Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank
A+ R A-

Keluarga Alumni Masjid Salman Gagas Penyatuan Kalender Hijriyah

E6f672573de97201e63116ed8d75f8f5 Masjid Salman ITB (IST)

itoday - Keluarga Alumni Salman ITB (Kalam Salman ITB), akan menggelar diskusi, bertajuk, 'Penyatuan Kalender Hijriyah: Antara Cita dan Fakta.' Diskusi yang akan digelar pada 6 Agustus itu, sebagai ikhtiar untuk menggagas kemungkinan penyatuan kalender hijriyah.

Demikian disampaikan Ketua Umum Kalam Salman ITB, Dasep Ahmadi dalam rilis persnya yang dikeluarkan di Jakarta, Sabtu (4/8). Diskusi pada Senin, 6 Agustus 2012, kata Dasep akan menghadirkan Dr Moedji Raharto, Dr Thomas Djamaluddin, Dr  Agus Purwanto.

Menurut Dasep, kenapa diskusi tentang penyatuan kalender hijriyah menjadi penting, karena setiap tahun di dunia Islam terjadi perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan.

"Hal ini berkait dengan seluk-beluk penentuan kalender Hijriah. Oleh karena itu, Keluarga Alumni Salman ITB (Kalam Salman ITB) perlu mengadakan bersama para pakar untuk membahas hal ini," ujarnya.

Dasar pemikirannya, kata dia, adalah kitab suci, Al Quran, Surat Yunus (10), ayat 5. Dalam Surat Yunus itu, dinyatakan, " Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun danperhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orangyang mengetahui".

Dari ayat tersebut, katanya,  dapat disimak bahwa manusia diminta untuk mempelajari perjalanan bulan dan mengenali perhitungan terhadap perputaran waktu.

"Kita menyadari bahwa waktu adalah sebuah proses yang tidak mengalami pengulangan karena waktu diciptakan hanya "satu" kali, dengan demikian tidak ada waktu yang berulang atau muncul dua kali," ujarnya.

Menurutnya,  jika terjadi perbedaan waktu seperti awal Ramadhan, awal Syawal dan sebagainya, berarti ada "dua" waktu berulang. Dan hal ini tentunya menyalahi kaidah waktu. Untuk menghindari terjadinya pengulangan waktu ini tentu diperlukan kesepahaman terhadap pergerakan benda-benda ruang angkasa yang sudah diyakini keberadaaanya.

"Perhitungan terhadap perjalanan benda-benda ruang angkasa telah banyak dilakukan oleh para ahli astronomi," ujarnya.

Di antaranya, kata dia,  yang dilakukan oleh ilmuwan muslim, seperti  Al-Battani (858-929)  yang berhasil mengembangkan metode perhitungan pergerakan planet-planet, dan penentuan awal bulan. Begitu pula perhitungan yang dilakukan oleh Abdur Rahman  Al-Sufi (903-986 M) yang mengembangkan astronomi terapan dalam menetapkan arah pergerakan matahari, bulan, dan planet.

"Pada zaman modern ini ilmu astronomi berkembang dengan pesat dengan dukungan teknologi modern sehingga semakin memudahkan para ahli dalam mengamati pergerakan benda-benda ruang angkasa," ujarnya.

Kata dia, ilmu astronomi ini sangat bisa memberi solusi penyatuan kelender Islam. Termasuk dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Karena itu, ujar dia, perlu ada sebuah diskusi, bahkan kajian membahas itu.

"Tujuannya adalah memberikan perspektif ilmiah dalam penentuan kepastian keberadaan benda-benda angkasa, khususnya bulan dan matahari, melalui pendekatan-pendekatan logika ilmiah," ujar Dasep.

Serta memberikan dasar penentuan kalender hijriah yang dapat dijadikan rujukan kaum muslimin. Sedangkan sasaran dari diskusi yang akan di gelar,  adalah terwujudnya kesepahaman dalam penyusunan kalender hijriah. Dan tersusunnya rekomendasi penanggalan hijriah yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam pengambilan keputusan.

"Selain tersosialisasikannya hasil diskusi ini secara nasional," pungkasnya.

Laporan: Agus Supriyatna

Banner

Register

*
*
*
*
*

* Field is required