Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal Ini Respons Kemenkes
08 September 2021
Heboh Petisi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal, Ini Respons Kemenkes
foto: Sertifikat Vaksin (menpan)


itoday - Lebih dari 13,8 ribu warganet mengisi petisi yang disediakan Change.org mengenai 'Batalkan Kartu Vaksin sebagai syarat Administrasi'. Pembuat petisi diketahui bernama Lilis.

Kementerian Kesehatan dalam hal ini diwakili Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu, berkomentar bahwa itu bukan kewenangannya memberikan pernyataan mengenai petisi penolakan sertifikat vaksin sebagai syarat administrasi.

"Saya jawab, kewenangan itu bukan di saya," terang Maxi saat webinar daring di Youtube FMB91D_IKP, Selasa (7/9/2021).

Namun, Maxi menilai bahwa sangat wajar ketika ada segelintir masyarakat yang melakukan penolakan, protes, hingga membuat petisi seperti yang tengah ramai sekarang.

"Wajarlah kalau ada yang melakukan petisi, protes, tidak suka, kalau kartu vaksin menjadi syarat. Saya lihat juga di daerah tertentu ada penolakan seperti ini, itu wajar. Itu kan aspirasi dari warga. Ini harus kita terima," lanjutnya.

Di kesempatan itu, Maxi coba mengambil sisi lain dari upaya penolakan vaksin yang dilayangkan di media sosial bahwa mungkin masyarakat juga banyak yang menanti vaksin siap di wilayahnya, namun hingga sekarang stoknya masih kurang.

"Mungkin, yang menjadi protes, ... jangan-jangan mereka sudah punya kesempatan, sudah mau, sudah ada waktu, tapi vaksinnya masih kurang. Itu yang kami rasa perlu dan harus diperbaiki segera," paparnya.

"Kalau syarat itu bisa (diperbaiki), dengan ketersediaan vaksin dan akses yang lebih mudah. Kalau memang soal itu, kami akan benahi," tambah Maxi.

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan bahwa syarat menunjukkan sertifikat vaksin saat masuk mal atau kafe itu bukan bentuk diskriminasi dan konspirasi.

"Itu bukan diskriminasi apalagi konspirasi. Pihak mal atau kafe hanya melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk mendukung kesehatan karyawan dan pengunjungnya, plus taat aturan," paparnya di Twitter, belum lama ini.

Ia menambahkan, "Lagipula, akses vaksinasi di Jakarta amat luas. Apakah kalian belum menemukan alasan enggan divaksin selain isi vaksin itu terdapat microchip? Pun jika tidak bisa atau ditunda vaksinnya karena komorbid, Anda bisa gunakan surat keterangan dokter untuk masuk mal," terang Prof Beri.

Ya, salah satu kegelisahan yang diutarakan pembuat petisi adalah mempertanyakan kebijjakan pemerintah soal sertifikat vaksin sebagai syarat masuk mal, tetapi bagaimana dengan mereka yang secara medis tidak direkomendasikan menerima vaksin Covid-19 karena komorbid yang dimiliki.

"Jika aturan ini dibuat sebagai dasar untuk memasuki area mal, bagaimana dengan orang yang tidak memenuhi syarat untuk divaksinasi? Terutama bagi mereka para penderita komorbid yang seharusnya ada perhatian khusus terkait hal ini. Jika aturan ini tetap diberlakukan bagaimana dengan orang yg tidak memenuhi persyaratan vaksin namun mereka tetap harus melakukan vaksin karena kebijakan tersebut," ungkap keterangan yang ada di laman petisi tersebut.

sumber: okezone.com
Seberapa Penting Belajar Keterampilan Dapur di Sekolah
08 September 2021
Seberapa Penting Belajar Keterampilan Dapur di Sekolah?
foto: ilustrasi (thinkstock)


itoday - Banyak orangtua di negara maju yang menginginkan anak-anak mereka bisa belajar keterampilan dapur dan memasak di sekolah.

Sebab, jika anak-anak sudah terampil di dapur sejak kecil, maka mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, terutama dalam hal menyiapkan makanan sendiri.

Perusahaan garansi rumah yang menyediakan asuransi, Cinch Home Services mensurvei sebanyak 1.007 orang tentang kebiasaan mereka di dapur untuk menilai pengetahuan dasar cara merawat peralatan dapur.
Survei tersebut juga bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak orang yang benar-benar tahu tentang menjaga dapur dan keterampilan dasar di dapur.

Semua peserta adalah orang Amerika yang mencakup empat generasi dari Baby Boomers hingga Generasi Z.

Para peserta diberikan survei besar yang menanyakan tentang berbagai kebiasaan dan bagaimana mereka melakukan aktivitas di dapur.

Survei tersebut pun menanyakan bagaimana orang menggunakan mesin pencuci piring mereka dan bagaimana mereka seharusnya meletakan barang di dapur.

Lalu, mereka juga ditanya bagaimana menyimpan sisa makanan, bagaimana menentukan apakah daging sudah busuk, dan apakah mereka mencuci buah dan sayuran atau tidak.

Hasil survei

Berdasarkan hasil survei, rata-rata orang tidak tahu banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan dapur.

Sebanyak 59 persen peserta mengakui bahwa mereka mencairkan daging giling beku pada suhu kamar di konter dapur dan 35 persen melakukan ini untuk mencairkan ayam.

Kemudian, satu dari empat peserta survei mengira wadah plastik tidak bisa dibersihkan di mesin pencuci piring. Padahal bisa.

Berikutnya, sebanyak 85 persen peserta berpikir bahwa keterampilan dapur dan memasak perlu ditambahkan ke kurikulum sekolah karena itu adalah ide yang bagus.

Survei tersebut juga meminta para peserta untuk menilai diri mereka dan bagaimana mereka merawat dapur.

Setiap generasi memberi nilai yang tinggi yakni "A" pada diri mereka masing-masing dan kelompok orang yang lebih muda merasa lebih percaya diri terhadap penilaian itu.

sumber: kompas.com
Apa Angciu Halal Berikut Penjelasan MUI
08 September 2021
Apa Angciu Halal? Berikut Penjelasan MUI
foto: Angciu atau Arak (shutterstock)


itoday - Angciu merupakan salah satu bumbu yang umum digunakan di chinese food.

Angciu biasa digunakan untuk menyedapkan beragam masakan, mulai dari tumisan hingga nasi goreng. Direktur Eksekutif LPPOM MUI,

Ir. Muti Arintawati, M.Si kepada Kompas.com (03/09/2021) mengatakan bahwa istilah angciu sebetulnya bermacam-macam. Ada yang menyebut dengan arak masak atau sari tapai.

Bahan pembuatan angciu yakni dari beras yang difermentasi dengan ragi. Kepada Kompas.com Muti pun menjelaskan bahwa air dari fermentasi inilah yang kemudian digunakan untuk membuat angciu.

"Angciu yang saat ini ada di pasaran, memang dibuat melalui proses fermentasi, menggunakan beras ketan dan ragi.

Kemudian, setelah jadi airnya dipisahkan. Nah airnya inilah yang kemudian digunakan untuk membuat angciu, arak masak, atau sari tapai," ungkapnya.

Merujuk pada proses pembuatan dan bahannya, lantas apakah bumbu angciu halal?

Selain dari sari tapai atau fermentasi beras, angciu juga diberi bumbu penyedap lainnya.

Meski demikian, Muti menyebuat bahwa bumbu masakan khas Tiongkok ini tidak halal.

Pasalnya, bahan yang digunakan dan proses pembuatan sudah berupa khamar atau alkohol, yakni sari tapai itu sendiri.

"Kalau dari prosesnya, kami menyampaikan bahwa angciu tidak halal. Karena memang produk yang dihasilkan (cairan yang dipisahkan dari proses fermentasi sari tapai tadi) sudah dikatakan sebagai khamar," jelas Muti kepada Kompas.com.

Karena hukumnya haram, maka penggunaan angciu dalam masakan tidak dianjurkan. Sekalipun jumlahnya sedikit atau sudah diolah dengan bumbu lainnya.

"Maka kita tidak lagi melihat penggunaannya besar atau kecil, banyak atau sedikit. Jadi, karena memang kategorinya sudah khamar, penggunaan dalam jumlah sedikit walaupun sudah diolah lagi dan ditambah bumbu lain, tetap saja haram. Sebab, ada kandungan khamar-nya," tegas Muti.

Bahkan menurut Muti, mengganti angciu dengan cara mengimitasi sari tapai atau alkohol lainnya pun tidak diperbolehkan. Sebab, bahan dasarnya sudah haram.

sumber: kompas.com
Wacana Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Akalakalan Oligarki karena Khawatir Zona Nyamannya Bubar
07 September 2021
Wacana Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Akal-akalan Oligarki karena Khawatir Zona Nyamannya Bubar
foto: Satyo Purwanto (suara)


itoday - Wacana amandemen UUD 1945 perpanjangan masa jabatan presiden dianggap sebagai akal-akalan kelompok oligarki yang khawatir zona nyamannya bubar jika rezim berganti.

Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy, Satyo Purwanto mengatakan, UUD hasil amandemen Pasal 7 UUD 1945 membatasi masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.

Kata Satyo, tujuannya menghindari kesewenang-wenangan dan akibat pengalaman traumatik bangsa Indonesia di masa orde lama dan orde baru yang menjadi otoriter, represif dan korup karena terlalu lama berkuasa.

"Wacana Presiden 3 periode ataupun perpanjangan masa jabatan tidak sesuai UU dan juga ahistoris dengan perjuangan mahasiswa, pemuda dan segenap rakyat Indonesia di tahun 1998 dengan berkorban jiwa, raga dan harta untuk membawa bangsa Indonesia ke orde reformasi," ujar Satyo kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (7/9).

Hal tersebut kata Satyo, mengapa konstitusi membatasi Presiden dan Wakil Presiden hanya menjabat selama lima tahun dan dapat dipilih hanya sebanyak dua kali dan tidak dikenal penambahan masa jabatan.

"Amanat konstitusinya seperti itu, hukum mengatakan tidak boleh ada orang menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden lebih dari dua kali masa jabatan," kata Satyo.

Jika alasannya pandemi Covid-19 kata Satyo, seluruh dunia pun mengalami hal yang sama.

Bahkan, dalam catatan Satyo, pemerintah pernah ngotot menggelar Pilkada di tengah pandemi pada Desember 2020. Proses pelaksanaannya pun berjalan sesuai tahapan yang harus dilalui.

Satyo mengendus, wacana perpanjangan masa jabatan bukan berdasar kebutuhan rakyat, tetapu hanya keinginan kelompok oligarki. Ia menduga, kelompok oligarki tidak ingin zona nyamannya berubah saat rezim berganti.

"Wacana tersebut adalah berasal dari segelintir elite dan hanya konsumsi elite. Sehingga bisa dipastikan wacana tersebut bukan atas dasar kebutuhan rakyat, patut diduga hal itu adalah akal-akalan kelompok oligarki yang khawatir zona nyamannya bubar jika rezim berganti," pungkas Satyo.

sumber: rmol.id
OPPO Gandeng Bigetron Gelar Reno6 Ultimate Gaming Battle
07 September 2021
OPPO Gandeng Bigetron Gelar Reno6 Ultimate Gaming Battle
foto: Oppo Reno6 Ultimate Gaming (tabloidpulsa.id)


itoday - OPPO Reno6 resmi dipasarkan di Indonesia dengan menjadikan fitur gaming sebagai salah satu keunggulannya, dan untuk memperkenalkan kembali fitur-fitur gaming terbaru pada Reno6 tersebut, OPPO menggandeng salah satu tim e-sports terkemuka, Bigetron menggelar Reno6 Ultimate Gaming Battle.

“Di masa pandemi, gaming menjadi salah satu kebutuhan konsumen untuk mengisi waktu luangnya. Kehadiran perangkat smartphone yang menawarkan fitur gaming, performa tinggi serta harga yang lebih terjangkau menjadi impian para pengguna. Di sinilah kami berupaya memenuhi kebutuhan itu dengan menghadirkan perangkat OPPO Reno6. Untuk lebih memperkenalkan fitur-fitur gaming pada perangkat ini, kami menyelenggarakan Reno6 Ultimate Gaming Battle yang terbuka untuk umum di mana nantinya pemenang dari fase penyisihan pertandingan ini dapat berhadapan langsung dengan para pemain game profesional dari tim e-sports Bigetron,” ujar Aryo Meidianto A, PR Manager OPPO Indonesia.

Reno6 Ultimate Gaming Battle ini terbuka untuk umum dan melalui dua tahapan kualifikasi yang akan dilaksanakan pada 20-21 September mendatang. OPPO membuka pendaftaran mulai hari ini (7/9), bagi konsumen yang tertarik dapat mendaftarkan diri melalui tautan registrasi https://bit.ly/RegistOPPOReno6xBTR. Untuk mengikuti Reno6 Ultimate Gaming Battle, peserta diharuskan berusia di atas 16 tahun, di mana mereka harus membentuk 1 (satu) tim yang terdiri dari 4 (empat) orang pemain dengan opsi tambahan satu orang pemain pengganti. OPPO juga mensyaratkan peserta telah mengikuti vaksinasi, minimal sudah melakukan vaksinasi tahap pertama. Hal ini berkaitan dengan final dari pertandingan yang akan dilakukan di mal Central Park Jakarta secara luring. Untuk itu, OPPO juga mensyaratkan peserta harus berdomisili di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) agar lebih mudah untuk bertanding apabila mereka lolos ke babak final.

Dengan final yang diadakan secara luring di Central Park Jakarta, OPPO berupaya memperketat dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Setiap peserta yang hadir pada babak final akan dilakukan swab test dan disarankan menggunakan masker ganda. Selain itu, pada acara final nantinya OPPO akan membersihkan setiap perangkat yang digunakan oleh para peserta di pertandingan final Reno6 Ultimate Gaming Battle dengan disinfektan. OPPO juga bekerjasama dengan satgas COVID-19 setempat dan kepolisian untuk mengatur kerumunan di sekitar area. Pertandingan ini dapat disaksikan secara terbatas oleh pengunjung Central Park Jakarta dengan menerapkan 50% kapasitas dan menjaga jarak.

Pada acara Reno6 Ultimate Gaming Battle, OPPO mempersiapkan hadiah utama berupa perangkat OPPO Reno6 dan uang tunai senilai 4 (empat) juta rupiah, sementara pemenang kedua akan mendapatkan perangkat OPPO Reno6. Pada babak final Reno6 Ultimate Gaming Battle, OPPO juga akan menantang beberapa pengunjung Central Park Jakarta untuk melawan tim Bigetron secara langsung dalam permainan PUBG Mobile. OPPO akan mempersiapkan hadiah menarik bagi pengunjung yang mengikuti kegiatan ini secara langsung di Central Park Jakarta.

OPPO Reno6 merupakan perangkat yang mengusung jargon Gaming fo Everyone, artinya perangkat smartphone dengan performa dan fitur gaming yang dapat dinikmati semua orang, tidak terbatas pada kalangan tertentu saja. Perangkat ini menawarkan performa luar biasa melalui kehadiran prosesor Snapdragon 720G dengan beberapa fitur menarik seperti Qualcomm Snapdragon Elite Gaming dan RAM besar 8GB berfitur Expansi RAM yang dapat menghadirkan total RAM hingga 13GB. Tak lupa, OPPO juga melengkapi perangkat ini dengan beberapa fitur gaming baru di antaranya Game Focus Mode, Bullet Screen Message, Quick Start-Up, dan HyperBoost 4.0.

sumber: tabloidpulsa.id
Apa itu Tiger Parenting Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
07 September 2021
Apa itu Tiger Parenting? Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Metode tiger parenting merupakan salah satu pola asuh yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan para orangtua di seluruh dunia.

Pola asuh tiger parenting pertama kali diperkenalkan oleh penulis Amy Chua lewat bukunya, Battle Hymn of the Tiger Mother.

Wanita yang merupakan profesor hukum di Universitas Yale, AS ini menulis tentang pengaruh kebudayaan Cina, yang dimilikinya, dalam pola pengasuhannya.

Dalam buku Tiger Mom ini, ia mengungkapkan soal jenis parenting yang dipraktikkannya dalam mendidik anak-anaknya. Beberapa hal yang dilakukannya memicu pro kontra dari banyak pihak sementara yang lain mendukungnya.

Namun Chua yakin, berdasarkan contoh kasus tiger parenting yang dijalani dan ditulisnya, cara itu amat bermanfaat. Menurutnya, dampak positif tiger parenting terlihat dari kesuksesan anak-anaknya di sekolah maupun studi musik yang dijalaninya.

Apa itu Tiger Parenting?

Tiger parenting adalah metode pengasuhan yang bersikap keras dan otoriter secara terang-terangan. Gaya pengasuhan seperti ini terlihat dingin, menuntut, dan sering kali tidak mendukung secara emosional.

Chua, yang mendeskripsikan dirinya sebagai Tiger Mom, melakukannya dengan cara melarang anak perempuannya menonton televisi, bermain game komputer, menginap, berkencan, atau mendapatkan nilai kurang dari A.

Pesan utamanya adalah keberhasilan akademik wajib dicapai dengan pengorbanan apapun termasuk kekurangan waktu bermain dan kelonggaran lainnya untuk anak.

Namun tiger parenting berbeda dengan otoriter parenting. American Psychological Association (APA) mengatakan, tiger parenting mencakup pola asuh negatif dan positif tingkat tinggi sekaligus.

Misalnya keberadaan aturan ketat sekaligus kehangatan dan dukungan penuh dari orangtua pada anak.

Para tiger mom maupun dad merupakan orang yang mempraktikkan strategi pengasuhan positif dan negatif secara bersamaan.

Banyak Pro Kontra

Gaya pengasuhan Amy Chua menuai pro kontra dari banyak pihak. Ada yang memberikan reaksi keras karena menganggap tiger parenting tidak akan menghasilkan perkembangan yang optimal pada anak.

Banyak yang menilai, bukunya itu hanya ditulis berdasar pengalaman pribadinya. Bukunya tidak didukung penelitian ilmiah yang dapat mempertimbangkan perbedaan antar keluarga dan berbagai kemungkinan hasilnya.

Sementara itu, para pendukungnya berkeras kesuksesan akademis dan musik anak-anak Chua merupakan bukti efektivitas metode ini.

Souzan Swift, PsyD, seorang psikolog di Amerika Serikat mengatakan kesuksesan anak adalah hal utama dan terpenting dalam tiger parenting.

"Anak-anak sering kali menuruti permintaan orangtua mereka karena takut akan hukuman,” jelasnya.

Ia mengatakan anak-anak membutuhkan penerimaan dan cinta dari orangtuanya. Oleh sebab itu, tiger parenting mungkin saja bisa berpengaruh buruk pada kesehatan mental anak.

Gaya mengasuh ini tampak berniat positif untuk menunjang kesuksesan anak dalam hal akademis.

Namun ini mungkin mengikat harga diri dan penerimaan anak dengan tingkat kesuksesan mereka, yang dapat menciptakan banyak tekanan dan stres.

sumber: kompas.com