Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Satgas Beberkan Fakta Pola Lonjakan COVID19 RI yang Berbeda dari Dunia
14 September 2021
Satgas Beberkan Fakta Pola Lonjakan COVID-19 RI yang Berbeda dari Dunia
foto: Ilustrasi (detik)


itoday - Indonesia pada bulan Juli 2021 sempat disebut jadi episentrum pandemi karena mengalami lonjakan kasus COVID-19. Kala itu Indonesia mencatat bisa ada lebih dari 50.000 kasus baru COVID-19 setiap harinya.

Kini situasi di Indonesia sudah lebih baik. Pada Minggu (13/9/2021), Indonesia mencatat 2.577 kasus baru COVID-19, terendah sejak puncak kasus di bulan Juli dan kasus aktif juga turun menjadi di bawah 100.000.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasimito menjelaskan faktanya pola wabah COVID-19 di Indonesia berbeda dengan pola dunia. Ini menjadi bukti bahwa lonjakan COVID-19 di Indonesia sebetulnya tak terlalu berkontribusi pada kasus dunia.

"Uniknya adalah ketika dunia dan negara lain mengalami puncak kedua pada April 2021, Indonesia justru masih terus mengalami pelandaian kasus. Dan ketika Indonesia mengalami puncak kasus kedua di bulan Juli lalu, justru negara-negara lainnya dan dunia tidak mengalami kenaikan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Selasa (14/9/2021).

"Lonjakan kedua pada bulan Juli lalu yang tidak diikuti dengan lonjakan kasus dunia menunjukkan bahwa: meskipun Indonesia mengalami kasus signifikan, namun tidak cukup signifikan untuk berkontribusi terhadap kasus dunia," lanjutnya.

Wiku menyebut saat ini kasus COVID-19 dunia sedang mengalami peningkatan. Beberapa negara melaporkan mengalami lonjakan kasus, termasuk di antaranya negara tetangga.

Kondisi Indonesia yang sudah membaik ini diharapkan dapat bertahan dengan orang-orang tetap menjaga disiplin protokol kesehatan.

sumber: detik.com
Pakar Prediksi Status Pandemi Dicabut Akhir 2022 Ini Alasannya
13 September 2021
Pakar Prediksi Status Pandemi Dicabut Akhir 2022, Ini Alasannya
foto: Budi Gunadi (kompas)


itoday - Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memprediksi pandemi Corona akan terkendali akhir tahun depan. Namun, untuk memastikan terkendalinya wabah Corona hingga masa tersebut masih cukup panjang.

Sementara tren kasus COVID-19 di Indonesia diakuinya sudah begitu membaik ketimbang puncak kasus COVID-19 yang dilaporkan akhir Juli menjelang Agustus. Meskipun positivity rate Corona mencetak rekor terendah di angka 3 persen, Dicky mengingatkan jumlah testing memakai PCR masih sangat rendah.

"Sayangnya testing masih belum memadai, karena pcr test-nya kecil sekali di bawah 50 ribu, untuk negara yang sebesar kita 270 juta, amat sangat kecil, dan ini perlu menjadi catatan, karena kita tidak boleh abai, pandemi ini masih ada, masih jauh," ingatnya.

"Walapun saya memprediksi mudah-mudahan akhir tahun depan sudah bisa dicabut paling tidak status pandeminya oleh WHO," sebut dia.

Dicky melanjutkan, sembari menunggu tahapan pandemi menuju epidemi dan endemi, banyak yang perlu dipersiapkan. Hal ini dikarenakan bukan suatu hal yang mustahil jika lonjakan kasus COVID-19 kembali terjadi.

Terlebih Indonesia adalah negara kepulauan. Penting menurutnya, untuk memastikan intervensi pencegahan kasus COVID-19 hingga sejumlah daerah terpencil.

Maksimal berapa jumlah kasus saat Corona terkendali?

"Setidaknya 10 kasus infeksi per kapita, per 100 ribu itu sudah bagus, itu harus jadi target, kematian 2 kasus per kapita dengan tes positivity rate yang terus menerus stabil, paling tinggi 5 persen dan itu harus dicapai di semua wilayah," pungkas dia.

sumber: detik.com
Kemenkes 224 Persen WNI Positif COVID19 Saat Tiba di Indonesia
11 September 2021
Kemenkes: 2,24 Persen WNI Positif COVID-19 Saat Tiba di Indonesia
foto: ilustrasi (liputan6)

itoday - Data Kementerian Kesehatan mencatat, 2,24 persen Warga Negara Indonesia (WNI) positif COVID-19 saat tiba kembali di Indonesia. Mereka terdeteksi positif setelah dilakukan pemeriksaan di pintu kedatangan Tanah Air, yang mana sebelumnya dinyatakan negatif saat keberangkatan dari negara lain.

"Kami sampaikan data, bahwa 2,24 persen Warga Negara Indonesia yang kembali dari perjalanan luar negeri ini teridentifikasi positif setelah kembali ke Indonesia," ungkap Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers Mengantisipasi Varian Baru COVID-19, Jumat (10/9/2021).

"Meski tes dari negara asal datang sebelumnya dinyatakan negatif."

Selain WNI, sebanyak 0,83 persen Warga Negara Asing (WNA) yang datang ke Indonesia dinyatakan positif Corona setelah dites di pintu masuk kedatangan Indonesia, yang sebelumnya dari negara asal kedatangannya dinyatakan negatif.

Dari data di atas, Nadia menegaskan, virus Corona semakin mudah bermutasi ketika seseorang yang terpapar melakukan aktivitas perjalanan yang tinggi. Semakin banyak infeksi juga akan menyebabkan semakin mudah virus ini bermutasi.

"Tentunya, Kementerian Kesehatan selalu terus-menerus melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait dalam rangka pengawasan di pintu-pintu masuk negara Republik Indonesia ini," tegasnya.

"Upaya tersebut demi mengantisipasi masuknya varian Virus Corona baru ke Indonesia."

Pemeriksaan PCR dan Pengetatan Karantina

Terkait pengawasan para pelaku perjalanan di pintu masuk kedatangan, Kemenkes mengimbau pintu-pintu masuk ke Indonesia, seperti bandara udara dan pelabuhan laut internasional untuk terus memperketat prosedur skrining dan prosedur pengawasan.

"Hal-hal yang menjadi mandatory atau kewajiban adalah melakukan pemeriksaan PCR pertama saat hari pertama kedatangan," jelas Siti Nadia Tarmizi.

"Dilanjutkan dengan menjalankan karantina sampai hari ke-8 bila pemeriksaan hasil PCR pertamanya negatif dan pada hari ke-7 dilakukan pemeriksaan PCR kedua saat yang bersangkutan masih menjalani karantina."

Pemeriksaan kedua di hari ke-7 untuk memastikan juga pelaku perjalanan luar negeri positif atau negatif COVID-19. Jika hasilnya negatif, baru dinyatakan selesai melaksanakan karantina.

"Tetapi bila pada hasil pemeriksaan PCR kedua di hari ke-7 kedatangan pelaku perjalanan luar negeri ini menjadi positif COVID-19, maka harus melanjutkan untuk laksana. Artinya, melakukan isolasi terpusat ataupun perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit," imbuh Nadia.

Kerja Sama Pengetatan Karantina dengan Pemda

Protokol pemeriksaan PCR dan pengetatan karantina bisa diterapkan Satgas COVID-19, bandar udara dan pelabuhan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Ini karena beberapa pintu masuk dari pelaku perjalanan internasional ada di beberapa provinsi lainnya.

Menurut Siti Nadia Tarmizi, karantina harus dilakukan di daerah yang menjadi pintu masuk kedatangan luar negeri, terutama di Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan pintu masuk ke luar negeri lainnya.

"Dukungan dari pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan dalam menjaga mobilisasi pintu masuk ke Indonesia ini," terangnya.

"Tentunya, demi melindungi masyarakat kita agar tidak terpapar dari Virus Corona varian baru yang kita ketahui lebih cepat penularannya dan akan menjadi tantangan cara pengendaliannya."

sumber: liputan6.com
Duh Studi Ungkap Ivermectin Sebabkan Kemandulan pada Lelaki
10 September 2021
Duh, Studi Ungkap Ivermectin Sebabkan Kemandulan pada Lelaki
foto: Ivermectina (afp)


itoday - Ivermectin sempat digadang-gadang punya manfaat untuk obat Covid-19. Tapi, banyak studi menentang hal tersebut.

Bahka, studi terbaru mengungkapkan bahwa efek terapi Ivermectin pada laki-laki dapat berpengaruh pada kesehatan reproduksi laki-laki.

Para peneliti di tiga universitas di Nigeria mempelajari efek Ivermectin, yang digunakan untuk mengobati kebutaan sungai atau kebutaan yang terjadi karena penyakit dan kondisi medis lainnya pada manusia, terhadap jumlah sperma laki-laki.

Menurut penelitian mereka, 85 persen lelaki yang menggunakan Ivermectin menjadi steril atau bisa mengarah ke kemandulan.

Ivermectin sering digunakan sebagai obat cacing untuk memerangi parasit pada hewan dan beberapa orang telah menggunakannya untuk melawan COVID-19 meskipun ada rekomendasi para ahli kesehatan yang melarangnya.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Nigeria menyaring 385 pasien dengan kebutaan sungai untuk menyelidiki efek Ivermectin pada fungsi sperma.

Para peneliti menemukan bahwa 85 persen dari semua pasien lelaki yang dirawat di pusat tertentu dengan ivermectin di masa lalu yang pergi ke laboratorium untuk tes rutin ditemukan telah mengembangkan berbagai bentuk, tingkat dan derajat disfungsi sperma.

Disfungsi antara lain sebagai berikut:

- Jumlah sperma rendah
- Morfologi sperma yang buruk
- Dua kepala
- Kepala kecil
- ekor ganda
- Tidak adanya ekor
- Sel sperma albino
- Azoospermia, atau tidak adanya sperma motil
- Motilitas sperma yang buruk

“Ada penurunan yang signifikan dalam jumlah sperma pasien setelah perawatan mereka dengan Ivermectin,” penulis penelitian menyimpulkan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak mengizinkan atau menyetujui Ivermectin untuk mengobati atau mencegah COVID-19 pada manusia atau hewan.

“Jangan pernah menggunakan obat yang ditujukan untuk hewan pada diri sendiri atau orang lain. Produk hewan Ivermectin sangat berbeda dari yang disetujui untuk manusia. Penggunaan Ivermectin hewan untuk pencegahan atau pengobatan COVID-19 pada manusia berbahaya,” lapor FDA.

Dr Ogechika Alozie, pakar penyakit menular di El Paso, mengatakan untuk menggunakan metode pengobatan Covid-19 yang sudah teruji.

“Kenyataannya adalah ini: hal-hal yang kita tahu bekerja sejauh ini, deksametason, actemra, remdesivir di rumah sakit. Hal-hal yang berfungsi sebelum Anda pergi ke rumah sakit seperti infus antibodi dan vaksin memiliki lebih banyak data daripada Ivermectin, ”katanya.

Uji klinis yang mengevaluasi apakah tablet Ivermectin dapat digunakan untuk mengobati COVID-19 sedang berlangsung, tetapi saat ini tidak ada data yang tersedia untuk menunjukkan kemanjuran dalam memerangi virus.

sumber: suara.com
Risiko COVID19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
09 September 2021
Risiko COVID-19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
foto: ilustrasi (liputan6)


itoday - Obesitas atau kegemukan dapat berdampak buruk pada kesehatan. Bahkan, di masa pandemi COVID-19, obesitas dapat menjadi faktor risiko yang memperparah keadaan pasien.

Seperti disampaikan pulmonolog dari Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Efriadi. Menurutnya, pada pasien dengan masalah berat badan, reseptor atau tempat melekatnya virus Corona cukup banyak atau lebih banyak ketimbang orang yang tidak obesitas.

“Sederhananya, virus Corona yang menempel pun jadi lebih banyak. Artinya reaksinya akan lebih cepat,” ujar Efri kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, (8/6/2021).

Efri, menambahkan, masalah kesehatan pada orang dengan masalah berat badan tidak hanya terkait obesitasnya saja. Pada orang obesitas, umumnya ada penyakit penyerta atau komorbid lain.

“Kalau orang dengan obesitas biasanya masalahnya bukan hanya dengan obesitas, ada penyakit penyertannya. Seperti masalah hipertensi, kolesterol, diabetes, dan penyakit lainnya,” katanya.

Penyakit Penyerta

Walau demikian, COVID-19 pada orang yang murni obesitas tanpa komorbid juga tetap dapat jadi masalah apalagi jika sampai dirawat di rumah sakit.

“Tentunya dengan kondisi obes biasanya bernapas aja susah kan, apalagi jika kena parunya, bisa lebih susah lagi bernapas.”

Berlaku pada Semua Usia

Risiko COVID-19 gejala parah tidak hanya berlaku pada orang obesitas dari golongan usia tua saja, melainkan dari berbagai tingkat usia.

“Dari seluruh tingkatan usia, kita sempat ketemu pasien COVID-19 dengan obesitas dari usia muda sekitar 23 tahun dan gejalanya berat.”

Bahkan, pemuda obesitas tersebut sempat dipasang ventilator kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19, tambahnya.

“Jadi, obes itu bukan hanya pada orang tua saja yang bermasalah, bagi usia muda pun ketika obes bermasalah.”

Efri pun berpesan, bagi teman-teman yang memiliki masalah berat badan tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Hindari kerumunan, kalau tidak ada sesuatu yang mendesak enggak usah keluar dulu. Kurangi juga mobilitas, kalau acara bepergian tidak terlalu penting sebaiknya ditunda dulu.”

“Yang tak kalah penting, lakukan pola hidup sehat, tidur cukup, makan makanan bergizi, olahraga disesuaikan kemampuan, dan jaga kondisi mental,” tutupnya.

sumber: liputan6.com
Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal Ini Respons Kemenkes
08 September 2021
Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal, Ini Respons Kemenkes
foto: Sertifikat Vaksin (menpan)


itoday - Lebih dari 13,8 ribu warganet mengisi petisi yang disediakan Change.org mengenai 'Batalkan Kartu Vaksin sebagai syarat Administrasi'. Pembuat petisi diketahui bernama Lilis.

Kementerian Kesehatan dalam hal ini diwakili Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu, berkomentar bahwa itu bukan kewenangannya memberikan pernyataan mengenai petisi penolakan sertifikat vaksin sebagai syarat administrasi.

"Saya jawab, kewenangan itu bukan di saya," terang Maxi saat webinar daring di Youtube FMB91D_IKP, Selasa (7/9/2021).

Namun, Maxi menilai bahwa sangat wajar ketika ada segelintir masyarakat yang melakukan penolakan, protes, hingga membuat petisi seperti yang tengah ramai sekarang.

"Wajarlah kalau ada yang melakukan petisi, protes, tidak suka, kalau kartu vaksin menjadi syarat. Saya lihat juga di daerah tertentu ada penolakan seperti ini, itu wajar. Itu kan aspirasi dari warga. Ini harus kita terima," lanjutnya.

Di kesempatan itu, Maxi coba mengambil sisi lain dari upaya penolakan vaksin yang dilayangkan di media sosial bahwa mungkin masyarakat juga banyak yang menanti vaksin siap di wilayahnya, namun hingga sekarang stoknya masih kurang.

"Mungkin, yang menjadi protes, ... jangan-jangan mereka sudah punya kesempatan, sudah mau, sudah ada waktu, tapi vaksinnya masih kurang. Itu yang kami rasa perlu dan harus diperbaiki segera," paparnya.

"Kalau syarat itu bisa (diperbaiki), dengan ketersediaan vaksin dan akses yang lebih mudah. Kalau memang soal itu, kami akan benahi," tambah Maxi.

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan bahwa syarat menunjukkan sertifikat vaksin saat masuk mal atau kafe itu bukan bentuk diskriminasi dan konspirasi.

"Itu bukan diskriminasi apalagi konspirasi. Pihak mal atau kafe hanya melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk mendukung kesehatan karyawan dan pengunjungnya, plus taat aturan," paparnya di Twitter, belum lama ini.

Ia menambahkan, "Lagipula, akses vaksinasi di Jakarta amat luas. Apakah kalian belum menemukan alasan enggan divaksin selain isi vaksin itu terdapat microchip? Pun jika tidak bisa atau ditunda vaksinnya karena komorbid, Anda bisa gunakan surat keterangan dokter untuk masuk mal," terang Prof Beri.

Ya, salah satu kegelisahan yang diutarakan pembuat petisi adalah mempertanyakan kebijjakan pemerintah soal sertifikat vaksin sebagai syarat masuk mal, tetapi bagaimana dengan mereka yang secara medis tidak direkomendasikan menerima vaksin Covid-19 karena komorbid yang dimiliki.

"Jika aturan ini dibuat sebagai dasar untuk memasuki area mal, bagaimana dengan orang yang tidak memenuhi syarat untuk divaksinasi? Terutama bagi mereka para penderita komorbid yang seharusnya ada perhatian khusus terkait hal ini. Jika aturan ini tetap diberlakukan bagaimana dengan orang yg tidak memenuhi persyaratan vaksin namun mereka tetap harus melakukan vaksin karena kebijakan tersebut," ungkap keterangan yang ada di laman petisi tersebut.

sumber: okezone.com

Terpopuler