Irama debu jalanan/ Bukanlah suara-suara sumbang
Namun gema perjuangan/ Perjuangan anak jalanan…
Demikian petikan lirik puisi musikal yang dibawakan Gaung. Suaranya lepas. Bersih dan murni, khas kanak-kanak. Usia vokalis kelompok musik MLK alias Mandi Lima Kali ini memang masih belia.
Malam itu Gaung dan dua temannya yang juga masih belia, ‘manggung’ di halaman Gedung Juang, Tambun, Bekasi. Ada Alif yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dengan gendangnya. Satu lagi adalah remaja tunanetra yang memainkan bas elektronik. Sehari-hari ia menjadi tukang pijat yang dibina Dinas Sosial setempat. Mereka ditemani Ane, seniman lebih senior yang menjadi mentor, beraksi menunjukkan kebolehannya.
Gaung, bocah laki tinggi kurus bercelana abu-abu dipadu kaos marun yang dibalut jaket jeans kumal, seperti hendak menyedot ruh perjuangan dari tempat yang menyimpan sejarah perjuangan rakyat Bekasi. Bersama teman-temannya dia kembali menyemburkan semangat perjuangan kepada sekitar 200an penonton.
Penonton sekalihgus pengisi acara datang dari kalangan seniman. Ada yang tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ), Komunitas Sastra Kalimalang, Komunitas Seniman Gedung Juang (KSGJ), Bengkel Sastra Bekasi, dan komunitas fotografer Bekasi Foto. Hajatan egaliter ini juga didukung Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi, Radar Bekasi, dan Radio Dakta.
Gaung bukanlah satu-satunya bintang di malam temaram itu. Ada Kong Guntur Elmogas, seniman Sintun alias Bekasi Pantun yang memulai acara. Lelaki berkacamata minus tebal ini membacakan pantun-pantunnya yang egaliter. Ada Irmansyah, seniman berambut sepunggung yang membawakan puisi ditingkahi lagu tanpa lirik. Juga ada Teguh SDL, penyanyi berbahasa khas Bekasi dengan gitar tunggalnya. Harap maklum, SDL yang melekat di belakang nama seniman yang berambut panjang ini adalah singkatan dari, maaf, Sial Dangkalan.
Para seniman jalanan tadi memang tampil apa adanya, tanpa kepura-puraan. Mereka menyampaikan pesan-pesan moral dan dan kritik sosial dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Komunikasi yang dibangun terasa langsung menuju sasaran. Tidak ada euphuism yang sering justru mengaburkan makna sejati.
Tak pelak lagi, perhelatan yang bertajuk “Aksi Bersih-bersih Gedung Juang Tambun Selatan” memang jadi meriah. Selain aksi panggung para seniman, acara juga diisi dengan diskusi publik bersama DR. Rizal Ramli dengan tema “Bulan Suci Mewujudkan Perjuangan yang Bersih”. Selain itu, mereka juga menggelar bazar dan pameran foto, sarasehan dan buka puasa bersama, tarawih berjamaah, apresiasi sastra dan seni pertnjukan, serta renungan ramadhan.
Seadanya
Kesederhanaan yang benar-benar ala kadarnya. Bayangkan, penonton yang hadir cuma disuguhi air mineral dalam kemasan 200ml. Saat berbuka tadi, mereka cuma disodori kue-kue kampung. Mereka duduk di kursi plastik biru muda yang disusun bersaf-saf. Inilah kursi yang biasa digunakan pada pesta-pesta hajatan di kampung-kampung.
Tidak ada panggung mentereng. Para seniman itu hanya beraksi di sebuah ‘panggung’ setinggi 20cm berbalut kain hitam. Di belakang mereka ada backdrop dominan merah yang dibentang sekenanya di antara dua pohon besar. Di bagian atas backdrop ada kain merah yang dibentuk dua lambaian. Tentu, maksudnya untuk memberi kesan indah. Tapi, ya begitulah, semuanya sangat seadanya.
Acara dipusatkan di sisi kanan Gedung Juang. Minimnya pencahayaan, membuat gedung yang sarat sejarah perjuangan itu tampak muram dan kesepian. Cahaya bahkan nyaris tak mampu menyapa bagian atas gedung. Dalam jepretan kamera, gedung ini justru terkesan seram. Di bagian depan digantung sejumlah foto berbingkai hasil bidikan para fotografer Bekasi Foto. Lagi-lagi, semuanya sangat bersahaja dan seadanya.
Di kiri backdrop, ada sepotong layar darurat berukuran 2x1,5m yang baru didirikan beberapa saat setelah acara dimulai, selepas magrib. Namanya juga darurat, layar itu terdiri atas dua helai kain putih yang disatukan dengan stapler. Karuan saja di tengah layar ada garis horizontal
yang tampak jelas. Garis itu sekaligus menjadi batas dua lengkungan yang bergelombang, atas dan bawah. Untuk mendirikan layar, hanya diikat di sebatang bambu setinggi kurang lebih 2 meter dan tiang listrik beton di sisi lainnya.
Film yang ditayangkan dimulai dengan perjalanan singkat Indonesia sebagai sebuah bangsa sejak masa perang kemerdekaan hingga paska reformasi. Selanjutnya dipaparkan betapa kaya dan luar biasanya Indonesia. Namun semua anugrah itu tidak mampu mengantarkan rakyat menjadi sejahtera, karena negeri cantik ini tidak kunjung memiliki pemimpin yang adil dan amanah.
Makna simbolik
Sebetulnya acara digelar sejak siang, tepatnya sekitar pukul 14.00 WIB selepas sholat Jumat. Tidak kurang dari 300an siswa Sma 5 Tambun Selatan, SMA 1 Tambun Utara, SMA Yapin, dan Karang Taruna Kabupaten Bekasi melakukan aksi bersih-bersih. Mereka menyapu dan memungut sampah di sekitar halaman Gedung Juang yang luas.
Malam itu Bang Ane, begitu dia biasa disapa, menjalani multiperan. Ia menjadi koordinator perhelatan, master of ceremony (MC) alias pembawa acara, seksi konsumsi, dan juga moderator diskusi. Saat dialog,
Ane memperkenalkan DR. Rizal Ramli sebagai tokoh perubahan nasional. Dia juga merinci rekam jejak tokoh yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil ini yang sarat dengan integritas dan bukti keberpihakan kepada rakyat kecil.
Sang tokoh perubahan sendiri menyebut aksi bersih-bersih yang dilakukan para siswa, pemuda, dan seniman Bekasi ini punya makna simbolik yang luar biasa. Bukankah negeri yang dibangun dengan darah dan air mata para ini sekarang sudah menjadi kotor?
“Kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta pada 1945 kini dikotori dengan korupsi dan kemerosotan etika elit. Saya bangga teman-teman di sini melakukan aksi bersih-bersih. Ini menjadi simbol bahwa bangsa kita harus dibersihkan dari berbagai kotoran kalau mau maju dan lebih baik daripada sekarang. Allah SWT telah menganugrahkan kekayaan alam yang luar biasa kepada bangsa Indonesia. Saya yakin, kalau dikelola dengan benar dan pemimpinnya amanah, bangsa kita bisa maju. Rakyat bisa hidup sejahtera,” ujar Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini.
Dia juga menyatakan sedih dan prihatin. Pasalnya, para seniman Kabupaten Bekasi tidak punya panggung dan kesempatan mengaktualisasikan diri dan karya-karyanya. Padahal karya-karya mereka bagus. Dengan penduduk yang baru sekitar 2 juta jiwa, seharusnya amat mudah dan murah membangun pusat-pusat seni dan budaya di Bekasi.
“Peradaban sebuah bangsa tidak ditandai dengan banyaknya mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Indikatornya adalah apakah ada pusat seni dan kebudayaan serta ruang-ruang publik secara memadai. Taman-taman kota perlu dibangun, sehingga warga punya tempat untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara nyaman dan damai ,” ujarnya yang langsung disambut dengan tepuk tangan meriah.
Menurut mantan Menko Perekonomian ini, apa yang dialami Bekasi juga terjadi di hampir semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Di luar anggaran rutin, 70-80% APBD habis untuk membiayai birokrasi, seperti gaji, fasilitas, dan kantor-kantor pejabat. Dari sekitar 497 bupati dan walikota, hanya 20 saja yang bagus. Pejabat yg berhasil membalik rasio APBDnya, menjadi 70% untuk rakyat dan 30% untuk birokrasi. Karenanya dia minta agar warga, khususnya para seniman dan pemuda harus lebih kritis dalam upaya memperbaiki keadaan. Hanya dengan cara itu Indonesia bisa diselamatkan! (*)


