Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda yang Buat Anaknya Sukses Raih S2
06 October 2021
Deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda yang Buat Anaknya Sukses Raih S2
foto: Maudy Ayunda dan Ibu (detik)


itoday - Maudy Ayunda berhasil menjadi artis yang sukses dalam bidang pendidikan. Hal itu terbukti dari prestasinya meraih dua gelar pendidikan di dua universitas terbaik di dunia.

Maudy meraih gelar S1 di P.P.E (Politics, Philosophy, and Economics) di Universitas Oxford pada tahun 2016. Kemudian, pendidikan S2 ia tempuh di Master of Business Administration dan Master of Arts in Education di Universitas Stanford.

Tentu saja, kesuksesan Maudy ini juga atas asuhan dari sang ibu yaitu Muren Murdjoko. Sejak kecil, Muren telah mendidik Maudy untuk menjadi anak yang mandiri dan juga bertanggung jawab.

Muren diketahui juga sering berbagi pengalaman dalam mendidik anak-anaknya. Ia juga sering membicarakan kesuksesan Maudy di bidang pendidikan maupun kariernya.

Berikut deretan Quotes Ibu Maudy Ayunda

1. "Blueprint saya bukan anak saya harus pintar. Blueprint saya adalah saya kepingin anak mandiri, sedini mungkin mandiri."

2. "Apa yang menjadi tanggung jawab dia, harus kerjakan sendiri."

3. "Kenapa sekolah itu nilainya harus bagus, supaya diterima di universitas bagus. Kalau diterima di universitas bagus, nanti cari kerja lebih gampang."

4. "Saya selalu bilang sama anak-anak, mau sehebat apa pun kalau hidup kamu tidak bermanfaat buat orang lain, itu enggak penting."

5. "Mama biayain kamu sekolah sampai (usia) 21 tahun lho ya, setelah itu kamu harus bisa cari uang sendiri. Jadi, jangan minta lagi sama Mama."

6. "Sebagai anak, sebagai manusia, bertanggung jawab bahwa dia hidup di dunia itu dengan segala hak dan kewajibannya."

7. "Ditangan kita lah nasib generasi penerus bangsa ini ke depan. Perjuangan kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas, penuh semangat, berwawasan, penuh integritas, rela berkorban, dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, dan perduli akan sebuah perubahan yang lebih baik, sangatlah berpengaruh bagi nasib bangsa ini ke depan."

8. "Kalau habis membaca buku dan ternyata bagus, saya akan koleksi buat diwariskan ke anak-anak saya kelak. Ternyata, hobi membaca pun turun ke anak-anak saya."

sumber: detik.com
Psikolog Sebut Batasi Penggunaan Gadget Bisa Cegah Cyberbullying Benarkah
04 October 2021
Psikolog Sebut Batasi Penggunaan Gadget Bisa Cegah Cyberbullying, Benarkah?
foto: ilustrasi (paxels)


itoday - Pencegahan cyberbullying alias perundungan siber menurut psikolog bisa dilakukan dengan cara membatasi penggunaan gadget.

Dikatakan Anna Surti Ariani dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), membatasi waktu memegang gadget dengan jadwal atau durasi tertentu dapat mencegah anak dari perundungan siber.

"Memberikan edukasi terkait apa itu cyberbullying. Ketiga, membatasi konten dan aplikasi pada gawai. Dan keempat, menjadi contoh dalam berperilaku digital yang baik," kata perempuan yang akrab disapa Nina itu, dikutip dari ANTARA.

Cyberbullying adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak nyaman terhadap komentar/informasi/gambar foto yang ditujukan untuk dirinya, yang bertujuan menyakiti, intimidasi, menyebar kebohongan dan menghina, yang diunggah di internet, jejaring media atau teknologi digital lainnya, yang dilakukan oleh orang lain.

"Sebanyak 45 persen dari 2,777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying, menurut survei UNICEF U-Report 2021," katanya.

Menurut Nina, alasan orang melakukan cyberbullying adalah ia ingin merasa kuat, harga dirinya rendah, kurang berempati, ingin popular dan tidak sadar akan dampak yang ditimbulkan.

Ia membagikan beberapa ciri seseorang yang terdampak cyberbullying. Pertama, adalah kecenderungan untuk menarik diri, mudah emosi, menjadi cenderung pendiam dan tidak mau bersosialisasi.

"Kedua adalah mengganti akun media sosial, dan ketiga tidak lepas dari gawai kehilangan minat melakukan kegiatan lain," ujarnya menambahkan.

Founder Yayasan Sejiwa, Diena Haryana, mengatakan media daring memberikan dampak terhadap beberapa kasus yang dialami anak seperti ketergantungan gawai, cyberbullying, eksploitasi seksual serta penipuan daring.

"Dampaknya bisa sangat besar, membekas hingga jangka panjang karena rasa malu yang ditimbulkan mengingat postingan buruk terhadap dirinya telah disaksikan ribuan orang netizen," kata Diena.

"Akibatnya sangat membahayakan, bukan hanya sebatas malu dan depresi bahkan hingga tindakan bunuh diri. Sayangnya, banyak korban yang lebih memilih diam, tidak mengadukan kasus yang menimpanya, sehingga pada akhirnya mengganggu pertumbuhan jiwanya," imbuhnya.

Namun, Diena mengatakan terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah dampak buruk cyberbullying.

"Sebagai teman, kita memberi dukungan untuk mendengarkan masalah yang dihadapi, menyemangati dan dapat mengajaknya untuk melaporkannya kepada guru atau orangtuanya. Kita juga dapat meng-counter informasi negatif dengan memberikan komentar positif tentang sahabat kita," kata Diena.

"Sebagai orang tua, kita arahkan anak untuk memblok pelaku dan melaporkannya melakukan media sosial. Kita juga dapat mengalihkan anak dari media sosial melalui kegiatan lain seperti hobi, berlibur maupun hal-hal kreatif lainnya. Bila sudah semakin parah dampaknya, segera konsultasikan anak kepada ahlinya untuk mendapat tindakan terbaik," tumbuhnya.

sumber: suara.com
Emosi hingga Gelisah Ini Ciriciri Anak Kecanduan Internet
03 October 2021
Emosi hingga Gelisah, Ini Ciri-ciri Anak Kecanduan Internet
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Beragam penelitian telah membuktikan bahwa gadget atau gawai memiliki dampak positif dan dampak negatif bukan hanya pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Dikatakan oleh Founder Meraki Agency Yazid Yanwar, beberapa dampak positif gadget pada anak adalah dapat mengasah kemampuan kognitif dan motorik halus pada anak, melatih kemampuan problem solving pada anak, latihan bersikap sportif dalam berkompetisi, cepat informasi dan dapat membuat anak senang serta bahagia.

"Sementara dampak negatif gadget pada anak adalah kurangnya interaksi dalam keluarga, kurang merasa empati, menjadi agresif dan berisiko terlibat kekerasan karena meniru," kata Yazid Yanwar saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut Yazid, anak juga berisiko mengalami gangguan konsentrasi dan gangguan tidur serta risiko terpapar konten negatif yang bisa memengaruhi anak.

Parahnya lagi, Yazid mengatakan bahwa 31.4 persen remaja mengalami kecanduan internet. Ia mengatakan, adiksi atau kecanduan dalam konteks internet maupun penggunaan gadget, telah masuk dalam kategori kecanduan perilaku.

"Yang disebut kecanduan internet yang dapat menimbulkan gangguan yang dapat berdampak pada kehidupan personal dan relasi seseorang dengan orang lain," tambahnya.

Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri seseorang atau anak yang kecanduan internet? Berikut paparan seperti yang dikatakan oleh Yazid Yanwar!

- Pikiran fokus ke internet
- Intensitas penggunaan internet yang tinggi
- Kontrol diri dan emosi yang lemah terhadap internet
- Tidak berinteraksi dengan lingkungan sosial
- Gangguan emosi
- Rasa gelisah dan tidak nyaman jika tidak menggunakan internet
- Melupakan tanggung jawab dan tugas individu termasuk dalam mengurus diri dan tanggung jawab pekerjaan.

Untuk itu, Yazid sangat mengimbau orangtua dan orang dewasa memiliki kesadaran untuk mencegah agar anak-anak tidak kecanduan internet.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua adalah dengan memperkuat kesadaran dan spiritual anak serta menyibukkan anak dengan kegiatan yang positif baik di dalam rumah atau di luar rumah.

"Dekatkan anak dengan alam, serta batasi dan awasi anak tentang bahaya gadget. Jangan lupa juga blokir konten-konten yang berbahaya bagi anak," tambah Yazid.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten dalam berperilaku terkait gadget seperti jangan menggunakan gadget di hadapan anak.

Orangtua juga diminta membangun komunikasi dan interaksi yang hangat di dalam keluarga, membuat ketegasan terkait penggunaan gadget serta libatkan anak dalam kampanye antiadiksi gadget.

sumber: suara.com
5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak Orang Tua Perlu Tahu
01 October 2021
5 Persiapan Sekolah Tatap Muka untuk Anak, Orang Tua Perlu Tahu
foto: ilustrasi (istockphoto)


itoday - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas atau sekolah tatap muka telah dilaksanakan di beberapa daerah. Dalam sekolah tatap muka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar anak tidak tertular Covid-19.
Berikut adalah 5 hal yang harus dipersiapkan orang tua untuk melaksanakan sekolah tatap muka terbatas:

1. Memberikan Pemahaman Kepada Anak tentang Corona
Memberikan pemahaman kepada anak ini penting dilakukan agar anak dapat mengikuti protokol kesehatan (prokes) dengan baik. Berikan pemahaman tentang Covid-19 sebaik mungkin kepada anak dengan bahasa yang mudah dimengerti.

"Pertama, berikan pemahaman terlebih dahulu kepada anak. Berikan gambaran mengenai apa sih Covid itu. Apa saja yang dihadapi oleh orang-orang di masa pandemi," kata dokter spesialis anak dr Natasya Ayu Andamari yang dikutip dari laman HaiBunda.

Orang tua harus memberikan pemahaman mengenai penularan Covid-19 jika mengikuti sekolah tatap muka. Apabila anak memahami hal tersebut maka mereka akan mengikuti prokes dengan ketat.

2. Membawa Bekal
Agar tetap sehat dan terjaga selama sekolah tatap muka, orang tua sebaiknya juga membawakan anak bekal dengan asupan gizi seimbang. Selain itu berikan anak sarapan yang tepat juga.

"Biasanya jam makan akan dibatasi saat PTM terbatas. Maka dari itu, bawa bekal secukupnya saja. Tetapi jangan sampai anak kelaparan, disesuaikan bekal apa nih yang cocok untuk anak di masa pandemi. Harus yang ringkas agar dapat makan lebih cepat," ujar Natasya.

3. Vaksinasi
Walaupun anak usia di bawah 12 tahun belum dapat melakukan vaksinasi Covid-19, orang tua tetap harus memastikan kelengkapan imunisasi anak. Selain vaksinasi juga siapkan vitamin yang aman dikonsumsi untuk anak dalam jangka panjang.

4. Mengajarkan Konsep 3M
Jangan lupa untuk mengajarkan anak konsep 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Ketiga aspek tersebut merupakan hal penting yang harus dilakukan selama pandemic.

Selain itu orang tua juga harus membekali anak dengan peralatan yang wajib dibawa saat ke luar rumah. Gunakanlah masker khusus anak agar tidak longgar saat dipakai dan bawakan juga masker cadangan.

5. Menjaga Kebersihan Anak
Selain membawakan anak dengan bekal dan masker, jangan lupa berikan anak gel pembersih tangan. Disinfektan juga dapat diberikan kepada anak guna membersihkan berbagai peralatan sekolah dan permukaan meja anak saat sekolah tatap muka.

sumber: detik.com
Syarat agar Belajar Tatap Muka Aman Jubir Reisa Anak Sehat dan Pakai Masker
30 September 2021
Syarat agar Belajar Tatap Muka Aman, Jubir Reisa: Anak Sehat dan Pakai Masker
foto: ilustrasi belajar tatap muka (liputan6)


itoday - Agar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas aman, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro menekankan, anak harus sehat dan tetap memakai masker. Upaya ini mencegah kemungkinan anak tertular virus Corona.

"Pastikan anak pakai masker sesuai standar. Masker ganda lebih baik," ujar Reisa saat memberikan keterangan pers pada Rabu, 29 September 2021.

"Bekali anak dengan seperangkat protokol kesehatan berupa masker cadangan, hand sanitizer, tisu basah, dan kering."

Menurut Reisa Broto Asmoro, masker harus digunakan dengan benar dan tidak dibuka-buka. Titik lengah kita tertular virus Corona bisa terjadi dengan penggunaan masker yang tidak benar.

“Protokol kesehatan PTM harus dilakukan dengan aman. Titik lengah PTM di sekolah juga saat peserta didik berinteraksi dengan keluarga di rumah,” lanjutnya.

Anak-anak harta terpenting dalam hidup, maka benteng kesehatan dalam keluarga dipertahankan kekuatannya. Hal ini penting dilakukan dalam mendukung PTM dan jaga kewaspadaan terhadap adanya kemungkinan varian baru apabila musim berubah.

Jika Anak Sakit, Jangan Paksa ke Sekolah

Untuk memandu PTM, Satgas Perubahan Perilaku telah menerbitkan panduan bagi orangtua. PTM diizinkan dibuka pada wilayah PPKM Level 1 sampai 3.

“PTM hanya dilakukan di wilayah yang bukan PPKM Level 4. Orangtua harus memastikan anak sehat tidak sakit saat berangkat sekolah," jelas Reisa Broto Asmoro melalui pernyataan tertulis yang diterima Health Liputan6.com.

"Pastikan tidak demam batuk atau sesak napas. Kalau anak sakit, jangan dipaksa ke sekolah."

Di sisi lain, evaluasi PTM terus dilakukan Pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyiapkan strategi deteksi atau surveilans (3T) COVID-19.

Surveilans ini meliputi pelacakan dan testing dengan metode active case finding (menjemput bola). Tahapan metode mencakup identifikasi jumlah sekolah di tingkat kabupaten/kota yang melaksanakan PTM terbatas.

sumber: liputan6.com
Sekolah Tatap Muka Dimulai Bunda Perlu Pastikan Barang Ini Ada di Tas Anak
29 September 2021
Sekolah Tatap Muka Dimulai, Bunda Perlu Pastikan Barang Ini Ada di Tas Anak
foto: ilustrasi (liputan6)


itoday - Turunnya level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah daerah akan diikuti dengan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di sekolah. Kabar ini tentu menjadi salah satu yang paling ditunggu oleh para pelajar dan orang tua yang ingin aktivitas masuk sekolah dimulai kembali.

Mengingat masih dalam situasi pandemi, maka protokol kesehatan dan prinsip kehati-hatian mutlak harus dikedepankan. Pihak sekolah dan orang tua memiliki peran penting untuk selalu mengingatkan anak-anak mereka agar senantiasa menerapkan prokes mulai dari sebelum berangkat sekolah hingga kembali pulang ke rumah.

Tak hanya himbauan dan pesan semata, Bunda juga perlu memastikan sejumlah barang-barang terkait prokes yang perlu ada di dalam tas anak sekolah. Terutama anak-anak sekolah dasar, yang biasanya seringkali melewatkan beberapa barang.

1. Masker Ganti

Anak-anak cenderung aktif dan masker yang dipakai bisa saja mudah kotor atau basah. Maka dari itu perlu untuk menyiapkan masker cadangan, agar sewaktu-waktu anak bisa ganti dengan masker baru. Berikan masker medis atau kain dengan ukuran khusus anak-anak, sehingga nyaman dipakai dan berfungsi secara maksimal.

2. Hand Sanitizer

Selain membiasakan diri agar anak rajin cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah beraktivitas, Bunda perlu menyiapkan hand sanitizer berukuran kecil yang bisa digantung di tas, ikat pinggang, atau masuk kantong. Agar anak mudah mengakses dan tak mudah hilang. Bisa juga menyiapkan semprotan antivirus atau bakteri untuk keperluannya bila ke toilet atau kamar mandi sekolah.

3. Botol Minum dan Bekal Sehat

Kantin di sekolah mungkin masih belum beroperasi. Oleh karena itu, Bunda perlu membekali anak-anak dengan botol minum dan makanan atau camilan sehat. Ingatkan anak untuk menjaga jarak saat minum atau makan karena harus membuka maskernya.

Selain itu, untuk membantu anak belajar lebih baik dan penuh konsentrasi, pastikan di rumah sudah sarapan sehat dan bergizi.

4. Alat tulis dan perlengkapan sekolah

Pastikan seluruh alat tulis dan perlengkapan sekolah sudah tersedia di dalam tas. ulai dari pensil, pulpen, penghapus, penggaris, rautan dan perlengkapan lain. Hal ini agar anak tak perlu meminjam dan melakukan banyak kontak.

Itulah sejumlah barang-barang yang perlu Bunda pastikan ada di dalam tas anak. Lebih dari itu, Bunda perlu ingatkan dan beri pemahaman kepada anak terkait panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi.

Sebelum berangkat sekolah, pastikan anak dalam kondisi sehat dan tidak memiliki gejala seperti suhu ≥37,3°C, atau keluhan batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak napas.

Sepulang dari sekolah, ingatkan anak untuk langsung membersihkan diri (mandi) dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi fisik dengan orang lain di dalam rumah.

sumber: liputan6.com