama Pfizer.

Apa sebenarnya yang membedakan Pfizer dengan vaksin lain?

#1 Metode Pembuatan

Jika dibandingkan dengan vaksin Sinovac, perbedaan terletak pada platform pembuatan.

Pfizer—seperti juga Moderna—menggunakan mRNA yang sama sekali tidak mengandung virus tetapi hanya materi genetik (mRNA) yang mampu memberi instruksi pada sel tubuh untuk membuat sel protein spesifik yang dapat dikenali dan direspons sistem imun tubuh manusia.

Menurut WHO, teknologi ini adalah yang pertama kali digunakan di dunia untuk pembuatan vaksin.

Sementara vaksin Sinovac dikembangkan dari virus utuh yang dimatikan. WHO memastikan platform tersebut sudah terbukti ampuh seperti dalam kasus flu maupun polio.

Namun metode ini memerlukan laboratorium khusus untuk menjamin keamanan pengembangan virus atau bakteri dengan waktu produksi yang relatif lebih lama.

#2 Efikasi

Pfizer mengklaim efikasi dosis pertama vaksin mereka adalah 52% dan mencapai 95% setelah pemberian dosis kedua pada usia 16 tahun ke atas. Sementara efikasi dua dosis vaksin Moderna, menurut data FDA, mencapai 94,1%.

Adapun pada remaja usia 12 – 15 tahun, Pfizer diklaim memiliki efikasi 100% seperti dinyatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat memberikan Emergency Use Authorization (EUA) Pfizer Mei lalu.

Sedangkan vaksin Sinovac memiliki tingkat efikasi 65,35 sesuai uji klinis BPOM.

Namun pada 9 Agustus 2021, Reuters melansir bahwa vaksin Moderna lebih efektif untuk melawan varian Delta dibandingkan vaksin Pfizer, berdasarkan dua laporan yang diunggah medRxiv.

Dalam studi yang melibatkan lebih dari 50 ribu pasien di Mayo Clinic, para peneliti menemukan bahwa efektivitas vaksin Moderna yang pada awal tahun 2021 sebesar 86% menurun hingga 76% saat varian Delta meluas di bulan Juli. Adapun pada periode yang sama, efektivitas vaksin Pfizer menurun dari 76% menjadi 42%.

Terkait hasil temuan itu, pemimpin penelitian Dr. Venky Soundararajan menyarankan vaksin Moderna perlu diberikan sebagai booster bagi mereka yang mendapat vaksin Moderna atau Pfizer pada awal tahun ini.

#3 Bahan Baku

Pfizer dan BioNTech menggunakan material yaitu mRNA, lemak, potasium klorida, kalium fosfat monobasa, natrium klorida, natrium fosfat, dan sukrosa. Sedangkan Moderna menggunakan material berupa lemak, tromethamine, tromethamine hidroklorida, asam asetat, natrium asetat, dan sukrosa.

Dilansir Health, kedua vaksin tersebut pada akhirnya menjadi sangat mirip. Lipid berfungsi mengantar mRNA ke dalam tubuh, mRNA bertugas untuk menciptakan vaksin, didukung material lain yang membantu menjaga kadar pH serta stabilitas vaksin.

#4 Metode Penyimpanan

Pfizer harus dikirim menggunakan alat yang dirancang khusus dengan suhu tetap -70 derajat Celcius untuk bisa bertahan selama 10 hari dan bisa bertahan hingga enam bulan disimpan dalam freezer bersuhu sangat rendah. Sedangkan di RS, Pfizer bisa disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 2 – 7 derajat Celcius dan bertahan selama lima hari.

Adapun vaksin Moderna dikirim ada suhu -20 derajat Celcius dan tetap stabil selama 30 hari dalam lemari pendingin bersuhu 2 – 8 derajat Celcius. Vaksin ini juga tetap stabil disimpan dalam suhu -20 derajat Celcius selama enam bulan dan dalam suhu ruang bisa bertahan hingga 12 jam.

Menanggapi perbedaan tersebut, Prof. Thomas Russo dari Universitas Buffalo mengatakan vaksin Pfizer tidak stabil dan perlu disimpan dalam suhu yang sangat rendah kemungkinan disebabkan lebih banyak perbedaan dalam lipid.

sumber: farah.id
Masyarakat RI Perlu Vaksin Booster atau Belum Vaksinolog Kebut Cakupan Vaksinasi Dulu
27 August 2021
Masyarakat RI Perlu Vaksin Booster atau Belum? Vaksinolog: Kebut Cakupan Vaksinasi Dulu
foto: Vaksin Moderna (liputan6)


itoday - Diskusi soal pemberian dosis ketiga atau vaksin booster untuk masyarakat umum ramai dibahas. Memang seberapa perlu masyarakat umum mendapatkan vaksin booster COVID-19?

Vaksinolog Dirga Sakti Rambe mengatakan hingga saat ini di Indonesia memang belum memberikan vaksin booster untuk masyarakat umum. Saat ini yang terpenting adalah meningkatkan angka cakupan vaksinasi.

"Saat ini belum ya. Untuk situasi di Indonesia adalah mesti kita kebut cakupan vaksinasi dulu. Coba lihat di sekeliling kita, masih banyak yang belum divaksinasi. Itu dulu yang penting," kata Dirga dalam live Instagram bersama Kemenkes RI.

Bila target vaksinasi COVID-19 sudah mencapai target yakni 208 juta orang Indonesia bisa dipertimbangkan pemerian vaksinasi COVID-19 dosis ketiga. Tentunya dengan melihat data dan fakta yang ada.

Secara internasional pun pemberian vaksin dosis ketiga belum ada rekomendasinya, termasuk dari WHO belum merekomendasikan vaksin booster.

"Secara internasional vaksinasi booster belum dimulai tapi memang sudah didiskusikan," kata dokter spesialis penyakit dalam ini.

Di Indonesia saat ini vaksin booster hanya diberikan kepada tenaga kesehatan. Berdasarkan rekomendasi ITAGI vaksinasi dosis ketiga perlu diberikan ke tenaga kesehatan mengingat mereka berisiko besar tertular COVID-19.

Data per 26 Agustus 2021, sudah 59.426.934 juta orang di Indonesia yang menerima suntikan dosis pertama COVID-19. Yang sudah lengkap ada 33 juta.

Rencana Vaksinasi COVID-19 Berbayar di RI
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan rencana vaksinasi COVID-19 ketiga berbayar untuk masyarakat umum pada 2022. Diprediksi sekitar Rp100 ribu harganya.

Menanggapi hal ini Juru Bicara Vaksin COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa rencana vaksin 2022 tersebut belum final dan masih perlu dimatangkan.

“Kalau (vaksin booster) 2022 ini belum final ya masih dimatangkan,” ujar Siti Nadia kepada Health Liputan6.com melalui pesan singkat, Kamis (26/8/2021).

sumber: liputan6

Terpopuler