Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak Orang Tua Perlu Tahu
01 October 2021
5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak, Orang Tua Perlu Tahu
foto: ilustrasi (istockphoto)


itoday - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas atau sekolah tatap muka telah dilaksanakan di beberapa daerah. Dalam sekolah tatap muka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar anak tidak tertular Covid-19.
Berikut adalah 5 hal yang harus dipersiapkan orang tua untuk melaksanakan sekolah tatap muka terbatas:

1. Memberikan Pemahaman Kepada Anak tentang Corona
Memberikan pemahaman kepada anak ini penting dilakukan agar anak dapat mengikuti protokol kesehatan (prokes) dengan baik. Berikan pemahaman tentang Covid-19 sebaik mungkin kepada anak dengan bahasa yang mudah dimengerti.

"Pertama, berikan pemahaman terlebih dahulu kepada anak. Berikan gambaran mengenai apa sih Covid itu. Apa saja yang dihadapi oleh orang-orang di masa pandemi," kata dokter spesialis anak dr Natasya Ayu Andamari yang dikutip dari laman HaiBunda.

Orang tua harus memberikan pemahaman mengenai penularan Covid-19 jika mengikuti sekolah tatap muka. Apabila anak memahami hal tersebut maka mereka akan mengikuti prokes dengan ketat.

2. Membawa Bekal
Agar tetap sehat dan terjaga selama sekolah tatap muka, orang tua sebaiknya juga membawakan anak bekal dengan asupan gizi seimbang. Selain itu berikan anak sarapan yang tepat juga.

"Biasanya jam makan akan dibatasi saat PTM terbatas. Maka dari itu, bawa bekal secukupnya saja. Tetapi jangan sampai anak kelaparan, disesuaikan bekal apa nih yang cocok untuk anak di masa pandemi. Harus yang ringkas agar dapat makan lebih cepat," ujar Natasya.

3. Vaksinasi
Walaupun anak usia di bawah 12 tahun belum dapat melakukan vaksinasi Covid-19, orang tua tetap harus memastikan kelengkapan imunisasi anak. Selain vaksinasi juga siapkan vitamin yang aman dikonsumsi untuk anak dalam jangka panjang.

4. Mengajarkan Konsep 3M
Jangan lupa untuk mengajarkan anak konsep 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Ketiga aspek tersebut merupakan hal penting yang harus dilakukan selama pandemic.

Selain itu orang tua juga harus membekali anak dengan peralatan yang wajib dibawa saat ke luar rumah. Gunakanlah masker khusus anak agar tidak longgar saat dipakai dan bawakan juga masker cadangan.

5. Menjaga Kebersihan Anak
Selain membawakan anak dengan bekal dan masker, jangan lupa berikan anak gel pembersih tangan. Disinfektan juga dapat diberikan kepada anak guna membersihkan berbagai peralatan sekolah dan permukaan meja anak saat sekolah tatap muka.

sumber: detik.com
Syarat agar Belajar Tatap Muka Aman Jubir Reisa Anak Sehat dan Pakai Masker
30 September 2021
Syarat agar Belajar Tatap Muka Aman, Jubir Reisa: Anak Sehat dan Pakai Masker
foto: ilustrasi belajar tatap muka (liputan6)


itoday - Agar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas aman, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro menekankan, anak harus sehat dan tetap memakai masker. Upaya ini mencegah kemungkinan anak tertular virus Corona.

"Pastikan anak pakai masker sesuai standar. Masker ganda lebih baik," ujar Reisa saat memberikan keterangan pers pada Rabu, 29 September 2021.

"Bekali anak dengan seperangkat protokol kesehatan berupa masker cadangan, hand sanitizer, tisu basah, dan kering."

Menurut Reisa Broto Asmoro, masker harus digunakan dengan benar dan tidak dibuka-buka. Titik lengah kita tertular virus Corona bisa terjadi dengan penggunaan masker yang tidak benar.

“Protokol kesehatan PTM harus dilakukan dengan aman. Titik lengah PTM di sekolah juga saat peserta didik berinteraksi dengan keluarga di rumah,” lanjutnya.

Anak-anak harta terpenting dalam hidup, maka benteng kesehatan dalam keluarga dipertahankan kekuatannya. Hal ini penting dilakukan dalam mendukung PTM dan jaga kewaspadaan terhadap adanya kemungkinan varian baru apabila musim berubah.

Jika Anak Sakit, Jangan Paksa ke Sekolah

Untuk memandu PTM, Satgas Perubahan Perilaku telah menerbitkan panduan bagi orangtua. PTM diizinkan dibuka pada wilayah PPKM Level 1 sampai 3.

“PTM hanya dilakukan di wilayah yang bukan PPKM Level 4. Orangtua harus memastikan anak sehat tidak sakit saat berangkat sekolah," jelas Reisa Broto Asmoro melalui pernyataan tertulis yang diterima Health Liputan6.com.

"Pastikan tidak demam batuk atau sesak napas. Kalau anak sakit, jangan dipaksa ke sekolah."

Di sisi lain, evaluasi PTM terus dilakukan Pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyiapkan strategi deteksi atau surveilans (3T) COVID-19.

Surveilans ini meliputi pelacakan dan testing dengan metode active case finding (menjemput bola). Tahapan metode mencakup identifikasi jumlah sekolah di tingkat kabupaten/kota yang melaksanakan PTM terbatas.

sumber: liputan6.com
Sekolah Tatap Muka Dimulai Bunda Perlu Pastikan Barang Ini Ada di Tas Anak
29 September 2021
Sekolah Tatap Muka Dimulai, Bunda Perlu Pastikan Barang Ini Ada di Tas Anak
foto: ilustrasi (liputan6)


itoday - Turunnya level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah daerah akan diikuti dengan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di sekolah. Kabar ini tentu menjadi salah satu yang paling ditunggu oleh para pelajar dan orang tua yang ingin aktivitas masuk sekolah dimulai kembali.

Mengingat masih dalam situasi pandemi, maka protokol kesehatan dan prinsip kehati-hatian mutlak harus dikedepankan. Pihak sekolah dan orang tua memiliki peran penting untuk selalu mengingatkan anak-anak mereka agar senantiasa menerapkan prokes mulai dari sebelum berangkat sekolah hingga kembali pulang ke rumah.

Tak hanya himbauan dan pesan semata, Bunda juga perlu memastikan sejumlah barang-barang terkait prokes yang perlu ada di dalam tas anak sekolah. Terutama anak-anak sekolah dasar, yang biasanya seringkali melewatkan beberapa barang.

1. Masker Ganti

Anak-anak cenderung aktif dan masker yang dipakai bisa saja mudah kotor atau basah. Maka dari itu perlu untuk menyiapkan masker cadangan, agar sewaktu-waktu anak bisa ganti dengan masker baru. Berikan masker medis atau kain dengan ukuran khusus anak-anak, sehingga nyaman dipakai dan berfungsi secara maksimal.

2. Hand Sanitizer

Selain membiasakan diri agar anak rajin cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah beraktivitas, Bunda perlu menyiapkan hand sanitizer berukuran kecil yang bisa digantung di tas, ikat pinggang, atau masuk kantong. Agar anak mudah mengakses dan tak mudah hilang. Bisa juga menyiapkan semprotan antivirus atau bakteri untuk keperluannya bila ke toilet atau kamar mandi sekolah.

3. Botol Minum dan Bekal Sehat

Kantin di sekolah mungkin masih belum beroperasi. Oleh karena itu, Bunda perlu membekali anak-anak dengan botol minum dan makanan atau camilan sehat. Ingatkan anak untuk menjaga jarak saat minum atau makan karena harus membuka maskernya.

Selain itu, untuk membantu anak belajar lebih baik dan penuh konsentrasi, pastikan di rumah sudah sarapan sehat dan bergizi.

4. Alat tulis dan perlengkapan sekolah

Pastikan seluruh alat tulis dan perlengkapan sekolah sudah tersedia di dalam tas. ulai dari pensil, pulpen, penghapus, penggaris, rautan dan perlengkapan lain. Hal ini agar anak tak perlu meminjam dan melakukan banyak kontak.

Itulah sejumlah barang-barang yang perlu Bunda pastikan ada di dalam tas anak. Lebih dari itu, Bunda perlu ingatkan dan beri pemahaman kepada anak terkait panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi.

Sebelum berangkat sekolah, pastikan anak dalam kondisi sehat dan tidak memiliki gejala seperti suhu ≥37,3°C, atau keluhan batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak napas.

Sepulang dari sekolah, ingatkan anak untuk langsung membersihkan diri (mandi) dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi fisik dengan orang lain di dalam rumah.

sumber: liputan6.com
Jelang Pembelajaran Tatap Muka Ini yang Bisa Ibu Lakukan Untuk Kurangi Kekhawatiran
28 September 2021
Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Ini yang Bisa Ibu Lakukan Untuk Kurangi Kekhawatiran
foto: ilustrasi (pixabay)


itoday - Pemerintah telah menentukan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka secara terbatas dari tingkat PAUD hingga SMA per 30 Agustus 2021 lalu. Hal ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra dari para orangtua.

Sebagian merasa senang melihat anaknya bisa kembali berinteraksi secara langsung dengan guru dan teman-temannya, namun tidak sedikit yang khawatir untuk melepas anaknya kembali belajar di sekolah.

Survei Mama’s Choice selaku produsen produk untuk ibu hamil, menyusui dan anak yang memenangkan kategori parent’s choice di theAsianparent Awards 2021, menunjukkan bahwa 62% orangtua merasa khawatir menjelang pembelajaran tatap muka ini. Sebagian besar merasa khawatir anaknya tertular virus dan penyakit di sekolah.

Dalam online media gathering Mama's Choice “Siap Sekolah Saat Pandemi”, Selasa (28/9/2021), dr. Natasya Ayu Andamari, SpA, memberikan tips tindakan preventif apa yang bisa dilakukan orangtua sebelum anak menghadapi pembelajaran tatap muka.

Salah satunya adalah melengkapi imunisasi anak.

“Saat ini vaksin memang belum bisa digunakan untuk anak dibawah 12 tahun, tapi orangtua bisa memberikan vaksinasi lengkap yang disarankan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) seperti vaksin influenza” tutur dr. Tasya.

Selain itu, dr. Tasya menambahkan bahwa orangtua harus mempersiapkan segala tindakan preventif untuk anak selama pembelajaran tatap muka, seperti melakukan pemeriksaan kesehatan buah hati secara berkala.

"Penting juga bagi orangtua untuk membatasi circle pertemuan anak. Misal jika anak harus masuk sekolah hari Senin, ya hari Minggunya jangan ajak anak ke pantai atau mal. Jangan sampai ia membawa virus yang bisa ditularkan kepada anak lain," katanya.

Menambahkan tips dari dr. Tasya di atas, Rahne Putri selaku Head of Branding Mama’s Choice juga turut memberi saran bagi para ibu agar lebih siap memberikan izin kepada anak dalam melakukan pembelajaran tatap muka.

1. Ajak anak berdiskusi untuk mengambil keputusan pembelajaran tatap muka

Jelaskan kepada anak mengenai keadaan saat ini serta aturan pembelajaran tatap muka yang harus dipatuhi. Tanyakan pendapatnya apakah memilih mengikuti pembelajaran tatap muka atau tetap mengikuti sekolah daring.

2. Ajarkan anak melakukan 3M

Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah salah satu aspek penting yang harus dilakukan anak-anak selama sekolah tatap muka agar terhindar dari virus Covid-19. Maka dari itu penting bagi orang tua untuk mengajarkan kepada anak agar menjaga kebersihan diri dan perlengkapan yang mereka miliki.

“Bekali anak dengan Mama’s Choice Hand Gel, yang bisa melindungi tangan si kecil. Dengan kandungan benzalkonium chloride dan lemon sebagai pengganti alkohol yang efektif membunuh 99.99% kuman, bakteri, dan virus, serta memberikan wangi alami yang segar,” tutur Rahne yang juga merupakan ibu dari 2 anak ini.

Rahne juga mengatakan untuk selalu sediakan desinfektan serbaguna seperti Mama’s Choice Multi-Purpose Cleaner agar dapat membersihkan berbagai peralatan dan permukaan dari kontaminasi virus dan bakteri berbahaya.

3. Pastikan imunitas anak terjaga

Bukan hanya sekedar memberikan vitamin atau asupan makanan yang bergizi, pastikan anak tidak mengalami stres akibat perubahan rutinitas yang mampu menurunkan imunitas.

Biarkan anak melakukan kegiatan yang mereka sukai ketika berada di rumah dan sempatkan waktu bermain bersama. Ciptakan suasana rumah yang nyaman dan bersih dari virus dan bakteri dengan Mama’s Choice Floor Cleaner yang diperkaya dengan antibakteri alami dari Chamomile, Rosemary, & Lavender.

Sebagai bentuk dukungan terhadap mama, Mama’s Choice mengajak ibu dan anak mengikuti digital activity “Siap Sekolah Saat Pandemi”. Caranya, cukup dengan menceritakan persiapan berangkat sekolah saat pandemi di instagram story dengan menggunakan template IG Story dari akun IG Mama’s Choice @mamaschoiceid.

sumber: suara.com
Sulit Membuat Anak Beralih dari Gawai Tanpa Dipaksa
21 September 2021
Sulit Membuat Anak Beralih dari Gawai Tanpa Dipaksa?
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Mendefinisikan "kecanduan layar" sulit dilakukan karena tidak ada kriteria diagnostik medis yang pasti. Tetapi ada beberapa perilaku berbahaya yang harus diwaspadai karena itu menunjukkan seorang anak telah mengalami atau menuju kecanduan.

Menurut juru bicara alat kontrol orang tua dan kesejahteraan digital, Qustodio, mengungkapkan ada tanda bahaya yang harus diwaspadai. Waktu layar sebenarnya bukan satu-satunya indikator yang mencerminkan ketergantungan.

Sulit membuat anak berhenti menggunakan gawai tanpa terlalu dipaksa? Itulah tanda anak kecanduan gawai yang harus diwaspadai orang tua.

Ketika kecanduan, anak akan terus-menerus mencari gawainya. Ia sulit teralih dari gawai hingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti bermain atau interaksi dengan teman atau keluarga.

Hal itulah yang dapat dianggap sebagai tanda bahaya lebih besar daripada sekadar jumlah waktu yang terakumulasi di layar. Para ahli juga menyarankan untuk mengevaluasi bagaimana anak merespons ketika orang tua menyita gawai dan dampak berkurangnya penggunaan gawai terhadap kesejahteraan anak sehari-hari.

"Jika seorang anak rela mengorbankan kebutuhan dasar seperti makan atau tidur demi layar, ini mungkin menunjukkan bentuk kecanduan layar,” kata juru bicata Qustodio, dilansir The Sun, Kamis (16/9).

Memicu kegembiraan
Hal lain yang perlu diwaspadai seperti saat kebahagiaan anak hanya bersumber dari bermain gawai. Anak secara konstan kehilangan minat pada buku, mainan, interaksi sosial, taman, pesta, dan hal lain untuk memicu kegembiraan mereka.

Juru bicara Qustodio mengatakan, waspadai ketika gawai menjadi satu-satunya cara untuk meningkatkan suasana hati anak. Itu mungkin menunjukkan pengembangan hubungan yang tidak sehat antara anak dengan perangkat.

Mulai dari usia dua tahun, menonton video dengan keluarga adalah cara yang baik untuk memperkenalkan anak-anak ke ranah digital. Tetapi, mereka tidak boleh ditinggalkan tanpa ditemani orang dewasa.

Orang tua harus terus mendidik anak-anak tentang menonton yang tepat. Lalu, harus ada aktivitas luar layar yang menyeimbangkannya.

Pada usia delapan tahun ke atas, orang tua bisa mendidik anak-anak tentang bagaimana data mereka dibagikan, potensi bahaya konten daring, dan cara menerapkan batasan layar yang sehat. Selanjutnya, waspadai pula praktik manipulasi oleh anak.

Manipulasi sering kali menjadi taktik yang digunakan oleh anak agar terlibat dalam suatu aktivitas yang mereka tahu mungkin tidak menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Mereka dapat saja menggunakan metode manipulasi untuk mencapai tujuannya.

Juru bicara Qustodio mengatakan, apabila anak mencoba memanipulasi situasi, ini mungkin menunjukkan bahwa mereka terlalu lama terpaku pada layar. Ketika anak mereka mencoba menyelundupkan tablet ke kamar tidur pada malam hari atau menyangkal durasi mainnya itu waktunya untuk mengevaluasi kembali batasan.

Dampak fisik

Waktu layar yang berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan fisik anak. Penelitian telah menunjukkan bahwa pola tidur yang terganggu, nyeri leher kronis, postur tubuh yang buruk, keterlambatan bicara, dan interaksi sosial yang kaku, adalah beberapa dampak akibat waktu layar terlalu lama.

Mencegah ketergantungan layar

Jangan melepas perangkat tanpa memberikan hiburan atau tindakan alternatif. Terapkan pendekatan "tidak terlihat, tidak terpikirkan" dengan tidak menunjukan perangkat saat tidak digunakan. Tetapkan batasan secara konsisten dan tidak ada negosiasi.

sumber: republika.co.id
Kemnaker dan PBNU Susun Modul Community Parenting Ini Kegunaannya
18 September 2021
Kemnaker dan PBNU Susun Modul Community Parenting, Ini Kegunaannya
foto: Ida Fauziah (detik)


itoday - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bekerja sama dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) melakukan penguatan pengasuhan anak secara bersama (community parenting) dengan menghadirkan modul Community Parenting Desmigratif. Ini dilakukan untuk pengembangan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).

"Kepedulian kita semua terhadap perkembangan anak-anak PMI dapat menjadi lebih nyata, terutama melalui penyusunan konsep dan model pembangunan community parenting di Desmigratif," ujar Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/9/2021).

Ida menyatakan modul yang akan dikembangkan ini bukan saja untuk anak-anak PMI, melainkan juga pekerja migran, untuk pengganti orang tua dan lingkungan sekitar, serta untuk fasilitator/Petugas Desmigratif.

"Hal ini berarti pendekatan pelaksanaannya sudah sangat komprehensif, mengambil berbagai sudut pandang dan pihak-pihak yang terlibat," ujarnya.

Ia mengingatkan konsep dan model pembangunan community parenting di Desmigratif dapat saja berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, terutama karena adanya perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

"Saya yakin dengan expert meeting ini akan memperkaya konsep pembangunan komunitas keluarga Desmigratif dan menaruh harapan besar terhadap modul yang akan dihasilkan," ucapnya.

Ida Fauziyah juga menyatakan semua anak, tak terkecuali anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri, merupakan generasi penerus bangsa yang akan menentukan kejayaan bangsa Indonesia di masa datang.

Namun, kata Ida, dalam pelaksanaan pilar Community Parenting ditemukan beberapa permasalahan di lapangan, seperti anak-anak kerap mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang tuanya yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI), kesulitan dana untuk sekolah dan keperluan sehari-hari, bermasalah dalam lingkungan masyarakat dikarenakan sering dianggap anak yang tidak memiliki keluarga yang utuh, dan pengasuhan anak-anak PMI oleh keluarga asuh biasanya kurang optimal dibandingkan dengan pengasuhan yang dilakukan orang tua kandung.

sumber: detik.com

Terpopuler