Berburu Wanita Malam “Amoy” Jakarta

By :   Read 487 times

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

itoday- Ibu Kota Jakarta yang selama ini hanya bermimpi ‘jajan’ amoy, lantaran tarifnya mahal, kini tak perlu khawatir. Pasalnya pelacuran dengan komoditi wanita mata sipit. ternyata sekarang mudah di dapat.

Jakarta adalah barometer jajanan seks. Apapun ada di kota yang menjadi mimpi kebanyakan orang kampung ini. Tak kurang dari panti pijat, diskotik hingga kafe makin terangan-terangan untuk menyajikan menu seks sebagai daya tarik pengunjung.

Wanita-wanita cantik, muda dan semakin menambah suasana segar. Tidak hanya wanita pribumi sebagai komoditi yang menjual dan memang dijual. Para pengusaha yang main di bisnis lendir tersebut meramu dengan merekrut wanita-wanita keturunan cina –untuk selanjutnya disebut amoy– yang tentunya memiliki pasar tersendiri.

Anggapan sebagaian orang bahwa ‘kencan’ dengan amoy bisa mendatangkan rejeki masih dianggap mujarab. Entah apa alasannya, atau memang pangsa pasarnya lebih menjual, keberadaan prostitusi wanita bermata sipit makin menggeliat.

Beberapa tempat hiburan malah terangan-terangan menyajikan amoy sebagai menu utama. Bahkan sebuah restoran di bilangan Jakarta Barat, yang dilengkapi dengan karaoke, dan keberadaannya langsung menembus ke sebuah hotel malah mendatangkan cungkok (wanita cina asli dari daratan).

Tentu misinya tak jauh dari rupiah. Hebatnya, dari kalangan amoy sendiri mulai ngerti daya jual yang dimiliki. Hingga dengan mudah, jual beli amoy bisa ditemui dibeberapa titik di belantara Jakarta. Bahkan keberadaannya makin menggila, dengan hadirnya amoy-amoy eceran yang menjajakan tubuhnya di pinggir jalan.

Suasana sepanjang Jalan Batu Ceper Jakarta Pusat, yang menembus perempatan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Tiap malam nampak bergeliat. Lalau lalang mobil-mobil nampak meriah menyusuri malam dan makin menambah suasana hidup.

Tiga ratus meter dari sebuah ‘kedai’ siap saji asal negara Paman Sam alias dijajaran bangunan yang rata-rata menyerupai bentuk ruko, bertengger bangunan empat lantai.

Mobil-mobil nampak terparkir berserakan didepan bangunan ini, yang belakangan diketahui sebagai ladangnya masyarakat Jakarta berburu wanita Tionghoa. Halaman yang tersedia memang tidak terlalu luas, hanya mampu menampung sekitar 10 mobil. Selebihnya memanfaatkan jalan raya atau halaman gedung yang berada di sekitar lokasi untuk lahan parkir.

Melongok keberadaan bangunannya, situasi ruangan di dalamnya, hingga jenis-jenis mobil yang terparkir, bisa ditebak bahwa restoran cepat saji itu banyak dikunjungi kalangan menengah keatas.

Dari balik bangunan empat lantai tersebut beragam kebutuhan kenikmatan ditawarkan. Kafe, diskotik, bilyard, dan karaoke. Mungkin itu hanya perantaranya. Sementara ‘ujung tombak’nya terletak pada para wanita penghibur yang bisa diajak kencan seks.

Rata-rata ‘selimut hidup’ yang meramaikan bursa malam hampir seluruhnya didominasi wanita mata sipit. Mungkin hanya segelintir wanita pribumi, itupun sebatas para pekerja, mulai dari waiter, waiters, hingga security. Tak perlu heran jika kemudian tempat tersebut dikenal sebagai basisnya jajanan amoy.

Di tempat itu pengunjung benar-benar dimanjakan. Mulai masuk dari pintu utama, petugas yang mengenakan jas berwarna hitam akan menyambut dengan membukakan pintu kaca yang tingginya hampir tiga kali ukuran tinggi orang Asia. Dengan senyum ramah, mereka akan mempersilahkan pengunjung untuk memilih menu yang ditawarkan.

Persis didepan pintu utama, beberapa petugas receptionis, terdiri wanita cantik akan memandu pengunjung menemukan tempat-tempat yang hendak dituju. Di receptionis ini pula cover charge harus dibayar apabila pengunjung ingin menikmati hentakan musik disco yang terletak di lantai dua.

Sementara jika mau berkaraoke, letaknya berada di lantai satu alias di samping meja receptionis. Lantaran didisain untuk kelas menengah keatas, tarif yang dipatok untuk buking room lumayan mahal. Namun tarif itu bukan merupakan cover charge room, tapi hanya untuk minimal order.

Ada beberapa VIP Room ditawarkan. Sepertinya keberadaannya lebih diperuntukkan untuk kebutuhan pemuas syahwat. Tengok 19 buah VIP room yang tersedia. Mungkin harga room termurah alias yang bertarif Rp 100 ribu/ tiga jam tak seberapa.

Sebab di sana tersedia VIP room seharga Rp. 750 ribu/tiga jam. Di dalam VIP room yang berukuran sekitar 6 x 8 meter tersebut, tersedia fasilitas ruang karaoke, kamar mandi dan tempat tidur yang letaknya terpisah dengan ruang karaoke. Di tempat itulah para tamu yang mau langsung ‘ngejos’ bebas melakukannya.

Tarif yang dipatok untuk bisa buking amoy cuma Rp. 35 ribu perjam, peminat harus membuking minimal tujuh jam. Namun harga tersebut hanya untuk teman berkaraoke. Layanan selebihnya, tergantung kesepakatan. Kabarnya para amoy yang ‘beredar’ sepakat mematok tarif Rp. 500 ribu untuk short time alias sekali ‘naik’. Hal itu hanya berlaku untuk ‘ngebor’ ditempat.

Bagi pengunjung yang ingin memburu amoy sambil beromantis ria terlebih dulu, ditawarkan kafe dilantai dua. Sama seperti halnya areal karaoke, selain dihibur dengan sajian musik-musik nostalgia hingga dangdut ria, para amoy pun turut membanjiri kafe tersebut. Mereka memiliki sistem management yang sama dan tarif serupa. Hanya saja kafe tersebut mulai buka sejak siang hari hingga malam hari.

Sementara untuk Jumat malam dan Sabtu malam, diatas pukul 21.00, kafe tersebut berubah menjadi diskotik. Meski demikian, ujungnya tetap sama, yakni menu amoy yang tersedia sebagai ‘penyejuk’ pengunjung, untuk kemudian ranjang goyang yang menjadi akhir petualangan.


Komentar

*

*