itoday - Melorotnya produksi pertanian Indonesia ditenggarai karena anggaran yang mini untuk sektor pertanian, akibatnya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri Indonesia harus mengandalkan dari impor.
"Dibandingkaan anggaran keagamaan yang mencapai Rp 37 triliun, anggaran pertanian hanya setengahnya atau Rp 18 triliun pertahun. Bagaimana mau sektor pertanian maju kalau anggarannya hanya segitu," kata Kordinator Nasional Aliansi untuk Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko.
Menurut Tejo pada Dialog Interaktif "Perspektif Indonesia", bertajuk "Lonjakan Harga Pangan dan Ancaman Krisis" di Gedung DPD RI Jakarta Jum'at (27/7), jika ingin lepas dari ketergantungan impor produk pangan, Indonesia harus melakukan swasembada pangan.
Oleh karena itu pemerintah harus berani mengambil kebijakan dengan memperbesar nilai anggaran kepada sektor pertanian, disamping juga pembenahan atau restrukturisasi lembaga pangan seperti Perum Bulog.
"Yang paling penting adalah anggaran, sebab dengan anggaran segitu berapa suportnya yang jatuh ke petani," ujarnya.
Walau Indonesia dianggap sebagai negara agraris dan negara maritim namun anggaran untuk memajukan kedua sektor tersebut kurang diperhatikan pemerintah dari kecilnya anggaran untuk kedua sektor andalan bangsa ini.
Anggaran pertanian tahun ini hanya Rp 18 triliun, sektor kelautan Rp 5 triliun, dan keagamaan Rp 37 triliun atau lebih besar dari kedua sektor andalan tersebut. "Indonesia itu bukan negara agraris dan maritim, tapi negara keagamaan," sindir Tejo.*
Produksi Pertanian Indonesia Jeblok Akibat Minim Anggaran
Peristiwa Lainnya:


