Menurut Badan Pusat Statistik menyatakan (BPS), Rabu (1/8/2012), sepangjang sejarah, perdagangan Indonesia kerap sekali selalu untung dan jarang mengalami defisit. Tapi begitu perdagangan tersebut mengalami defisit, maka nilainya cukup besar.
Bukan itu saja, defisit Juni 2012, ternyata merupakan defisit perdagangan ke-3 berturut-turut. Sebelumnya, defisit perdangangan juga terjadi pada April dan Mei 2012, yakni berturut-turut mencapai US$ 764,7 juta dan US$ 485,9 juta.
BPS menyatakan, defisit itu terjadi karena terjadinya penurunan permintaan dari negara utama tujuang ekspor Indonesia, seperti China, Jepang, dan India. Kondisi dunia saat ini, juga menyulitkan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan ekspor.
Guna mengatasi keadaan ini, pemerintah diharapkan melakukan banyak perjanjian dagang (MOU) guna menjaga distribusi produk dalam negeri. Cara ini, memang tak bisa segera dirasakan, karena tindak lanjutnya, bisa terlaksana antara setengah tahun hingga satu tahun kemudian.*
Peristiwa Lainnya:


