Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Vaksinasi Booster Berbayar pada 2022 Stok Vaksin COVID19 Cukup
26 August 2021
Vaksinasi Booster Berbayar pada 2022, Stok Vaksin COVID-19 Cukup?
foto: ilustrasi vaksinasi (liputan6)


itoday - Pemerintah berencana membuka akses vaksin booster berbayar untuk masyarakat umum pada tahun 2022. Perhitungan harga sekali suntik berkisar Rp100.000.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta pada Rabu, 25 Agustus 2021. Rencana ini vaksin booster berbayar juga melihat kecepatan laju vaksinasi sekarang.

Terkait rencana vaksin booster berbayar tahun depan, apakah stok vaksin COVID-19 yang tersedia mencukupi? Juru Bicara PT Bio Farma Bambang Heriyanto menanggapi, estimasi stok vaksin untuk rencana booster tahun depan belum ada diskusi lebih lanjut.

Dalam hal ini, belum ada pembahasan mengenai perluasan akses vaksin merata (untuk booster) kepada Bio Farma. Walau begitu, Bio Farma mendukung penuh kebijakan Pemerintah.

"Pada prinsipnya, kami akan support (dukung) atas kebijakan yang akan disiapkan oleh Pemerintah," kata Bambang saat dihubungi Health Liputan6.com melalui pesan singkat, Kamis (26/8/2021).

"Sampai saat ini, belum ada pembahasan terkait akses vaksin yang merata bagi seluruh masyarakat sesuai target Pemerintah hingga Januari 2022."

Bio Farma Kelola Hampir Semua Stok Vaksin yang Masuk

Vaksin COVID-19 yang sudah masuk ke Indonesia, baik bahan baku (bulk) yang akan diproduksi oleh Bio dan vaksin jadi. Dari sisi bahan baku, yang sudah diterima Bio Farma sebesar 144,7 juta dosis.

Saat Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR kemarin, Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir menyampaikan, dari total bahan baku vaksin, yang diolah berjumlah 131,5 juta dan sudah menjadi vaksin 107,12. Kemudian yang dirilis 86 juta dosis, sisanya masih proses yang akan keluar dalam waktu seminggu sampai dua minggu ke depan.

"Vaksin jadi yang juga sudah kami terima di angka 45,5 juta. Untuk sumber kedatangan vaksin, kami ada yang kerja sama secara bilateral to bilateral (B to B), yang mana Bio Farma langsung berkontrak dengan AstraZeneca," terang Honesti.

"Kami juga ada kontrak dari COVAX ataupun hibah dan donasi dari negara-negara. Misalnya, Sinopharm yang bentuk donasi dari Emirat Arab 500.000 dosis dan juga Moderna serta Pfizer yang baru masuk."

Sebagian besar vaksin yang diterima Bio Farma pun sudah didistribusikan ke 34 provinsi di Indonesia.

"Kami mengelola hampir semua vaksin yang masuk ke Indonesia, kecuali Pfizer yang sifatnya kontak langsung antara Pfizer Global dengan Kementerian Kesehatan. Untuk distribusi langsung dipegang oleh Pfizer Indonesia," jelas Honesti.

"Sementara kedatangan vaksin yang sifatnya donasi atau COVAX didistribusikan oleh Bio Farma langsung. Karena kami juga nanti akan mendapatkan hibah Ultra Cold Chain (UCC)--untuk penyimpanan Pfizer--dari Kementerian Kesehatan."

sumber: liputan6.com
BPOM Izinkan Vaksin SputnikV Rusia Dipakai di Indonesia
25 August 2021
BPOM Izinkan Vaksin Sputnik-V Rusia Dipakai di Indonesia
foto: ilustrasi Vaksin Sputnik (ist)


itoday - ADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja menerbitkan Izin Penggunaan Darurat atau 'Emergency Use Authorization' (EUA) vaksin Covid-19 Sputnik-V asal Rusia. Ini merupakan EUA vaksin Covid-19 ketujuh yang diterbitkan BPOM.

Ya, sebelumnya BPOM sudah menerbitkan EUA untuk vaksin Covid-19 Sinovac (CoronaVac), Vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca COVID-19 Vaccine, Sinopharm, Moderna, dan Comirnaty (Pfizer).

Vaksin Sputnik-V sendiri merupakan vaksin yang dikembangkan The Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology di Rusia yang menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (Ad26-S dan Ad5-S)

"Vaksin ini didaftarkan oleh PT Pratapa Nirmala sebagai pemegang EUA dan bertanggung jawab untuk penjaminan keamanan dan mutu vaksin ini di Indonesia," terang laporan resmi terbaru BPOM, Rabu (25/8/2021).

Baca Juga : Vaksin Sputnik V Buatan Rusia Diklaim 90% Ampuh Lawan Varian Delta Covid-19

Vaksin Sputnik-V digunakan untuk indikasi pencegahan Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV2 untuk orang berusia 18 tahun ke atas (18+). Vaksin diberikan secara injeksi intramuskular dengan dosis 0,5 mL sebanyak 2 dosis dengan rentang waktu 3 minggu.

"Vaksin ini termasuk dalam kelompok vaksin yang memerlukan penyimpanan pada kondisi suhu khusus, yaitu pada suhu -20oC ± 2oC," tambah laporan BPOM.

Kepala BPOM memastikan bahwa vaksin Sputnik-V yang nantinya datang ke Indonesia sudah melalui pengkajian secara intensif oleh BPOM bersama Tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-19 dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

"Penilaian terhadap data mutu vaksin telah mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional," terang Penny.

Berdasarkan hasil kajian terkait dengan keamanannya, efek samping dari penggunaan vaksin Covid-19 Sputnik-V termasuk dalam efek samping tingkat keparahan ringan atau sedang. "Hasil ini dilaporkan pada uji klinik Vaksin COVID-19 Sputnik-V (Gam-COVID-Vac) dan uji klinik vaksin lainnya dari teknologi platform yang sama," tambah Penny.

sumber: okezone
Waspada Varian Covid22 Bisa Lebih Berbahaya dari Varian Delta
24 August 2021
Waspada, Varian Covid-22 Bisa Lebih Berbahaya dari Varian Delta!
foto: ilustrasi virus Covid (shutterstock)


itoday - Banyak sekali varian virus corona Covid-19 yang telah menimbulkan kekhawatiran. Tapi, seorang ahli telah memperingatkan varian Covid-22 mendatang bisa lebih mematikan daripada varian Delta.

Profesor Imunologi, Dokter Sai Reddy mengatakan para ahli harus bersiap untuk menghadapid-19 yi munculnya varian virus corona baru yang akan muncul tahun 2022 mendatang. Karena, varian Covid-22 itu mungkin akan menimbulkan risiko yang lebih besar daripada sekarang ini.

lmuwan yang berbasis di Zurich memperingatkan tak bisa dipungkiri kalau varian Delta, varian Beta, dan varian Gamma yang sekarang ini menjadi ancaman baru bisa bergabung dan membentuk varian virus corona baru, yakni varian Covid-22.

"Varian Covid-22 bisa berdampak lebih buruk daripada situasi sekarang ini. Jika varian virus corona itu muncul, kita harus mengenalinya sedini mungkin dan segera memberikan vaksin yang tepat," kata Prof Reddy dikutip dari The Sun.

Saat ini, varian Delta adalah varian virus corona paling menular yang bisa disebut sebagai varian Covid-21. Menurut Prof Reddy, varian Delta ini tidak memiliki mutasi pelarian yang merupakan fitur genetik untuk membantunya menghindari sistem kekebalan dalam tubuh.

Ia justru melihat varian virus corona lain yang lebih memiliki kelebihan untuk menghindari sistem kekebalan, yakni varian Beta. Dalam hal ini, vaksin Covid-19 mungkin kurang ampuh melawan varian virus corona tersebut.

Prof Reddy lantas menjelaskan bahwa kombinasi dari faktor-faktor tersebut, yakni varian virus corona yang lebih mematikan, menular dan mampu menghindari sistem kekebalan tubuh bisa berkembang menjadi masalah yang lebih besar dalam waktu dekat.

"Saat varian Beta dan Gamma menjadi lebih menular atau varian Delta mengembangkan mutasi pelarian, situasi ini akan menjadi masalah yang lebih besar pada tahun mendatang," katanya.

Kemunculan varian virus corona di masa mendatang diperkirakan merupakan bagian alami dari evolusi virus. Karena itu, kelompok ilmuwan Inggris (SAGE) mengatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak memberikan perlindungan sepenuhnya.

Mereka mengatakan bahwa virus corona Covid-19 masih memiliki kemungkinan untuk berkembang menjadi varian yang lebih mematikan, karena tingkat penyebaran virus yang masih tinggi secara global.

sumber: himedik.com
Jokowi Minta Menkes Tingkatkan Vaksinasi hingga Lebih dari 100 Juta Dosis pada Akhir Agustus
23 August 2021
Jokowi Minta Menkes Tingkatkan Vaksinasi hingga Lebih dari 100 Juta Dosis pada Akhir Agustus
foto: Joko Widodo (setkab)


itoday - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan saat ini cakupan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah meningkat. Ia pun menargetkan cakupan vaksinasi hingga 100 juta dosis.

"Saat ini, 90,59 juta dosis vaksin sudah disuntikkan. Saya minta Menteri Kesehatan, akhir Agustus bisa mencapai lebih dari 100 juta dosis vaksin yang disuntikkan," kata Presiden Jokowi saat pengumuman Perkembangan PPKM Terkini yang ditayangkan di laman YouTube Sekretariat Negara, Senin (23/8/2021).

Jokowi juga memuji kinerja TNI yang turut berkontribusi dalam menemukan kontak erat pasien yang terkonfirmasi COVID-19. "Pada 21 Agustus, rasio tracing 6,5 jauh meningkat dibandingkan pada 31 Juli yaitu 1,9."

"Perbaikan situasi COVID-19 yang kita miliki, tetap perlu disikapi dengan hati-hati dan kewaspadaan. Pembukaan kembali aktivitas masyarakat akan dilakukan tahap demi tahap agar tidak berdampak pada peningkatan kasus," jelas Jokowi.

Data vaksinasi terkini

Data terkini vaksinasi COVID-19 per 23 Agustus 2021 menunjukkan ada penambahan 440.409 suntikan vaksinasi ke-1 sehingga totalnya menjadi 57.779.716. Sedangkan pada vaksinasi ke-2 ada penambahan 444.356 pada hari ini. Sehingga total penerima vaksinasi ke-2 ini mencapai 32.046.224. Jadi keseluruhan adalah 89.825.940.

sumber: liputan6
Vaksin Pfizer Sudah Tiba di Tanah Air Ini Sasaran Penerima dan Efikasinya
21 August 2021
Vaksin Pfizer Sudah Tiba di Tanah Air, Ini Sasaran Penerima dan Efikasinya
foto: Vaksin Pfizer (AP)


itoday - Indonesia kedatangan 1.560.780 vaksin Pfizer di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis, 19 Agustus 2021. Sasaran penerima vaksin tersebut akan ditujukan untuk anak-anak dan ibu hamil.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan, vaksin Pfizer dapat digunakan mulai usia 12 tahun ke atas. Izin darurat penggunaan (Emergency Use Authorization/EUA) sudah dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Pemerintah indonesia menerima 1,5 juta dosis vaksin jadi Pfizer. Vaksin Pfizer telah menerima Emergency Use of Authorization dari Badan POM pada bulan Juli 2021. Kedatangan vaksin Pfizer ini tentunya dapat digunakan untuk masyarakat berusia 12 tahun ke atas," kata Wiku di Media Center COVID-19, Graha BNPB, ditulis Sabtu (21/8/2021).

Wiku juga meminta kepada pemerintah daerah apabila sudah memperoleh alokasi vaksin Pfizer dapat segera dimanfaatkan untuk vaksinasi sasaran kelompok yang dituju.

"Kepada pemerintah daerah yang nanti mendapatkan alokasi vaksin Pfizer, diminta untuk dapat segera menggunakannya sehingga masyarakat di daerahnya dapat terlindungi dan meningkatkan cakupan program vaksinasi," ucapnya.

Adapun informasi lebih lanjut mengenai target usia penerima dan cakupan daerah mana saja yang mendapatkan vaksin Pfizer, Health Liputan6.com berupaya konfirmasi kepada Kementerian Kesehatan siang tadi. Namun, belum mendapat respons.

Efikasi Vaksin Pfizer Menurut BPOM

Pada 14 Juli 2021, BPOM mengeluarkan EUA vaksin Pfizer. Vaksin COVID-19 bernama Comirnaty yang diproduksi oleh Pfizer and BioNTech ini dikembangkan dengan platform mRNA.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengungkapkan, vaksin Pfizer digunakan dengan indikasi pencegahan COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 untuk orang berusia 12 tahun ke atas.

"Diberikan secara injeksi intramuscular, dosis 0,3 mL dengan 2 kali penyuntikan dalam rentang waktu 3 minggu,” jelas Penny melalui pernyataan resmi saat konferensi pers pada 15 Juli 2021.

Berdasarkan data uji klinik fase 3, efikasi vaksin Pfizer pada usia 16 tahun ke atas menunjukan keberhasilan sebanyak 95,5 persen dan remaja usia 12-15 tahun sebesar 100 persen. Dari data imunogenisitas, pemberian 2 dosis vaksin Comirnaty selang 3 minggu menghasilkan respons imun yang baik.

Selain itu, hasil pengkajian menunjukan, secara umum keamanan vaksin dapat ditoleransi pada semua kelompok usia. Kejadian reaksi yang paling sering timbul dari penggunaan vaksin ini antara lain, nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, menggigil, nyeri sendi, dan demam.

Penyimpanan Suhu Vaksin Pfizer

Dalam memberikan persetujuan EUA, BPOM melakukan pengkajian bersama Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait dengan keamanan dan efikasi dari vaksin Pfizer.

Penilaian terhadap data mutu vaksin Pfizer juga telah dilakukan dengan mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara Internasional dan hasilnya telah memenuhi standar persyaratan mutu vaksin.

“Sebagaimana vaksin dengan platform mRNA yang memiliki spesifikasi penyimpanan khusus dengan menggunakan ultra low temperature (suhu -90 sampai -60 derajat Celsius), vaksin ini tentu perlu dikawal dalam proses pendistribusiannya," imbuh Penny K. Lukito.

"PT Pfizer sebagai produsen telah menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sampai ke titik penyuntikan (tempat pelaksanaan vaksinasi) di Indonesia."

Penny turut menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kerja sama dari Kementerian dan Lembaga terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan lintas sektor lainnya yang telah mendatangkan vaksin COVID-19 dengan berbagai upaya.

Apresiasi juga disampaikan kepada Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan ITAGI yang telah bersama-sama melakukan pengkajian secara intensif, sehingga dapat diterbitkan EUA vaksin Pfizer.

sumber: liputan6
WHO Sebut Booster Vaksin Covid19 Belum Diperlukan
20 August 2021
WHO Sebut Booster Vaksin Covid-19 Belum Diperlukan
foto: ilustrasi (reuters)


itoday - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa suntikan ketiga atau booster vaksin Covid-19 belum diperlukan saat ini. Namun, WHO menyarankan orang-orang yang paling rentan untuk divaksin penuh.

Komentar itu muncul tepat sebelum pemerintah AS mengatakan pihaknya berencana untuk membuat suntikan booster tersedia secara luas untuk semua orang Amerika mulai 20 September ketika infeksi dari varian Delta meningkat.

"Kami yakin dengan jelas bahwa data hari ini tidak menunjukkan bahwa booster diperlukan," kata Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dilansir dari Reuters, Jumat (20/8).

Menurut Soumnya Swaminathan diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum memberikan booster. Sementara itu, Penasihat Senior WHO Bruce Aylward menjelaskan bahwa jumlah vaksin di seluruh dunia cukup.

"Ada cukup vaksin di seluruh dunia, tetapi vaksin itu tidak dikirim ke tempat yang tepat dalam urutan yang benar," jelas Bruce Aylward.

Bruce Aylward menyebut bahwa dua dosis vaksin Covid-19 harus diberikan kepada yang paling rentan di seluruh dunia sebelum booster diberikan kepada mereka yang divaksinasi penuh.

"Kami masih sangat jauh dari itu," tutup Bruce Aylward.

sumber: sindonews

Terpopuler