itoday - Ketidakhadiran Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono saat Ketum PD Anas Urbaningrum dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (27/6), membuktikan bahwa di internal Partai Demokrat terjadi baku hantam.
Kesimpulan itu disampaikan pengamat politik Gun Gun Heryanto kepada itoday (28/6). Menurut Gun Gun, kehadiran sejumlah petinggi Partai Demokrat di gedung KPK merupakan bagian dari 'panggung' Anas Urbaningrum.
"Kemarin itu show of force dari Anas. Itu untuk menunjukkan soliditas di DPP Demokrat. Meskipun publik tahu tidak sesolid yang ditunjukkkan kemarin. Misalnya saja, Ruhut-Nurhayati, atau Hayono Isman dengan kubu Anas," kata Gun Gun.
Menurut Gun Gun, pada saat Anas dipanggil KPK ada semacam self confident dari Anas. Hal itu dimulai sejak dari pernyataan Anas yang siap digantung di Monas. "Sampai sekarang belum ada tersangka. Prediksi saya, missing link sampai ke Anas, kalau KPK masuk dalam perspektif pencucian uang," tegas Gun Gun.
Saat ini Anas, kata Gun Gun, cenderung memposisikan diri sebagai pihak yang dimarginalkan dan didzolimi. "Desain politik Anas untuk memposisikan dirinya dikesankan dizolimi. Di Indonesia, jika Anas tidak dalam posisi tersangka, justru meroketkan posisi Anas. Isu didzolimi bisa dikapitalisasi, bahkan menjadi isu yang mempopulerkan Anas. Kecuali kalau KPK menemukan bukti materi sehingga posisi Anas jadi tersangka. Jika Anas tersangka, Demokrat sudah habis," pungkas Gun Gun.
Reporter: Achsin
Ibas tak Dukung Anas di KPK, Bukti Internal Demokrat Baku Hantam
Peristiwa Lainnya:



