Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Anak Demam Usai Vaksinasi COVID19 Ini yang Bisa Dilakukan Orangtua
19 July 2021
Anak Demam Usai Vaksinasi COVID-19, Ini yang Bisa Dilakukan Orangtua
foto: ilustrasi (merdeka)

itoday - Terdapat sejumlah efek samping yang bisa dialami oleh seseorang usai mendapat vaksinasi COVID-19. Hal ini juga dapat dialami oleh anak yang baru saja memperoleh vaksin.

Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ellen Wijaya menjelaskan bahwa pemberian vaksin COVID-19 perlu diberi jeda waktu sebulan dengan imunisasi lainnya guna memberikan kekebalan tubuh yang optimal. Hal itu juga berdasarkan sejumlah rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait anak usia 12-17 tahun yang akan mendapatkan vaksin COVID-19.

"Kita baru diberikan vaksin COVID-19. Antigen masuk ke dalam tubuh. Tubuh sedang memberikan respon dengan membentuk antibodi supaya bisa memberikan kekebalan terhadap SARS-CoV-2. Saat itu, kalau tubuh diberikan imunisasi lainnya, nanti kekebalan yang diusahakan untuk SARS-CoV-2 tidak menjadi optimal," ujar dokter Ellen Wijaya beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Tubuh perlu dibiarkan membentuk antibodi secara optimal setelah mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 dengan jarak minimal satu bulan dengan pemberian imunisasi lainnya. Sebenarnya, menurut Ellen yang berpraktik di RS Pondok Indah - Puri Indah itu, ketentuan serupa juga berlaku untuk vaksin lain semisal Hepatitis B dan HPV.

Lebih lanjut, IDAI juga merekomendasikan anak yang akan divaksin COVID-19 tidak mengalami imunodefisiensi, kanker darah yang menjalani kemoterapi, mendapatkan steroid dosis tinggi, sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan, memiliki penyakit Sindrom Gullian Barre, mielitis transversa dan acute demyelinating encephalomyelitis. Kemudian, terkait persiapan sebelum anak divaksin sebaiknya orang tua memastikan kondisi mereka sehat, tidak demam (di atas 37,5 derajat Celcius), beristirahat cukup, tidak memiliki komorbid tertentu.

"Orang tua bisa mengkomunikasikan pada anak misalnya manfaat divaksin, lokasi suntikan, kondisi yang bisa terjadi usai divaksin semisal nyeri di area bekas suntikan dan sebagainya, tidur cukup, anak dalam kondisi sehat," kata Ellen.

Tips Atasi Anak Demam usai Mendapat Vaksinasi

Setelah disuntik vaksin, anak bisa beraktivitas seperti biasa karena kalaupun muncul efek samping biasanya bersifat ringan misalnya nyeri di bekas suntikan. Kondisi ini bisa diatasi dengan mengompres area nyeri itu dengan air hangat.

Bila anak demam, cobalah ukur suhunya menggunakan termometer. Bila suhunya di atas 38 derajat Celcius, anak gelisah, rewel, maka bisa diberikan obat semisal Paracetamol sembari dibantu kompres. Tetapi apabila anak merasa tidak apa-apa dengan kondisi demam itu, orang tua tidak perlu khawatir dan lakukan saja observasi.

"Demam mekanisme tubuh anak yang sehat. Kalau tubuh kemasukan virus, bakteri jahat tubuh akan melawan dengan membentuk demam. Demikian juga ketika tubuh dimasukkan antigen yang sudah dilemahkan atau vaksin, maka tubuh akan membentuk respon antibodi dan salah satu manifestasinya demam. Demam bukan suatu kondisi yang berbahaya," tutur Ellen.

Ellen juga mengungkap bahwa orangtua perlu mengawasi jika anak menunjukkan efek samping setelah vaksinasi. Orangtua perlu secepat mungkin melaporkannya pada tenaga medis yang melakukan vaksinasi.

sumber: merdeka
Anak Belum Boleh Sekolah Offline Ciptakan Suasana Nyaman Belajar dari Rumah
19 July 2021
Anak Belum Boleh Sekolah Offline, Ciptakan Suasana Nyaman Belajar dari Rumah
foto: ilustrasi (parenting.co.id)

itoday - Minggu ini, anak-anak sudah mulai lagi masuk sekolah di tahun ajaran baru. Karena angka kasus COVID-19 masih sangat tinggi ditambah dengan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, maka anak-anak masih harus menjalani sekolah daring atau belajar dari rumah.

Anak-anak memerlukan suasana rumah yang hangat dan nyaman untuk belajar, didukung dengan fasilitas sesuai kebutuhannya (tidak harus mewah, ya). Jangan lupa, cara keluarga berinteraksi dan berkomunikasi juga memengaruhi anak untuk bisa betah dan fokus belajar atau tidak.

Anak perlu didengar, diajak berdiskusi, dihargai pendapatnya, dan melihat orang tuanya menghargai satu sama lain. “Jika rumah dipenuhi pertengkaran orang tua, misalnya, maka suasana mencekam dan mengancam itu akan memengaruhi anak dan membuatnya sulit belajar.

Ada sistem limbik (otak emosional) yang memproses emosi-emosi di dalam diri kita. Kalau yang diproses adalah emosi-emosi menyenangkan, damai, bahagia, penuh cinta, maka ini memudahkan kerja otak memproses segala data, informasi, kecerdasan,” jelas psikolog keluarga, Anna Surti Ariani, yang akrab disapa Nina.

Lalu, apakah Anda harus terus-menerus mendampinginya belajar dan mengerjakan PR? Tidak harus, kok, walaupun, menurut Nina, ada syaratnya.

1. Tergantung usia anak. Anak-anak yang masih kecil tentu tidak bisa dilepas begitu saja, harus ditemani saat belajar atau menyelesaikan tugas-tugasnya. Sementara, anak SD usia besar sudah bisa dilepas.

2. Kemandirian anak. Ini tidak selalu berkaitan dengan usia. Ada anak yang masih kecil, tetapi sudah mandiri sekali. Sebaliknya, ada juga anak-anak yang sudah besar yang mandiri. Kalau di kegiatan-kegiatan lain sudah cukup mandiri, maka dia sebenarnya bisa dilepas sedikit demi sedikit untuk belajar sendiri. Sesekali justru kita harus bisa memberinya kesempatan menyelesaikan tugas sendiri. “Kalau anak terlalu bergantung pada orang tuanya, maka Anda harus mengecek diri sendiri, bagaimana selama ini Anda menemani dia belajar. Jangan-jangan pola Anda menemani dia belajar, justru yang menjadi penyebab anak menjadi tidak mandiri,” kata Nina.

3. Kemampuan anak belajar. Pada pelajaran-pelajaran yang dikuasai anak, biarkan dia belajar sendiri, bahkan saat harus belajar menghadapi ulangan. Tetapi, saat menghadapi pelajaran-pelajaran yang sulit untuknya, orang tua perlu terlibat dan menemaninya. “Sedikit demi sedikit lepaskan keterlibatan Anda dalam proses belajar anak, karena semakin besar, anak harus semakin bisa mengingatkan dirinya sendiri dan mandiri belajar,” saran Nina.

Melepaskan anak belajar sendiri berarti juga membiarkan anak membuat kesalahan-kesalahan. Nah, itu yang terkadang membuat mama tidak sabar dan ingin buru-buru mengoreksi agar anak mendapat nilai sempurna.

Saat mengerjakan PR, biarkan anak memiliki pendapatnya sendiri atau yakin dengan jawabannya sendiri. Tetapi, jangan lupa mengecek lagi respons dan koreksi yang diberikan guru terhadap tugasnya itu, tanpa berkata, “Kamu nggak nurut Mama, sih. Kan, kemarin sudah dibilangin itu jawabannya salah.” Cukup katakan, “Tidak apa-apa keliru. Sekarang kamu jadi tahu, kan, cara mengerjakannya dan menemukan jawaban yang benar.”

Kita perlu menyadari bahwa anak sedang dalam proses belajar. “Ketika anak tidak pernah membuat kesalahan, maka tidak ada yang dia pelajari. Justru dari kesalahan tersebut anak tahu apa yang bisa diperbaiki.

Di situlah proses belajarnya. Jadi, anak tidak perlu ditahan-tahan supaya tidak melakukan kesalahan, tetapi juga jangan didorong melakukan kesalahan. Biarlah dia melakukan semua secara natural. Harus ada bagian dari anak sendiri untuk menjalani konsekuensi dari kesalahan yang dia lakukan,” tegas Nina.

Setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam membesarkan dan menerapkan konsep pendidikan kepada anak-anak mereka. Selama kita percaya bahwa keluarga adalah sekolah pertama anak, maka kita sedang menyiapkan fondasi yang kokoh baginya untuk tumbuh dan menghadapi kehidupan di luar sana.

sumber: parenting.co.id
Rutin Tanyakan Ini ke Anak sebelum Tidur Gaya Parenting Rachel Vennya Dipuji
10 July 2021
Rutin Tanyakan Ini ke Anak sebelum Tidur, Gaya Parenting Rachel Vennya Dipuji
foto: Rachel Vennya (suara)

itoday - Rachel Vennya sering membagikan berbagai aktivitas bersama dua anaknya, Xabiru dan Chava, di akun media sosial. Hal itu termasuk kegiatan yang dilakukan oleh mereka sebelum tidur.

Sebagai ibu, Rachel ternyata rutin memberikan pertanyaan tentang perasaan anak-anaknya sebelum tidur. Ia seolah mengulas emosi apa saja yang dirasakan Xabiru dan Chava seharian.

"Abang (panggilan akrab Xabiru) hari ini happy nggak? Ada yang bikin sedih?" tanya Rachel dalam unggahan Instagram Story baru-baru ini.

"Iya. Nggak ada," jawab Xabiru dengan raut wajah bahagia.

"Happy? Semua baik?" tanya Rachel lagi disambut oleh si bungsu yang ikut mengatakan "happy".

Momen Rachel bersama dua anaknya kemudian menjadi bahasan cukup menarik di TikTok. Adalah akun @content.nm yang membagikan ulang video selebgram cantik ini, Selasa (6/7/2021).

Video tersebut ditonton lebih dari 1 juta kali dan mendapat sekitar 800 komentar dari warganet. Banyak warganet yang kagum dengan cara parenting yang diterapkan oleh Rachel Vennya.

Saking kagumnya, beberapa warganet terinspirasi untuk menerapkan cara yang sama ketika menjadi ibu nantinya. Mereka ingin mendidik anak dengan cara yang penuh kasih sayang.

"Buna (sapaan akrab Rachel) bener-bener prioritasin mental anak-anaknya (emoji terharu)," kata warganet.

"Kalo gue udah punya anak harus banget kayak gini," imbuh yang lain terinspirasi.

"Gue gak ngikutin Rachel banget, tapi gue akuin dia hebat banget. Dari apa yang udah dia lewatin, dia tetep bisa jadi ibu yang baik buat anak-anaknya," ujar warganet lagi.

"Makasih Buna ilmunya. Ntar dipraktekan kalau sudah punya anak. Tiap malam ngobrol sama anak-anak sebelum bobo," tutur yang lain.

"Semoga kelak gue bisa didik anak gue sebaik kak Rachel ngedidik Biru dan Chava. Gue nggak mau jadi orangtua yang gagal," komentar lainnya.

Rachel Vennya sendiri pernah memberikan bocoran tentang caranya dalam mendidik anak via unggahan Instagram Story. Menurutnya, orangtua harus memberi contoh kepada anak bukan sekadar memerintah.

"Anak itu bukan dikasih tahu, tapi dikasih contoh. Karena dia sebenarnya bukan melakukan arahan kita, tapi meniru perbuatan kita," jelas Rachel Vennya dalam unggahannya.

"Jangan lakukan hal buruk yang dilakukan orangtua kita dahulu. Stop the habbit. Memang susah, karena kita dulu dididik seperti itu, tapi kita ini generasi baru, harus lebih cerdas dan bijak," lanjutnya.

Kemudian hal lain yang perlu diajarkan kepada anak adalah rasa tanggung jawab dan belajar toleransi. Ia juga menekankan anaknya untuk menyayangi agama serta keluarga.

"Belajar toleransi, bertanggung jawab, menyayangi agama, dan keluarga," pungkas Rachel Vennya dalam unggahan tersebut.

sumber: suara