Tenaga Kerja Bidang Konstruksi (Foto: Istimewa)
itoday - Ternyata kualitas sumber daya manusia (SDM) dibidang konstruksi di Indonesia masih sangat rendah. 60 persen pekerja konstruksi rata-rata hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), 30 persen lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), sisanya lulusan universitas (S1).
Akibat masih rendahnya kualitas pendidikan pekerja konstruksi, banyak bangunan di Indonesia hanya sekedar asal berdiri, tanpa jaminan berapa lama akan bertahan.
"Ini sebenarnya yang harus jadi perhatian kita semua," ujar Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Soeharsojo, di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Kamis (14/6).
Menurutnya rendahnya tingkat pendidikan ini yang membuat skill dalam peletakan batu, merapihkan tembok tidak memadai. Hal ini perlu ditingkatkan melalui pelatihan yang diadakan baik pemerintah, Jamsostek ataupun Gapensi.
Pekerja konstruksi yang berpendidikan rendah biasanya ditarik untuk suatu pekerjaan konstruksi seperti pembangunan perumahan. Namun untuk pembangunan jalan layang atau tol dengan banyak alat berat lebih banyak memiliki skill yang baik.
Soeharsojo menambahkan, masyarakat selalu berpikir jika membangun rumah, terutama bukan rumah bertingkat, merupakan hal mudah dan siapapun bisa melakukannya. Untuk itu perlu adanya usaha peningkatan kualitas pekerja konstruksi agar mutu yang dihasilkan bisa lebih baik.*

