itoday - Kudus sebagai kota santri memiliki dua makan Wali Songo yaitu makan Sunan Kudus dan Sunan Muria.
Makan Sunan Kudus terletak di belakang Masjid Menara. Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Al Aqsha, tetapi masyarakat setempat lebih mengenalnya Masjid Menara.
Memasuki bulan Ramadhan warga sekitar Kudus, seperti Demak, Jepara, Pati banyak yang melakukan aktivitas ibadah di Masjid Menara.
Ramadhan 1433 H, pihak Masjid Menara sudah menyediakan berbagai kegiatan di antaranya pengajian Tafsir Al Quran setelah shalat Subuh yang diasuh secara langsung ulama kharismatik KH Sya'roni Ahmadi Al Hafidz.
Para jamaah Mbah Sya'roni begitu beliau disapa berbagai pelosok dari penjuru kudus dan wilayah sekitarnya seperti Demak, Jepara dan Pati. Para Jamaah dari luar kota Kudus ini rela berangkat dari kota asalnya sebelum subuh.
Seperti penuturan Harun yang mengaku berasal dari Jepara. Ia bersama istri dan para tetangga sengaja ingin mendengarkan pengajian Mbah Sya'roni. "Kami bawa mobil dan mengajak beberapa tetangga untuk mendengarkan pengajian Mbah Sya'roni. Biasanya berangkat sebelum subuh agar bisa subuhan di Menara," ujarnya
Setelah acara pengajian, tak sedikit para jamaah yang meneruskan beritikaf di masjid Menara sembari membaca Al Quran. Sayup-sayup bacaan Al Quran terdengar dari para jamaah. Mereka biasa menempati di pojok-pojok masjid.
Menjelang terbit matahari, toko-toko di sekitar Menara yang menjajakan pakaian busana muslim  membuka dagangannya. Selama bulan suci, para pedagang ini merauh keuntungan yang lumayan. "Selama Ramadhan dagangan lumayan ramai mas," ujar Madi pemilik toko yang persis di hadapan masjid Menara.
Begitu pula saat bedug azan zuhur terdengar, kaum muslimin dan muslimat yang tinggal di sekitar masjid berdatangan untuk melakukan salat berjamaah.
Setelah itu, sembari menunggu saat berbuka tiba, ada yang langsung merebahkan diri di lantai. Mereka lelap tertidur. Mungkin karena kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dari kota asalnya. Ada pula yang sekadar tidur-tiduran dan diskusi.


