Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Apa itu Tiger Parenting Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
07 September 2021
Apa itu Tiger Parenting? Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Metode tiger parenting merupakan salah satu pola asuh yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan para orangtua di seluruh dunia.

Pola asuh tiger parenting pertama kali diperkenalkan oleh penulis Amy Chua lewat bukunya, Battle Hymn of the Tiger Mother.

Wanita yang merupakan profesor hukum di Universitas Yale, AS ini menulis tentang pengaruh kebudayaan Cina, yang dimilikinya, dalam pola pengasuhannya.

Dalam buku Tiger Mom ini, ia mengungkapkan soal jenis parenting yang dipraktikkannya dalam mendidik anak-anaknya. Beberapa hal yang dilakukannya memicu pro kontra dari banyak pihak sementara yang lain mendukungnya.

Namun Chua yakin, berdasarkan contoh kasus tiger parenting yang dijalani dan ditulisnya, cara itu amat bermanfaat. Menurutnya, dampak positif tiger parenting terlihat dari kesuksesan anak-anaknya di sekolah maupun studi musik yang dijalaninya.

Apa itu Tiger Parenting?

Tiger parenting adalah metode pengasuhan yang bersikap keras dan otoriter secara terang-terangan. Gaya pengasuhan seperti ini terlihat dingin, menuntut, dan sering kali tidak mendukung secara emosional.

Chua, yang mendeskripsikan dirinya sebagai Tiger Mom, melakukannya dengan cara melarang anak perempuannya menonton televisi, bermain game komputer, menginap, berkencan, atau mendapatkan nilai kurang dari A.

Pesan utamanya adalah keberhasilan akademik wajib dicapai dengan pengorbanan apapun termasuk kekurangan waktu bermain dan kelonggaran lainnya untuk anak.

Namun tiger parenting berbeda dengan otoriter parenting. American Psychological Association (APA) mengatakan, tiger parenting mencakup pola asuh negatif dan positif tingkat tinggi sekaligus.

Misalnya keberadaan aturan ketat sekaligus kehangatan dan dukungan penuh dari orangtua pada anak.

Para tiger mom maupun dad merupakan orang yang mempraktikkan strategi pengasuhan positif dan negatif secara bersamaan.

Banyak Pro Kontra

Gaya pengasuhan Amy Chua menuai pro kontra dari banyak pihak. Ada yang memberikan reaksi keras karena menganggap tiger parenting tidak akan menghasilkan perkembangan yang optimal pada anak.

Banyak yang menilai, bukunya itu hanya ditulis berdasar pengalaman pribadinya. Bukunya tidak didukung penelitian ilmiah yang dapat mempertimbangkan perbedaan antar keluarga dan berbagai kemungkinan hasilnya.

Sementara itu, para pendukungnya berkeras kesuksesan akademis dan musik anak-anak Chua merupakan bukti efektivitas metode ini.

Souzan Swift, PsyD, seorang psikolog di Amerika Serikat mengatakan kesuksesan anak adalah hal utama dan terpenting dalam tiger parenting.

"Anak-anak sering kali menuruti permintaan orangtua mereka karena takut akan hukuman,” jelasnya.

Ia mengatakan anak-anak membutuhkan penerimaan dan cinta dari orangtuanya. Oleh sebab itu, tiger parenting mungkin saja bisa berpengaruh buruk pada kesehatan mental anak.

Gaya mengasuh ini tampak berniat positif untuk menunjang kesuksesan anak dalam hal akademis.

Namun ini mungkin mengikat harga diri dan penerimaan anak dengan tingkat kesuksesan mereka, yang dapat menciptakan banyak tekanan dan stres.

sumber: kompas.com
Saat Anak Demam Bisa Muncul Tiga Komplikasi Ini
06 September 2021
Saat Anak Demam, Bisa Muncul Tiga Komplikasi Ini
foto: ilustrasi (dream)


itoday - Anak-anak seringkali mengalami demam. Suhu tubuhnya lebih dari 38,5 derajat celcius bahkan hingga 40 derajat. Dalam kondisi tersebut sebenarnya sistem kekebalan tubuh anak sedang melawan peradangan yang disebabkan oleh bakteri, parasit, atau virus.

Suhu tubuh yang tinggi tak selalu jadi pertanda berbahaya. Kecuali, jika sudah berlangsung lebih dari tiga hari. Saat anak demam penting untuk memantau terus suhunya.

Berikan juga banyak minum atau cairan lain. Pasalnya ada tiga komplikasi yang perlu diwaspadai saat anak demam. Apa saja?

1. Dehidrasi

Saat demam, kebutuhan cairan tubuh anak juga ikut meningkat. Anak yang demam biasanya hanya ingin beristirahat atau tidur. Tanpa disadari, hal itu membuat anak malas minum dan kekurangan cairan. Dampaknya, anak berisiko mengalami dehidrasi.

Komplikasi dehidrasi saat demam ditandai dengan gejala seperti mulut dan bibir anak kering, urinenya berwarna gelap dan pekat. Volume buang air kecil berkurang, tubuh anak lemas. Bila anak masih belum mau atau tidak bisa mengonsumsi banyak cairan, maka ia akan mengalami gejala dehidrasi lanjutan.

Kondisi dehidrasi lanjutan ditandai dengan menangis tanpa air mata, kulit berkerut dan ketika dicubit elastisitas kulit akan lambat kembali seperti semula.
Anak sangat mengantuk. Meski terlihat sepele, kehilangan cairan tubuh sebesar 12 hingga 15 persen dapat menyebabkan anak mengalami syok yang berakibat fatal.

2. Halusinasi dan Delirium

Salah satu komplikasi yang dapat muncul saat anak demam adalah halusinasi dan delirium. Delirium terjadi ketika kesadaran anak menurun sehingga membuatnya linglung atau kebingungan.

Sementara itu, halusinasi saat demam diakibatkan oleh peningkatan iritabilitas pada sel-sel otak. Demam dapat mempercepat metabolisme yang membuat tubuh lebih aktif dan sel-sel otak lebih peka terhadap rangsangan.

3. Kejang

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, kejang demam adalah komplikasi yang dapat terjadi selama episode demam. Kejang demam dapat dipicu oleh demam dengan suhu tubuh di atas 37,5 derajat celcius.

“Kejang demam bisa terjadi di usia 0-5 tahun. Saat kejang, oksigen tidak menyuplai ke area otak. Akibatnya, ada bagian otak yang tidak mendapat oksigen dan akan mengganggu tumbuh kembang anak,” kata dr. Dyah Novita, dikutip dari KllikDokter.

Secara umum, kejang demam bukanlah kondisi berbahaya. Kejang demam sederhana atau tidak berbahaya ditandai dengan gejala kejang, kehilangan kesadaran, bibir membiru, dan otot berkedut atau tegang.

sumber: dream.co.id
Orangtua Wajib Tahu 3 Poin Utama Penyebab Stunting
04 September 2021
Orangtua Wajib Tahu, 3 Poin Utama Penyebab Stunting
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Dinas Kesehatan Kota Bandung menyebutkan pemberian nutrisi sehat dan bergizi di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi bagian terpenting mencegah stunting.

Menurut Kepala Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bandung Nila Avianti, 1000 HPK ini mulai dari usia kandungan 0 (nol) bulan hingga anak usia 2 tahun.

"Ada tiga poin utama yang mempengaruhi terjadinya stunting yakni pola makan, pola asuh, dan sanitasi yang kurang sehat," ujar Nila ditulis Bandung, Rabu (1/9/2021).

Nila menjelaskan stunting merupakan kekurangan gizi kronis atau kurangnya asupan protein dan sumber energi pada anak dalam waktu yang cukup lama. Sehingga menyebabkan anak gagal tumbuh.

Maka untuk mencegah terjadinya stunting baru diperlukan pencegahan mulai dari hulu. Yaitu pemberian tablet penambah darah minimal satu bulan sekali bagi remaja putri dan ibu hamil.

"Jadi kalau tidak ingin anak stunting, mulai remaja diberikan asupan gizi seimbang, minum tablet penambah darah. Ketika hamil diberikan asupan gizi yang baik sampai anaknya kemudian lahir sampai 2 tahun," sebut Nila.

Stunting Lewat dari 2 Tahun Sulit Diintervensi

Nila mengatakan angka stunting di Kota Bandung kini mencapai 8,93 persen atau sebanyak 9.567 balita mengalami stunting.

Untuk itu otoritasnya terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menangani permasalahan stunting di Kota Bandung.

"Makanya stunting ini tidak langsung pada saat anak lahir, tapi dari mulai ibunya hamil sampai anak 2 tahun. Kalau sudah lewat 2 tahun ini sulit diintervensinya," jelas Nila.

Nila menyebutkan Dinas Kesehatan bekerja sama dengan kader PKK mulai dari pemberian makanan tambahan bagi bayi dan ibu hamil dan melakukan pemantauan perkembangan pertumbuhan balita secara rutin.

Selain itu, juga melakukan bulan penimbangan balita bersama Posyandu untuk memantau tumbuh kembang balita, hingga melakukan edukasi tentang pemberian makanan bagi bayi dan anak.

"Karena stunting menjadi tanggung jawab bersama, menyelamatkan satu generasi berarti menyelamatkan anak bangsa," sebut Nila.

Sementara itu Ketua Pokja 4 TP-PKK Kota Bandung Eulis Sumiyati menuturkan dalam rangka menurunkan angka stunting, kelompoknya telah menggagas program gerakan Bandung Tanginas atau Bandung Tanggap Stunting dengan Pangan Aman dan Sehat.

Melalui Bandung Tanginas, kelompoknya memberi pangan aman dan sehat bagi ibu hamil, ibu menyusui 0-6 bulan, dan anak dibawah usia 2 tahun.

"Dalam arti sesungguhnya, Tanginas itu bergerak cepat. Kita berharap betul penanganan stunting bergerak cepat, bagaimana setiap OPD maupun organisasi kemasyarakatanan bisa mendukung menurunkan angka stunting," ungkap Eulis.

Eulis berharap dengan cara memberikan makanan sehat dan bergizi di 1000 HPK, angka stunting di Kota Bandung tidak terus bertambah.

Sebab Eulis paham betul bahwa stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis.

"Mungkin kuncinya itu di pangan aman dan sehat. Pangan aman sehat itu bisa diperoleh bukan karena makanan mahal. Tetapi dengan makanan yang murah sebetulnya bisa menyediakan makanan sehat bagi anak-anak terutama di 1000 HPK," ucap Eulis.

Untuk itu kelompoknya mendorong setiap rumah untuk memiliki Buruan Sae yaitu memanfaatkan lahan rumah untuk menanam sayuran dan budidaya ikan.

Rencananya pada Bulan September-Oktober akan digelar pelatihan bagi 400 kader Posyandu. Tujuannya menjadi garda terdepan menyampaikan informasi kepada masyarakat soal pencegahan stunting.

Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kota Bandung dalam menurunkan angka stunting. Mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pembentukan Satgas ODF (Open Defecation Free).

sumber: liputan6.com
4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua saat Memarahi Anak Membentak
03 September 2021
4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua saat Memarahi Anak, Membentak!
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Sebagai orang tua yang baik, ketika melihat anak berbuat salah, memang harus ditegur, supaya anak jadi tahu bahwa apa yang dilakukannya itu keliru. Hanya saja, terkadang orang tua salah dengan cara mendisiplinkan anak.

Meskipun berniat baik, sebaiknya hindari beberapa kesalahan berikut yang kerap dilakukan orang tua saat memarahi anak. Apa saja?

1. Memarahi anak di depan orang banyak

Sama halnya kamu, yang merasa malu ketika dimarahi di depan umum, begitu pula perasaan anak. Anak pun akan merasa terluka harga dirinya ketika kamu memarahinya di depan umum. Jadi, sebaiknya cari tempat yang lebih terjaga privasinya ketika ingin menegur anak. Supaya ia bisa menerima nasihatmu, tanpa merasa sakit hati karena sudah dipermalukan di depan publik.

2. Membentak anak

Sebagai orang tua, memang gak selamanya suasana hatimu mendukung untuk bisa sabar. Kadang karena capek, kamu jadi gampang emosi ketika melihat perilaku anak yang salah.

Akan tetapi, sebisa mungkin, jangan sampai membentak anak. Karena bisa berpengaruh pada psikologisnya kelak. Ia jadi takut kepadamu, orang tuanya sendiri, sehingga hubungan orang tua-anak jadi berjarak.

3. Memarahi dengan kata-kata kasar

Waspadalah dengan mulutmu, karena hal itu bisa berbekas lama di hati anak. Jika membentak saja harus dihindari, apalagi sampai menggunakan kata-kata kasar.

Berbicara seperti itu dengan orang dewasa tidak sopan, maka jangan lakukan ke anak. Hal tersebut sama saja mengajarinya untuk tidak beretika. Kalau kamu sering berkata kasar pada anak, anak akan mengingatmu sebagai orang tua yang berperilaku kasar. Gak mau, kan?

4. Melakukan kekerasan fisik

Ini pun sering terjadi pada orang tua. Menampar, mencubit, bahkan sampai menendang. Ingat, ya, apa pun alasannya, melakukan kekerasan fisik pada anak tidak akan pernah bisa dibenarkan. Hal itu menunjukkan pengendalian dirimu sebagai orang tua yang masih kurang.

Melakukan kekerasan fisik pada anak, bukan malah baik, tapi bisa merusak psikologis atau mental anak. Anak juga rentan jadi tukang bully, karena ia sering merasa tertekan dengan tindakanmu itu.

Nah, itu dia beberapa kesalahan yang kerap orang tua lakukan pada anak. Mulai sekarang, hentikan, ya!

sumber: suara.com
Waktu yang Tepat bagi Meisya Siregar Mendongeng untuk Anaknya
02 September 2021
Waktu yang Tepat bagi Meisya Siregar Mendongeng untuk Anaknya
foto: Meisya Siregar (okezone)


itoday - Rupanya artis lawas Meisya Siregar membagikan pengalamannya mendongeng untuk anak-anaknya. Ia mengaku, dalam membuat anaknya Bambang untuk fokus mendengarkan dongeng yang dibacakannya memang tidak mudah.

Namun untuk mensiasati hal tersebut, Meisya mempunyai caranya sendiri. "Biasanya Bambang gak mau didongengi karena lapar, ngantuk atau pas dia lagi kepikiran melakukan aktivitas lain. Nah dari situ, aku belajar untuk mencari timing yang tepat untuk mendongeng. Mulai dari tekniknya, terus gimana cara mencuri perhatiannya bambang, sampai akhirnya dongeng jadi aktivitas yang menyenangkan buat Bambang," ujar Meisya.

Menurut Meisya, waktu yang tepat untuk mendongeng adalah saat sebelum tidur. Karena pada saat itu anak bisa menyerap nasehat dengan manjur sampai ke alam bawah sadarnya. Sehingga di pagi hari pun sang buah hati masih mengingat perkataan Bunda ataupun Ayahnya.

"Waktu yang tepat menurut aku ya pada saat anak lagi gak lapar, gak ngantuk, dan juga saat dia lagi gak pengen ngelakuin kegiatan lainnya. Untuk tekniknya sendiri biasanya aku memainkan intonasi saat bercerita, jadi dia semakin tertarik gitu. Dan gak lupa juga kita harus ekspresif," ujarnya

"Tapi mayoritas aku mendongeng saat Bambang mau tidur sih, tapi bukan pas dia udah ngantuk banget ya. Karena pada saat itu biasanya langsung menyerap sampai alam bawah sadar Bambang. Terus kalau pagi biasanya aku tanya, dia pasti inget dongeng atau perkataan aku yang bilang semalam," lanjutnya.

sumber: okezone.com
Wujudkan Kehangatan Keluarga Melalui BijakBersamaOma
01 September 2021
Wujudkan Kehangatan Keluarga Melalui #BijakBersamaOma
foto: ilustrasi (sindonews)


itoday - Brand camilan lokal Kata Oma Telur Gabus berupaya untuk terus peduli terhadap kehangatan keluarga Indonesia. Mereka pun menunjukkan dukungannya dengan memberikan edukasi dan tips yang relevan dengan tantangan-tantangan yang harus dihadapi sekarang ini.

Belum lama ini, Kata Oma menghadirkan kampanye terbaru bertajuk #BijakBersamaOma melalui live Instagram di akun @kataoma.id. Kampanye tersebut secara khusus bertujuan untuk memberikan dukung pada setiap ibu, di mana seorang ibu diyakini memiliki peran penting dalam penjaga kehangatan keluarga .

"Seorang penjaga kehangatan keluarga memiliki banyak tantangan dalam tugasnya mengurus rumah tangga, suami dan anak, Bijak Bersama Oma hadir sebagai bantuan yang akan memberikan tips, edukasi maupun menjadi wadah bagi Ibu untuk bertanya dan bertukar cerita," ungkap sang moderator #BijakBersamaOma, Isabel Yuliani.

Kegiatan #BijakBersamaOma sendiri dibagi menjadi 4 kelas, di antaranya Lindungi Anak dari Covid bersama dr. Juliana Refanya Labora, Sp.A. Di sini sang narasumber akan memaparkan pentingnya peran orang tua untuk melindungi anak dari Covid-19, serta penjelasan mengenai tindakan korektif yang dapat dilakukan jika anak positif Covid-19.

Acara kedua mengangkat tema parenting dengan judul How to Deal with Toddlers 24/7 bersama Miss Rosa dari Montessori Haus Asia dan Viryani Kho sebagai narasumber yang menjelaskan tentang bagaimana mengurus, menemani dan mendukung pertumbuhan anak 24/7.

Tidak hanya Montessori Haus Asia, acara ini juga menggandeng Momsfluencer yang memiliki komunitas para ibu muda dalam berbagi pengalaman parenting mereka.

"Kami sangat senang terlibat dalam acara Kata Oma x Momsfluencer ini, tentunya banyak insight yang diberikan selama event ini berlangsung, contohnya ide bermain dan aktivitas yang bisa dilakukan oleh si kecil selama masa PPKM dan lain sebagainya," beber CEO Momsfluencer, Gita Mechtilde.

Acara ketiga, DIY Pancake with Chiellyn Ashley, yang memandu cara memasak pancake. Dan acara terakhir, Rahasia Nutrisi Anak bersama Widya Fadila M.KM, yang merupakan nutrisionist untuk anak. Di sini, dia memaparkan pentingnya peran orang tua udalam memperhatikan nutrisi anak agar tumbuh kembangnya berjalan optimal.

Seluruh rangkaian acara #BijakBersamaOma tersebut sukses digelar setiap Sabtu pukul 10.00 WIB selama Juli lalu.

Kegiatan tersebut mendapatkan respons positif dari para penonton yang mengikuti. Itu bisa dilihat dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir di kolom chat secara terus menerus, dan banyaknya akun yang ikut serta dalam kuis-kuis yag berhadiah saldo Gopay Rp50.000 untuk total 20 orang pemenang.

"Terima kasih kak sharing hari ini sangat bermanfaat sekali," ungkap peserta melalui akun @fitrrri***.

"Aku juga mau diinfo ya kalau ada lagi," sahut @ekhau***.

sumber: sindonews.com

Terpopuler