Rumah Dukun Aborsi Digerebek Polisi

By :   Read 67 times

Aborsi (IST)

Aborsi (IST)

itoday - Praktik aborsi yang diduga dilakukan dukun pijat, Seninten (65), warga Desa Sumendi, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo terbongkar.

Di lokasi tempat praktek Polisi menemukan, mayat tujuh orok (janin) yang dikuburkan di dua lubang di rumah dukun pijat itu.

“Sebelum penggalian 7 mayat orok itu, kami sudah lebih dulu mengamankan dukun pijat itu (Seninten),” ujar Kapolresta Probolinggo, AKBP Iwan Setyawan di sela-sela penggalian di rumah Seninten, Selasa (17/12) sore.

Polisi juga memeriksa Sulastri (60), pembantu rumah tangga Seninten, yang diduga terlibat menguburkan orok-orok itu.

Kapolresta mengatakan, kasus itu terungkap atas laporan warga. “Ada warga yang mencurigai SA baru saja keguguran kemudian lapor polisi,” ujarnya.

Polisi pun bergerak cepat sehingga kasus aborsi yang melibatkan Seninten itu terungkap. “Tersangka bisa diherat Pasal 348 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun 6 bulan,” ujar Kapolresta.

Kapolresta mengatakan, kasus itu terkuak melalui SA (14), perempuan di bawah umur yang diduga telah menggugurkan kandungannya di rumah Seninten. Warga Desa Giliketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo itu belum menikah tetapi sudah mengandung.

SA diantar ibunya mendatangi rumah Seninten di RT 03/RW I, Dusun Polai, Desa Sumendi. Karena malam itu pasien sang dukun pijat itu banyak, SA diminta datang lagi keesokan harinya.

Kamis (12/12), SA diantar ibunya kembali mendatangi rumah Seninten. Ibunya kemudian meninggalkan anaknya yang hamil 4-5 bulan itu di rumah Seninten. “Diperkirakan pada pukul 00.00 itu upaya pengguguran kandungan SA di rumah Seninten dimulai,” ujar Kapolresta.

Awalnya korban (SA) diminta meminum ramuan rempah-rempah. Barulah setelah itu perutnya yang mulai membuncit dipijat paksa.

Setelah orok keluar, kata Kapolresta, kemudian dikuburkan di ruang dapur rumah Seninten. Diduga Sulastri berperan menguburkan orok itu di dapur yang memang tidak diplester (lantai tanah).

Diduga mengalami pendarahan hebat usai pengguguran, SA diantar orangtuanya mendatangi RSUD Dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo. Tetapi setelah petugas mengatakan, tarif perawatan Rp 2 juta, SA tidak jadi masuk rumah sakit milik Pemkot Probolinggo itu.

SA kemudian menuju RSUD Tongas, Kabupaten Probolinggo. Di rumah sakit milik Pemkab Probolinggo itulah kedok SA terungkap. Seorang dokter yang sempat mendengarkan “curhat” SA akhirnya melaporkan kasus itu ke polisi.

SA sempat dirawat di Puskesmas Sumberasih, dan akhirnya “balik kucing” ke RSUD Dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo. Hingga Rabu (18/12) pagi tadi, perempuan yang belum menikah itu masih di rawat di RSUD di Jl. Pandjaitan, Kota Probolinggo.

Saat hendak ditangkap di rumahnya, Seninten “berakting”. “Tersangka pura-pura pingsan, bahkan sempat berusaha muntah tetapi tidak ada yang dimuntahin,” ujar Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta, Itpu Nur Rachima Putri.

Saat polisi didesak menunjukkan tempat penguburan orok yang digugurkan, Seninten menyebut nama Sulastri. Pembantu rumah tangga yang rumahnya bertetangga dengan Seninten itu diduga berperan menguburkan orok, pasca aborsi.

Sulastri yang biasa dipanggil Bu Kho itu menunjukkan dua gundukan di dapur rumah Seninten. Setelah digali, satu gundungan berisi empat orok, satu gundukan lagi berisi 3 orok.

Tujuh orok itu kemudian dibawa ke RSUD Tongas untuk diotopsi. Melihat banyaknya orok yang ditemukan, polisi menduga tersangka sudah lama berpraktik dukun aborsi di rumahnya.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, masih ada orok yang dikuburkan di tempat lain. “Karena itu kami akan memperdalam kasus ini lebih lanjut,” ujar Kapolresta.

Sejauh ini, polisi baru menetapkan satu tersangka, Seninten. Sementara Sulastri dan SA baru berstatus sebagai saksi.

Anehnya para tetangga sekitar tidak menaruh curiga terhadap keberadaan tempat pijat itu. “Setahu saya, Bu Yam (Seninten.) itu dukun pijat biasa. Tidak mengira kalau melakukan praktik aborsi,” ujar Djakfar (50), tetangga sekitar.

Hal senada diungkapkan Ahmad, juga tetangga Seninten. “Saya tahunya, pasien Bu Yam itu banyak. Karena antre, ada yang menginap sampai menginap 15 hari,” ujarnya.


Mau beli/jual Barang dengan harga OK ?? klik disini!!!

Mau beli/jual, gadget/SP/hp harga murah ?? klik disini!!!