Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank Blank
A+ R A-

Ramadhan, ACTion Team for Rohingya Berangkat ke Perbatasan Bangladesh-Myanmar

31c2850c9f88f68a4e38a7df191002f9ACT Kunjungi Pengungsi Rohingya di Tanjung Pinang, Kepri (dok ACT)

itoday - Sejak menggaungkan ajakan mempedulikan etnik Rohingya, 26/6 lalu di Bundaran HI Jakarta,   ACTion Team for Rohingya (Team) yang diinisasi  ACT
bersama Masyarakat Relawan Indonesia/MRI, terus bergerak cepat.

Diantaranya, Team telah mengirim Advance Team guna membantu pengungsi Rohingya yang masuk Indonesia. Tim terus bergerak Jumat 20/7 lalu dan akan terus menyampaikan laporan perkembangan dari lapangan.

N. Imam Akbari, Vice President ACT yang mendapat mandat mengelola isu internasional, mengakui prosedur memasuki Myanmar tidak mudah. Pihak ACT telah mengurus visa baik melalui kedutaan Bangladesh maupun Myanmar sejak mencanangkan rencana aksi kemanusiaan ke Rohingya, belum juga mendapat visa.

“InsyaAllah dalam Ramadhan ini juga, ACTion Team for Rohingya bisa ke Bangladesh. Namun kami tidak semata-mata menanti izin itu, tetapi menggerakkan relawan mendeteksi pengungsi Rohingya yang masuk wilayah kita,” jelas Imam yang mendapat mandat memimpin Global Humanity Response (GHR).“InsyaAllah, Jumat, 27 Juli 2012 visa keluar. Kalau bisa Ahad, Team sudah bisa berangkat,” tambah Imam.

Kontak dengan NGO di Bangladesh juga dilakukan. Kepentingannya, NGO setempat bisa diajak sebagai mitra program. “Alhamdulillah, ada sebuah NGO yang mengirimkan undangan kepada ACT untuk datang, dan mereka siap membantu,” terang Imam.

Ada tiga anggota Team yang akan berangkat. Dari pihak ACT akan diberangkatkan Andhika Purbo Swasono, dan Windi Herdiawan, wartawan dari TVOne. Sementara itu, untuk kebutuhan medis yang mungkin diperlukan pengungsi Rohingya, ACT juga mengajak seorang dokter yakni dr. Rio Pranata. “Dokter Rio berangkatnya menyusul, setelah semua urusan administrasi selesai,” kata Imam.

Pengungsi Rohingya  di Indonesia


NAD

Titik-titik keberadaan pengungsi Rohingya antara lain  di Nanggroe Aceh Daarussalam.
Informasi resmi menyebutkan, sebanyak 55 warga Myanmar ditemukan terdampar ke perairan Bluka Tubai, Krueng Geukuh, Aceh Utara, Rabu, 1 Februari lalu. Imigrasi dan Pemda Aceh Utara kemudian mengevakuasi mereka ke tempat penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi di Peunteut, Blang Mangat, Lhokseumawe. Dua dari 55 warga Rohingya itu, M Nizam dan Kolimullah kabur dari lokasi tersebut pada Rabu 8 Februari dan Rabu ,15 Februari 2012. Pada tanggal 22 Februari 2012, pihak Imigrasi dan Pemda Aceh Utara mengirimkan pengungsi tersebut ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

“Kami sudah membantu mereka tahun 2009. Isu Rohingya ternyata eskalatif, bukan mereda malah makin parah. Kami mengimbau dunia internasional, terutama dalam momentum Ramadhan ini, dunia Islam berbuat sesuatu yang lebih tegas untuk meminimalisasi ekses kekerasan di Myanmar. Perserikatan Bangsa-bangsa sudah saatnya menggelar Sidang Khusus mengingat krisis ini menyengsarakan ratusan ribu orang. Indonesia sebagai Negara besar di ASEAN juga harus berbuat karena etnik Rohingya ini ada di kawasan ini,” ungkap Imam.

BOGOR, JAWA BARAT
Sementara itu di Bogor, menurut Luthfi Kurnia, relawan ACT, ada juga pengungsi Rohingya. Mereka dalam pengawasan petugas imigrasi Bogor. “Jumlahnya menurut informasi sementara, ada 12 orang. Besar kemungkinan, jumlahnya di atas itu. Untuk menolong mereka, Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Bogor siap mendukung aksi kemanusiaan ACT,” jelas Lutfi.


TANJUNG PINANG, KEPRI

ACT melalui relawannya, Dony Aryanto dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), hadir sebagai Advance Team di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada Senin, 23 Juli 2012. Dony Aryanto berhasil menemui Kepala Rudenim M Junus Junaid. Ada 107 warga Myanmar yang berada di Rudenim Pusat, 82 dari mereka adalah dari etnis Rohingya, 13 diantaranya anak-anak.
“Dari 82 orang itu, yang sudah mendapat status pengungsi dari UNHCR  baru sebanyak 18 orang,” ungkap Yunus kepada Tim ACT, Senin (23/7), “ Namun belum ada kepastian bagi 18 orang pengungsi tersebut,” tambahnya.
Para petugas imigrasi di Rudenim sendiri berharap agar 18 orang yang sudah mendapat status pengungsi bisa segera dibebaskan. Agar tidak membebani kerja mereka karena harus mengawasi 235 penghuni lainnya. “ Saya hanya mempunyai petugas 30 orang yang harus dibagi menjadi 3 shift untuk menjaga 342 penghuni,”  kata Yunus.


Tim ACT mendapat kesempatan menemui pengungsi Rohingya di Rudenim. Untuk bisa menemui mereka Tim harus melewati lorong-lorong layaknya rumah tahanan.
Kedatangan Team Advance ACT ini untuk melakukan assesment di dalam negeri dan menanti proses legal untuk bisa masuk ke sasaran pengungsi di Bangladesh maupun Myanmar. ACT juga akan melakukan Roadshow ke sejumlah lembaga baik pemerintah maupun sipil guna menggelorakan kepedulian kemanusiaan.
Saat sampai di lokasi pengungsi yang semuanya berada di balik jeruji Rudenim,  Dony ingin mengambil gambar/ foto. Namun, melihat kondisi mereka, mendorong Dony untuk  berinteraksi lebih dekat dengan mereka yang terpaksa meringkuk di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjung Pinang.


Melihat ada relawan ACT, sekitar  16 orang langsung mendatangi tim ACT. Mereka terlihat ingin melepaskan beban dan mengutarakan apa yang dirasakannya.
“Bagaimana kami mau pulang, negara kami saja tidak mengakui kami,” ungkap Muhammad Alam (40 tahun), salah seorang pengungsi,  yang sudah berada di Rudenim sejak 10 bulan yang lalu.
“Kami juga tak tahu lagi dimana saudara perempuan dan keluarga kami, rumah kami dibakar dan tak tahu lagi saudara-saudara kami lari kemana,”  kata Alam dengan raut wajah sedih.


Pengungsi lain, Muhammad Syah (24 Tahun) mengungkapkan. “Kami tak akan berbuat macam-macam disini, kami bisa duduk elok-elok saja, harapan kami bisa hidup bebas, kami ingin ke Medan menemui saudara kami.”
Muhammad  Syah juga menceritakan bahwa 19 orang diantara mereka pernah melakukan mogok makan selama dua kali. Yang terakhir dilakukan awal Juni yang lalu selama 9 hari.  Mereka menuntut kepada UN  (Perserikatan Bangsa – Bangsa) agar mereka segera dibebaskan dari Rudenim tersebut.
“Tak ada yang bisa kami harapkan lagi, kami hanya berharap kepada saudara kami sesama muslim,” harapnya.*



Banner

Register

*
*
*
*
*

* Field is required