Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Dua Pakar Sebut Omicron tidak Parah Tetapi Tetap Waspada
06 December 2021
Dua Pakar Sebut Omicron tidak Parah, Tetapi Tetap Waspada
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Pakar penyakit menular Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci mengatakan bahwa para ilmuwan masih membutuhkan lebih banyak informasi tentang virulensi Omicron, salah satu varian dari virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan infeksi penyakit Covid-19. Meski demikian, sejauh ini data menunjukkan bahwa tidak ada tingkat keparahan yang besar pada Omicron. Indikasi awal memperlihatkan bahwa varian baru yang pertama kali dikonfirmasi keberadaannya di Afrika Selatan ini tidak memiliki bahaya seperti Delta.

“Sejauh ini, sepertinya tidak ada tingkat keparahan yang besar. Tapi kita harus benar-benar berhati-hati sebelum membuat keputusan apapun bahwa Omicron tidak terlalu parah atau tidak menyebabkan penyakit parah, seperti Delta,” ujar Fauci, dilansir LBC News, Senin (6/12).

Fauci mengatakan Pemerintah AS yang dipimpin Presiden Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk mencabut pembatasan perjalanan terhadap non-warga negara yang memasuki Amerika Serikat dari beberapa negara Afrika. Aturan ini telah diberlakukan ketika varian Omicron meledak di wilayah tersebut, tetapi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam langkah-langkah yang dinilai olehnya seperti sebuah tindakan apartheid.

"Mudah-mudahan kami bisa mencabut larangan itu dalam jangka waktu yang cukup masuk akal. Kami semua merasa sangat buruk tentang kesulitan yang telah terjadi tidak hanya di Afrika Selatan tetapi juga negara-negara Afrika lainnya,” jelas Fauci.

Omicron telah terdeteksi di sekitar sepertiga negara bagian AS pada Ahad (5/12), termasuk di sejumlah wilayah Timur Laut, Selatan, Great Plains dan Pantai Barat. Wisconsin dan Missouri termasuk di antara negara bagian terbaru yang mengonfirmasi kasus Covid-19 dari varian baru ini.

Namun, hingga saat ini Delta tetap menjadi varian dominan, membuat lebih dari 99 persen kasus dan mendorong lonjakan penerimaan rumah sakit di utara. Di Inggris, 246 kasus Omicron telah terdeteksi sejauh ini setelah peningkatan lebih dari 50 persen dalam sehari. Ini bisa jadi sebagian karena fakta pengujian yang ditargetkan telah diluncurkan di daerah yang terkena dampak.

Sejumlah tindakan telah diperkenalkan sebagai tanggapan terhadap varian tersebut, termasuk aturan perjalanan yang lebih ketat dan pengenalan kembali mandat masker. Inggris akan meninjau kebijakan setelah tiga pekan diberlakukan.

Varian Omicron menimbulkan kekhawatiran karena jumlah mutasi protein lonjakannya, yang memiliki total 32 kali lipat dari varian Delta yang sangat menular. Jumlah mutasi pada bagian virus ini menimbulkan kekhawatiran bahwa vaksin dan infeksi sebelumnya mungkin memberikan perlindungan yang lebih sedikit terhadap varian tersebut, meskipun terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti.

Ahli epidemiologi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Maria Van Kerkhove mengatakan, bahkan jika Omicron terbukti kurang berbahaya daripada Delta, itu tetap bermasalah. Ia mengatakan, meski kebanyakan adalah kasus Covid-19 ringan, namun beberapa dari individu ada yang akan memerlukan perawatan di rumah sakit karena tingkat keparahan gejala.

"Mereka harus pergi ke Unit Perawatan Intensif (ICU) di rumah sakit dan beberapa orang akan meninggal. Kami tidak ingin melihat itu terjadi di atas situasi yang sudah sulit dengan Delta yang beredar secara global,” kata Van Kerkhove.

sumber: republika.co.id
Pakar Menduga Sudah Terjadi Penularan Omicron di Masyarakat
04 December 2021
Pakar Menduga Sudah Terjadi Penularan Omicron di Masyarakat
foto: ilustrasi (detik)


itoday - Mantan direktur penyakit menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan per Jumat (3/12) sudah ada lebih dari 30 negara yang melaporkan adanya kasus Covid-19 dengan varian Omicron.

"Dr Soumya Swaminathan Chief Scientist WHO (mantan Kepala India Council of Medical Research - ICMR) menyebut sampai 3 Desember 2021 sudah ada 38 negara yg melaporkan kasus Omicron," ujar Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (4/12).

Sementara European CDC menyampaikan per Jumat (3/12) ada 35 negara dunia yang sudah melaporkan 486 kasus Omicron. Beberapa negara seperti Belgia Jerman, Spanyol, Australia, dan Inggris juga sudah mendeteksi kasus tanpa kaitan epidemiologik dengan negara terjangkit.

"Artinya mereka tidak ada riwayat perjalanan ke sana dan juga tidak ada kontak dengan kasus positif Omicron. Ini mengindikasikan mungkin saja sudah terjadi penularan di masyarakat dari varian Omicron, sesuatu yang amat perlu diwaspadai dari kacamata penyebaran epidemiologik," terang Tjandra.

Informasi dari laman PBB juga menyebutkan terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Afrika Selatan dengan semua jenis varian sekitar 311 persen pada sepekan terakhir November dibandingkan sepekan sebelumnya. Selain itu, juga ada peningkatan angka masuk RS sebesar 4,2 persen di Provinsi Gauteng tempat kota Johanesburg, Afrika Selatan.

"Data lain dari Afrika Selatan (untuk semua varian, bukan hanya Omicron) per Kamis (1/12) meningkat 8.561 dari 3.402 kasus pada 26 November," rinci Tjandra

Tak hanya itu, untuk angka reproduksi (R) juga meningkat. South Africa’s National Institute for Communicable Diseases (NICD) menyebutkan angka R Afrika Selatan di atas 2 untuk di provinsi Gauteng. Sementara Jurnal Kedokteran internasional terkemuka Lancet pada Jumat (3/12) kemarin menyampaikan di Afrika Selatan jumlah kasus Covid-19 rata-rata per hari adalah 280 orang pada saat sebelum Omicron ditemukan.

"Angka ini naik menjadi sekitar 800 orang per hari di pekan berikutnya, tetapi ini mungkin karena peningkatan surveilans," kata Tjandra.

Omicron mengandung delesi dan lebih dari 30 mutasi, sebagian di antaranya seperti 69–70del, T95I, G142D/143–145del, K417N, T478K, N501Y, N655Y, N679K, dan P681H yang serupa dengan mutasi pada varian Alpha, Beta, Gamma, atau Delta. Delesi dan mutasi ini diketahui mungkin menyebabkan peningkatan angka penularan, peningkatan viral binding affinity, dan juga peningkatan luput dari antibodi.

"Juga ada mutasi-mutasi lain yang dampaknya belum sepenuhnya diketahui, apalagi kalau dikombinasikan dengan-mutasi yang sudah pernah ditemukan di VOC yang lain," tutur Tjandra.

sumber: republika.co.id
Komisi IX Kebijakan Pencegahan Omicron Harus Tegas
03 December 2021
Komisi IX: Kebijakan Pencegahan Omicron Harus Tegas
foto: Emanuel Melkiades Laka Lena (republika)


itoday - Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena menilai, salah satu penyebab terjadinya gelombang kedua kasus Covid-19 adalah tidak berjalannya kebijakan pemerintah pusat di daerah-daerah. Untuk mencegah masuknya varian B.1.1.2.5.9 atau omikron, ia berharap hal tersebut tak kembali terjadi.

"Untuk Omicron ini harus tegas, tepat, bagaimana di pintu masuk ini, semua petugas di lapangan baik itu dari KKP dan imigrasi, TNI/Polri, dan BNPB semuanya betul-betul berjalan dengan sistem di lapangan," ujar Melki, Jumat (3/12).

Penggunaan tes polymerase chain reaction (PCR) yang terbaik juga harus diterapkan kepada orang-orang yang baru datang ke Indonesia dari luar negeri. Tujuannya agar dapat mendeteksi ada atau tidaknya varian omikron di tubuh mereka.

"Sehingga kita bisa tahu bagaimana pelacakan terkait dengan penanganan soal teman-teman yang terkena omikron ini," ujar Melki.

Terakhir, pemerintah juga harus meneliti dampaknya kepada seseorang dari varian baru Covid-19 tersebut. Agar antisipasi dapat segera dilakukan ketika omikron masuk ke Indonesia.

"Yang penting adalah bagaimana pengaruh omikron ini terhadap orang-orang yang sudah di vaksin. Ini juga masih catatan penelitian karena belum juga ada data yang cukup," ujar politikus Partai Golkar itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, setidaknya 24 negara telah melaporkan kasus Covid-19 yang terkait dengan varian Covid-19 omikron. Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus memperkirakan, jumlah negara yang melaporkan kasus varian baru tersebut akan bertambah.

Pengumuman itu menunjukkan bahwa omikron membutuhkan sepekan saja untuk mencapai negara ke-20 sejak terdeteksi di Afrika Selatan pada 24 November. Perbandingannya, virus induk SARS-CoV-2 membutuhkan setidaknya 59 hari untuk menyebar dari lokasi awal terdeteksi di Wuhan, Cina, sampai ke negara ke-20, yakni Uni Emirat Arab.

“WHO menanggapi perkembangan ini dengan sangat serius, begitu pula setiap negara. Namun, itu seharusnya tidak mengejutkan kita. Karena inilah yang dilakukan virus (terus bermutasi)," ujar Tedros dalam keterangan resminya, Kamis (2/12).

sumber: republika.co,id
Covid19 Jangan Menjadi Alat Diskriminatif ke 212 Pengajianpengajian Lain yang Berkerumun Juga Harus Ditindak
02 December 2021
Covid-19 Jangan Menjadi Alat Diskriminatif ke 212, Pengajian-pengajian Lain yang Berkerumun Juga Harus Ditindak
foto: Reuni 212 (republika)


itoday - Alasan Covid-19 tak cukup adil digunakan untuk membubarkan massa Aksi Super Damai 212 di sekitar kawasan Jalan MH Thamrin hingga menuju Patung Kuda Arjuna Wiwaha dan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (2/12).

Begitu yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, dalam diskusi series Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk "Politik Reuni 212" yang digelar Kantor Berita Politik RMOL, Kamis siang (2/12).

Ujang menyatakan demikian untuk merespon pertanyaan terkait pihak kepolisian yang tidak memberi izin terhadap acara Reuni 212 di kawasan Jakarta dan daerah lainnya.

"Bangsa ini harus menjaga bersama-sama dalam konteks kesehatan juga, dan kelompok 212 juga punya kewajiban untuk menjaga bangsa ini juga," ujar Ujang.

Di tengah pandemi yang belum tuntas dan adanya varian baru Covid-19 bernama Omicron, Ujang menilai ada sengketa kepentingan antara pemerintah dan juga masa aksi 212.

"Jadi ada dua kepentingan. Di satu sisi ini momentum secara historis bagi kelompok 212, di satu sisi juga pemerintah mempertahankan bahwa ini adalah masa pandemi," tuturnya.

Akan tetapi kata Ujang, dalam konteks demokrasi negara atau pemerintah mesti membuka ruang untuk kelompok 212 mengungkapkan aspirasinya, berserikat dan berkumpul di mana pun di seluruh negeri ini.

"Saya rasa kerumunan-kerumunan itu tidak bagus. Tetapi memang negara harus adil. Jangan sampai misalkan kelompok-kelompok tertentu yang lain yang berkerumun tidak ditindak. Atau mohon maaf, pengajian-pengajian yang lain banyak di daerah yang berkerumun tidak ditindak. Ini juga mesti adil," ucapnya.

"Jadi jangan sampai diskriminatif juga negara terhadap kelompok-kelompok tertentu. Kecuali kepada organisasi yang terlarang atau yang dilarang oleh negara," pungkas Ujang.

sumber: rmol.id
Apa yang Kita Ketahui dan tidak Terkait Varian Omicron
30 November 2021
Apa yang Kita Ketahui dan tidak Terkait Varian Omicron
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ilmuwan Afrika Selatan mengidentifikasi varian baru virus Corona, Omicron, yang ada di balik lonjakan kasus Covid-19. Belum jelas di mana varian baru tersebut pertama kali muncul, tetapi para ilmuwan di Afrika Selatan memperingatkan organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) dalam beberapa hari terakhir terkait Omicron. Kini, WHO telah menetapkannya sebagai variant of concern.

"Saat ini sebanyak 90 persen kasus baru di Gauteng disebabkan oleh Omicron," kata Direktur Platform Sequencing dan Inovasi Penelitian Afrika Selatan, KwaZulu-Natal Tulio de Oliveira, seperti dikutip dari laman PBSNews, Selasa (30/11).

Oliveira mengatakan, varian Omicron terkait dengan kasus yang mengalami peningkatan eksponensial dalam beberapa hari terakhir. Dari lebih dari 200 kasus baru yang dikonfirmasi per hari dalam beberapa pekan terakhir, Afrika Selatan mengalami jumlah kasus harian Covid-19 meroket jadi lebih dari 3.200 per Sabtu (27/11), dan sebagian besar terjadi di Gauteng.

Setelah mengumpulkan sekelompok ahli untuk menilai data, WHO mengatakan bahwa bukti awal menunjukkan peningkatan risiko reinfeksi dengan varian ini dibandingkan dengan varian lainnya. Hal ini menandakan bahwa orang yang tertular Covid-19 dan sudah sembuh bisa terinfeksi lagi. Varian Omicron tampaknya memiliki jumlah mutasi yang tinggi, yakni sekitar 30 lonjakan spike protein virus corona yang dapat mempengaruhi seberapa mudah virus itu menyebar ke manusia.

Sharon Peacock yang memimpin pengurutan genetik Covid-19 di Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan, sejauh ini data menunjukkan varian Omicron memiliki mutasi dengan peningkatan transmisibilitas. Namun, ia mengatakan bahwa signifikansi banyak mutasi yang masih belum diketahui.

"Kami tidak tahu apakah varian Omicron bisa mendapatkan tumpuan di wilayah di mana Delta berada. Juga tidak mengetahui seberapa baik varian ini akan melakukannya di mana ada varian lain yang beredar," kata Peacock.

Peacock mengatakan, varian ini mungkin telah berevolusi pada seseorang yang telah terinfeksi tetapi kemudian tidak dapat membersihkan virus, kemudian memberikan virus kesempatan untuk berevolusi secara genetik. Skenario ini mirip dengan bagaimana para ahli berpikir varian alfa yang pertama kali diidentifikasi di Inggris juga muncul dan bermurasi pada orang yang kekebalannya terganggu.

Sementara, Lawrence Young, seorang ahli virologi di Universitas Warwick, menggambarkan Omicron sebagai versi virus yang paling banyak bermutasi dari yang pernah dilihatnya. Hal ini termasuk perubahan yang berpotensi mengkhawatirkan yang belum pernah terlihat sebelumnya pada virus yang sama.

Para ilmuwan mengetahui bahwa Omicron secara genetik berbeda dari varian sebelumnya, termasuk varian Beta dan Delta. Namun, ilmuwan tidak mengetahui terkait perubahan genetik yang membuatnya lebih menular atau berbahaya. Sejauh ini, belum ada indikasi varian Omicron menyebakan penyakit yang lebih parah. Kemungkinan akan memakan waktu beberapa pekan untuk memilah, apakah Omicron lebih menular dan apakah vaksin masih efektif untuk melawannya.

Peter Openshaw, seorang profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London mengatakan, sangat tidak mungkin bahwa vaksin yang ada saat ini tidak akan berfungsi. Ia mencatat bahwa vaksin Covid-19 yang ada saat ini efektif terhadap banyak varian lainnya.

Meskipun beberapa perubahan genetik pada Omicron tampak mengkhawatirkan, tetapi masih belum pasti akan menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat. Beberapa varian sebelumnya, seperti varian Beta, awalnya membuat khawatir para ilmuwan, tetapi tak menyebar terlalu jauh.

Hingga saat ini, Delta masih menjadi varian Covid-19 yang paling dominan. Ini terhitung lebih dari 99 persen dari urutan yang dikirimkan ke database publik terbesar di dunia.

Virus corona bermutasi saat menyebar dan banyak varian baru, termasuk yang memiliki perubahan genetik yang mengkhawatirkan, seringkali mati begitu saja. Para ilmuwan mrmantau urutan mutasi Covid-19 yang dapat membuat penyakit yang lebih menular atau mematikan. Tetapi mereka tidak dapat menentukannya hanya dengan melihat virusnya.

sumber: republika.co.id
HatiHati Kasus Corona RI Hari Ini Mendadak Naik Pesat
26 November 2021
Hati-Hati! Kasus Corona RI Hari Ini Mendadak Naik Pesat
foto: ilustrasi (cnbcindonesia)


itoday - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan ada tambahan 453 kasus baru dalam kurun waktu Kamis (25/11/2021) pukul 12.00 WIB hingga Jumat (26/11/2021) pukul 12.00 WIB.

Dengan demikian, total kasus konfirmasi di tanah air mencapai 4.255.268.
Tambahan 453 kasus baru hari ini lebih tinggi dibandingkan kemarin yang tercatat 372.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, ada tambahan 386 pasien sembuh dari Covid-19 sehingga totalnya 4.103.379.

Diberitakan sebelumnya, kemunculan virus corona varian baru di Afrika Selatan membuat petinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan pertemuan dengan para ahli di Jenewa.

Pertemuan Jumat (26/11/2021) ini dilakukan untuk menilai varian baru B.1.1.529 yang pertama kali muncul di wilayah Afrika Selatan (Afsel).

Di Afsel, virus ini mulai menyebar di beberapa titik peningkatan kasus terbaru di wilayah Gauteng. Virus ini juga ditemukan di Botswana dan Hong Kong. Namun untuk kasus di Hong Kong muncul melalui seorang musafir dari Afsel.

sumber: cnbcindonesia.com

Terpopuler