Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank
A+ R A-

Character Building dalam Perspektif Islam

Dc492ba7cb12857f2b5c6ab2f669b4b3Asrama Madrasah Putri PUI Talaga Majalengka (IST)

itoday - Misi Rasulullah seperti diungkapkan sendiri oleh beliau adalah membangun akhlaq mulia. Akhlaq tidak identik dengan moral ataupun etika, karena etika dan moral bersifat situasional, sedangkan akhlaq bersifat universal, yang merupakan pedoman ilahiyah sebagai petunjuk hidup manusia di segala jaman dan tempat, semisal shidiq (benar), amanah (dapat dipercaya) dan seterusnya.

Tetapi senyatanya output pembinaan akhlaq yang diselenggarakan Rasulullah bukan hanya menghasilkan insan yang berakhlaq mulia tetapi juga menghasilkan pribadi muslim yang seimbang yaitu memiliki Imtaq dan juga memiliki kompetensi Ipteq pada jamannya. Bahkan umat Islam saat itu mampu mewariskan literatur berbagai disiplin ilmu yang merupakan rujukan para ilmuwan saat ini seperti sosiologi, kedokteran dan sebagainya.

Selanjutnya hasil pembinaan Rasulullah mampu melahirkan masyarakat modern yang harmonis dan egaliter. Tidak diragukan lagi bahwa akhlaq yang dibangun Rasulullah mampu melahirkan dan menopang peradaban modern untuk jangka waktu yang sangat panjang kurang lebih 11 abad. Keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan Rasulullah dapat dirasakan oleh internal umat Islam, tetapi juga diamini oleh para pemerhati, komentator dan kaum intelektual barat.

Lalu faktor penyebab apakah pendidikan Rasulullah yang sangat efektif dalam Character Building umat manusia? Tentu saja instrumental input, environmental input, subjek didik, metoda pengajarannya sedemikian ideal cocok dengan hakikat manusia, baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial, manusia yang merindukan kebahagian batin dan kesejahteraan lahir yang merindukan kebahagian di dunia dan akhirat.

Katakan saja kurikulum dulu. Kurikulum yang disampaikan Rasulullah ternyata sistematikanya memprioritaskan materi keimanan-tauhid-aqidah dalam bahasa Al Quran disebut ayat Makiyyah. Ayat Makiyyah merupakan bahan ajar pertama dan utama disampaikan Rasulullah selama 13 tahun, konten Makiyyah ini porsinya 60% dari isi Al Quran. Ayat Madaniyyah seperti ibadah, syariat dan sebagainya baru disampaikan kemudian oleh Rasulullah setelah ayat Makiyyah kontennya 40%.

Kurikulum seperti itu merupakan resep tepat dan mujarab, terapi yang sangat ideal dalam mendiagnosa manusia. Terapi satu-satunya pilihan dan tidak ada serta tidak pernah ada selain kurikulum yang dicontohkan oleh Rasulullah, apa sebabnya?

Sebabnya adalah karena dalam diri manusia terdapat keinginan yang tidak terbatas (unlimited) baik harta, pangkat ataupun jabatan. Rising-demand yang selalu meningkat tidak ada habis-habisnya seperti minum air laut semakin diminum, semakin haus.

Keinginan yang tidak terbatas ini misalnya bertentangan dengan benda-benda ekonomi yang terbatas, apabila tidak terkendali itulah merajalelanya egoisme, indivualisme, dan itulah vested interest yang memunculkan karakter buas dan rakus atau paradigma hukum rimba yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Sebaliknya esensi karakter positif terjadi pada saat keinginan tak terbatas itu terkendali oleh nilai-nilai positif, dan memanfaatkan hasil usahanya bukan untuk kepentingan hedonistik, egoistik dan individualistik, atau dapat dikatakan bahwa Character Building adalah upaya agar manusia tetap konsisten dikendalikan oleh nilai-nilai positif dan idealisme.

Pengendalian diri manusia hanya ada satu pilihan, tidak ada pilihan lain kecuali dengan menanamkan nilai-nilai iman-tauhid-aqidah sedalam-dalamnya dan menanamkan keyakinan akan adanya hidup setelah mati, hidup yang lebih abadi. Tentu saja beriman kepada Allah, beriman pula pada kitab-kitabnya, para rasul, malaikat, hari akhir dan takdir.

Suatu ilustrasi, andaikata seseorang manusia siapapun diberitahu oleh malaikat pencabut nyawa, bahwa besok akan mati maka orang tersebut tidak akan berbuat negatif (seperti korupsi) bahkan sebaliknya seluruh waktunya akan digunakan untuk berbuat yang serba positif (ibadah dan amal shaleh) padahal siapapun akan mati disadari atau tidak.

Kurikulum sistem pendidikan Islam mampu melahirkan peradaban modern yang humanis tetapi sebaliknya kurikulum dengan spirit empirik, rasionalistik, materialistik dan serba kuantitatif melahirkan peradaban modern pula, tapi dalam waktu yang bersamaan melahirkan budaya bar-bar yang buas dan rakus, seperti kasus dijatuhkannya bom atom di Hirosima-Nagasaki yang menimbulkan jatuhnya korban ratusan ribu manusia yang belum tentu bersalah, hanya dalam tempo beberapa detik saja.

Dalam peradaban modern sampai-sampai dikembangkan management by fear, yang juga telah menimbulkan prilaku menyimpang seperti mengguritanya praktek korupsi, manipulasi, skandal seks dan sebagainya, dan itu kebanyakan dilakukan oleh orang-orang terdidik yang memiliki jabatan-pangkat cukup terhormat.

Lalu bagaimana kurikulum pendidikan yang diselenggarakan oleh umat Islam saat ini, baik di pesantren-pesantren, madrasah negeri dan swasta, jangan-jangan tidak sesuai seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah yang merupakan uswah hasanah. Kalau begitu pantas saja kehidupan dikalangan umat Islam semakin runyam dan memprihatikan. Tidak sedikit pelaku korupsi namanya memakai identitas Islam, mereka pun pernah belajar di madrasah tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Untuk itu umat Islam perlu segera introspeksi, merevisi, dan mereformasi agar kurikulum sistem pendidikan Islam baik sistematika maupun kontennya menganut 60 persen Makiyyah, yang lainnya seperti fiqih ibadah, matematika dan sebagainya porsinya 40 persen.

Lalu bagaimana merealisasikan kurikulum Rasulullah di sekolah-sekolah dibawah depdiknas dan depag? Kalau ada kemauan, mesti ada jalan, semisal kurikulum terpadu yaitu setiap guru apapun setiap bidang studinya menyampaikan ayat-ayat Makiyyah yang relevan dengan pelajarannya 5-10 menit sebelum materi bidang studi disampaikan atau dengan mentoring atau halaqah diluar jam sekolah dengan materi ayat Makiyyah 60 persen itu.

Sejarah telah membuktikan kurikulum yang dicontohkan oleh Rasulullah akan mampu melahirkan pribadi yang shidiq, amanah dan lain-lain, dan mampu menyelesaikan segala persoalan hidup dan krisis multidimensi yang melanda saat ini.

Pribadi muslim yang terlahir dari kurikulum ayat Makiyyah 60% bukan hanya ada pada jaman Rasulullah, para sahabat, tabi’in saja tapi generasi berikutnya juga semisal jenderal sudirman, atau para negarawan sekarang ini yang hebat, kreatif, inovatif, dan sebagainya kalau ditelisik bukan karena ilmunya atau pendidikannya strata berapa, tetapi yang lebih dominan adalah memiliki iman yang kuat atau sangat menyakini ayat-ayat Makiyyah itu.

Merevisi dan mereformasi kurikulum sistem pendidikan Islam suatu keniscayaan yang harus segera dilaksanakan bila tidak maka sesungguhnya umat Islam sedang menunggu kehancuran peradaban umat Islam bahkan peradaban seluruh umat manusia yang sangat mengerikan. Allahu alam…

* Penulis adalah Ketua Badan Penyelenggara Madrasah Putri PUI Talaga

Banner

Register

*
*
*
*
*

* Field is required