Ilustrasi Jembatan Selat Sunda (ist)
itoday - Rapat koordinasi di kantor Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa terkait proyek Jembatan Selat Sunda (JSS), Rabu (18/7/2012), memutuskan membentuk tim tujuh. Tim ini memiliki waktu dua minggu untuk mengkaji dua model pembangunan proyek bernilai sekitar Rp 200 triliun itu.
Model pertama pembangunan JSS, proyek pembangunan jembatan itu dijadikan satu kesatuan dengan kawasan ekonomi terpadu. Sedangkan studi kelayakannya, rencananya digarap perusahaan PT Graha Banten Lampung Sejahtera, yang sebelumnya telah melakukan prastudi kelayakan.
Tapi kemudian, Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menginginkan agar proyek JSS dipisahkan dari konsep pembangunan kawasan ekonomi terpadu. Lalu studi kelayakan akan dilaksanakan pemerintah dengan sistem tender dengan alasanÃÂ lebih aman untuk kepentingan nasional.
Rapat di kantor Menko Perekonomian itu dipimpin pihak tuan rumah, Hatta RajasaÃÂ dan dihadiri sejumlah menteri. Mereka yang hadir di antaranya Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Salsiahj Alisjahbana dan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Suyanto,.ÃÂ ÃÂ ÃÂ
Jembatan sepanjang 27,4 kilometer ini akan mulai dibangun pada 2014 dan beroperasi pada 2025. Bappenas menaksir biaya pembangunannya mencapai US$ 25 miliar atau sekitar Rp 225 triliun. Tapi biaya sesungguhnya baru akan diketahui setelah ada hasil studi kelayakan.*

