Salah Satu Aksi Tolak Kenaikkan BBM (Foto: Istimewa)
itoday - Pemerintah menyatakan kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) semakin sulit dilakukan, mengingat harga minyak mentah dunia cenderung turun.
"Dengan kecenderungan harga minyak hampir mendekati US$80 dolar per barel untuk Texas dan US$90an per barel untuk jenis brent maka akan sulit memenuhi pagu dimana BBM boleh naik," kata Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini di Jakarta, Jumat (15/6).
Meski begitu, lanjut Rudi, pemerintah tidak boleh diam saja. Pemerintah akan terus mensosialisasikan gerakan penghematan energi dengan melakukan efisiensi. Efisiensi ini, lanjutnya, harus dimulai dari kantor-kantor pemerintahan.
Pemerintah akan terus mengajak masyarakat untuk merubah perilaku menjadi lebih hemat energi dengan cara-cara yang sederhana, seperti matikan lampu dan penyejuk ruangan sebelum keluar ruangan atau matikan air setelah digunakan.
"Yang akan diubah adalah kebiasaan. Cara kita mengelola dan gunakan energi dan air. Yang biasa gunakan AC temperatur 18 derajat dinaikkan menjadi 24-25 derajat. Listrik juga begitu, tiap keluar ruangan dan ruangan kosong harus dimatikan," ujarnya.
Selain menggalakan program penghematan di segala lini, pemerintah juga menyiapkan program pengalihan penggunaan BBM ke bahan bakar gas (BBG), dengan menyiapkan segala infrastrukturnya. Dengan disiapkannya segala infrastruktur BBG, pemerintah berharap pengusaha mau beralih menggunakan BBG.*

