Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Satgas Covid19 IDI Ungkap Efek Samping Vaksin yang Bisa Berbahaya Apa Saja
06 September 2021
Satgas Covid-19 IDI Ungkap Efek Samping Vaksin yang Bisa Berbahaya, Apa Saja?
foto: ilustrasi vaksinasi (ist)


itoday - Efek samping setelah disuntik vaksin Covid-19 menjadi kekhawatiran terbesar bagi masyarakat. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) prof. dr. Zubairi Djoerban mengatakan, hal tersebut lumrah saja.

Hanya saja, masyarakat juga perlu tahu perbedaan efek samping vaksin yang bisa berbahaya bagi tubuh dan umum terjadi. Dokter Zubairi menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

"Harus dipahami dulu. Efek samping pascavaksin adalah normal. Itu tanda vaksinnya “nendang” dan sistem kekebalan tubuh Anda melakukan tugasnya. Dia itu sedang membangun perlindungan terhadap virus," kata prof Zubairi dikutip dari tulisannya di akun Twitter pribadinya, Minggu (5/9/2021).

Meski begitu, tidak terjadi efek samping sama sekali atau hanya ringan pasaca vaksinasi juga hal yang normal, lanjutnya.

"Seperti saya, ketika divaksin Moderna. Saya demam setengah jam setelah disuntik. Tapi ada juga memang yang demam tiga hari dan lengan bekas suntikannya bengkak," cerita dokter Zubairi.

Adapun efek samping vaksin yang harus diperhatikan, jika mengalami sakit kepala parah lebih dari tiga hari, sakit perut parah, bintik-bintik merah kecil di bawah kulit, atau sesak napas. Dokter Zubairi menyarankan, harus segera konsultasi dengan petugas medis jika kondisi tersebut terjadi setelah vaksinasi.

"Apalagi jika ada anafilaksis (reaksi alergi) atau sampai pingsan. Segera konsultasi," imbuhnya.

Karena alasan itu pula kondisi seseorang harus diamati selama seperempat jam pascavaksin. Dokter spesialis penyakit dalam itu juga menyarankan, setelah divaksin, ada baiknya juga minum parasetamol tiap delapan jam selama 24 jam.

sumber: suara.com
Deteksi COVID19 dengan Metode Kumur BioSaliva Miliki Sensitivitas Hingga 95 Persen
04 September 2021
Deteksi COVID-19 dengan Metode Kumur, BioSaliva Miliki Sensitivitas Hingga 95 Persen
foto: Bio Saliva (ist)


itoday - Kini PT. Biofarma memproduksi alat diagnosis COVID-19 dengan metode kumur (garled). Alat tersebut dinamai BioSaliva yang diklaim nyaman saat digunakan.

Alat tes RT Polymerase Chain Reaction (PCR) tersebut memiliki sensitivitas hingga 95 persen sehingga dapat digunakan sebagai alternatif selain menggunakan PCR Kit.

BioSaliva juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 1 April 2021 dengan Nomor KEMENKES RI AKD 10302120673.

Media pembawa virus ini berfungsi untuk deteksi RNA Sars-CoV2 penyebab COVID-19 dengan metode RT PCR menggunakan sampel saliva atau air liur.

Umur simpan BioSaliva bisa mencapai 2 tahun. Sampel saliva juga dapat stabil di suhu ruang hingga 30 hari, suhu -20°C, dan suhu -80°C,” seperti mengutip sehatnegeriku.kemenkes.go.id, Sabtu (4/9/2021).

Cara Menggunakan

Biofarma tengah melakukan uji post market BioSaliva di Kementerian Kesehatan dan di tiga laboratorium, yakni:

-Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

-Laboratorium Biomedik Lanjut, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran.

-Laboratorium Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.

Pengguna BioSaliva dianjurkan tidak makan dan minum, merokok, berkumur dengan mouthwash selama 1 jam sebelum tes.

BioSaliva digunakan dengan cara berkumur di bagian tenggorokan dalam. Sebelum berkumur, pengguna BioSaliva dianjurkan menarik napas secara kuat, lalu batuk sedikit untuk mengeluarkan dahak tanpa dibuang.

Selanjutnya, masukkan cairan kumur yang tersedia dalam kemasan BioSaliva ke dalam mulut dan mulai berkumur di bagian dalam tenggorokan.

Setelah itu, keluarkan cairan kumur dari dalam mulut ke dalam wadah dan campurkan dengan larutan pencampur yang juga tersedia dalam kemasan. Kemudian kocok dan sampel siap dites di laboratorium.

Terkait Produk

Dalam satu kemasan BioSaliva terdapat petunjuk penggunaan, satu wadah cairan kumur, satu wadah larutan pencampur, dan satu corong.

Produk ini menjawab tantangan laboratorium klinis akan kebutuhan tes dengan kondisi lapangan di Indonesia, yang umumnya jauh dari fasilitas kesehatan.

“Diharapkan pula, tes PCR dengan metode kumur ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas tracing nasional terutama untuk kalangan anak-anak dan Lansia yang membutuhkan kenyamanan lebih dalam pengambilan sampel.”

Ke depannya proses pengambilan sampel dapat dilakukan di area non-medis dengan pengawasan tenaga kesehatan, sehingga mengurangi kerumunan dan menghindari kontak.

Proses pengambilan sampel yang praktis juga memungkinkan pengambilan sampel dalam jumlah yang sangat besar tanpa perlu menambah tenaga medis.

Direktur Pemasaran Bio Farma, dr. Sri Harsi Teteki, mengatakan Biofarma terus berkontribusi dalam melakukan proses kemandirian dalam hal diagnosis COVID-19.

“Seperti kita ketahui banyak sekali produk yang masih impor, sehingga atas riset yang kita lakukan (melalui BioSaliva) mudah-mudahan bisa menjadi pilihan dari Kementerian Kesehatan untuk regulasi ke depannya produk dalam negeri ini bisa diutamakan,” katanya dalam pertemuan langsung antara Biofarma dan Kementerian Kesehatan di gedung Biofarma, Bandung, Kamis (2/9/2021).

Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Ir. Sodikin Sadek, M.Kes mengapresiasi Biofarma atas produk BioSaliva.

“Saya apresiasi hasil penelitian ini karena ini produk dalam negeri,” kata Sodikin.

sumber: liputan6.com
Gunakan NIK Jokowi untuk Lihat Sertifikat Vaksin Kemendagri Ada Sanksi Pidananya
03 September 2021
Gunakan NIK Jokowi untuk Lihat Sertifikat Vaksin, Kemendagri: Ada Sanksi Pidananya
foto: Joko Widodo (setpres)


itoday - Warganet dihebohkan dengan beredarnya sertifikat vaksin Covid-19 yang diduga milik Presiden Joko Widodo atau Jokowi, yang memuat NIK, dan diduga dari aplikasi PeduliLindungi.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakhrulloh mengingatkan, hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Pasalnya, ada sanksi pidananya, lantaran dianggap bukan kebocoran NIK.

"Ini bukan kebocoran NIK, tetapi menggunakan data orang lain untuk mendapatkan data informasi orang lain. Ada sanksi pidananya untuk hal seperti ini," kata Zudan saat dikonfirmasi, Jumat (3/9/2021).

Menurut dia, ketentuan pidana tersebut diatur dalam UU Administrasi Kependudukan (Adminduk) Nomor 24 Tahun 2013.

Adapun secara spesifik yaitu pada pasal 94 yang berbunyi; Setiap orang yang memerintahkan dan/atau memfasilitasi dan/atau melakukan manipulasi Data Kependudukan dan/atau elemen data Penduduksebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).

Sertifikat Vaksin Covid-19 Presiden Jokowi
Warganet dikejutkan dengan beredarnya sertifikat vaksinasi Covid-19 yang diduga milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media sosial. Pantauan Tekno Liputan6.com, foto sertifikat vaksin dengan tulisan Ir Joko Widodo muncul di lini masa Twitter, Jumat (3/9/2021) pagi.

Selain nama, di gambar sertifikat vaskinasi Covid-19 itu juga terlihat NIK dan tanggal lahir, nomor ID vaksinasi, tanggal vaksinasi, QR code, serta jenis vaksin dan batch vaksinasinya.

Warganet pun banyak yang mengomentari isu kebocoran data pribadi ini di Twitter.

sumber: liputan6
Kemenkes Klaim Penuhi Target Jokowi Soal Vaksinasi 1 Juta Dosis di Agustus
02 September 2021
Kemenkes Klaim Penuhi Target Jokowi Soal Vaksinasi 1 Juta Dosis di Agustus
foto: Nadia Tarmizi (rmmol)


itoday - Vaksinasi yang menjadi andalan pemerintah untuk menyelesaikan masalah pandemi Covid-19 di dalam negeri selalu ditetapkan naik target jumlah sasarannya oleh Presiden Joko Widodo.

Pada bulan Agustus 2021, Jokowi meminta agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merampungkan target 1 juta vaksinasi untuk warga Indonesia.

Target tersebut diklaim Kemenkes telah tercapai pada akhir Agustus kemarin, atau tepatnya pada Selasa (31/8).

"Sesuai dengan peta jalan kita tanggal 31 Agustus kemarin kita mencapai 100 juta dosis vaksin Covid-19," ujar jurubicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi dalam jumpa pers virtual yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (1/9).

Siti menyatakan, vaksinasi Covid-19 yang menjadi game changer yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan potensi penularan virus di masyarakat harus terus menerus dilaksanakan.

"Kita tahu bahwa vaksinasi merupakan salah satu yang penting dalam menurunkan laju penyebaran virus Covid-19," demikian Siti.

Dalam pendataan yang dicatat Kemenkes pada Selasa (31/8), terdapat 63.491.357 warga yang sudah menerima vaksin Covid-19 untuk dosis yang pertama.
Sementara untuk warga yang sudah menrima vaksinasi dosisi kedua ada sebanyak 36.050.688 orang. Kemudian, yang menerima dosisi ketiga ada 640 532 orang.

sumber: rmol.id
Varian Mu Bikin WHO Resah Kemungkinan Resisten Terhadap Vaksin
01 September 2021
Varian Mu Bikin WHO Resah! Kemungkinan Resisten Terhadap Vaksin
foto: Varian Mu (ist)


itoday - Varian Mu, varian baru mutasi Covid-19 menjadi perhatian dariBadan Kesehatan Dunia (WHO). Daam laporan terbaru mereka bahwa pihaknya tengah memantau varian baru Covid-19 yang dikenal sebagai Mu. Varian ini pertama kali teridentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.

Menurut laporan France 24, varian Mu secara ilmiah dikenal dengan kode B.1.621 ditetapkan oleh WHO sebagai variant of interest (VoI) berdasar laporan mingguan mereka yang terbit Selasa, (31/8/2021).

Dalam penjelasannya, WHO mengatakan bahwa varian ini memiliki mutasi yang menunjukkan risiko resisten terhadap vaksin dan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami varian Mu ini.

"Varian Mu ini memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan (vaksin)," kata laporan WHO tersebut, dikutip MNC Portal, Rabu (1/9/2021).

Kemunculan varian baru ini memunculkan kekhawatiran kembali warga global, terlebih kasus infeksi kembali meningkat di beberapa negara, didominasi infeksi varian Delta, terutama bagi mereka yang belum divaksin. Pun wilayah dengan pelonggaran prokes yang sangat bebas.

"Semua virus, termasuk SARS-CoV2 penyebab Covid-19 bermutasi dari waktu ke waktu dan sebagian besar mutasi memiliki sedikit atau tidak pengaruh pada sifat virus itu sendiri," ungkap laporan tersebut.

Menjadi catatan bersama, tetapi mutasi tertentu dapat memengaruhi sifat virus dan ini memberi dampak buruk pada eksistensi virus itu sendiri yaitu sifat menyebarnya lebih mudah atau lebih kuat untuk menginfeksi manusia. Ini yang menjadi bahaya.

"Saat mutasi virus terjadi dan memengaruhi virus, ada yang membuat virus itu semakin kuat dan menyebabkan tingkat keparahan saat menginfeksi manusia semakin parah, penularan semakin gampang, dan ketahanan terhadap vaksin semakin besar, pun pada obat-obatan atau terapi pencegahan lainnya," tambah laporannya.

Sampai saat ini, WHO menetapkan 4 varian Covid-19 sebagai kelompok VOC atau variant of concern, termasuk Alpha yang diidentifikasi di 193 negara dan Delta di 170 negara.

Varian Mu sendiri tak hanya dilaporkan di Kolombia. WHO menerima laporan kasus varian Mu di Amerika Selatan lainnya dan beberapa negara Eropa. Itu kenapa level varian Mu ditetapkan sebagai VoI.

"Secara global, kasus varian Mu itu di bawah 0,1 persen, tetapi di Kolombia angkanya hingga 39 persen," terang WHO.

sumber: sindonews.com
Percepat Herd Immunity Serbuan Vaksinasi TNI Dosis Kedua Digelar di Perumahan Pesona Cilebut 2
30 August 2021
Percepat Herd Immunity, Serbuan Vaksinasi TNI Dosis Kedua Digelar di Perumahan Pesona Cilebut 2
foto: ilustrasi (rmol)


itoday - Percepat vaksinasi nasional dalam upaya membentuk herd immunity, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bekerja sama dengan warga Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15, Desa Cilebut Barat, Kabupaten Bogor menggelar serbuan vaksinasi dosis kedua untuk warga. Sedikitnya ada 417 warga yang ikut serbuan vaksinasi TNI ini.

“TNI terus mendukung percepatan vaksinasi yang dicanangkan oleh bapak presiden, selama ini sentra vaksinasi belum banyak menyentuh ke wilayah tingkat RW dan perumahan, alhamdulillah kita sudah lakukan hingga dosis vaksin kedua di wilayah RW 15 di perumahan Pesona Cilebut 2, Desa Cilebut Barat ini,” tutur Letkol Kesehatan Ahmad Triono, penanggungjawab pelaksana vaksinasi kepada wartawan dalam keterangan tertulis, Senin (30/8).

Dalam sebulan terakhir ini TNI terus berupaya melakukan serbuan vaksinasi di berbagai daerah. Tak hanya di Kabupaten Bogor, serbuan vaksinasi juga serentak dilakukan di Jakarta yang dipusatkan di Cilandak Town Square atau Citos, Jakarta Selatan, ada juga di Semarang, Jawa Tengah, Jogja dan baru-baru ini akan dilakukan di Papua. “Dengan banyaknya kegiatan vaksinasi lewat serbuan vaksinasi, kami berharap pandemi ini bisa kita tekan jadi endemik,” tambah Ahmad.

Sementara itu warga Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15 Desa Cilebut Barat berterima kasih atas kegiatan serbuan vaksin TNI dosis kedua ini. “Alhamdulilah saya sudah vaksin dosis kedua, semoga sehat. Terima kasih TNI, “ ungkap Lisa, salah seorang warga.

Hampir sebagian besar warga yang divaksin dosis kedua di Perumahan Pesona Cilebut 2, RW 15 ini adalah pelajar yang rencananya akan segera kembali melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah dalam waktu dekat.

“Dalam vaksinasi ini banyak pelajar warga sini yang ikut juga, karena kan mereka katanya akan kembali melakukan pembelajaran tatap muka, jadi merasa terbantu, dan alhamdulillah warga hari ini bisa mendapatkan vaksin dosis kedua,” ucap Gilang Wardana, panitia penyelenggara vaksinasi dari RW 15.

Audrey salah satu pelajar yang ikut dalam vaksinasi begitu senang bisa mendapatkan vaksin dosis kedua dalam serbuan vaksinasi TNI ini, dirinya mengungkap sudah siap kembali melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. “Saya ikut vaksin ini supaya bisa cepat-cepat sekolah, karena bosen di rumah,” tandasnya.

sumber: rmol.id

Terpopuler