Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Kopi Robusta Ki Demang yang Menggurita dari Kaki Gunung Batu

Kuliner
Kopi Robusta Ki Demang yang Menggurita dari Kaki Gunung Batu 1
foto: Kopi Ki Demang (republika)


itoday - Sebuah ruangan seluas sekitar 4 x 4 meter tampak seorang wanita paruh baya mengenakan penutup kepala dan piyama berwarna ungu tengah lihai mengayak biji kopi yang telah digiling. Empat (40 tahun), sapaannya, memilah antara biji kopi berukuran 0,6 dan 0,7 milimeter.

Biji kopi diayak di sebuah saringan. Tangannya tampak sudah ahli mengaduk agar biji kopi berukuran berbeda terpisah dengan baik.

Empat, salah satu istri anggota Kelompok Tani Gunung Batu, Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, yang turut terlibat dalam proses pembuatan kopi robusta yang dinamakan Ki Demang. Ia dipercaya oleh sang pemilik dalam proses pemilihan biji kopi yang telah dijemur.

Empat senang membantu suaminya di Kelompok Tani Gunung Batu. Dari situ, ia bisa menambah uang jajan anaknya. “Di sini ibu kerja sudah empat tahun, dari pertama Pak Andika (pemilik kopi Ki Demang), memilih kopi,” ujar Empat dengan logat Sunda yang kental.

Empat merasakan panen kopi robusta Kelompok Tani ini mulai dari 40 hingga 50 kilogram sekali panen hingga saat ini mencapai 30 hingga 40 ton sekali panen. Andika Aditisna (43), sang petani sekaligus pemilik kopi Ki Demang, menceritakan awalnya Kelompok Tani Gunung Batu hanya menjual biji kopi yang baru dipanen.

Setelah mengikuti banyak seminar tentang kopi, pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran ini memahami pengolahan kopi dari hulu ke hilir. Andika pun paham bagaimana caranya mengolah kopi dari berbentuk biji menjadi bubuk.

Biji kopi yang dipanen dipisahkan antara yang merah dan hijau. Selanjutnya dijemur selama 14 hari. Jika sudah benar-benar kering, digiling agar kulitnya lepas. Biji kopi kemudian kembali disortir ukuran dan kualitasnya, sebelum di-roasting atau disangrai.

Kopi yang sudah disangrai bisa digiling sampai halus dan siap diseduh. Kedai Kopi Ki Demang menjadi salah satu hilir ke mana biji kopi tersebut berakhir. Ada yang menjadi kopi tubruk, ada pula kopi susu.

Kopi robusta Ki Demang juga kerap dijual dalam bentuk biji kepada para ‘bandar’. Biji kopi yang ukurannya tidak sesuai, bolong, dan pecah dikirimkan ke tengkulak.

Pada 2018, Kedai Kopi Ki Demang mulai dibangun di atas lahan sekitar dua hektare. Sekitar 4.000 meter persegi digunakan untuk kedai kopi dengan kapasitas ratusan tempat duduk.

Sementara, persis di kaki Gunung Batu, lahan seluas 5.000 meter persegi digunakan untuk menanam 400 pohon kopi. Area ini menjadi ‘kebun etalase’ yang cocok jadi area eduwisata bagi para pengunjung. Apalagi, di hadapan kebun kopi terdapat hamparan biji kopi yang tengah dijemur di bawah teriknya sinar matahari.

Andika dibantu para kelompok tani bersama istri-istri mereka, terutama dalam penyortiran puluhan ton biji kopi berbentuk ceri. Bahkan, anak-anak juga ikut terlibat dan senang mendapat uang jajan dari sana.

Para milenial yang turut terlibat di kedai kopi yang berlokasi di Jalan Sukaharja, Gunung Batu, ini ada yang menjadi pramusaji, kasir, juga dilibatkan di dapur. Mereka yang dulunya banyak bekerja di pusat kota kini memilih bekerja tak jauh dari rumahnya. “Jadi, ibaratnya mereka nggak usah kos, nggak usah jauh-jauh ke kota kan,” kata Andika yang kerap disapa Demang.

Dia menuturkan, Kopi Ki Demang kini telah sampai ke Tangerang, Banten, dan Lampung. Yang terjauh, yakni Amsterdam, Belanda.

Pada 2019, Kopi Ki Demang mengikuti Amsterdam Coffee Festival selama tiga hari dan memamerkan kopi robustanya bersama kelompok tani dan pengusaha kopi lain. Tak disangka, Kopi Ki Demang habis diburu warga Belanda dalam dua hari.

“Makanya kita berniat mengelola kebun secara maksimal untuk bisa menguntungkan. Bukan sekadar bonus satu tahun sekali panen kopi. Tapi, kita ingin ini jadi masa depan, petani dapat penghidupan, bahkan istrinya,” kata Andika.

Dalam data Pemkab Bogor, Bogor memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi robusta yang memiliki rasa unik, mutu fisik yang relatif bagus dan fine. Bahkan, meraih banyak prestasi nasional hingga internasional, yaitu Bronze Medal Avpa Gourmet Product pada Pameran Sial Paris di Prancis.

Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan pada acara panen mengatakan, Kabupaten Bogor memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi. Terdapat 6.089 hektare perkebunan kopi robusta rakyat, dengan jumlah petani kopi mencapai 28.935 orang dan produksi tahun 2021 sebesar 4.150 ton.

Ke depan, Kecamatan Sukamakmur akan dijadikan sentra kopi. Sehingga Sukamakmur tidak hanya dikenal dari destinasi wisata alamnya, tetapi juga bisa jadi destinasi wisata dan pasar kopi Kabupaten Bogor. “Mari bersama kita sosialisasikan secara luas, agar Sukamakmur ini dikenal sebagai sentra kopi,” ujar Iwan.

sumber: republika.id
Kuliner Kopi Robusta Ki Demang yang Menggurita dari Kaki Gunung Batu

Terpopuler