Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Dear Parents Ini 4 Tips untuk Membangun Kepercayaan Diri Anak
08 October 2021
Dear Parents, Ini 4 Tips untuk Membangun Kepercayaan Diri Anak
foto: ilustrasi (pexels)


itoday - Membangun kepercayaan diri anak amerupakan peran penting orangtua yang tidak boleh ditinggalkan,

Kurang percaya diri bisa membuat anak rentan mengalami kecemasan saat dewasa. Karena itu ketika anak sulit percaya diri, orangtua perlu membangun motivasi anak agar mereka lebih percaya diri.

Bagaimana caranya? Mengutip Psychology Today, ada empat cara membangun kepercayaan diri pada anak. Apa saja?

Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan orangtua adalah, orangtua menyelamatkan anak untuk menghindar dari yang namanya konflik.

Padahal, orangtua perlu membimbing anak saat menghadapi konflik, yakni dengan cara membangun kemampuan memecahkan masalah.

Selain itu, orangtua juga perlu mendukung anak. Mulai dari pemecahan masalah, keterampilan sosial, keterampilan bakat, hingga rencana-rencana impiannya.

Bimbing anak agar tahu apa arti kesabaran dan menunggu

Pada dasarnya anak lebih banyak tak mau sabaran, apalagi jika menyangkut soal keinginan yang harus terwujud di hari bersamaan.

Sebagai orangtua, perlu ajarkan anak tentang arti kesabaran dan juga arti menunggu. Dengan begitu, anak tidak akan kaget saat menghadapi realita yang tidak sesuai harapannya.

Bimbing agar anak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri

Ketika anak mengalami kesalahan, anak akan merasa murung dan terus merasa bersalah.

Sebagai orangtua jangan sampai menghakimi anak yang sedang dirundung masalah. Ada baiknya bimbing mereka untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Katakan padanya, bahwa kesalahan apapun wajar dilakukan. Asal mau memperbaiki diri serta menjadi lebih baik kedepannya.

Ajarkan cara membuat jadwal dan mengatur waktu

Saat dewasa, anak akan mengalami banyak aktivitas yang harus diatur sedemikian rupa. Baik itu tenaga, kemampuan, waktu, dan juga hari.

Karena itu, orangtua perlu ajarkan anak cara membuat jadwal serta mengatur waktu dengan baik.

Lewat ajaran ini, anak akan lebih percaya diri dalam menyusun jadwal hari yang mau dilakukan. Seperti belajar, bermain, maupun bersantai. Tentunya, anak akan terhindar dari yang namanya jadwal berantakan.

sumber: suara.com
Studi Buktikan Lingkungan Hijau dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Anak
07 October 2021
Studi Buktikan Lingkungan Hijau dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Anak
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Lingkungan hijau di sekitar rumah terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental anak. Hal ini dibuktikan lewat studi yang terbit dalam Pediatrics, di mana data dari 300 penelitian sebelumnya menyebutkan, lingkungan hijau di sekitar rumah dan sekolah sangat bermanfaat bagi anak.

Mengutip dari Healthshots, beberapa data meneliti efek anak-anak dari komunitas terpinggirkan, yang menunjukkan ada manfaat dari paparan alam yang lebih nyata buat mereka.

"Dengan melihat cakupan penuh dari bukti kuantitatif yang ada, kami melihat betapa pentingnya akses ke alam untuk kesehatan fisik dan mental anak," ungkap penulis studi utama Amber Fyfe-Johnson, sekaligus Profesor di WSU’s Institute for Research and Education to Advance Community Health (IREACH).

Amber menambahkan, "Akses ke alam dan manfaat yang menyertainya, merupakan sebuah kebutuhan, bukan kesenangan. Sayangnya tidak semua anak dapat melakukan kontak dengan alam secara teratur."

"Hal ini sebagian disebabkan oleh urbanisasi, peningkatan waktu menatap layar, dan gaya hidup dalam ruangan yang lebih banyak duduk," lanjut Amber.

Meski temuan ini mungkin belum jelas bagi sebagian orang, namun American Academy Of Pediatrics merekomendasikan waktu bermain di luar ruangan bagi anak. Sebab data meyakinkan, ada manfaat kesehatan tak terbantahkan jika anak terkena paparan alam secara langsung.

Di samping itu, menurut Profesor di Seattle Children’s Research Institute Tandon, informasi mengenai manfaat paparan alam bagi anak ini dapat menjadi bentuk dukungan bagi penyedia layanan kesehatan anak serta pembuat kebijakan. Salah satunya mempromosikan manfaat bermain di alam sebagai tempat mereka tinggal, bermain, sekaligus belajar.

Selain itu, menurut Amber Fyfe-Johnson, bukti sebelumnya menunjukkan kontak dengan alam dan ruang hijau, dapat bermanfaat bagi kesehatan yang lebih besar. Terutama bagi sebagian populasi yang kurang beruntung untuk menangkal beberapa efek racun dari kemiskinan.

"Kami berharap pekerjaan kami akan membantu peningkatan akses alam dan hasil kesehatan untuk anak-anak, selain mengurangi kesenjangan kesehatan di masa anak-anak," pungkas Amber.

sumber: suara.com
Deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda yang Buat Anaknya Sukses Raih S2
06 October 2021
Deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda yang Buat Anaknya Sukses Raih S2
foto: Maudy Ayunda dan Ibu (detik)


itoday - Maudy Ayunda berhasil menjadi artis yang sukses dalam bidang pendidikan. Hal itu terbukti dari prestasinya meraih dua gelar pendidikan di dua universitas terbaik di dunia.

Maudy meraih gelar S1 di P.P.E (Politics, Philosophy, and Economics) di Universitas Oxford pada tahun 2016. Kemudian, pendidikan S2 ia tempuh di Master of Business Administration dan Master of Arts in Education di Universitas Stanford.

Tentu saja, kesuksesan Maudy ini juga atas asuhan dari sang ibu yaitu Muren Murdjoko. Sejak kecil, Muren telah mendidik Maudy untuk menjadi anak yang mandiri dan juga bertanggung jawab.

Muren diketahui juga sering berbagi pengalaman dalam mendidik anak-anaknya. Ia juga sering membicarakan kesuksesan Maudy di bidang pendidikan maupun kariernya.

Berikut deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda

1. "Blueprint saya bukan anak saya harus pintar. Blueprint saya adalah saya kepingin anak mandiri, sedini mungkin mandiri."

2. "Apa yang menjadi tanggung jawab dia, harus kerjakan sendiri."

3. "Kenapa sekolah itu nilainya harus bagus, supaya diterima di universitas bagus. Kalau diterima di universitas bagus, nanti cari kerja lebih gampang."

4. "Saya selalu bilang sama anak-anak, mau sehebat apa pun kalau hidup kamu tidak bermanfaat buat orang lain, itu enggak penting."

5. "Mama biayain kamu sekolah sampai (usia) 21 tahun lho ya, setelah itu kamu harus bisa cari uang sendiri. Jadi, jangan minta lagi sama Mama."

6. "Sebagai anak, sebagai manusia, bertanggung jawab bahwa dia hidup di dunia itu dengan segala hak dan kewajibannya."

7. "Ditangan kita lah nasib generasi penerus bangsa ini ke depan. Perjuangan kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas, penuh semangat, berwawasan, penuh integritas, rela berkorban, dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, dan perduli akan sebuah perubahan yang lebih baik, sangatlah berpengaruh bagi nasib bangsa ini ke depan."

8. "Kalau habis membaca buku dan ternyata bagus, saya akan koleksi buat diwariskan ke anak-anak saya kelak. Ternyata, hobi membaca pun turun ke anak-anak saya."

sumber: detik.com
Psikolog Sebut Batasi Penggunaan Gadget Bisa Cegah Cyberbullying Benarkah
04 October 2021
Psikolog Sebut Batasi Penggunaan Gadget Bisa Cegah Cyberbullying, Benarkah?
foto: ilustrasi (paxels)


itoday - Pencegahan cyberbullying alias perundungan siber menurut psikolog bisa dilakukan dengan cara membatasi penggunaan gadget.

Dikatakan Anna Surti Ariani dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), membatasi waktu memegang gadget dengan jadwal atau durasi tertentu dapat mencegah anak dari perundungan siber.

"Memberikan edukasi terkait apa itu cyberbullying. Ketiga, membatasi konten dan aplikasi pada gawai. Dan keempat, menjadi contoh dalam berperilaku digital yang baik," kata perempuan yang akrab disapa Nina itu, dikutip dari ANTARA.

Cyberbullying adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak nyaman terhadap komentar/informasi/gambar foto yang ditujukan untuk dirinya, yang bertujuan menyakiti, intimidasi, menyebar kebohongan dan menghina, yang diunggah di internet, jejaring media atau teknologi digital lainnya, yang dilakukan oleh orang lain.

"Sebanyak 45 persen dari 2,777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying, menurut survei UNICEF U-Report 2021," katanya.

Menurut Nina, alasan orang melakukan cyberbullying adalah ia ingin merasa kuat, harga dirinya rendah, kurang berempati, ingin popular dan tidak sadar akan dampak yang ditimbulkan.

Ia membagikan beberapa ciri seseorang yang terdampak cyberbullying. Pertama, adalah kecenderungan untuk menarik diri, mudah emosi, menjadi cenderung pendiam dan tidak mau bersosialisasi.

"Kedua adalah mengganti akun media sosial, dan ketiga tidak lepas dari gawai kehilangan minat melakukan kegiatan lain," ujarnya menambahkan.

Founder Yayasan Sejiwa, Diena Haryana, mengatakan media daring memberikan dampak terhadap beberapa kasus yang dialami anak seperti ketergantungan gawai, cyberbullying, eksploitasi seksual serta penipuan daring.

"Dampaknya bisa sangat besar, membekas hingga jangka panjang karena rasa malu yang ditimbulkan mengingat postingan buruk terhadap dirinya telah disaksikan ribuan orang netizen," kata Diena.

"Akibatnya sangat membahayakan, bukan hanya sebatas malu dan depresi bahkan hingga tindakan bunuh diri. Sayangnya, banyak korban yang lebih memilih diam, tidak mengadukan kasus yang menimpanya, sehingga pada akhirnya mengganggu pertumbuhan jiwanya," imbuhnya.

Namun, Diena mengatakan terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah dampak buruk cyberbullying.

"Sebagai teman, kita memberi dukungan untuk mendengarkan masalah yang dihadapi, menyemangati dan dapat mengajaknya untuk melaporkannya kepada guru atau orangtuanya. Kita juga dapat meng-counter informasi negatif dengan memberikan komentar positif tentang sahabat kita," kata Diena.

"Sebagai orang tua, kita arahkan anak untuk memblok pelaku dan melaporkannya melakukan media sosial. Kita juga dapat mengalihkan anak dari media sosial melalui kegiatan lain seperti hobi, berlibur maupun hal-hal kreatif lainnya. Bila sudah semakin parah dampaknya, segera konsultasikan anak kepada ahlinya untuk mendapat tindakan terbaik," tumbuhnya.

sumber: suara.com
Emosi hingga Gelisah Ini Ciriciri Anak Kecanduan Internet
03 October 2021
Emosi hingga Gelisah, Ini Ciri-ciri Anak Kecanduan Internet
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Beragam penelitian telah membuktikan bahwa gadget atau gawai memiliki dampak positif dan dampak negatif bukan hanya pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Dikatakan oleh Founder Meraki Agency Yazid Yanwar, beberapa dampak positif gadget pada anak adalah dapat mengasah kemampuan kognitif dan motorik halus pada anak, melatih kemampuan problem solving pada anak, latihan bersikap sportif dalam berkompetisi, cepat informasi dan dapat membuat anak senang serta bahagia.

"Sementara dampak negatif gadget pada anak adalah kurangnya interaksi dalam keluarga, kurang merasa empati, menjadi agresif dan berisiko terlibat kekerasan karena meniru," kata Yazid Yanwar saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut Yazid, anak juga berisiko mengalami gangguan konsentrasi dan gangguan tidur serta risiko terpapar konten negatif yang bisa memengaruhi anak.

Parahnya lagi, Yazid mengatakan bahwa 31.4 persen remaja mengalami kecanduan internet. Ia mengatakan, adiksi atau kecanduan dalam konteks internet maupun penggunaan gadget, telah masuk dalam kategori kecanduan perilaku.

"Yang disebut kecanduan internet yang dapat menimbulkan gangguan yang dapat berdampak pada kehidupan personal dan relasi seseorang dengan orang lain," tambahnya.

Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri seseorang atau anak yang kecanduan internet? Berikut paparan seperti yang dikatakan oleh Yazid Yanwar!

- Pikiran fokus ke internet
- Intensitas penggunaan internet yang tinggi
- Kontrol diri dan emosi yang lemah terhadap internet
- Tidak berinteraksi dengan lingkungan sosial
- Gangguan emosi
- Rasa gelisah dan tidak nyaman jika tidak menggunakan internet
- Melupakan tanggung jawab dan tugas individu termasuk dalam mengurus diri dan tanggung jawab pekerjaan.

Untuk itu, Yazid sangat mengimbau orangtua dan orang dewasa memiliki kesadaran untuk mencegah agar anak-anak tidak kecanduan internet.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua adalah dengan memperkuat kesadaran dan spiritual anak serta menyibukkan anak dengan kegiatan yang positif baik di dalam rumah atau di luar rumah.

"Dekatkan anak dengan alam, serta batasi dan awasi anak tentang bahaya gadget. Jangan lupa juga blokir konten-konten yang berbahaya bagi anak," tambah Yazid.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten dalam berperilaku terkait gadget seperti jangan menggunakan gadget di hadapan anak.

Orangtua juga diminta membangun komunikasi dan interaksi yang hangat di dalam keluarga, membuat ketegasan terkait penggunaan gadget serta libatkan anak dalam kampanye antiadiksi gadget.

sumber: suara.com
5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak Orang Tua Perlu Tahu
01 October 2021
5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak, Orang Tua Perlu Tahu
foto: ilustrasi (istockphoto)


itoday - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas atau sekolah tatap muka telah dilaksanakan di beberapa daerah. Dalam sekolah tatap muka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar anak tidak tertular Covid-19.
Berikut adalah 5 hal yang harus dipersiapkan orang tua untuk melaksanakan sekolah tatap muka terbatas:

1. Memberikan Pemahaman Kepada Anak tentang Corona
Memberikan pemahaman kepada anak ini penting dilakukan agar anak dapat mengikuti protokol kesehatan (prokes) dengan baik. Berikan pemahaman tentang Covid-19 sebaik mungkin kepada anak dengan bahasa yang mudah dimengerti.

"Pertama, berikan pemahaman terlebih dahulu kepada anak. Berikan gambaran mengenai apa sih Covid itu. Apa saja yang dihadapi oleh orang-orang di masa pandemi," kata dokter spesialis anak dr Natasya Ayu Andamari yang dikutip dari laman HaiBunda.

Orang tua harus memberikan pemahaman mengenai penularan Covid-19 jika mengikuti sekolah tatap muka. Apabila anak memahami hal tersebut maka mereka akan mengikuti prokes dengan ketat.

2. Membawa Bekal
Agar tetap sehat dan terjaga selama sekolah tatap muka, orang tua sebaiknya juga membawakan anak bekal dengan asupan gizi seimbang. Selain itu berikan anak sarapan yang tepat juga.

"Biasanya jam makan akan dibatasi saat PTM terbatas. Maka dari itu, bawa bekal secukupnya saja. Tetapi jangan sampai anak kelaparan, disesuaikan bekal apa nih yang cocok untuk anak di masa pandemi. Harus yang ringkas agar dapat makan lebih cepat," ujar Natasya.

3. Vaksinasi
Walaupun anak usia di bawah 12 tahun belum dapat melakukan vaksinasi Covid-19, orang tua tetap harus memastikan kelengkapan imunisasi anak. Selain vaksinasi juga siapkan vitamin yang aman dikonsumsi untuk anak dalam jangka panjang.

4. Mengajarkan Konsep 3M
Jangan lupa untuk mengajarkan anak konsep 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Ketiga aspek tersebut merupakan hal penting yang harus dilakukan selama pandemic.

Selain itu orang tua juga harus membekali anak dengan peralatan yang wajib dibawa saat ke luar rumah. Gunakanlah masker khusus anak agar tidak longgar saat dipakai dan bawakan juga masker cadangan.

5. Menjaga Kebersihan Anak
Selain membawakan anak dengan bekal dan masker, jangan lupa berikan anak gel pembersih tangan. Disinfektan juga dapat diberikan kepada anak guna membersihkan berbagai peralatan sekolah dan permukaan meja anak saat sekolah tatap muka.

sumber: detik.com