Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Kecerdasan Banyak Ragamnya Orang Tua Perlu Hargai Potensi Anak
18 April 2022
Kecerdasan Banyak Ragamnya, Orang Tua Perlu Hargai Potensi Anak
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi alias Kak Seto mengingatkan setiap orang tua untuk menghargai setiap potensi anak karena kecerdasan muncul dalam beraneka bentuk. Kecerdasan anak tak hanya dinilai dari peringkat yang tinggi di sekolah, tapi juga bisa dilihat dari kemampuannya di bidang-bidang lain seperti seni, olahraga hingga sosial.

"Mari temukan dan hargai potensi setiap anak. Sistem pendidikan yang tepat akan mendukung pengembangan karakter," kata Kak Seto dalam webinar, Kamis (15/4/2022).

Pada dasarnya, naluri untuk belajar ada pada setiap anak. Mereka belajar untuk berguling, merangkak, berjalan, dan berlari seiring pertumbuhan usia. Dia mengingatkan kepada orang tua bahwa belajar yang efektif itu artinya belajar di tengah suasana menyenangkan, bebas dari kekerasan maupun pemaksaan. Sebab, dunia anak adalah dunia bermain.

Pendidikan tak cuma mengisi kepala anak dengan hapalan dan rumus. Akan tetapi pendidikan menumbuhkan potensi yang ada di dalam setiap anak, entah itu jiwa seniman, atlet, atau musisi.
Lewat pendidikan yang efektif, potensi anak akan mengemuka dan berkembang. Dia meminta agar kurikulum pendidikan lebih berpihak kepada hak anak, sehingga tak ada lagi kasus di mana anak-anak merasa depresi di tengah pembelajaran daring yang berlangsung akibat pandemi Covid-19.

Seto meminta sekolah dan orang tua untuk memberikan pelajaran yang bermakna untuk anak saat pandemi demi menjaga kesehatan batin buah hati. "Tekankan bagaimana anak tangguh hadapi pandemi. Kalau anak stres, tertekan, dianggap gagal, tentu akan merasa tidak tangguh," jelasnya.

Bukan cuma soal nilai, penting juga untuk mendidik anak agar punya karakter baik seperti sopan, tangguh, rendah hati, penuh hormat, aktif, jujur, serta disiplin. Di tengah era digital, Kak Seto mengatakan literasi digital juga penting agar anak bisa memanfaatkan teknologi secara maksimal.

Digitalisasi dapat meningkatkan kemampuan anak dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi dan berkolaborasi.

Informasi yang kian praktis dan mudah didapatkan berkat teknologi juga bisa membuat anak memiliki keterampilan baru berkat tutorial gratis yang menjamur, memudahkan anak belajar bahasa baru, belajar mengambil keputusan yang tepat, serta memperluas jaringan pertemanan. "Sinergi orang tua dan guru memegang peran penting, terutama dalam memberikan materi pelajaran. Belajar digital efektif kalau dikelola secara baik, tapi guru dan orang tua harus jadi sahabat anak," kata dia.

sumber: republika.co.id
Psikolog Sebut Ibu Bunuh Anak di Brebes Sebagai Manifestasi Keputusasaan
25 March 2022
Psikolog Sebut Ibu Bunuh Anak di Brebes Sebagai Manifestasi Keputusasaan
foto: ilustrasi (panturapost)


itoday - Ketua II Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Ratih Ibrahim menekankan kondisi mental pada seorang ibu kandung yang membunuh anaknya di Brebes, Jawa Tengah pada Ahad (20/3/2022) masih bersifat spekulatif sehingga tidak bisa digeneralisasi dalam konteks umum. Dalam peristiwa tersebut, seorang anak berusia tujuh tahun meninggal dunia serta dua anak lainnya (10 dan 4,5 tahun) terluka hingga kritis dan dilarikan ke rumah sakit.

Ratih mengatakan kasus pembunuhan seperti ini harus diamati secara spesifik dengan menunggu hasil pemeriksaan dari tim psikiatri forensik kepolisian. Menurutnya, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak masyarakat, terlebih karena hanya melihat melalui video yang beredar.

Meski demikian, Ratih mengidentifikasi perbuatan ibu tersebut sebagai manifestasi dari rasa keputusasaan, frustrasi, hingga kemarahan. "Saya mengidentifikasi ada perasaan keputusasaan, frustrasi, dan kemarahan yang sangat hebat pada dia. Namun pertanyaannya marahnya sama siapa, sama anak-anaknya? Belum tentu. Itu bisa kemarahan pada nasib atau suami," kata Ratih saat dihubungi Antara pada Rabu (23/3/2022).

Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk hingga kondisi yang terjadi pada suami juga harus diinvestigasi lebih lanjut. "Kalau saya baca (dari berita) orangnya tertutup, ya. Mungkin juga mau minta tolong sama siapa. Dan karakteristik kepribadiannya seperti apa, kita enggak tahu, karena itu juga bisa berpengaruh terhadap bagaimana dia mengambil tindakan fatal seperti ini," kata Ratih yang juga menjadi Direktur Personal Growth itu.

Ratih juga mempertanyakan maksud kata-kata yang dilontarkan ibu tersebut yang ingin membebaskan penderitaan anak-anaknya dengan cara membunuh mereka. "Dia bilang, dengan membunuh itu berarti membebaskan anak-anaknya dari kemungkinan penderitaan yang lebih besar. Pertanyaannya penderitaan apa, apakah memang dia secara sadar melakukannya atau punya pikiran ngawur. Tapi di sisi lain dia juga bilang 'Saya nggak gila'," kata Ratih.

Sementara pada dua anak terdampak, Ratih berharap agar pihak lain turut membantu penanganan dan proses pemulihan dengan tidak membuat kondisi mereka menjadi lebih berat. Menurutnya, tingkatan trauma kedua anak tersebut juga tidak dapat diperkirakan.

"Nomor satu dapat tempat berlindung dulu. Mudah-mudahan mereka bisa berkembang dan bertumbuh dengan bagus dan sehat, mendapat penanganan psikologis dan terapi yang baik. Itu juga jadi doa dari kita semua agar anak-anak ini bisa sembuh dari trauma," katanya.

sumber: republika.co.id
Jangan Luput Pantau Gejala MISC Setelah Anak Sembuh dari Covid19
18 March 2022
Jangan Luput Pantau Gejala MIS-C Setelah Anak Sembuh dari Covid-19
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ketua Satgas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Yogi Prawira mengingatkan agar orang tua menjaga anandanya agar tak sampai terkena Covid-19. Andaikan anak pernah terinfeksi, pantau kesehatannya hingga selesai masa akutnya.

"Jika memang sudah diketahui anak kena Covid-19, terus pantau selama tiga sampai enam pekan ke depan, ada gejala lain muncul tidak, jika ya mungkin sindrom peradangan multisistem pada anak (MIS-C)," kata dr Yogi dalam sebuah diskusi virtual, disimak di Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Dr Yogi menjelaskan, MIS-C sering terjadi pada anak-anak yang sehat-sehat saja ketika positif Covid-19. Mereka tidak bergejala atau gejala ringan saat itu.
Kondisi itulah yang dialami Cooper Hayton. Anak berusia 11 tahun dari Inggris tersebut sempat mengalami efek samping langka dari Covid-19.

Empat pekan setelah dites positif Covid-19, Hayton mengalami demam, berhenti makan, dan mengeluh sakit di tubuhnya. Demamnya berlanjut dan sekujur tubuhnya ruam.

Wajah Hayton menjadi bengkak ketika berjuang dengan sindrom peradangan multisistem. Bibirnya merah tua dan mata merah.

Hayton akhirnya pulih setelah mendapatkan antibiotik untuk tiga malam, imunoglobulin untuk satu malam, dan steroid selama tiga malam. Obat-obatan itu diberikan di rumah sakit untuk menekan sistem kekebalannya.

Persoalannya, anak-anak yang dirawat intensif dengan kondisi tersebut masih dapat mengalami kabut otak, kelelahan, dan perubahan nafsu makan. Rumah Sakit Great Ormond Street mengindikasikan sindrom peradangan multisistem dapat memengaruhi pikiran dan tubuh anak.

Jadi, waspadalah terhadap suasana hati anak begitu mereka kembali ke rumah. Normal jika anak tampak merasa cemas, murung, dan mudah tersinggung. Ini karena sindrom tersebut serta gangguan sehari-hari yang dibawa oleh Covid-19 kepada semua orang.

"Luangkan waktu untuk pulih dan jangan mencoba melakukan terlalu banyak aktivitas di awal, secara bertahap tingkatkan seberapa banyak yang mampu dilakukan dan jangan sedih jika Anda memiliki hari-hari buruk dan juga hari-hari baik," ujar pihak rumah sakit.

Sindrom peradangan multisistem pada anak adalah kondisi yang sangat langka, terjadi pada kurang dari satu persen anak-anak yang terjangkit penyakit tersebut. Hanya sekitar satu hingga lima dari 100 ribu yang kemudian mengembangkannya perlu dirawat di rumah sakit.

Akan tetapi, sindrom itu dapat menyerang anak-anak yang sehat sekitar empat sampai enam pekan setelah terkena infeksi SARS-CoV-2. Sering kali, karena gejalanya bisa dikacaukan dengan sesuatu yang lain, dokter kehilangan tanda-tanda kuncinya hingga luput terdiagnosis.

Ribuan orang tua telah berkumpul bersama secara online untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat dan petugas medis mengenai risiko sindrom tersebut. Mereka merasa anak-anaknya tidak didiagnosis secara akurat.

Kelompok pendukung Paediatric Inflammatory Multisystem Syndrome-TS Covid-19 dibentuk pada Oktober 2020 untuk membantu mempercepat diagnosis. Kelompok ini menemukan sebagian besar kasus salah diagnosis setidaknya sekali.

Juru bicara kelompok pendukung, Joanna Buckmaster, mengatakan bahwa informasi tentang sindrom tersebut belum luas disebarkan. Padahal, orang tua perlu mengetahuinya.

"Meskipun ada upaya luar biasa dari staf National Health Society (NHS), sayangnya masih terjadi kesalahan diagnosis," ujar Buckmaster, seperti dilansir laman The Sun, Jumat (18/3/2022).

sumber: republika.co.id
Pentingnya Cek Fisik Anak Antisipasi Kekerasan Seksual
17 March 2022
Pentingnya Cek Fisik Anak Antisipasi Kekerasan Seksual
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, meminta para orang tua supaya lebih waspada dan memperhatikan kondisi fisik anak-anak untuk mencegah terjadinya peristiwa kekerasan seksual terhadap anak. "Untuk para orang tua agar lebih waspada dan memperhatikan kondisi fisik anak-anak," ujar Bintang melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (16/3/2022).

Terkait peristiwa memilukan kekerasan seksual yang menimpa bayi perempuan usia 15 bulan di Jeneponto. Ia berharap pelaku dapat segera tertangkap dan mendapat hukuman terberat sebagai efek jera.

"Saya mengapresiasi respons cepat yang sudah dilakukan Polres Jeneponto setelah menerima laporan dari keluarga korban. Kami menghormati proses penyelidikan yang tengah dilakukan aparat kepolisian dan jika dugaan kekerasan seksual terbukti, maka kami berharap pelaku dapat segera ditangkap," katanya.

Kasus kekerasan seksual yang menimpa bayi perempuan usia 15 bulan di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan terungkap pasca ayah korban melapor ke Polres Jeneponto. Mulanya tante korban menemukan korban mengalami pendarahan sehingga korban dibawa ke RSUD.

Hasil pemeriksaan dokter menemukan luka pada alat kelamin korban yang tidak wajar sehingga pihak RSUD memutuskan berkonsultasi dengan Polres Jeneponto.Pelaku kekerasan seksual diduga merupakan kakek tiri korban yang tinggal satu rumah dengan korban. Terduga pelaku ternyata sudah melarikan diri.

Sementara korban saat ini dirawat intensif di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Kota Makassar setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Lanto Daeng Pasewang, Jeneponto.

sumber: republika.co.id
Selebgram Wardah Maulina Pilih Lakukan Tahnik untuk Anaknya Ini Keuntungan Imunisasi Alami
15 March 2022
Selebgram Wardah Maulina Pilih Lakukan Tahnik untuk Anaknya, Ini Keuntungan Imunisasi Alami!
foto: Wardah Maulina (suara)


itoday - Selebgram Wardah Maulina dan pasangannya, Natta Reza terlihat bahagia dengan kehadiran anak pertamanya yang berjenis kelamin perempuan, Zakia Xena Humaria.

Baru-baru ini, Wardah Maulina dan Natta Reza pun memilih untuk memberikan anaknya imunisasi alami dengan metode Tahnik.

Wardah Maulina dan Natta Reza sepakat melakukan tahnik pada 30 Januari 2022 lalu bersama Ustadz Adi Hidayat.

Bahkan mereka mengunggah video di Instagram yang memperlihatkan cuplikan proses Ustadz Adi Hidayat melakukan tahnik pada anak pertama mereka.

"Alhamdulillah Zakia hari ini di Tahnik Ustadz @adihidayatofficial semoga Zakia jadi anak solehah dan bisa menghafal Al-Quran seperti ustadz AH aamiin," kata @wardahmaulina.

Tahnik salah satu sunah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada bayi yang baru lahir. Proses tahnik ini dilakukan dengan cara sang ayah mengunyah buah kurma hingga halus, kemudian diletakkan di langit-langit mulut bayi.

Menurut dokter Zaidul Akbar, tahnik yang dilakukan rasulullah kepada anak para sahabat rasul ini baik untuk kesehatan. Sebab, anak akan mendapatkan prebiotik dari metode tahnik tersebut.

"Makanan prebiotik dan kurma adalah salah satu prebiotik yang paling baik, karena diberikan di langit mulut atau lidah bayi, sehingga lebih cepat diserap oleh bayinya yang masuk ke dalam tubuhnya," kata Zaidul Akbar dalam video Youtube-nya.

Ia juga menjelaskan bahwa prebiotik adalah zat baik dan penting bagi bakteri atau probiotik. Prebiotik adalah makanan bagi bakteri baik, sehingga kinerjanya akan lebih maksimal di tubuh.

Saat bayi lahir melalui rahim atau vagina ibunya karena persalinan normal, maka ia sudah mendapatkan bakteri baik dan membuat sistem kekebalan tubuhnya lebih baik.

Jadi, metode tahnik bayi ini membuat mereka mendapatkan nutrisi lengkap setelah beberapa hari dilahirkan melalui jalan lahir atau lahir normal lewat vagina sang ibu.

"Bayi akan merasakan ada glukosa yang sangat baik untuk meningkatkan kecerdasannnya melalui tahnik ini," katanya.

sumber: suara.com
IDAI Minta Orangtua Lengkapi Vaksin COVID19 Anak Tak Cukup Satu Dosis Saja
11 March 2022
IDAI Minta Orangtua Lengkapi Vaksin COVID-19 Anak, Tak Cukup Satu Dosis Saja
foto: ilustrasi (reuters)


itoday - Anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Ketua Pokja Imunisasi Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Cissy Kartasasmita menyampaikan bahwa proteksi antibodi baru timbul 2 minggu setelah vaksinasi kedua.

Oleh sebab itu dia meminta masyarakat untuk melengkapi vaksinasi kedua bagi anak-anak.

"Vaksinasi anak 6-11 tahun, cakupan vaksinasi kedua baru 45 persen, sedangkan yang 12-17 tahun sudah 77 persen," kata Cissy, Jumat (10/3/2022).

Dia memastikan bahwa vaksinasi anak aman, jadi tidak perlu khawatir akan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

"Vaksinasi anak terbukti aman, kalaupun ada KIPI, sifatnya ringan dan segera hilang. Dari laporan KIPI yang saya ikuti, tidak ada KIPI berat sampai laporan terakhir Februari lalu," tegasnya.

Untuk vaksinasi anak, jenis vaksin yang diberikan adalah Sinovac, yakni vaksin yang dilemahkan dan tidak aktif (inactive).

"Selama ini vaksin inactive diketahui aman seperti vaksin untuk program imunisasi anak," lanjutnya.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa meskipun sudah vaksinasi, protokol kesehatan tetap harus dijalankan.

"Setelah vaksinasi harus tetap prokes ketat. Meski nanti boleh bebas naik kereta, bus dan pesawat dalam negeri. Mau sekolah tatap muka juga bisa, tapi tetap dengan prokes," imbuhnya.

Sejak mulai dilaksanakan pada pertengahan Desember tahun lalu, program vaksinasi anak usia 6-11 tahun telah berjalan sekitar tiga bulan.

Per 9 Maret 2022, sudah sekitar 18,9 juta anak Indonesia usia 6-11 tahun yang mendapatkan vaksin dosis pertama dan sekitar 12,5 juta anak di antaranya sudah mendapatkan dosis kedua.

Sementara total sasaran vaksinasi 6-11 tahun adalah 26,4 juta anak. Adapun untuk kelompok usia 12-17 tahun, tercatat dosis pertama sebanyak 25 juta dan 20,6 juta diantaranya sudah mendapatkan dosis kedua.


Untuk penerima dosis ketiga atau booster pada kelompok usia ini baru sekitar 68 ribu orang. Vaksinasi perlu, guna melindungi anak dari gejala sakit berat bahkan akibat buruk lainnya.

sumber: suara.com