Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Vaksinasi Covid19 Bareng Vaksin Dasar Imun Jadi Kewalahan
19 November 2021
Vaksinasi Covid-19 Bareng Vaksin Dasar, Imun Jadi Kewalahan?
foto: ilustrasi (kemdikbud)


itoday - Vaksin Covid-19 kini bisa diberikan untuk anak berusia 5-11 tahun. Vaksin Covid-19 bisa diberikan beriringan dengan vaksin-vaksin rutin lain yang mungkin dibutuhkan anak dalam kelompok usia tersebut.

"Anda tak akan membuat sistem imun kewalahan dengan vaksin-vaksin ini," ungkap spesialis penyakit menular anak dan kepala AAP Global Immunization Advocacy Project Dr Margaret Fisher, seperti dilansir ABC News, Kamis (18/11).

Vaksin-vaksin rutin untuk anak perlu dilakukan untuk mencegah beragam penyakit pada anak. Sebagian di antaranya adalah penyakit campak, pertussis (batuk rejan), polio, dan difteri. Di masa pandemi, tak sedikit anak yang melewatkan vaksin-vaksin rutin ini.

"Bila Anak-anak membutuhkan vaksin rutin, kita bisa memberikannya bersamaan (dengan vaksin Covid-19) dalam satu waktu, atau kita akan memprioritaskan vaksin Covid-19 dulu saat ini, (Covid-19) masih menjadi kondisi kedaruratan dunia," ungkap spesialis anak, dr Natasha Burgert.

Meski dapat diberikan bersamaan, spesialis anak dr Alok Patel mengatakan, sebagian orang tua lebih memilih untuk memberikan jarak antara pemberian vaksin Covid-19 dan vaksin rutin pada anak mereka. Alasannya, para orang tua tak ingin anak mereka merasa kesakitan karena harus disuntik beberapa kali dalam satu waktu atau mengalami beberapa gejala setelahnya.

"Dan saya memahami itu," ungkap dr Patel.

Akan tetapi, memberikan jarak antara vaksin Covid-19 dan vaksin rutin bukan tanpa risiko. Semakin lama jarak yang diberikan, risiko anak untuk terpapar penyakit yang bisa dilindungi oleh vaksin pun semakin lama.

"Tak ada manfaat, tak ada bukti bahwa memberikan vaksin-vaksin itu di waktu yang bersamaan akan meningkatkan kejadian merugikan. Dan ada kerugian karena Anda membiarkan anak Anda menjadi rentan," jelas dr Fisher.

Sebagai tambahan, dr Patel juga menekankan pentingnya memberikan perlindungan yang tepat untuk anak. Saat ini, salah satu hal yang paling dia rekomendasikan adalah memberikan vaksinasi Covid-19 lengkap untuk anak.

"Tapi pastikan juga anak mendapatkan perlindungan lengkap terhadap penyakit-penyakit lain yang bisa dicegah dengan vaksin," kata dr Patel.

Waktunya kejar ketertinggalan

Dokter spesialis anak Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan, pandemi Covid-19 membuat cakupan imunisasi rutin dasar lengkap, termasuk campak, turun. Vaksinasi anak terhambat di seluruh dunia, bukan cuma di Indonesia.

Padahal, ancaman campak belum hilang. Penyakit akibat infeksi virus rubeola itu bisa diatasi dengan vaksin karena termasuk dalam Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

"Semua negara juga bermasalah dalam cakupan vaksinasi campak, bahkan negara seperti Thailand, Bangladesh, sampai India sudah ada kasus (campak)," ujar dr Hinky saat dihubungi Republika.co.id, Senin (15/11).

Hinky meminta masyarakat untuk lengkapi vaksinasi rutin dasar lengkap anaknya sehingga terhindar dari penyakit yang bahaya dan sangat menular. Melandainya kasus Covid-19 saat ini dapat menjadi momen untuk mengejar ketertinggalan vaksinasi lain.

Sementara itu, Badan-Badan PBB dan Aliansi Vaksin GAVI telah mengingatkan bahwa sekitar 80 juta bayi di bawah satu tahun di seluruh dunia terancam menghadapi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti difteri, campak, dan polio. Itu terjadi karena pandemi Covid-19 memicu keterlambatan imunisasi rutin tersebut.

"Data menunjukkan bahwa penyediaan layanan imunisasi rutin secara substansial terhambat, setidaknya di 68 negara. Kemungkinan ini akan memengaruhi sekitar 80 juta anak di bawah usia satu tahun yang tinggal di negara-negara itu," ujar Organisasi Kesehatan Dunia, Unicef, dan GAVI dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan menjelang KTT Vaksin Global Juni.

Sebanyak 80 juta anak-anak ini terancam tidak mendapatkan imunisasi rutin karena pandemi Covid-19. Hal itu antara lain disebabkan karena adanya pembatasan perjalanan, keterlambatan pengiriman vaksin, keengganan di antara beberapa orang tua untuk meninggalkan rumah di tengah kekhawatiran terkena virus corona, dan kurangnya petugas kesehatan.

"Kita tidak bisa membiarkan perjuangan kita dalam melawan satu penyakit (Covid-19) mengorbankan kemajuan jangka panjang dalam perjuangan kita melawan penyakit lain (difteri, campak, dan polio)," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore.

Dilansir dari laman resmi WHO, Fore menyarankan agar setiap negara sesegera mungkin melanjutkan imunisasi rutin. Ia mengingatkan bahwa imunisasi penting untuk mencegahdifteri, campak, dan polio pada anak.

"Imunisasi ini harus dimulai kembali sesegera mungkin atau kita berisiko menukar satu wabah mematikan dengan yang lain," katanya.

sumber: republika.co.id
Duh Indonesia Ternyata Kekurangan Center Bedah Jantung Anak
10 November 2021
Duh, Indonesia Ternyata Kekurangan Center Bedah Jantung Anak
foto: ilustrasi (elementsenvato)


itoday - Fakta memprihatinkan diungkap Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Esti Nurajadin yang mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan center pelayanan bedah jantung anak.

Hal ini menyebabkan anak yang lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) sulit mendapatkan penanganan, apalagi jika kondisinya sudah sangat urgent, misalnya anak yang lahir dengan PJB biru.

"Di Indonesia, center-center yang bisa melakukan operasi jantung anak itu yang complicated biru tidak banyak di seluruh Indonesia," ujar Esti dalam acara peringatan 40 tahun YJI, Senin (8/11/2021).

Selama 4 dekade lamanya, Esti dan para pengurus YJI yang sudah membantu 2.175 anak dengan PJB, merasakan sulitnya mencari pusat pelayanan operasi jantung anak yang terbilang rumit.

Bahkan kata Esti, kebanyakan ia membawa anak-anak tersebut ke Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, yang dikenal sebagai RS Pusat Jantung Nasional, yang juga rumah sakit ibu dan anak.

Sedikitnya center pelayanan sakit jantung anak, pada akhirnya membuat waktu tunggu anak dengan PJB jadi lebih lama untuk mendapat tindakan.

Apalagi dalam proses administrasi penyaluran bantuan YJI bisa mencapai 2 tahun, sehingga jika center pelayanan sakit jantung anak ditambah, akan mempercepat proses administrasi dari sisi kepengurusan dokter dan rumah sakit.

"Beberapa anak, saat kami dalam proses mengurus pendanaan dan mengurus dokter dan rumah sakit, dan pada waktu kami panggil lagi, si anak ini ternyata sudah meninggal," tutur Esti.

Sedangkan proses menunggu 2 tahun untuk anak dengan PJB biru sudah sangat terlambat. Ini karena kondisi anak lahir biru, ditandai adanya sumbatan di peredaran darah jantungnya yang menyebabkan ia kesulitan bernapas, yang membuat kulitnya berwarna biru.

sumber: suara.com
Anak 611 Tahun Bakal Dapat Vaksin Covid19 Orangtua Jangan Lupa Siapkan NIK Anak
09 November 2021
Anak 6-11 Tahun Bakal Dapat Vaksin Covid-19, Orangtua Jangan Lupa Siapkan NIK Anak
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Teknis pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun masih disusun oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Selama program vaksinasi belum dilaksanakan, Kemenkes meminta orangtua untuk memastikan anak telah memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa NIK menjadi syarat anak bisa mengikuti program vaksinasi Covid-19.

"Kita menggunakan sistem koordinasi satu data, di mana untuk catatan pelaporan kita membutuhkan nomor induk kependudukan. Jadi selama belum memulai proses vaksinasi, saat ini orangtua bisa cek kembali sudah tahu belum nomor NIK anak-anaknya yang berusia 6 sampai 11 tahun. Kalau belum tahu nomornya itu ada di kartu keluarga," kata Nadia saat webinar Satgas Penanganan Covid-19, Senin (8/11/2021).

Ia menambahkan, syarat administrasi agar anak bisa disuntik vaksin Covid-19 memang cukup membawa kartu keluarga. Tapi, jika anak belum memiliki NIK, Nadia menyarankan agar orangtua segera mengurusnya ke kecamatan atau kelurahan setempat.

Terkait tempat pelaksanaan vaksinasi, Nadia mengungkapkan, kemungkinan besar akan bekerja sama dengan sekolah. Sehingga, pelaksanaannya kemungkinan tidak jauh berbeda seperti program bulan imunisasi yang sebelumnya rutin dilakukan tiap tahun.

"Kalau vaksinasi dilakukan di sekolah biasanya anak-anak lebih berani. Karena melihat teman-temannya enggak menangis setelah disuntik, jadi akan lebih termotivasi dibandingkan mereka harus datang ke puskesmas atau rumah sakit," tambah Nadia.

Begitu pula dengan anak-anak disabilitas, pelaksanaan program vaksinasi akan bekerja sama dengan sekokah luar biasa atau SLB maupun komunitas. Sedangkan, untuk anak-anak yang tidak berada di bangku sekolah, Nadia menyampaikan, vaksinasi akan juga dilakukan bekerjasama dengan Dinas Sosial.

"Seperti untuk anak jalanan dan sebagainya. Jadi yang kita lakukan untuk bagaimana proses vaksinasi anak 6 sampai 11 tahun bisa kita lakukan sebaik mungkin," pungkasnya.

sumber: suara.com
Viral Poster Vaksin COVID19 pada Anak Bisa Bikin Stroke Ini Faktanya
05 November 2021
Viral Poster Vaksin COVID-19 pada Anak Bisa Bikin Stroke, Ini Faktanya
foto: ilustrasi (kontan)


itoday - Vaksinasi COVID-19 untuk anak sudah dimulai di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bunda perlu memahami tentang pemberian vaksin ini pada buah hati, termasuk waspada terhadap penyebaran hoax atau berita tidak benar ya.

Belum lama ini, viral unggahan di Facebook tentang efek samping vaksin COVID-19 pada anak. Dalam unggahan tersebut tertulis narasi yang dibuat seseorang dan menyebut bahwa penyakit stroke yang menyerang anak-anak adalah efek samping dari vaksin COVID-19.

Vaksinasi COVID-19 untuk anak sudah dimulai di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bunda perlu memahami tentang pemberian vaksin ini pada buah hati, termasuk waspada terhadap penyebaran hoax atau berita tidak benar ya.

Belum lama ini, viral unggahan di Facebook tentang efek samping vaksin COVID-19 pada anak. Dalam unggahan tersebut tertulis narasi yang dibuat seseorang dan menyebut bahwa penyakit stroke yang menyerang anak-anak adalah efek samping dari vaksin COVID-19.

Narasi tersebut dibuat berdasarkan iklan atau poster yang ada di bus, Bunda. Isi poster yakni, 'Anak-anak juga bisa terkena stroke. Ketahui tanda-tanda bahayanya'.

Unggahan yang kadung viral ini langsung menuai respons dari masyarakat. Melansir dari laman covid19.go.id, postingan viral ini sudah dipastikan hoax atau berita tidak benar ya, Bunda.

Poster itu memang dipasang oleh yayasan non-profit asal Kanada, Achieving Beyond Brain Injury (ABBI), pada bulan Mei 2021 lalu. Namun, poster dibuat dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran atas Stroke pada Anak, bukan terkait vaksin COVID-19.

"Hal ini menjadi perhatian untuk kami karena foto yang dibuat pada Mei 2021 untuk bulan Peduli Stroke pada Anak, telah diambil oleh beberapa orang atau kelompok dan dibagikan di media sosial. Isinya pun menyimpang dari tujuan yang dimaksudkan," kata pendiri ABBI, dikutip dari Reuters.

Bunda perlu tahu nih. Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 bisa menyebabkan stroke pada anak. Penyakit stroke memang bisa dialami anak-anak, namun penyebabnya beragam. Apa saja penyebabnya?

Tim peneliti dari Universitas Columbia dan Universitas Brown, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa penyakit stroke pada anak disebabkan oleh penyakit jantung, kondisi hematologis, gangguan sindrom, dan metabolisme. Sama seperti orang dewasa, stroke pada anak juga bisa mengancam nyawa lho.
Mengutip laman John Hopkins Medicine, stroke pada anak atau stroke pediatrik adalah kondisi langka yang mempengaruhi satu dari setiap 4.000 bayi baru lahir dan 2.000 anak yang usianya lebih tua setiap tahun.

Stroke pada anak-anak dapat mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis dengan cepat. Bunda perlu tahu, stroke termasuk dalam 10 besar penyebab kematian pada anak-anak.

Stroke bisa menyebabkan kecacatan neurologis, dengan risiko gangguan kognitif dan motorik permanen jangka panjang pada anak. Nah, berikut faktor risiko yang bisa menyebabkan stroke pada anak:

- Penyakit jantung
- Masalah di pembuluh darah yang memasok darah ke otak
- Gangguan pembekuan darah
- Penyakit sel sabit (sickle cell disease)

Stroke pada anak biasanya terjadi secara tiba-tiba. Berikut 6 tanda anak terkena stroke:

- Kelemahan atau mati rasa di satu sisi tubuh
- Bicara cadel atau kesulitan bicara
- Mengalami masalah keseimbangan dalam berjalan
- Mengalami masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan
- Merasa lesu atau kantuk secara tiba-tiba
- Mengalami kejang

Bila Si Kecil mengalami tanda di atas, segera bawa ke dokter ya, Bunda. Penanganan segera diperlukan pada anak yang terkena stroke.

sumber: haibunda.com
Simak Rekomendasi IDAI Terkait Vaksinasi Covid19 untuk Anak Usia 6 Tahun ke Atas
02 November 2021
Simak! Rekomendasi IDAI Terkait Vaksinasi Covid-19 untuk Anak Usia 6 Tahun ke Atas
foto: ilustrasi (antara)


itoday - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat bagi vaksin COVID-19 Coronavac buatan Sinovac untuk diberikan kepada anak usia 6 tahun ke atas.

Menanggapi hal ini, dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia atau yang disingkat IDAI, mengeluarkan rekomendasi terbaru yang penting diketahui oleh orangtua,

"Rekomendasi terbaru ini dikeluarkan karena anak juga dapat tertular dan atau menularkan virus corona dari dan ke orang dewasa disekitarnya (orangtua, orang lain yang tinggal serumah, orang yang datang ke rumah, teman atau guru di sekolah pada pembelajaran tatap muka) walau tanpa gejala," kata dr. Piprim, dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Selasa (2/11/2021).

"Selain itu, sejumlah laporan dari hasil pembelajaran tatap muka dari beberapa negara dunia yang menyatakan adanya peningkatan kasus rawat inap pasien anak dengan COVID-19," tambahnya.

Data Satuan Tugas COVID-19 Nasional per 1 November 2021, proporsi kasus anak terinfeksi COVID-19 sebesar 13 persen.

Maka dari itu, IDAI merekomendasikan sejumlah hal. Pertama, pemberian imunisasi COVID-19 Coronavac pada anak golongan usia 6 tahun diberikan secara intramuskular dengan dosis 3ug (0,5 ml) sebanyak dua kali pemberian dengan jarak dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu.

Kedua, vaksinasi ini tidak direkomendasikan bagi anak yang memiliki atau mengalami kontraindikasi sebagai berikut:

- Defisiensi imun primer,
- Penyakit autoimun tidak terkontrol,
- Penyakit Sindrom Gullian Barre,
- Mielitis transversa,
- Acute demyelinating encephalomyelitis,
- Anak kanker yang sedang menjalani kemoterapi/radioterapi,
- Anak yang sedang mendapat pengobatan imunosupresan/sitostatika berat,
- Sedang mengalami Demam 37,50 C atau lebih,
- Anak baru sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan,
- Pascaimunisasi lain kurang dari 1 bulan,
- Anak atau remaja sedang hamil,
- Memiliki hipertensi dan diabetes melitus, dan atau penyakit-penyakit kronik atau kelainan kongenital yang tidak terkendali.

Rekomendasi tersebut juga memberi catatan bahwa imunisasi untuk anak dengan kanker dalam fase pemeliharaan, penyakit kronis atau autoimun yang terkontrol dapat mengikuti panduan imunisasi umum dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien sebelumnya.

IDAI juga mengingatkan bahwa sebelum dan sesudah vaksinasi semua anak tetap memakai masker dengan benar, menjaga jarak, tidak berkerumun, jangan bepergian bila tidak penting.

"Dan bahwa pelaksanaan imunisasi mengikuti kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dapat dimulai setelah mempertimbangkan kesiapan petugas kesehatan, sarana, prasarana dan masyarakat," tambahnya.

Melalui rekomendasi ini, IDAI juga mengimbau semua anggotanya untuk melakukan imunisasi kejar dan imunisasi rutin untuk mencegah kejadian luar biasa penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi selain membantu meningkatkan cakupan imunisasi COVID-19 pada anak, dan bahwa semua dokter anak anggota IDAI diharapkan mengikuti panduan pelaporan imunisasi dan pemantauan setelahnya yang sudah dikeluarkan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

sumber: suara.com
Dear Parents Ini Tips Agar Kesehatan Mental Anak Terjaga Selama Masa Pandemi
26 October 2021
Dear Parents! Ini Tips Agar Kesehatan Mental Anak Terjaga Selama Masa Pandemi
foto: ilustrasi (pixabay)


itoday - Pandemi Covid-19 telah tidak hanya berdampak pada kesehatan secara fisik, tapi juga mental. Bahkan, bukan hanya orang dewasa yang terpengaruh, kelompok anak juga rentan.

Terlebih mereka juga harus tetap bersekolah di tengah situasi yang tidak menentu. Agar mental anak tetap terjaga selama pandemi, Psikolog sekaligus Pemerhati Anak Seto Mulyadi memberikan dua tips dalam acara Adaptasi Anak Demi Sukses Pendidikan Tatap Muka, Selasa (26/10/2021).

Sebelum menjaga kesehatan fisik anak, orangtua perlu menjaga kesehatan mentalnya dulu.

“Yang paling penting itu orangtua harus menjaga kesehatan fisik dan juga mental. Kadang orang sering lupa untuk menjaga kesehatan mental,” ungkap Kak Seto.

Sebelum menjaga kesehatan mental anak, Kak Seto melanjutkan dengan menjaga kesehatan mental orangtua, ini dapat membuat orangtua tegar, tahan banting, serta tidak mudah terbawa perasaan.

“Kemudian bisa menjalani berbagai kegiatan yang teratur, menjaga waktu istirahat sehingga tidak mudah panik dan lelah, serta tidak menimbulkan emosi yang negatif,” ungkapnya.

Selain itu, Kak Seto melanjutkan orangtua juga perlu meningkatkan ibadah, berdoa, serta melakukan praktik bersyukur. Dengan begitu, orangtua akan tetap terjaga kesehatan mentalnya selama pandemi Covid-19, sehingga ini akan berdampak pada anak selama di rumah.

Hentikan kekerasan anak di rumah dan bangun diskusi

Tips selanjutnya, Kak Seto mengatakan bila ingin menjaga kesehatan mental anak, perlu hentikan kekerasan anak di rumah. Jika tidak dilakukan, ini akan berdampak bagi mental anak. Salah satunya trauma akan kekerasan.

“Banyak laporan di masa pandemi atas nama kurikulum dan sebagainya, anak justru ditekan oleh orangtua nya. Jadi dalam hal ini, orangtua perlu mengembangkan kebiasaan diskusi atau ngobrol bareng,” ungkap Kak Seto.

“Selain itu juga perlu berbicara dari hati ke hati, mau menerima masukan, rapat keluarga, sehingga ini akan membentuk keluarga seperti tim yang tangguh selama di rumah,” lanjut Kak Seto.

sumber: suara.com