itoday -- Sampai detik ini, pengungsi muslim Rohingnya, Myanmar, terus berada dalam kehidupan tidak layak. Kamp pengungsian yang kumuh, seadanya, akses air bersih yang sangat tidak memadai, asupan makanan yang serba kekurangan. Jangankan kebutuhan seperti pendidikan dan kesehatan, untuk mendapat makanan dan tempat tinggal yang layak saja, jauh dari harapan. Rohingya benar-benar potret krisis kemanusiaan yang akut di abad ini.
Baik pemerintah yang ketempatan pengungsi seperti Bangladesh, apalagi pemerintah Myanmar, yang tak akui warga etnik Rohingya, membiarkan mereka terlunta-lunta, membiarkan mereka hidup dalam keadaan serba kekurangan.
Seperti yang terlihat di kamp pengungsi Kutupalong, Distrik Cox's Bazaar, Chittagong, Bangladesh. Keadaan mereka, sungguh sangat memprihatinkan.
“Rumah kami dibakar oleh mafia,” kata Nur Muhammad, salah seorang pengungsi Rohingnya di kamp Kutupalong, Cox'z Bazaar kepada relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Andhika Purbo Swasono, dalam rilis yang diterima itoday, Jumat (3/8).
Andhika yang membawa bantuan dari masyarakat Indonesia untuk pengungsi Rohingnya mendatangi kamp pengungsian ini setelah mengarungi perjalanan darat dari Dhaka, Bangladesh. Jarak Dhaka ke Cox's Bazaar sekitar 300 km.
Bersama seorang relawan bernama Arif Rahman Saky dan relawan lokal bernama Mostak Ahmad Khondakar, Andhika kemudian menyewa mobil untuk berangkat menuju Teknaf. Perjalanan ke Teknaf diperkirakan menempuh jarak 75 km, dengan perkiraan waktu 2 jam.
Namun baru setengah jalan menuju Teknaf, tim melintasi Kutupalong dan menemukan satu kamp penuh pengungsi. Menurut informasi dari Saiful Islam, pengemudi, di kamp itulah pengungsi Rohingya tinggal. Akhirnya tim berhenti untuk singgah di kamp tersebut.
Di kamp tersebut Andhika dkk bertanya kepada seorang pengungsi, Nur Muhammad, 42 tahun dengan 8 anak. Dia mengaku terpaksa pergi dari kampung halamannya di Myanmar karena rumahnya dibakar oleh mafia. Ia berhasil melarikan diri ke Bangladesh, namun bantuan yang ia terima sangat minim. Begitu juga dengan pengungsi lainnya, yang rata-rata sudah mendiami kamp tersebut lebih dari 20 tahun.
Seorang pemuda berusia 18 tahun, Muhammad Kasham mengatakan ia lahir di kamp ini. Dan anak-anak di kamp tidak mendapatkan pendidikan semestinya. Pendidikan hanya diberikan kepada anak-anak yang telah terdaftar di UNHCR. Kasham juga menunjukkan rumah-rumah yang ada di kamp.
Tim sempat memasuki satu rumah yang sangat tidak layak. Pemilik rumah, Abul Alam, 55 tahun sakit-sakitan. Ia mengaku tidur di rumah itu bersama anak-anaknya. Ia sempat dirawat oleh klinik yang diselenggarakan MSF namun hanya untuk perawatan primer..
Lalu ada seorang Ibu yang menceritakan kondisi kampungnya. Anak muda ditangkapi semuanya, akhirnya ia mengungsi ke Bangladesh dan ditempatkan di Kutupalong.
Kehidupan pengungsi di Kutupalong jauh dari layak. Ketersediaan fasilitas air bersih dan sanitasi sangat kurang. Jumlah pengungsi sekitar 50 ribu orang dan 35 ribu di antaranya anak-anak yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Karena anak-anak tersebut tidak sekolah, akhirnya anak-anak menjadi pengemis di sekitar kamp.*
Peristiwa Lainnya:


