itoday - Puncak kejadian kebakaran yang kerap melanda permukiman terjadi selama bulan Juli-Agustus-September. Dalam tiga bulan itu, potensi kebakaran cukup tinggi.
Peringatan itu disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Minggu (29/7). Namun, kata Sutopo, potensi kebakaran tertinggi terjadi bulan Agustus.
"Di mana pada Agustus yang tertinggi, karena pengaruh cuaca yang kering," katanya.
Kata Sutopo, tren kebakaran permukiman meningkat, karena permukiman yang kian padat oleh penduduk. D isamping ada pengaruhnya dari cuaca yang kering, kemiskinan. Lalu terbatasnya hidran dan penggunaan lahan serta lain sebagainya.
Sutopo pun memberikan tips untuk mencegah kemungkinan terjadi kebakaran. Pertama hindari penggunaan peralatan listrik yang melebihi beban kapasitas meteran setrum. Kedua hindari pemasangan instalasi listrik dengan terlalu banyak sambungan di rumah dengan menggunakan isolasi.
"Karena itu apabila terkena panas listrik mudah memuai dan mengelupas," katanya.
Lalu yang ketiga, kata Sutopo, pada saat listrik padam, jangan meletakkan lilin dekat dengan bahan yang mudah terbakar, seperti kasur, kayu, kain dan lain-lain. Dan yang ketiga, Sutopo menyarankan untuk menghindari peralatan dan bahan yang mudah terbakar dari jangkauan anak-anak.
"Periksa secara berkala instalasi listrik di rumah anda. Apabila ada kabel rapuh, sambungan atau stop kontak yang aus atau tidak rapat segera ganti dengan yang baru," katanya.
Warga pun harus rajin memeriksa kondisi tungku masak, baik kompor minyak maupun gas, selang, tabung dan lainnya. Segera ganti jika ada yang bocor.
"Tempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar pada tempat khusus, bercampur dengan dengan bahan yang dapat menimbulkan reaksi kebakaran," ujarnya.
Serta siapkan alat pemadam kebakaran, air, pasir, karung goni yang dibasahi di lingkungan sekitar. Kewaspadaan dan kesiagaan mengantisipasi kebakaran sangat penting, karena bahaya amuk si jago merah bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.
"Bisa di hutan, perumahan, kantor dan gedung tinggi. Maka waspadalah," pungkasnya.
Laporan: Agus Supriyatna


