Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Presiden Jokowi Belum akan Umumkan Endemi Covid19 Hatihati Tetap Harus Waspada
20 September 2022
Presiden Jokowi Belum akan Umumkan Endemi Covid-19: Hati-hati, Tetap Harus Waspada!
foto: Joko Widodo (rmol)


itoday - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa pemerintah tidak tergesa-gesa untuk menyatakan bahwa pandemi COVID-19 sudah berakhir di Indonesia.

"Kalau untuk Indonesia saya kira, kita harus hati-hati, tetap harus waspada, tidak harus tergesa-gesa, tidak usah segera menyatakan bahwa pandemi sudah selesai," kata Presiden Jokowi di Pintu Gerbang Gabus, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa.

Diketahui Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam satu wawancara di Program "60 Minutes" CBS mengatakan dia yakin pandemi COVID-19 sudah berakhir meski mengakui bahwa AS masih memiliki masalah dengan virus SARS-CoV-2 yang terus bermutasi tersebut.

"Pandemi ini kan terjadi di seluruh dunia, dan yang bisa memberikan 'statement' menyatakan pandemi selesai itu adalah WHO," ungkap Presiden.

Apalagi saat ini, katanya, masih ada beberapa negara yang kasus harian positif COVID-19 masih tinggi.

"Saya kira hati-hati, ada di satu, dua negara yang COVID-nya mulai bangkit, naik, hati-hati, kehati-hatian yang harus diterapkan," tegas Presiden.

Meski Presiden AS Joe Biden mengatakan pandemi telah berakhir, Pemerintah AS masih menetapkan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat. Pejabat AS memperpanjang status darurat kesehatan masyarakat akibat COVID-19 yang telah berlaku sejak Januari 2020 hingga 13 Oktober.

Hingga saat ini, lebih dari satu juta orang AS meninggal karena COVID-19. Bahkan data dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan rata-rata kematian dalam tujuh hari terakhir mencapai lebih dari 400 orang. Meski pada sisi lain, sekitar 65 persen dari total populasi AS disebut telah divaksinasi lengkap.

Sedangkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa akhir pandemi COVID-19 sudah "di depan mata" dan bahwa dunia tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri COVID-19.

sumber: suara.com
Vaksin Covovax Bisa untuk Booster Usia 18 Tahun ke Atas Pahami Aturan Pakainya
13 September 2022
Vaksin Covovax Bisa untuk Booster Usia 18 Tahun ke Atas, Pahami Aturan Pakainya
foto: ilustrasi (rmol)


itoday - Rencana penggunaan vaksin Covid-19 Covovax sebagai dosis booster homolog untuk kelompok dewasa usia 18 tahun atau lebih segera terealisasi. Sebabnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberi persetujuan perluasan Izin Penggunaan Darurat (EUA) pada Covovax.

"Dalam penggunaannya sebagai booster homolog, Vaksin Covovax diberikan dalam satu dosis (0,5 ml), sekurang-kurangnya enam bulan setelah dosis kedua vaksinasi primer dengan Vaksin Covovax," kata Kepala BPOM RI, Penny K Lukito, di Jakarta, Selasa (13/9).

Vaksin Covovax merupakan vaksin COVID-19 dengan platform protein subunit glikoprotein spike menggunakan adjuvant Matrix-M1 yang dikembangkan Novavax Inc, USA.

Vaksin tersebut diproduksi oleh Serum Institute of India Pvt. Ltd, India dan didaftarkan di Indonesia oleh PT Indofarma.

13 Jenis Vaksin Covid-19 Dipakai Indonesia

Vaksin Covovax merupakan satu dari 13 vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan EUA di Indonesia pada 31 Oktober 2021, dengan indikasi untuk vaksinasi primer pada usia 18 tahun atau lebih.

Setelah itu, BPOM mengeluarkan persetujuan perluasan EUA vaksin Covovax untuk penambahan indikasi vaksinasi primer pada anak usia 12 tahun atau lebih pada tanggal 28 Juni 2022.

Dalam pemberian izin edar obat, termasuk EUA vaksin, BPOM mengutamakan aspek khasiat, keamanan, dan mutu serta pertimbangan ilmiah berdasarkan rekomendasi Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin COVID-19, Indonesia Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI), dan asosiasi klinisi.

"Pemberian EUA Vaksin Covovax sebagai booster homolog dilakukan setelah BPOM bersama para ahli melakukan evaluasi terhadap aspek keamanan, mutu dan khasiat berdasarkan data-data uji klinik yang juga menjadi acuan para ahli yang terlibat," katanya.

Penny mengatakan, hasil evaluasi terhadap aspek keamanan dan khasiat pemberian dosis booster pada dewasa berdasarkan data studi klinik fase 1/2 dan studi klinik fase 2a/b yang dilakukan pada subjek usia 18 tahun atau lebih.

"Hasil studi klinik tersebut memperlihatkan efektivitas pemberian booster enam bulan setelah vaksinasi primer lengkap pada kelompok usia 18 tahun ke atas," katanya.

Hasil studi juga menunjukkan profil keamanan yang serupa dengan profil keamanan pada pemberian vaksinasi dosis primer, serta dapat ditoleransi dengan baik.

Studi klinik pertama pada subjek dewasa sehat menunjukkan titer antibodi Imunoglobulin G (IgG) pada 28 hari setelah pemberian booster meningkat sebesar 33,7 kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster.

Hasil pengukuran titer antibodi netralisasi juga menunjukkan peningkatan sebesar 95,6 kali dibandingkan sebelum pemberian booster.

Dalam tahapan studi klinik kedua dengan pengukuran titer antibodi selama 35 hari setelah pemberian booster menunjukkan peningkatan antibodi IgG sebesar 17,1 kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster dengan seroconversion rate 100 persen.

Hasil pengukuran titer antibodi netralisasi juga menunjukkan peningkatan sebesar 7,7 kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster dengan seroconversion rate 99,6 persen, kata Penny menambahkan.

"Jadi, setelah EUA diberikan, BPOM juga memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat. Selanjutnya, BPOM juga akan terus mengevaluasi efektivitas dan keamanan Vaksin Covovax sebagai vaksin booster homolog," ujarnya. Demikian dikutip dari Antara.

sumber: merdeka.com
BPJS Kesehatan Jadi Syarat Apa Saja Berikut Ketentuan Layanan Publik Terbaru
05 September 2022
BPJS Kesehatan Jadi Syarat Apa Saja? Berikut Ketentuan Layanan Publik Terbaru
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Masyarakat yang belum memiliki kartu keanggotaan BPJS Kesehatan sebaiknya segera daftar online maupun offline. Pasalnya BPJS Kesehatan bukan hanya syarat untuk berobat, tapi juga berfungsi sebagai syarat kebutuhan lainnya. Lantas, BPJS Kesehatan jadi syarat apa saja?

Sebelumnya diberitakan bahwa mengenai BPJS Kesehatan ini Presiden Jokowi telah menerbitkan aturan yang tertuang dalam Inpres (Instruksi Presiden) No 1 Th 2022 pada tanggal 6 Januari 2022.

Aturan yang menginstruksikan 30 kementerian maupun lembaga ini berisi tentang fungsi BPJS Kesehatan sebagai syarat keperluan sejumlah layanan publik. Dalam aturan tersebut, lantas BPJS Kesehatan jadi syarat apa saja? Simak berikut ini penjelasannya.

1. Jual beli tanah

Dalam Inpres angka 17 menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan menjadi salah satu syarat kebutuhan jual beli tanah. Adapun bunyi Inpres tersebut yakni sebagai berikut:

"Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk memastikan pemohon pendaftaran peralihan hak tanah karena jual beli merupakan Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional."

2. Permohonan SKCK, SIM, dan STNK

Salah satu fungsi lainnya BPJS Kesehatan yaitu sebagai syarat Permohonan SKCK, SIM dan STNK. Ini tertuang dalam Inpres angka 25 yang bunyinya sebagai berikut:

"Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesiauntuk:

a. melakukan penyempurnaan regulasi untuk memastikan pemohon Surat Izin Mengemudi, Surat Tanda Nomor Kendaraan, dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian adalah Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional: dan

b. meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap Pemberi Kerja selain Penyelenggara Negara yang belum melaksanakan kepatuhan membayar iuran program Jaminan Kesehatan Nasional."

3. Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Dalam inpres angka 2 juga disebutkan bahwa BJPS Kesehatan digunakan sebagai syarat pengajuan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Adapun bunyi inpres tersebut seperti berikut ini:

"Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk:

a. melakukan upaya agar peserta penerima Kredit Usaha Rakyat menjadi Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional: dan

b.melakukan penyempurnaan regulasi terkait pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat dalam rangka optimalisasi pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional."

4. Izin Usaha

Inpres pada poin 3(c) menyebutkan juga bahwa fungsi BPJS Kesehatan ini sebagai syarat Izin Usaha. Adapun Inpres tersebut berbunyi sebagai berikut:

"Menteri Dalam Negeri untuk: mendorong Gubernur dan Bupati/Wali Kota untuk mewajibkan pemohon perizinan berusaha dan pelayanan publik di daerah menjadi Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional."

5. Pembuatan Paspor

Salah satu syarat pembuatan paspor yaitu menyertakan BPJS Kesehatan. Hal ini tertuang dalam Inpres No 1 Th 2022, Inpres pada urutan 6 yang bunyinya sebagai berikut:

"Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk:

a. mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar pemohon pelayanan administrasi hukum umum, pelayanan kekayaan intelektual, dan pelayanan keimigrasian merupakan Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional; dan

b. menyediakan data badan usaha untuk dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional."

Sebagai informasi tambahan, berikut ini beberapa jenis pelayanan imigrasi:

- Permohonan pembuatan paspor baru atau ganti paspor
- Pelayanan untuk WNA (Warga Negara Asing), khususnya untuk alih status keimigrasian.
- Layanan pemberian ITAS (izin tinggal terbatas) baru.
- Pemberian surat keterangan keimigrasian
Pendaftaran kewarganegaraan ganda terbatas.

6. Ibadah haji/umrah

Bagi yang akan melakukan ibadah umroh atau haji, salah satu syaratnya yaitu menyertakan BPJS Kesehatan. Hal ini termuat dalam ainpres No 1 Th 2022, tepatnya pada poin 5(a) yang bunyinya seperti berikut ini:

a. mengambil langkah-langkah agar pelaku usaha dan pekerja pada penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan penyelenggara ibadah haji khusus menjadi Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional;

b. mensyaratkan calon jamaah umrah dan jamaah haji khusus merupakan Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional,

7. Sekolah

Pada Inpres angka 8 disebutkan juga bahwa salah satu syarat sekolah baik guru maupun murid adalah memiliki BPJS Kesehatan. Adapun bunyi Inpres tersebut seperti berikut ini:

"Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk memastikan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal merupakan Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional."

8. Santri

Pada aturan inpres urutan 5 menyebutkan bahwa BJPS Kesehatan berfungsi sebagai syaray santri. Adapun bunyi Inpres tersebut sebagai berikut:

"Menteri Agama untuk:

c. memastikan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal di lingkungan Kementerian Agama merupakan Peserta aktif dalam program Jaminan Kesehatan Nasional."

Pada poin 5(c), mereka yang tergabung dalam peserta didik pada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal di lingkungan Kemenag yakni santri dan santriwati.

Jadi, BPJS Kesehatan jadi syarat apa saja? Jika disimpulkan dari ulasan di atas, keberadaan BJPS Kesehatan ini sebagai syarat untuk keperluan jual beli tanah, Haji/umroh, Izin Usaha, Pengajuan KUR, santri, sekolah, pembuatan paspor serta pembuatan SKCK, SIM dan STNK.

sumber: suara.com
Flu Tomat Serang Ratusan Anak di India Ini Dia Gejala Utamanya
31 August 2022
Flu Tomat Serang Ratusan Anak di India, Ini Dia Gejala Utamanya
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ketika pandemi Covid-19 dan cacar monyet belum sepenuhnya hilang, kini di India muncul penyakit baru muncul yang membuat orang khawatir yaitu flu tomat. Perkembangan Covid-19 membuat perkembangan penyakit semakin bervariasi.

Salah satu wabah penyakit menular yang disebut flu tomat di India ini membuat para ahli prihatin. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada Mei 2022 di distrik Kollam, negara bagian Kerala, India. Penyakit ini telah mulai menyebar dengan cepat, menyerang lebih dari 100 anak di India.

Penyebab flu tomat tidak diketahui secara pasti, meskipun para ahli percaya bahwa itu mungkin varian dari penyakit tangan kaki dan mulut. Penyakit ini dipercaya disebabkan oleh enterovirus, atau efek lanjutan dari penyakit yang dibawa nyamuk seperti demam berdarah.

Melansir dari laman Mirror, untuk lebih jelasnya lagi, ini yang perlu Anda ketahui tentang flu tomat termasuk gejala, cara penyebarannya, dan saran untuk orang tua.

Apa itu flu tomat?

Menurut seorang dokter, dr Monika Wassermann, flu tomat adalah infeksi virus pada anak kecil yang disertai lepuh seperti tomat di tubuh. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak berusia antara satu dan lima tahun. Meskipun sangat menular, penyakit ini ternyata tidak fatal.

"Kabar baiknya adalah hal itu bisa hilang dalam 10 hari. Namun, jika gejalanya menetap, segera konsultasikan dengan dokter Anda," kata dr Wassermann.

Apa saja gejala utama flu tomat?

Menurut dr Monika Wasserman, gejala utama flu tomat meliputi:

• Ruam/lepuh seperti tomat

• Dehidrasi

• Iritasi kulit

Gejala lain yang mungkin dialami anak-anak yang terinfeksi penyakit ini adalah:

• Diare

• Muntah

• Kelemahan tubuh

• Sakit dan nyeri sendi

• Demam

Bagaimana flu tomat menyebar dan apakah berbahaya?

Flu tomat menyebar dari satu anak ke anak lain melalui kontak dekat seperti saat bermain, menyentuh, atau duduk dengan pasien yang terinfeksi. Jika gejalanya terkontrol, infeksi biasanya sembuh dengan sendirinya. Namun, jika pasien atau keluarga membiarkan gejalanya tidak diobati, maka dehidrasi akibat penyakit ini dapat menyebabkan kondisi yang parah, termasuk batu ginjal, sembelit, dan syok volume darah rendah, yang bisa berakibat fatal.

"Saya ingin memberi tahu orang tua untuk memantau anak-anak mereka dengan cermat. Mereka harus menghindari menyentuh lecet saat terlihat dan menghubungi penyedia layanan kesehatan. Mereka juga harus memastikan bahwa anak-anak mendapatkan makanan yang sehat dan semua vaksin yang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan," kata dr Wassermann.

Meskipun risiko penyakit ini dikatakan rendah dan belum dilaporkan di luar India, dr Wassermann menyarankan penting untuk waspada. Hal ini karena flu tomat disebabkan virus yang menular dan berpotensi menyebar ke luar negeri juga.

sumber: republika.co.id
Cacar Monyet Masuk Indonesia Jokowi Minta Segera Siapkan Vaksin
24 August 2022
Cacar Monyet Masuk Indonesia, Jokowi Minta Segera Siapkan Vaksin
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Kasus penyakit cacar monyet atau Monkeypox mulai menyebar di Indonesia. Presiden Joko Widodo pun memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk melakukan pencegahan. Salah satunya dengan menyiapkan vaksin cacar monyet.

"Sudah saya perintahkan kepada Menkes, yang pertama urusan vaksin segera," kata Jokowi di TMII, Jakarta Timur, Selasa (23/8/2022).

Selain itu, Jokowi juga memerintahkan untuk memperketat pengecekan di semua pintu masuk ke Indonesia. Lalu pengecekan di tempat-tempat yang memiliki interaksi masyarakat yang tinggi.

Namun demikian, Jokowi meminta masyarakat tak perlu panik karena cacar monyet menular melalui kontak langsung.

"Tapi ini juga kita tidak perlu terlalu panik karena penularannya lewat kontak langsung, bukan lewat droplet."

Satu kasus konfirmasi positif cacar monyet di Jakarta pada pasien berusia 27 tahun.

Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril menyampaikan bahwa pasien itu baru saja bepergian dari luar negeri dan mengalami gejala demam pada 14 Agustus 2022.

"Hari ini ada satu terkonfirmasi dari Jakarta, baru satu berusia 27 tahun, dapat laporan pemeriksaan PCR tadi malam," ujar Syahril saat konferensi pers, Sabtu (20/8).

Cacar monyet adalah penyakit akibat infeksi virus monkeypox, yang menyebabkan penderitanya alami ruam akut seperti papula atau jerawat menonjol, vesikel atau pustula (jerawat berisi nanah) yang tidak bisa dijelaskan di negara non endemis atau negara selain Afrika.

Selain mengalami demam, pasien juga mengalami pembengkakan kelenjar di leher, dan mengalami ruam di tangan, kaki, leher, wajah dan di area genital.

"Saat ini keadaan pasien baik-baik saja, dalam istilah Covid-19 gejala ringan, pasien tidak perlu dirawat cukup isoman di rumah," tutur Syahril.

Adapun kasus konfirmasi cacar monyet ini merupakan kasus ke-23 yang diperiksa Kemenkes. Sementara itu 22 kasus sebelumnya suspek atau dicurigai hingga discard atau disingkirkan karena negatif tes PCR cacar monyet.

Sedangkan untuk satu kasus ini, dinyatakan positif melalui tes PCR selama dua hari. Apalagi ia memiliki masa inkubasi yang lama yaitu 21 hari sebelum akhirnya menimbulkan gejala.

"Dinkes Jakarta lalu lakukan surveilans kepada kontak erat pasien, untuk lakukan pemeriksaan, apakah kasus cacar monyet yang menular memerlukan kontak tracing pernah kontak erat dengan pasien tersebut," tutup Syahril.

sumber: suara.com
Mana Lebih Parah Cacar Monyet atau Covid Begini Keterangan Kemenkes
20 August 2022
Mana Lebih Parah, Cacar Monyet atau Covid? Begini Keterangan Kemenkes
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir pada cacar monyet. Pasalnya, jika dibandingkan dengan Covid, tingkat keparahan cacar monyet masih di bawah Covid.

“Dan kemudian untuk pengobatan, agar masyarakat tenang, jadi cacar monyet ini tidak terlalu berat sakitnya ya, malah kalau kita bandingan dengan Covid itu jauh ya,” ujar Juru Bicara Kemenkes RI dr. Muhammad Syahrir dalam konferensi pers dengan wartawan yang digelar via zoom meeting, Sabtu (20/8/2022) sore.

Bahkan, Syahrir memberikan keterangan menenangkan yakni bahwa cacar monyet ini dapat sembuh sendiri setelah masa inkubasi penyakitnya berakhir.

"Untuk itu kita tenang, dengan maksud bahwasannya, sebetulnya cacar monyet ini bisa sembuh sendiri, self limiting disease ya, dalam masa inkubasinya yang 21 sampai 28 hari, pasien ini akan sembuh sendiri,” terang Syahrir.

Syahrir mengatakan lagi, pasien yang tidak memiliki komorbid berat, akan dapat sembuh dengan sendirinya.

“Manakala tidak ada infeksi tambahan atau super infeksi, tidak ada komorbid yang berat, yang menyebabkan bertambah beratnya komorbid itu, Nah kalau pasiennya tidak ada komorbid, tidak ada immunocompromised, nggak ada pemberat-pemberat yang lain, sebetulnya pasien ini bisa sembuh sendiri,” lanjut Syahrir.

Syahrir lantas membandingkan angka kematian akibat Covid dengan angka kematian cacar monyet. Ternyata, angka kematian akibat monkey pox amat rendah, yakni 1 persen saja, lebih rendah daripada Covid yang mencapai 10 hingga 15 persen.

“Dari data laporan dunia, dari 39708 (kasus cacar monyet) tadi, ada 400 yang meninggal, itu sekitar 1 persen, jadi jauh dari Covid yang kadang-kadang sampai 10 persen sampai 15 persen, tinggi sekali, nah untuk itu dimohon kepada masyarakat untuk tetap tenang,” ujar Syahrir.

sumber: suara.com

Terpopuler