Hasil survei disampaikan Direktur TI, Zudan Rosyidi, dan Peneliti TI, Afthonul Afif pada Selasa (7/8/2012). TI mengaku telah mensurvei 200 desa di 33 provinsi dalam periode 8-22 Juli 2012. Sedangkan jumlah responden yang ikut andil dalam survei ini sebanyak 1996 orang dengan perbandingan 65 persen di pedesaan dan 35 persen di perkotaan.
Dari hasil survei itu diketahui pula bahwa Demokrat berada di posisi kedua dengan tingkat elektabilitas 11,6 persen. Padahal pada Pileg 2009, perolehan suara Demokrat menembus 20,8 persen.
Rinciannya, sebanyak 59,5 responden yang mengaku memilih Demokrat di Pileg 2009, akan pindah parpol. Pilihan baru yang dituju itu, yakni Partai Nasdem (32,9 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (9,1 persen), Partai Gerindra (9,1 persen), Partai Golkar (4,9 persen), dan partai lainnya (3,5 peren).
Menurut Zudan, turunnya suara Demokrat ini akibat persepsi masyarakat yang tinggi terhadap fenomena korupsi. Bisa jadi mereka melakukan protes keras terhadap Demokrat sebagai partai penguasa.
Bukan Demokrat saja yang akan ditinggal pemilihnya, karena situasi hampir sama, terjadi pula di PDI-P. Dimana sebanyak 46,4 persen responden yang mengaku memilih PDIP ketika Pileg 2009, akan pindah parpol. Pilihan baru mereka akan tertuju pada Partai Gerindra (20,4 persen), PKB (16,7 persen), dan Partai Nasdem (9,3 persen). PDIP juga disebutkan berada di posisi ketiga berdasarkan Hasil survei itu dengan tingkat elektabilitas 9,7 persen.
Tapi yang mengejutkan, situasi itu tidak terjadi di Partai Golkar, padahal ketika survei itu dilakukan, partai berlambang pohon beringin ini tengah disorot berbagai kasus dugaan korupsi. Hasil survei menyebutkan, tak ada responden yang mengaku memilih Golkar di Pileg 2009 akan pindah parpol.*
Peristiwa Lainnya:



