Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Kasus Omicron RI Kembali Bertambah Jadi 8 Orang
23 December 2021
Kasus Omicron RI Kembali Bertambah, Jadi 8 Orang!
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Perkembangan kasus varian Covid-19 omicron di Indonesia kembali bertambah. Kini, kasus omicron yang teridentifikasi menjadi delapan orang.

Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi kepada CNBC Indonesia.

"Total ada delapan [orang teridentifikasi omicron]," kata Nadia, Kamis (23/12/2021).

Kementerian Kesehatan sebelumnya mencatat ada lima kasus omicron yang terdeteksi di Indonesia. Pasien pertama adalah seorang petugas kebersihan yang bekerja di Wisma AtletKemayoran.

Setelah itu, empat pasien lainnya yang teridentifikasi adalah warga negara yang baru kembali dari luar negeri di antaranya adalah Amerika Selatan, dan London, Inggris.

Nadia mengatakan, tambahan tiga kasus berasal dari pekerja imigran yang berasal dari Malaysia, dan dua orang warga negara Indonesia yang baru pulang dari Kongo.

"Tambah tiga baru dari PMI Malaysia satu dan Kongo dua," kata Nadia.

sumber: cnbcindonesia.com
Haruskah Booster Vaksin COVID19 yang Diperoleh sama Seperti Vaksin Sebelumnya
22 December 2021
Haruskah Booster Vaksin COVID-19 yang Diperoleh sama Seperti Vaksin Sebelumnya?
foto: ilustrasi (reuters)


itoday - Tingginya jumlah vaksinasi COVID-19 di Indonesia serta munculnya varian omicron membuat pembahasan mengenai pemberian booster vaksin kembali menghangat. Hal ini juga seiring munculnya studi yang menunjukkan titer atau kadar antibodi yang menurun usai seseorang divaksin COVID-19.

Terkait pemberian booster ini, terdapat sejumlah pertanyaan yang muncul. Salah satu pertanyaan yang banyak muncul adalah apakah harus menggunakan jenis dan merek vakisn yang sama seperti sebelumnya.

"Untuk booster masih tetap banyak penelitian dilakukan. Yang sudah dilakukan di Singapura, booster secara massal. Kalau booster menggunakan jenis vaksin yang sama. Karena antibodi yang dipicu sesuai dengan vaksin yang diberikan di awal," terang dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUI, dr. Ardiana Kusumaningrum, Sp.MK beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Waktu pemberian vaksin booster ini disebut dr. Ardiana bisa sangat bervariasi tergantung jenis vaksin yang digunakan. Di Singapura misalnya, booster vaksin diberikan setelah 6 bulan dosis kedua.

"Sifatnya minimal. Kalau lebih dari 6 bulan harus mulai dari yan pertama? Saat ini kebijakannya belum seperti itu. Tetap diberikan dosis berikutnya walau sudah lewat," kata Ardiana.

Pentingnya Vaksinasi Secara Lengkap
Ardiana menjelaskan bahwa vaksin dosis pertama memberikan kekebalan walau tak seoptimal dua dosis. Adanya tambahan bosster vaksin bisa sangat bermanfaat dalam pembentukan antibodi.

Beberapa waktu lalu, muncul juga pembahasan mengenai kombinasi pemberian vaksin COVID-19. Walau begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hal ini.

"Mungkin nanti sifatnya melengkapi dosis vaksin. Tetapi saat ini belum menjadi kebijakan karena masih memerlukan data penelitian lebih lanjut," tutur Ardiana.

Pemberian vaksinasi COVID-198 secara lengkap diharap bisa memberi kekebalan secara jangka panjang. Walau begitu, jika terjadi penurunan kekebalan maka boster vaksin ini sangat penting untuk diberikan.

"Saat ini arahnya seperti itu. Skema pemberian booster kemungkinan akan segera kita lakukan," demikian tutur dia.

sumber: merdeka.com
Bandara Soetta Dipadati Antrean Warga yang Akan Karantina Politikus PPP Bisa Picu Klaster Omicron
21 December 2021
Bandara Soetta Dipadati Antrean Warga yang Akan Karantina, Politikus PPP: Bisa Picu Klaster Omicron
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Adanya penumpukan penumpang yang baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari luar negeri untuk menjalani karantina dinilai sebagai efek dari buruknya manajemen karantina.

"Pemerintah terlalu lambat melakukan antisipasi dan penanganan manajemen karantina kesehatan bagi pejalan asal luar negeri, sehingga terjadi penumpukan dan kerumunan orang saat menunggu proses karantina kesehatan hingga berjam-jam lamanya, bahkan sampai lewat hari," kata anggota Komisi IX DPR RI, Anas Thahir, kepada wartawan, Senin (20/12).

"Keadaan ini malah bisa memicu munculnya klaster baru penyebaran covid Omicron yang justru sedang kita cegah bersama-sama. Apalagi kondisi stamina para penumpang sedang berada di puncak kelelahan akibat perjalanan panjang di pesawat sehingga memungkinkan kekebalan tubuhnya sedang tidak dalam keadaan prima," sambungnya.

Anas juga menyoroti mahalnya biaya karantina yang harus dikeluarkan warga yang baru kembali dari luar neger. Apalagi ada banyak oknum petugas yang aji mumpung dengan menjual makanan dan minuman dengan harga berlipat-lipat.

Ditambah, proses tes PCR yang lama dan sedikitnya petugas di Bandara membuat penumpang makin sengsara.

Politikus PPP ini mendesak pemerintah melakukan tindakan cepat untuk memperbaiki keadaan. Ia juga mengingatkan soal koordinasi antarpemangku kepentingan yang masih terlihat kurang maksimal.

"Kordinasi antarpara pemangku kepentingan (Imigrasi, Angkasa Pura, BNPB, TNI-POLRI, Satgas Covid-19) harus diperkuat tanpa saling menunggu, apalagi saling melempar tanggungjawab. Ini situasi darurat harus ditangani dengan cara darurat," tutup Annas.

Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan penumpukan penumpang yang baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta untuk menjalani karantina sepulang dari luar negeri. Dalam video itu dinarasikan bahwa mereka diwajibkan karantina mandiri di hotel dengan biaya sendiri yang angkanya mencapai Rp 19 juta untuk 10 hari.

sumber: rmol.id
Apakah Masker Ganda Bisa Lindungi Tubuh dari Omicron
19 December 2021
Apakah Masker Ganda Bisa Lindungi Tubuh dari Omicron?
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Varian omicron tidak hanya lebih menular dibandingkan dengan varian Covid-19 lainnya. Menurut profesor kesehatan di Vanderbilt University School of Medicine, William Schaffner, varian ini juga tampaknya lebih menghindari kekebalan dari vaksin dan infeksi sebelumnya.

Terlepas dari penyebaran cepat omicron, kabar baiknya yakni strategi pencegahan Covid-19 seperti masker, vaksinasi, dan jarak sosial dapat memperlambat penularannya. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), terkait masker, benda ini efektif mengurangi risiko tertular atau menyebarkan Covid-19, termasuk varian omicron. Hal ini karena masker tidak spesifik untuk varian Covid-19.

"Masker menjadi penghalang dan menyaring partikel virus dari udara yang kita hirup," kata dr Schaffner seperti dikutip dari laman Health/ pada Ahad (19/12).

Namun, masker bisa penghalang yang tidak sempurna, yang berarti beberapa partikel virus masih bisa lolos. Kemungkinan beberapa partikel lolos mungkin bahkan lebih besar ketika datang ke varian omicron.

"Omicron menghasilkan lebih banyak virus, bahkan dibandingkan delta," kata Schaffner.

Dia mengatakan, yang mengungkapkan beberapa penelitian telah menemukan varian terbaru ini menghasilkan 70 kali jumlah virus dibandingkan delta. Meski begitu, bukan berarti masker tidak berguna melawan omicron. Agar masker efektif melindungi diri dari Covid-19, maka harus memenuhi kriteria tertentu yakni pas di sisi wajah sehingga tidak memiliki celah, memiliki kawat hidung untuk mencegah kebocoran udara dari atas, tidak boleh memiliki katup atau ventilasi pernapasan yang memungkinkan partikel virus keluar.

"Masker bedah dan masker kain multilayer sesuai dengan pedoman tersebut," kata Schaffner.

Jika Anda menginginkan perlindungan lebih, pakai masker kain setelah masker medis sekali pakai. Anda juga dapat memilih KN95, N95 atau KF94 yang dirancang khusus. Namun, yang terpenting, masker harus menutupi mulut dan hidung Anda. Di sisi lain, pencegahan Covid-19 lainnya yang diperlukan yakni vaksin. Walau memang, menurut Schaffner, omicron bahkan dapat menginfeksi orang yang telah divaksinasi penuh dan mendapatkan booster.

sumber: republika.co.id
Vaksin Covid19 Nasal Diprediksi Berikan Perlindungan Lebih Luas
15 December 2021
Vaksin Covid-19 Nasal Diprediksi Berikan Perlindungan Lebih Luas
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Vaksin nasal atau vaksin yang diberikan lewat hidung diprediksi memberikan perlindungan dari virus yang lebih luas. Kondisi demikian jika dibandingkan dengan vaksin yang diberikan lewat suntikan.

Temuan tersebut diungkap lewat penelitian praklinis terkini yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa vaksinasi nasal kemungkin jauh lebih efektif.

Efektivitas yang dimaksud terutama dalam menghasilkan kekebalan terhadap sejumlah virus pernapasan. Vaksinasi melalui semprotan hidung yang dapat dihirup juga lebih mudah untuk diberikan.

"Pertahanan kekebalan terbaik terjadi di pintu gerbang, menjaga dari virus yang mencoba masuk," ujar penulis senior studi, Akiko Iwasaki, dikutip dari laman New Atlas, Selasa (14/12).

Antibodi imunoglobulin A (IgA) adalah salah satu tentara garis depan sistem kekebalan tubuh. Antibodi ini terutama disekresikan oleh permukaan mukosa dalam tubuh, sebagian besar terlihat di hidung, usus, dan paru-paru.

Gagasan di balik vaksin nasal yakni vaksin dapat melatih selaput lendir di hidung secara langsung untuk menargetkan patogen udara tertentu. Dengan begitu, respons imun dapat bekerja segera setelah virus memasuki tubuh.

Secara menjanjikan, studi mengungkapkan vaksin nasal menginduksi tanggapan IgA yang efektif. Selain itu, vaksin nasal dapat meningkatkan kekebalan luas terhadap lebih dari sekadar strain virus tunggal.

Para periset membuktikan itu melalui serangkaian eksperimen dengan tikus. Mereka membandingkan efek vaksin influenza yang diberikan secara intranasal dan secara lebih konvensional, yakni melalui injeksi.

Tim peneliti memapar tikus dengan sejumlah strain influenza yang berbeda di luar yang dirancang bisa diatasi oleh vaksin. Temuan mengungkapkan hewan yang menerima vaksin nasal jauh lebih terlindungi dari berbagai jenis influenza dibandingkan dengan tikus yang disuntik.

Berfokus pada respons IgA, para peneliti menemukan bahwa vaksin nasal tidak hanya menginduksi respons IgA pada selaput lendir hidung. Lebih dari itu, tingkat sekresi IgA yang signifikan juga terdeteksi di paru-paru.

Hal yang paling signifikan, respons IgA hidung dan paru-paru ini tidak terlihat pada hewan yang menerima vaksin melalui suntikan. Hanya pemberian vaksin intranasal yang menghasilkan respons imun semacam ini.

"Hasil ini menunjukkan bahwa vaksin hidung menginduksi IgA dan meningkatkan kekebalan perlindungan silang yang lebih baik terhadap varian virus. Kami menyarankan kegunaannya dalam memerangi varian Covid-19 yang menjadi perhatian," kata Iwasaki.

Riset telah dipublikasikan di jurnal Science Immunology. Vaksin influenza digunakan dalam eksperimen tersebut, namun para peneliti juga melangsungkan tes serupa pada hewan dengan vaksin Covid-19.

Sejumlah vaksin nasal untuk Covid-19 saat ini sedang dikembangkan, dan beberapa sudah dalam tahap percobaan awal pada manusia. Mengembangkan vaksin nasal yang efektif telah terbukti menantang, sebab penelitian sebelumnya selama beberapa dekade silam berakhir buntu.

Marty Moore, PhD, chief executive officer Meissa Vaccines, mengatakan bahwa vaksin hidung atau juga dikenal sebagai vaksin intranasal, bisa menjadi jawaban untuk membuat negara kembali normal. Vaksin intranasal dapat membantu mengakhiri pandemi dan memberi kita kendali permanen atas SARS-CoV-2.

“Vaksin ini untuk membatasi infeksi dan penularan. Kita tidak harus berada di kehidupan normal baru, kita bisa kembali ke normal lama,” kata Moore, baru-baru ini kepada Business Insider, dilansir di laman BestLife.

Dibandingkan tiga vaksin di AS yang ada saat ini, vaksin hidung diklaim dapat menghentikan penularan virus dan infeksi ringan.

Vaksin Covid-19 saat ini telah dirancang untuk melindungi organ vital seseorang, seperti paru-paru dan jantung, dari infeksi parah, tetapi tidak selalu melindungi dari penularan dan kasus terobosan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), orang yang divaksinasi mungkin memiliki tingkat penyebaran lebih rendah daripada orang yang tidak divaksinasi. Tetapi mereka masih dapat menularkan virus ke orang lain jika mereka terinfeksi.

Céline Gounder, MD, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Bellevue di New York, menjelaskan bahwa orang yang divaksinasi masih rentan terhadap infeksi terobosan ringan. Hal itu karena vaksin yang tersedia tidak membantu orang mengembangkan kekebalan mukosa terhadap Covid-19.

Kekebalan mukosa melindungi dari infeksi yang dapat terjadi melalui jaringan lembab di hidung, mata, dan mulut. Selain itu, kemungkinan dapat menghentikan semua transmisi yang terjadi di lubang hidung.

"Setelah vaksinasi, antibodi penetral berada pada level tertinggi, Anda mendapatkan sedikit efek ke saluran napas bagian atas," jelas Gounder.

Vaksinasi tidak memiliki dampak jangka panjang. Sebaliknya, para ahli perlu menemukan cara lain untuk mendapatkan respons mukosa untuk melengkapi respons imun sistemik, yang bisa terjadi dengan vaksin intranasal.

Vaksin hidung yang tidak memerlukan jarum, juga dapat membantu meningkatkan tingkat vaksinasi. Terlebih, menurut dia, banyak orang yang lebih dapat menerima obat tetes di hidung daripada jarum suntik.

“Jadi saya pikir vaksin intranasal bisa menjangkau semua, terutama banyak orang yang ragu-ragu terhadap vaksin," kata Moore kepada Business Insider.

Menurut GoodRx, kemungkinan vaksin semprot hidung belum bisa digunakan masif sebelum 2022. Perusahaan Moore, Meissa, dan perusahaan AS lainnya, Codagenix, sedang mengembangkan vaksin hidung, tetapi keduanya hanya dalam uji coba manusia tahap awal.

Menurut Moore, data klinis awal Meissa telah menunjukkan bahwa pasien yang tidak divaksinasi dan diberikan beberapa tetes vaksin hidung, berakhir dengan tingkat antibodi mukosa rata-rata sedikit lebih tinggi daripada orang yang memiliki kekebalan alami dari infeksi Covid-19.

"Data menunjukkan bahwa kami dapat memberikan kekebalan seperti infeksi alami, tetapi kami dapat melakukannya dengan aman. Tujuan kami adalah untuk membuat baksin COVID yang memblokir misi,” kata Moore.

sumber: republika.co.id
Aturan Iuran Kelas BPJS Kesehatan Resmi Dihapus Tahun 2022 Ini Rinciannya
07 December 2021
Aturan Iuran Kelas BPJS Kesehatan Resmi Dihapus Tahun 2022, Ini Rinciannya
foto: ilustrasi (katadata)


itoday - Iuran BPJS Kesehatan dihapus pada tahun 2022. Hal ini dapat dipastikan dengan acuan UU No. 40 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial.

BPJS kesehatan akan mulai menghilangkan iuran berbasis kelas sehingga nantinya iuran kelas 1, 2, dan 3 BPJS akan diseragamkan menjadi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).

“Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) bukan berarti akan diminimalkan pelayanannya. Hal ini merupakan upaya standarisasi untuk KRI (Kelas Rawat Inap) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), setelah melalui kriteria yang akan disepakati,” jelas Muttaqien, anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN).

Hal ini merujuk pada UU Sistem Jaminan Sosial Nasional pasal 23 ayat 4, kelas yang tersedia di rumah sakit yang diperuntukkan rawat inap yakni kelas standar.

Selain itu juga bertujuan agar tercipta kesetaraan dalam program JKN. Nantinya, layanan BPJS Kesehatan hanya terbagi menjadi dua kelas yaitu Penerima Bantuan Tunai (PBT) dan KRIS untuk non PBT.

Peserta KRIS PBT bisa naik kelas ke KRIS non-PBT dengan menambahkan biaya selisih, sesuai dengan biaya kenaikan kelas.

Kebijakan ini pastinya berdampak pada iuran yang akan dikenakan kepada para peserta meski hal ini belum dijelaskan lebih jauh.

“Perhitungan iuran yang akan dikenakan nanti, tergantung kepada 3 hal: tingkat inflasi, biaya kebutuhan JKN, dan kemampuan para peserta untuk membayar iuran tersebut,” ujar Muttaqien dikutip dari Ayobandung.com --jaringan Suara.com.

Sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah nomor 47 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan, pemberlakuannya maksimal berlaku pada 1 Januari 2023. Sebelum tanggal itu, penerapan KRIS akan diberlakukan secara bertahap di seluruh RS.

Saat ini, jumlah peserta program JKN-BPJS Kesehatan setidaknya ada 222,5 juta orang. Jumlah ini merupakan 81,3% dari keseluruhan populasi di Indonesia.

“12 perubahan kriteria kelas standar yang disusun, masih terus dikonsultasikan bersama pihak terkait. Kesepakatan akhirnya tentu akan diatur dalam perubahan Peraturan Presiden 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan ataupun di Peraturan Menteri Kesehatan,” lanjut Muttaqien.

Ada 2 kriteria yang berbeda untuk KRIS bagi PBT, dan KRIS bagi non PBT. Perbedaan tersebut mengacu kepada ketentuan minimal luas tempat tidur, dan jumlah maksimal tempat tidur per ruangan.

Peserta KRIS PBT memiliki hak atas perawatan ruang minimal 7,2 meter persegi per tempat tidur, sementara KRIS non PBT, 10 meter persegi per tempat tidur.

Jumlah maksimal tempat tidur bagi KRIS PBT adalah 6 per ruangan, sedangkan KRIS non PBT, maksimal 4 tempat tidur per ruangan.

Kriteria standar yang berlaku sama antara KRIS PBT dan KRIS non PBT

1. Bahan bangunan tidak boleh memiliki porositas (pori bangunan) yang tinggi.
2.Jarak antara tempat tidur 2,4 meter, jarak antara tepi tempat tidur minimal 1,5 meter, dan ukuran tempat tidur minimal 206 cm panjang, lebar 90 cm, dan tinggi 50-80 cm. Standar tempat tidur adalah 3 engkol.
3. Wajib tersedia meja kecil per tempat tidur.
4. Suhu ruangan wajib 20-26 derajat Celsius.
5. Letak kamar mandi wajib di dalam ruangan, dengan kelengkapan tertentu yang ditetapkan.
6. Tirai atau partisi tempat tidur dapat diatur dengan rel yang dibenamkan, atau menempel di plafon ruangan, dari bahan non porosif/berpori.
7. Ventilasi udara mekanik harus memenuhi standar frekuensi, minimal 6 kali pertukaran udara. Ventilasi alami harus melebihi jumlah tersebut.
8. Pengunaan alat buatan untuk pencahayaan, intensitasnya minimal 50 lux untuk tidur dan 250 lux untuk penerangan.
9. Tempat tidur di fasilitas rawat inap harus berspesifikasi minimal 2 stop kontak, tersedia outlet oksigen tersentralisasi, tersedia telepon yang terhubung ke perawat.
10. Ruangan rawat inap wajib dipisahkan berbasarkan jenis kelamin, usia, dan jenis penyakit (infeksi dan non infeksi), dan kondisi (bersalin atau tidak).

sumber: suara.com

Terpopuler