itoday - Sebenarnya, sejak Hidayat Nur Wahid sebagai muayyid, pendukung pergerakan Ikhwanul Muslimin sebagai kepanjangan IM di Mesir, memiliki kedekatan dengan seniornya yang bernama Yusuf Supendi, kemudian sama-sama menjadi Pendiri Partai Keadilan.
"Kedekatan dan kesatuan langkah itu bertahan hingga puncaknya dalam memperjuangkan Nizhom Asasi IM bahwa Keputusan Majelis Syuro mulzimah, mengikat, dalam hal itu, 70 persen anggota Majelis Syuro PKS memilih pasangan Amien Rais pada Pilpres 2004," kata pendiri Partai Keadilan (PK) Yusuf Supendi dalam pesan singkat ke itoday, Jumat (20/7).
Kata Yusuf, atas manuver kubu Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Luthfi Hasan Ishaaq, dan Suswono Cs yang membangkang atas Keputusan Majelis Syuro mengikat itu.
"Kubu Hilmi memanfaatkan kelemahan Rahmat Abdullah, Ketua MPP maka diterbitkanlah Bayan, Penjelasan MPP Ilegal, “Rekomendasi yang tidak terikat,“ kemudian terbit Bayan legal terdiri dari MPP, DSP, dan DPP menolak manuver itu. (DPP, Hidayat & Surahman, MPP, Rahmat Abdullah & Abu Ridha, dan DSP PKS, Ahzami & Yusuf Supendi).
Kata Yusuf, penolakan atas manuver kubu Hilmi itu, pecah,merebak, dan mencuat kegelisahan kader inti, serta muncul istilah kubu keadilan dan kubu kesejahteraan. "Perang dingin terus menerus berseteru terbuka berkelanjutan memengaruhi dan mengancam eksistensi PKS," ungkapnya.
Ia juga mengutarakan, sebetulnya, ketika Hidayat enggan dicalonkan menjadi Ketua MPR RI. "Secara khusus saya mengajak bicara Hidayat: kubu Hilmi akan menyingkirkan Antum (Anda-Red) dari struktural Partai /Jamaah," jelasnya.
Dengan merapatnya Hidayat ke kubu kesejahteraan, bahkan siap menjadi Cagub DKI, apakah betul wujud pembusukan Hidayat?
Kata Yusuf, sangat menyedihkan, akibat itu, punahlah kepercayaan dan habislah tokoh nasional Hidayat, serta sangat sulit membangun ulang kepercayaan yang sudah remuk dan terbelah bagaikan kayu menjadi papan tidak mungkin ditanam ulang padahal Hidayat diharapkan sebagai aset pimpinan umat.



