Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Risiko COVID19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
09 September 2021
Risiko COVID-19 Gejala Berat Intai Pasien Obesitas Semua Usia
foto: ilustrasi (liputan6)


itoday - Obesitas atau kegemukan dapat berdampak buruk pada kesehatan. Bahkan, di masa pandemi COVID-19, obesitas dapat menjadi faktor risiko yang memperparah keadaan pasien.

Seperti disampaikan pulmonolog dari Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Efriadi. Menurutnya, pada pasien dengan masalah berat badan, reseptor atau tempat melekatnya virus Corona cukup banyak atau lebih banyak ketimbang orang yang tidak obesitas.

“Sederhananya, virus Corona yang menempel pun jadi lebih banyak. Artinya reaksinya akan lebih cepat,” ujar Efri kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, (8/6/2021).

Efri, menambahkan, masalah kesehatan pada orang dengan masalah berat badan tidak hanya terkait obesitasnya saja. Pada orang obesitas, umumnya ada penyakit penyerta atau komorbid lain.

“Kalau orang dengan obesitas biasanya masalahnya bukan hanya dengan obesitas, ada penyakit penyertannya. Seperti masalah hipertensi, kolesterol, diabetes, dan penyakit lainnya,” katanya.

Penyakit Penyerta

Walau demikian, COVID-19 pada orang yang murni obesitas tanpa komorbid juga tetap dapat jadi masalah apalagi jika sampai dirawat di rumah sakit.

“Tentunya dengan kondisi obes biasanya bernapas aja susah kan, apalagi jika kena parunya, bisa lebih susah lagi bernapas.”

Berlaku pada Semua Usia

Risiko COVID-19 gejala parah tidak hanya berlaku pada orang obesitas dari golongan usia tua saja, melainkan dari berbagai tingkat usia.

“Dari seluruh tingkatan usia, kita sempat ketemu pasien COVID-19 dengan obesitas dari usia muda sekitar 23 tahun dan gejalanya berat.”

Bahkan, pemuda obesitas tersebut sempat dipasang ventilator kemudian dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19, tambahnya.

“Jadi, obes itu bukan hanya pada orang tua saja yang bermasalah, bagi usia muda pun ketika obes bermasalah.”

Efri pun berpesan, bagi teman-teman yang memiliki masalah berat badan tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Hindari kerumunan, kalau tidak ada sesuatu yang mendesak enggak usah keluar dulu. Kurangi juga mobilitas, kalau acara bepergian tidak terlalu penting sebaiknya ditunda dulu.”

“Yang tak kalah penting, lakukan pola hidup sehat, tidur cukup, makan makanan bergizi, olahraga disesuaikan kemampuan, dan jaga kondisi mental,” tutupnya.

sumber: liputan6.com
Imbas Varian Delta Sri Mulyani Sebut Omzet PKL Turun Hingga 75 Persen
09 September 2021
Imbas Varian Delta, Sri Mulyani Sebut Omzet PKL Turun Hingga 75 Persen
foto: Sri Mulyani dan PKL (instagram)


itoday - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 varian delta di Indonesia membuat para pelaku UMKM tiarap. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 membuat mobilitas masyarakat terganggu. Akibatnya, para PKL dan pemilik warung merugi. Pendapatan mereka turun drastis hingga 75 persen.

"Jadi banyak Bapak-Ibu PKL yang memberikan testimoni katanya kondisi semakin berat. Omsetnya turun sampai 75 persen karena varian delta ini," kata Menteri Sri Mulyani dalam Dialog Menko Perekonomian, Menkeu, Kepala BPKP dengan Penerima BT-PKLW di Kota Medan, Kamis (9/9).

Untuk mengatasi ini, pemerintah memutuskan kembali menggelontorkan bantuan kepada pelaku usaha yang terdampak. Tahun ini pemerintah menganggarkan Rp 15,8 triliun untuk membantu para pelaku usaha.

"Tahun lalu kami sudah memberikan dan tahun ini kita anggarkan Rp 15,8 triliun," kata dia.

Penyaluran BLT PKL-Warung Lewat TNI dan Polri

Penyaluran bantuan untuk pelaku UMKM ini juga dilakukan perluasan. Bila sebelumnya hanya dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM, maka kali ini Pemerintah melibatkan TNI dan Polri untuk menyalurkan bantuan.

Sri Mulyani mengatakan dua instansi tersebut diberikan kewenangan untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai PKL-Warung sebanyak 1 juta penerima dengan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun. Masing-masing instansi akan menyalurkan dana Rp 600 miliar untuk 500 penerima bantuan. Adapun besaran dana yang diterima penerima manfaat yakni Rp 1,2 juta.

Kewenangan ini pun dianggap tidak mudah karena sebelumnya dua institusi ini telah ditugaskan untuk mendisiplinkan protokol kesehatan di masyarakat.

"Dengan adanya varian delta ini TNI dan Polri bekerja luar biasa karena meminta masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan dan itu menimbulkan suasana ketegangan," kata dia.

sumber: merdeka.com
Resep Rabokki Paduan Ramyeon dan Tteokbokki dengan Kuah Pedas a la Korea
09 September 2021
Resep Rabokki, Paduan Ramyeon dan Tteokbokki dengan Kuah Pedas a la Korea
foto: Robokki (farmtv)


itoday - Bingung mau menyiapkan sajian apa untuk hari ini? Kalau Anda termasuk penggemar masakan Korea, coba buat rabokki. Siapkan dalam porsi besar agar bisa disantap bersama anggota keluarga.

Berikut ini resep rabokki, paduan ramyeon dan tteokbokki dengan kuah pedas khas Korea yang bisa dicoba hari ini.

Bahan:

1 bungkus mie ramen/ramyeon instan
2 batang daun bawang
1 bungkus cabai bubuk
garam secukupnya
gula pasir secukupnya
Bumbu Tambahan Saus:

2 buah cabai rawit
2 buah cabai merah besar
2 siung bawang putih
Bahan Tteokbokki:

150 ml air panas
200 gram tepung beras
sejumput garam

Cara Membuat Rabokki:
Rebus air, campurkan tepung beras dan air panas. Uleni hingga adonan kalis, bentuk-bentuk bulat panjang. Rebus hingga mengapung, tiriskan.
Rebus air untuk mie ramen, masukkan mie ramen beserta bumbu, masukkan bumbu halus tambahan dan daun bawang. Aduk rata dan rebus hingga mendidih dan sedap.
Masukkan tteokbokki dan rebus hingga kuah meresap, tes rasa, jika kurang sedap, tambahkan garam dan gula secukupnya.

sumber: merdeka.com
Khawatir Berlebih pada Anak Simak 4 Ciriciri Orang Tua yang Posesif
09 September 2021
Khawatir Berlebih pada Anak? Simak 4 Ciri-ciri Orang Tua yang Posesif
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Rasa khawatir wajar muncul di benak orang tua yang tidak ingin anaknya kenapa-napa.

Namun, khawatir yang berlebihan juga tidak baik karena kita bisa jadi orang tua yang posesif dan berlebihan.

Hal ini tentunya bisa menimbulkan efek yang kurang bagus untuk pertumbuhan anak.

Nah, jika Kawan Puan sering khawatir pada anak tapi belum tau apa saja tanda orang tua posesif, berikut PARAPUAN rangkum ulasannya menurut Bright Side.

1. Sering Membicarakan Kecemasan di Depan Anak

Orang tua yang cemas sering mengulangi informasi yang sama lebih dari sekali dan kecemasan itu selalu ditunjukkan kepada anak.

Misalnya, jika kamu melihat anjing liar sebagai ancaman dan membicarakannya dengan nada menyeramkan, pada akhirnya anak akan mengembangkan fobia.

Cara inilah yang membuatmu mentransfer ketakutan pada anak-anak. Anak-anak yang terlalu sering dilarang biasanya lebih rentan terhadap kecemasan dan kekhawatiran.

Solusi : Dalam pengasuhan, orang tua memiliki peran memegang kendali.

Alih-alih menggambarkan anjing liar seperti monster yang menakutkan, ajari anak tentang apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat dan pastikan kamu tidak terlalu mendramatisasi.

Kendalikan emosi kamu sehingga pembicaraan tersebut tidak terdengar seperti ketakutan.

2. Mengawasi Aktivitas Anak Penuh Waktu

Orang tua yang cemas cenderung paranoid dan posesif. Seperti memeriksa nilai mata pelajaran anak setiap hari, menonton penampilan mereka di latihan olahraga dan memastikan semuanya dilakukan dengan sangat teliti.

Akibatnya, anak akan berusaha menjadi perfeksionis dan tanpa kesalahan. Selain itu, saat kamu mendapatkan mereka melakukan kesalahan atau nilainya turun, kamu akan marah kepadanya.

Solusi : Sadarilah bahwa sebagai orang tua kamu tidak dapat mengontrol semua yang dilakukan anak-anak.

Sebaliknya, fokus lah pada sesuatu yang mereka minati tanpa memaksa.

Misalnya, mereka menunjukkan minat bermusik, tanyakan apakah mereka ingin kursus musik untuk mengembangkan bakatnya. Bukan malah mendorongnya untuk kursus matematika atau sepak bola yang kurang diminati.

3. Memuaskan Segala Keinginan Anak

Salah satu kewajiban orang tua untuk memberikan keinginan dan memenuhi kebutuhan anaknya, tapi tidak segalanya harus dituruti.

Setiap kali anak mengamuk, kamu langsung buru-buru menghiburnya. Bagi orang tua yang cemas, amukan biasanya berarti kebutuhan yang kuat.

Apabila mereka tidak memuaskannya, kecemasan merayapi pikiran orang tua dan menyesal karena tidak bisa memenuhinya.

Solusi : Alih-alih mencoba menenangkan anak saat mengamuk atau tantrum, jangan perhatikan mereka.

Sering kali amukan digunakan sebagai senjata agar orang tua ikut kalut dan luluh. Cepat atau lambat, amukan itu akan berlalu dengan sendirinya.

Jika anak kamu berperilaku tidak baik karena kecemasan atau mengamuk, bicarakan dengan mereka tanpa menghakimi setelah amukannya reda.

4. Tidak Membiarkan Anak Memiliki Privasi

Orang tua yang cemas tidak membiarkan anak-anaknya menyimpan sesuatu dari mereka. Baginya, jika anak-anak menyembunyikan sesuatu, maka itu pasti sesuatu yang mengerikan dan mengkhawatirkan.

Mendorong anak untuk memberi tahu pada orang tua tentang segalanya membuat mereka tidak memiliki privasi.

Padahal, rahasia juga sangat penting untuk perkembangan anak. Ini akan membentuk kesadaran batin, otonomi, dan imajinasi.

Solusi : Ada dua jenis rahasia, yaitu baik (kejutan) dan buruk (situasi yang membuat anak sedih atau malu).

Biarkan mereka menyimpan rahasianya sendiri, kamu bisa ikut campur tangan hanya ketika kamu merasa situasinya tidak terkendali atau mungkin mengancam jiwa.

Nah, itulah tanda-tanda orang tua posesif dan suka mengkhawatirkan segalanya yang dilakukan anak ya, Kawan Puan.

Jika perhatian itu terlalu berlebihan, anak justru merasa tidak nyaman berada dekat orang tuanya.

sumber: kompas.com
Prof Jimly Asshiddiqie Soal Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Itu Tidak Mungkin
08 September 2021
Prof Jimly Asshiddiqie: Soal Perpanjangan Masa Jabatan Presiden, Itu Tidak Mungkin
foto: Jimly Asshiddiqie (fajar)


itoday - Anggota DPD RI Prof Jimly Asshiddiqie meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode yang terus bergulir seiring wacana amendemen UUD 1945.

Menurut mantan ketua pertama Mahkamah Konstitusi (MK) itu, perpanjangan masa jabatan presiden tidak mungkin terjadi.

“Soal perpanjangan masa jabatan presiden, itu tidak mungkin, tidak bisa dan tidak mungkin. Apalagi, Pak Jokowi juga sudah marah-marah, enggak mau dia. Marah dia, tersinggung, begitu lho,” kata Prof Jimly saat berbincang dengan JPNN.com, Rabu (8/9).

Dia menilai isu tersebut hanya akan menimbulkan perselisihan antara yang pro dengan yang kontra. Terlebih lagi bila isu tersebut terus digoreng-goreng dengan tujuan yang bermacam-macam.

“Misalnya, orang yang mau goreng-goreng, maksudnya macam-macam. Ada yang mau menjilat, ada yang kemudian menentang, itu jadi terpancing. Padahal, enggak ada dan enggak mungkin,” tutur Prof Jimly.

Eks ketua DKPP itu membeberkan alasan kenapa perpanjangan masa jabatan itu tidak mungkin terjadi.

Pertama. karena semua partai sudah punya calon. Kedua, wacana itu tidak sejalan dengan agenda reformasi. “Tidak mungkin, kenapa? Ya, itulah misinya reformasi, pembatasan masa jabatan. Dan kedua, tidak ada partai yang mau,” ucap Prof Jimly.

Oleh karena itu, publik jangan terpancing memperdebatkan sesuatu yang tidak ada. Sebab, itu hanya buang-buang waktu, apalagi dengan emosi.

“Partai mana coba? PDIP yang paling besar, kan sudah punya calon. Kedua, Golkar, sudah punya calon. Ketiga, Gerindra, sudah punya calon juga,” kata tokoh asal Sumatera Selatan itu.

Ketua umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu menambahkan, memperdebatkan isu yang dibuat-buat tersebut dengan emosi hanya akan menimbulkan permusuhan.

“Makanya, setop itu wacana tiga periode itu,” tandas Prof Jimly Asshiddiqie.

Pada Senin, 2 Desember 2019, Presiden Jokowi menegaskan tanggapannya atas wacana penambahan masa jabatan presiden maksimal tiga periode.

“Ada yang bilang presiden dipilih tiga periode. Itu ada tiga (maknanya) menurut saya; satu ingin menampar muka saya, yang kedua ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Dan yang ketiga ingin menjerumuskan. Itu saja,” tegas Jokowi, di Istana Merdeka.

sumber: fajar.co.id
Buntut Kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang Amnesty Internasional Indonesia Desak Menkumham Mundur
08 September 2021
Buntut Kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang, Amnesty Internasional Indonesia Desak Menkumham Mundur
foto: Yasonna Laoly (rmol)


itoday - Kebakaran yang melanda Lapas Kelas I Tangerang, Banten, menjadi duka bagi keluarga para tahanan yang tewas dalam insiden tersebut. Sedikitnya ada 41 narapidana yang meninggal dunia, dan puluhan lainnya mengalami luka ringan hingga berat.

Atas kejadian tragis tersebut, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mendesak Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, mundur dari jabatannya.

Yasonna dianggap tidak mampu mengatasi permasalahan overload di Lapas hingga akhirnya terjadi peristiwa kebakaran yang menelan banyak korban jiwa.

“Sudah selayaknya Menkumham dan Dirjen Lapas mundur dari jabatan mereka. Ini masalah serius hak asasi manusia banyak orang, terutama mereka yang menjadi Korban dan yang kini masih berada dalam penjara yang sesak,” tegas Usman kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (8/9).

Dewan Pakar Peradi RBA ini juga meminta agar pemerintah melakukan langkah strategis untuk menangani masalah penuhnya tahanan di sejumlah Lapas di seluruh Indonesia. Caranya dengan mengubah orientasi politik dalam hal kebijakan menangani kejahatan ringan.

“Termasuk yang terkait penggunaan narkotika. Pemerintah dapat membebaskan mereka yang seharusnya tidak pernah ditahan, termasuk tahanan hati nurani dan orang-orang yang ditahan atas dasar pasal-pasal karet dalam UU ITE,” paparnya.

Usman juga menegaskan, pelanggaran ringan seperti menyampaikan aspirasi di media sosial yang dianggap melanggar hukum pidana tidak perlu langsung dilakukan pemenjaraan agar sejumlah rumah tahanan tidak penuh.

“Penahanan dan pemenjaraan orang hanya karena mengekspresikan pendapatnya secara damai tidak dapat dibenarkan dalam situasi apapun. Terlebih lagi dalam situasi di mana ada over kapasitas lapas yang membahayakan kesehatan dan bahkan nyawa tahanan, terutama di masa pandemi seperti saat ini,” ujarnya.

“Pemerintah harus bertanggungjawab dan segera mengusut apa sebab kebakaran tersebut dan memastikan semua hak keluarga korban terpenuhi,” demikian Usman Hamid.

sumber: rmol.id