Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Apa yang Kita Ketahui dan tidak Terkait Varian Omicron
30 November 2021
Apa yang Kita Ketahui dan tidak Terkait Varian Omicron
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ilmuwan Afrika Selatan mengidentifikasi varian baru virus Corona, Omicron, yang ada di balik lonjakan kasus Covid-19. Belum jelas di mana varian baru tersebut pertama kali muncul, tetapi para ilmuwan di Afrika Selatan memperingatkan organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) dalam beberapa hari terakhir terkait Omicron. Kini, WHO telah menetapkannya sebagai variant of concern.

"Saat ini sebanyak 90 persen kasus baru di Gauteng disebabkan oleh Omicron," kata Direktur Platform Sequencing dan Inovasi Penelitian Afrika Selatan, KwaZulu-Natal Tulio de Oliveira, seperti dikutip dari laman PBSNews, Selasa (30/11).

Oliveira mengatakan, varian Omicron terkait dengan kasus yang mengalami peningkatan eksponensial dalam beberapa hari terakhir. Dari lebih dari 200 kasus baru yang dikonfirmasi per hari dalam beberapa pekan terakhir, Afrika Selatan mengalami jumlah kasus harian Covid-19 meroket jadi lebih dari 3.200 per Sabtu (27/11), dan sebagian besar terjadi di Gauteng.

Setelah mengumpulkan sekelompok ahli untuk menilai data, WHO mengatakan bahwa bukti awal menunjukkan peningkatan risiko reinfeksi dengan varian ini dibandingkan dengan varian lainnya. Hal ini menandakan bahwa orang yang tertular Covid-19 dan sudah sembuh bisa terinfeksi lagi. Varian Omicron tampaknya memiliki jumlah mutasi yang tinggi, yakni sekitar 30 lonjakan spike protein virus corona yang dapat mempengaruhi seberapa mudah virus itu menyebar ke manusia.

Sharon Peacock yang memimpin pengurutan genetik Covid-19 di Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan, sejauh ini data menunjukkan varian Omicron memiliki mutasi dengan peningkatan transmisibilitas. Namun, ia mengatakan bahwa signifikansi banyak mutasi yang masih belum diketahui.

"Kami tidak tahu apakah varian Omicron bisa mendapatkan tumpuan di wilayah di mana Delta berada. Juga tidak mengetahui seberapa baik varian ini akan melakukannya di mana ada varian lain yang beredar," kata Peacock.

Peacock mengatakan, varian ini mungkin telah berevolusi pada seseorang yang telah terinfeksi tetapi kemudian tidak dapat membersihkan virus, kemudian memberikan virus kesempatan untuk berevolusi secara genetik. Skenario ini mirip dengan bagaimana para ahli berpikir varian alfa yang pertama kali diidentifikasi di Inggris juga muncul dan bermurasi pada orang yang kekebalannya terganggu.

Sementara, Lawrence Young, seorang ahli virologi di Universitas Warwick, menggambarkan Omicron sebagai versi virus yang paling banyak bermutasi dari yang pernah dilihatnya. Hal ini termasuk perubahan yang berpotensi mengkhawatirkan yang belum pernah terlihat sebelumnya pada virus yang sama.

Para ilmuwan mengetahui bahwa Omicron secara genetik berbeda dari varian sebelumnya, termasuk varian Beta dan Delta. Namun, ilmuwan tidak mengetahui terkait perubahan genetik yang membuatnya lebih menular atau berbahaya. Sejauh ini, belum ada indikasi varian Omicron menyebakan penyakit yang lebih parah. Kemungkinan akan memakan waktu beberapa pekan untuk memilah, apakah Omicron lebih menular dan apakah vaksin masih efektif untuk melawannya.

Peter Openshaw, seorang profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London mengatakan, sangat tidak mungkin bahwa vaksin yang ada saat ini tidak akan berfungsi. Ia mencatat bahwa vaksin Covid-19 yang ada saat ini efektif terhadap banyak varian lainnya.

Meskipun beberapa perubahan genetik pada Omicron tampak mengkhawatirkan, tetapi masih belum pasti akan menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat. Beberapa varian sebelumnya, seperti varian Beta, awalnya membuat khawatir para ilmuwan, tetapi tak menyebar terlalu jauh.

Hingga saat ini, Delta masih menjadi varian Covid-19 yang paling dominan. Ini terhitung lebih dari 99 persen dari urutan yang dikirimkan ke database publik terbesar di dunia.

Virus corona bermutasi saat menyebar dan banyak varian baru, termasuk yang memiliki perubahan genetik yang mengkhawatirkan, seringkali mati begitu saja. Para ilmuwan mrmantau urutan mutasi Covid-19 yang dapat membuat penyakit yang lebih menular atau mematikan. Tetapi mereka tidak dapat menentukannya hanya dengan melihat virusnya.

sumber: republika.co.id
HatiHati Kasus Corona RI Hari Ini Mendadak Naik Pesat
26 November 2021
Hati-Hati! Kasus Corona RI Hari Ini Mendadak Naik Pesat
foto: ilustrasi (cnbcindonesia)


itoday - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan ada tambahan 453 kasus baru dalam kurun waktu Kamis (25/11/2021) pukul 12.00 WIB hingga Jumat (26/11/2021) pukul 12.00 WIB.

Dengan demikian, total kasus konfirmasi di tanah air mencapai 4.255.268.
Tambahan 453 kasus baru hari ini lebih tinggi dibandingkan kemarin yang tercatat 372.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, ada tambahan 386 pasien sembuh dari Covid-19 sehingga totalnya 4.103.379.

Diberitakan sebelumnya, kemunculan virus corona varian baru di Afrika Selatan membuat petinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan pertemuan dengan para ahli di Jenewa.

Pertemuan Jumat (26/11/2021) ini dilakukan untuk menilai varian baru B.1.1.529 yang pertama kali muncul di wilayah Afrika Selatan (Afsel).

Di Afsel, virus ini mulai menyebar di beberapa titik peningkatan kasus terbaru di wilayah Gauteng. Virus ini juga ditemukan di Botswana dan Hong Kong. Namun untuk kasus di Hong Kong muncul melalui seorang musafir dari Afsel.

sumber: cnbcindonesia.com
China Pasarkan Obat Covid19 Mulai Desember
25 November 2021
China Pasarkan Obat Covid-19 Mulai Desember
foto: ilustrasi (AFP)


itoday - Obat anti-COVID-19 diperkirakan mulai dipasarkan di dalam negeri China pada Desember 2021.

Tim riset Henan Normal University kepada pers setempat, Rabu, menyatakan bahwa obat anti-COVID yang dikembangkannya itu sudah bisa dipasarkan di China secepatnya pada bulan depan.

Obat yang diberi nama Azvudine tersebut saat ini sedang memasuki uji klinis tahap ketiga di Rumah Sakit Kelas I Zhengzhou University, Kota Zhengzhou, Henan. Demikian dilaporkan Antara, Kamis (25/11).

Uji klinis tahap ketiga obat itu juga sedang dilakukan di Brazil dan Rusia.

Azvudine merupakan obat anti-HIV yang dikategorikan sebagai antiretroviral (reverse transcriptase inhibitor).

Terkait dengan virus corona baru, obat tersebut menunjukkan reaksi antivirus yang efektif, tulis laman berita The Paper.

Pil Azvudine anti-HIV yang dikembangkan oleh para peneliti di Henan Normal University itu telah mengantongi izin edar di pasar domestik pada Juli lalu.

Sejauh ini China telah mengambil tiga metode pengembangan obat anti-COVID-19, yakni mencegah virus masuk melalui sel tubuh manusia, menghambat replikasi virus, dan menyesuaikan sistem kekebalan tubuh manusia.

Ketiga metode itu masing-masing memiliki keunggulan strategis dalam mengatasi COVID-19, demikian Global Times.

VV116, kandidat obat anti-COVID-19 yang dikembangkan Shanghai Institute of Materia Medica dan Wuhan Institute of Virology, sedang memasuki tahap evaluasi klinis.

Kombinasi antibodi monoklonal yang dikembangkan Tsinghua University, Rumah Sakit Kelas III Shenzhen, Brii Biosciences (perusahaan China-AS), juga diperkirakan mendapatkan izin edar pada bulan depan.

Obat terapi tersebut kemungkinan juga akan menjadi obat pertama yang mendapatkan izin edar darurat di negara maju, seperti AS.

sumber: merdeka.com
Siapa yang Paling Berisiko Tinggi Kena Komplikasi Covid19
24 November 2021
Siapa yang Paling Berisiko Tinggi Kena Komplikasi Covid-19?
foto: ilustrasi (republika/AP)


itoday - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa orang-orang dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi terkena komplikasi Covid-19. Mereka hampir 50 persen lebih mungkin berakhir dalam perawatan intensif setelah tertular penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 tersebut.

Dilansir laman Express.co.uk, Selasa (23/11), studi yang diterbitkan di BMJ Open Diabetes Research and Care telah memperlihatkan risiko tersebut. Risikonya paling besar pada pengidap diabetes tipe 2 yang tidak melakukan upaya untuk mengelola gula darah mereka dalam jangka panjang.

Para peneliti membandingkan mereka yang memiliki manajemen gula darah "buruk" dengan diabetesi yang memiliki kontrol glikemik jangka panjang yang lebih baik. Studi ini berfokus pada beberapa dampak potensial Covid-19 parah di antara pasien diabetes.

Kendati demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa pasien diabetes yang menjalani pengobatan umum memiliki risiko komplikasi Covid-19 yang lebih rendah. Studi ini melihat catatan lebih dari 16 ribu orang dengan diabetes tipe 2 dan positif Covid-19.

Para peneliti telah meneliti catatan ini sepanjang 2017 hingga 2020.
Mereka membagi catatannya menjadi dua kelompok, yakni diabetesi dengan kontrol glikemik "buruk" dan yang memiliki kontrol "memadai."

Kelompok sampel dengan kontrol glikemik "buruk" adalah 48 persen lebih mungkin membutuhkan perawatan perawatan intensif. Mereka yang menderita diabetes tidak dapat mengontrol jumlah glukosa darah tanpa obat atau mengatur pola makan mereka, lapor studi tersebut. Namun kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang merusak berbagai fungsi tubuh, mulai dari sistem saraf hingga sistem kekebalan tubuh.

Manajemen glikemik yang buruk menciptakan reaksi yang menyebabkan molekul yang dikenal sebagai produk akhir glikasi lanjut (AGEs) menumpuk. Produk akhir ini diketahui berkontribusi pada stres oksidatif dan peradangan yang lebih tinggi, yang merupakan faktor risiko Covid-19 serta penyakit pernapasan lainnya.

Tim awalnya melihat kontrol gula darah dan risiko patah tulang. Namun, mereka menemukan temuannya juga bisa "berguna" dalam memprediksi kasus Covid-19.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien diabetes yang menggunakan obat metformin memiliki risiko 12 persen lebih rendah untuk membutuhkan unit perawatan intensif. Mereka yang menggunakan metformin dan pengobatan insulin memiliki risiko 18 persen lebih rendah, sedangkan mereka yang menggunakan kortikosteroid memiliki risiko 29 persen lebih rendah.

"Orang-orang tahu bahwa diabetes adalah faktor risiko untuk hasil terkait Covid-19, tetapi tidak semua pasien diabetes sama. Beberapa orang memiliki riwayat diabetes yang lebih panjang, beberapa memiliki diabetes yang lebih parah, dan itu harus dipertimbangkan," kata Bowen Wang, peneliti utama dan mahasiswa doktoral di lab Vashishth.

"Apa yang dilakukan penelitian ini adalah untuk membuat stratifikasi tingkat diabetes yang lebih baik dalam populasi," tuturnya.

sumber: republika.co.id
Dua Dosis Vaksin tak Lagi Relevan Booster Masih Belum Pasti
23 November 2021
Dua Dosis Vaksin tak Lagi Relevan, Booster Masih Belum Pasti
foto: ilustrasi (detik)


itoday - Dua dosis suntikan vaksin Covid-19 saat ini tak lagi relevan disebut vaksinasi lengkap. Banyak penelitian telah menegaskan bahwa, imunitas menurun enam bulan setelah disuntik dua dosis vaksin.

"Bicara konteks sekarang dengan varian baru, menurunnya imunitas, yang disebut vaksinasi penduduk itu bukan dua kali suntik, harus tiga kali suntik. Jadi definisi vaksinasi penuh itu bukan dua kali suntik, itu sudah tidak relevan dengan riset saat ini," kata epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman dalam sebuah diskusi daring, Senin (22/11).

Dengan redefinisi vaksinasi lengkap tiga dosis, menurut Dicky, cakupan vaksinasi di Indonesia saat ini masih jauh dari target untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Meski, ia mengakui, imunitas terhadap Covid-19 juga bisa didapatkan secara alami dari adanya infeksi yang terjadi di masyarakat (penyintas).

"Yang disebut cakupan 90 persen, 85 persen, 80 persen itu yang tiga kali suntik. Artinya masih jauh, karena sekarang yang dosis dua kali pun masih mengarah 50 persen, artinya perjalanan masih panjang," katanya.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 PB Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban pun mengatakan, vaksinasi dosis ketiga penting dilakukan. Menurutnya, vaksin booster bisa dilakukan dengan vaksin yang tersedia.

"Negara-negara yang masyarakat sudah banyak disuntik vaksin dua dosis kini mengalami peningkatan kasus Covid-19, karenanya penting vaksin booster," kata Zubairi, Kamis (18/11) pekan lalu.

Menurut Zubairi, booster bisa dengan merek vaksin yang sama di dua dosis sebelumnya atau vaksin yang berbeda. Vaksinasi booster bisa dilakukan enam bulan setelah vaksin dosis kedua.

Zubairi memastikan, vaksin booster aman selayaknya vaksin dosis pertama dan kedua. "Vaksin booster aman buat usia lanjut seperti saya yang sudah hampir 75 tahun, dan memiliki komorbid, saya diabet, darah tinggi dan pernah operasi jantung," katanya.

Sementara, vaksinolog Dr. dr. Sukamto Koesno menambahkan, ada masa di mana kekebalan yang dirangsang oleh vaksin pada waktu tertentu akan turun. Karenanya perlu diberikan booster dengan
harapan antibodi yang telah menurun bisa meningkat kembali.

"Pada prinsipnya vaksin yang akan digunakan sebagai booster, sama atau berbeda, yang bisa untuk meningkatkan antibodi," tuturnya.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, pekan lalu, mengatakan rencana pemberian vaksin booster dosis ketiga bagi masyarakat umum masih menunggu dilakukan pengkajian. Saat ini, vaksin booster ketiga baru dilakukan untuk tenaga kesehatan.

"Rencana perluasan target penerima vaksin booster ketiga di luar kategori tenaga kesehatan dapat dilakukan segera setelah adanya pengkajian terlebih dahulu. Salah satunya berdasarkan pada data hasil seroprevalensi yang saat ini dilakukan oleh kementerian kesehatan dan kementerian dalam negeri," ujar Wiku.

Wiku mengatakan, saat ini Pemerintah masih fokus untuk mencapai target vaksinasi dosis pertama sebesar 70 persen dari target penerima vaksin di akhir Desember 2021. Karena itu, vaksin booster ketiga untuk umum akan dilakukan usai capaian vaksin dosis pertama dan kedua terpenuhi.

Sementara, Wiku juga menanggapi pertanyaan terkait apakah vaksin booster ketiga akan dikenai biaya atau tidak. Wiku menegaskan pada dasarnya vaksin adalah hak setiap warga negara.

"Sekali lagi pemerintah menegaskan bahwa vaksin adalah hak setiap warga negara dan tidak akan dipungut biaya bagi target penerimanya," ujarnya.

Hingga Ahad (21/11), Satgas Covid-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis vaksin secara lengkap mencapai 89,22 juta jiwa. Data Satgas Covid-19 menyebutkan jumlah penduduk yang telah mendapat suntikan dua dosis vaksin Covid-19 per hari ini bertambah 460.144 menjadi 89.220.341 orang.

Sementara itu, jumlah penerima vaksin dosis pertama yang tercatat hari ini sebanyak 393.277 jiwa. Dengan tambahan tersebut, jumlah penerima vaksin dosis pertama menjadi 134.418.286 jiwa, sedangkan vaksinasi untuk dosis ketiga sebanyak 1.203.846 orang.

Pemerintah berencana memvaksinasi penduduk di Tanah Air sebanyak 208.265.720 juta orang. Dengan demikian, suntikan dosis pertama vaksin Covid-19 sudah diberikan pada 64,54 persen dari total 208.265.720 warga yang menjadi sasaran vaksinasi Covid-19. Sementara warga yang sudah selesai menjalani vaksinasi baru mencapai 42,83 persen dari total sasaran.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya meningkatkan kekebalan bersama ketimbang mencari vaksin Covid-19 booster.

"Hanya dengan bersama-sama kita bisa mengakhiri pandemi ini. Bukan suntikan booster yang seharusnya kita cari, tapi booster untuk meningkatkan kekebalan bersama yang harus kita fokuskan saat ini," ujar Reisa.

Reisa juga mengutip pernyataan dr Maria Van Kekrhove dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan vaksin harus menjangkau orang-orang yang paling membutuhkan. "Jadi, bukan hanya tentang berapa cakupan vaksin yang sudah kita capai, tetapi juga tentang siapa saja yang sudah divaksinasi," kata dia.

sumber: republika.co.id
Ketahui Gejala Peradangan Usus Kondisi yang Diderita Anya Geraldine hingga Harus Operasi
19 November 2021
Ketahui Gejala Peradangan Usus, Kondisi yang Diderita Anya Geraldine hingga Harus Operasi
foto: Anya Geraldine (instagram)


itoday - Aktris Anya Geraldine mengalami inflamasi usus atau peradangan usus hingga harus menjalani operasi. Pemain Yowes Ben ini mengaku mengalami beberapa gejala, seperti nyeri di bagian tulang rusuknya.

"Aku kira ribs aku sakit sudah seminggu lebih. Terus aku fisioterapi segala macam tapi nggak sembuh-sembuh. Ternyata inflamasi ususnya," jelas Anya di Instagram Story-nya, Kamis (18/11/2021).

Anya pun harus menjalani operasi dadakan.

"Ngiranya cuma sakit ringan, ternyata harus operasi mendadak. Huhuhu," sambungnya.

Menurut Alodokter, peradangan pada usus dapat ditandai dengan adanya iritasi hingga luka. Gejala dari kondisi ini bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Ini tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan radang.

Gejala ini cenderung kambuh-kambuhan. Jadi, penderita radang usus bisa saja mengalami periode tanpa gejala sama sekali. Namun, ada gejala umumnya, yakni:

- Nyeri perut atau kram perut
- Perut kembung
- Diare
- Demam
- Selera makan berkurang
- Berat badan turun
- BAB berdarah atau hematochezia

BAB berdarah akibat peradangan usus dapat menyebabkan anemia atau kekurangan darah. Kondisi ini seringnya menimbulkan keluhan mudah lelah dan pucat pada penderita.

Jika gejala radang usus tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa menimbulkan sejumlah komplikasi yang berbahaya.

sumber: suara.com

Terpopuler