itoday - Koordinator Koalisi Nasional Penyelemat Kretek Indonesia (KNPK), Zulvan Kurniawan, mengatakan, bahwa bisnis tembakau, adalah bisnis yang menggiurkan.
Menurut Zulvan, nilai perdagangan tembakau global selalu naik. Data pada 2011,mencatatkan nilai bisnis tembakau mencapai US$4,6 miliar.
"Ini bisnis yang sangat besar," kata Zulvan, di Jakarta, Jumat (3/8).
Kata Zulvan, tak mungkin dengan nilai bisnis tembakau global sebesar itu, perusahaan asing tak berkepentingan dengan Indonesia. Sebab dengan penduduk sebesar 200 juta, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan.
"Makanya saya tak yakin regulasi yang dirancang itu bebas kepentinga dan murni untuk kesehatan saya rasa tak seperti itu," ujarnya.
Menurut Zulvan, Indonesia adalah pasar empuk industri tembakau. Berpenduduk 100 juta. Dan perokok di Indonesia di perkirakan mencapai 80 juta.
"Ini tentu pasar yang potensial. Dan produk tembakau petani tak besar. Petani produksinya 170 ribu ton. Sementara jumlah produksi tembakau yang di butuhkan 250 ribu. Sisanya ya di impor," ungkapnya.
Bahkan tiap tahun, impor tembakau semakin tinggi. Dan itu juga dipengaruhi konsumen yang lebih menyukai rokok mild. Itu juga tak lepas dari keluarny PP Nomor 81, tentang kandungan tar dan nikotin yang harus rendah.
"Otomatis kalau ingin begitu, ya pakai tembakau virginia. Dan itu harus impor. Semakin digemari, angka impor semakin tinggi," kata dia.
Kata dia, perilaku konsumen dibentuk oleh produk. Dan produk di tentukan oleh regulasi.
"Kalau RPP Tembakau semakin ketat, dan dengan begitu semakin tak ada tempat bagi kretek Indonesia. Lama kelamaan akan terancam," kata Zulvan.
Ia pun menuding, RPP hanya jadi ajang kepentingan bisnis asing. "Bantak selundupan pasal-pasal yang sarat kepentingan," katanya.
Laporan: Agus Supriyatna


