Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Jelang Pembelajaran Tatap Muka Ini yang Bisa Ibu Lakukan Untuk Kurangi Kekhawatiran
28 September 2021
Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Ini yang Bisa Ibu Lakukan Untuk Kurangi Kekhawatiran
foto: ilustrasi (pixabay)


itoday - Pemerintah telah menentukan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka secara terbatas dari tingkat PAUD hingga SMA per 30 Agustus 2021 lalu. Hal ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra dari para orangtua.

Sebagian merasa senang melihat anaknya bisa kembali berinteraksi secara langsung dengan guru dan teman-temannya, namun tidak sedikit yang khawatir untuk melepas anaknya kembali belajar di sekolah.

Survei Mama’s Choice selaku produsen produk untuk ibu hamil, menyusui dan anak yang memenangkan kategori parent’s choice di theAsianparent Awards 2021, menunjukkan bahwa 62% orangtua merasa khawatir menjelang pembelajaran tatap muka ini. Sebagian besar merasa khawatir anaknya tertular virus dan penyakit di sekolah.

Dalam online media gathering Mama's Choice “Siap Sekolah Saat Pandemi”, Selasa (28/9/2021), dr. Natasya Ayu Andamari, SpA, memberikan tips tindakan preventif apa yang bisa dilakukan orangtua sebelum anak menghadapi pembelajaran tatap muka.

Salah satunya adalah melengkapi imunisasi anak.

“Saat ini vaksin memang belum bisa digunakan untuk anak dibawah 12 tahun, tapi orangtua bisa memberikan vaksinasi lengkap yang disarankan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) seperti vaksin influenza” tutur dr. Tasya.

Selain itu, dr. Tasya menambahkan bahwa orangtua harus mempersiapkan segala tindakan preventif untuk anak selama pembelajaran tatap muka, seperti melakukan pemeriksaan kesehatan buah hati secara berkala.

"Penting juga bagi orangtua untuk membatasi circle pertemuan anak. Misal jika anak harus masuk sekolah hari Senin, ya hari Minggunya jangan ajak anak ke pantai atau mal. Jangan sampai ia membawa virus yang bisa ditularkan kepada anak lain," katanya.

Menambahkan tips dari dr. Tasya di atas, Rahne Putri selaku Head of Branding Mama’s Choice juga turut memberi saran bagi para ibu agar lebih siap memberikan izin kepada anak dalam melakukan pembelajaran tatap muka.

1. Ajak anak berdiskusi untuk mengambil keputusan pembelajaran tatap muka

Jelaskan kepada anak mengenai keadaan saat ini serta aturan pembelajaran tatap muka yang harus dipatuhi. Tanyakan pendapatnya apakah memilih mengikuti pembelajaran tatap muka atau tetap mengikuti sekolah daring.

2. Ajarkan anak melakukan 3M

Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah salah satu aspek penting yang harus dilakukan anak-anak selama sekolah tatap muka agar terhindar dari virus Covid-19. Maka dari itu penting bagi orang tua untuk mengajarkan kepada anak agar menjaga kebersihan diri dan perlengkapan yang mereka miliki.

“Bekali anak dengan Mama’s Choice Hand Gel, yang bisa melindungi tangan si kecil. Dengan kandungan benzalkonium chloride dan lemon sebagai pengganti alkohol yang efektif membunuh 99.99% kuman, bakteri, dan virus, serta memberikan wangi alami yang segar,” tutur Rahne yang juga merupakan ibu dari 2 anak ini.

Rahne juga mengatakan untuk selalu sediakan desinfektan serbaguna seperti Mama’s Choice Multi-Purpose Cleaner agar dapat membersihkan berbagai peralatan dan permukaan dari kontaminasi virus dan bakteri berbahaya.

3. Pastikan imunitas anak terjaga

Bukan hanya sekedar memberikan vitamin atau asupan makanan yang bergizi, pastikan anak tidak mengalami stres akibat perubahan rutinitas yang mampu menurunkan imunitas.

Biarkan anak melakukan kegiatan yang mereka sukai ketika berada di rumah dan sempatkan waktu bermain bersama. Ciptakan suasana rumah yang nyaman dan bersih dari virus dan bakteri dengan Mama’s Choice Floor Cleaner yang diperkaya dengan antibakteri alami dari Chamomile, Rosemary, & Lavender.

Sebagai bentuk dukungan terhadap mama, Mama’s Choice mengajak ibu dan anak mengikuti digital activity “Siap Sekolah Saat Pandemi”. Caranya, cukup dengan menceritakan persiapan berangkat sekolah saat pandemi di instagram story dengan menggunakan template IG Story dari akun IG Mama’s Choice @mamaschoiceid.

sumber: suara.com
Sulit Membuat Anak Beralih dari Gawai Tanpa Dipaksa
21 September 2021
Sulit Membuat Anak Beralih dari Gawai Tanpa Dipaksa?
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Mendefinisikan "kecanduan layar" sulit dilakukan karena tidak ada kriteria diagnostik medis yang pasti. Tetapi ada beberapa perilaku berbahaya yang harus diwaspadai karena itu menunjukkan seorang anak telah mengalami atau menuju kecanduan.

Menurut juru bicara alat kontrol orang tua dan kesejahteraan digital, Qustodio, mengungkapkan ada tanda bahaya yang harus diwaspadai. Waktu layar sebenarnya bukan satu-satunya indikator yang mencerminkan ketergantungan.

Sulit membuat anak berhenti menggunakan gawai tanpa terlalu dipaksa? Itulah tanda anak kecanduan gawai yang harus diwaspadai orang tua.

Ketika kecanduan, anak akan terus-menerus mencari gawainya. Ia sulit teralih dari gawai hingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti bermain atau interaksi dengan teman atau keluarga.

Hal itulah yang dapat dianggap sebagai tanda bahaya lebih besar daripada sekadar jumlah waktu yang terakumulasi di layar. Para ahli juga menyarankan untuk mengevaluasi bagaimana anak merespons ketika orang tua menyita gawai dan dampak berkurangnya penggunaan gawai terhadap kesejahteraan anak sehari-hari.

"Jika seorang anak rela mengorbankan kebutuhan dasar seperti makan atau tidur demi layar, ini mungkin menunjukkan bentuk kecanduan layar,” kata juru bicata Qustodio, dilansir The Sun, Kamis (16/9).

Memicu kegembiraan
Hal lain yang perlu diwaspadai seperti saat kebahagiaan anak hanya bersumber dari bermain gawai. Anak secara konstan kehilangan minat pada buku, mainan, interaksi sosial, taman, pesta, dan hal lain untuk memicu kegembiraan mereka.

Juru bicara Qustodio mengatakan, waspadai ketika gawai menjadi satu-satunya cara untuk meningkatkan suasana hati anak. Itu mungkin menunjukkan pengembangan hubungan yang tidak sehat antara anak dengan perangkat.

Mulai dari usia dua tahun, menonton video dengan keluarga adalah cara yang baik untuk memperkenalkan anak-anak ke ranah digital. Tetapi, mereka tidak boleh ditinggalkan tanpa ditemani orang dewasa.

Orang tua harus terus mendidik anak-anak tentang menonton yang tepat. Lalu, harus ada aktivitas luar layar yang menyeimbangkannya.

Pada usia delapan tahun ke atas, orang tua bisa mendidik anak-anak tentang bagaimana data mereka dibagikan, potensi bahaya konten daring, dan cara menerapkan batasan layar yang sehat. Selanjutnya, waspadai pula praktik manipulasi oleh anak.

Manipulasi sering kali menjadi taktik yang digunakan oleh anak agar terlibat dalam suatu aktivitas yang mereka tahu mungkin tidak menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Mereka dapat saja menggunakan metode manipulasi untuk mencapai tujuannya.

Juru bicara Qustodio mengatakan, apabila anak mencoba memanipulasi situasi, ini mungkin menunjukkan bahwa mereka terlalu lama terpaku pada layar. Ketika anak mereka mencoba menyelundupkan tablet ke kamar tidur pada malam hari atau menyangkal durasi mainnya itu waktunya untuk mengevaluasi kembali batasan.

Dampak fisik

Waktu layar yang berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan fisik anak. Penelitian telah menunjukkan bahwa pola tidur yang terganggu, nyeri leher kronis, postur tubuh yang buruk, keterlambatan bicara, dan interaksi sosial yang kaku, adalah beberapa dampak akibat waktu layar terlalu lama.

Mencegah ketergantungan layar

Jangan melepas perangkat tanpa memberikan hiburan atau tindakan alternatif. Terapkan pendekatan "tidak terlihat, tidak terpikirkan" dengan tidak menunjukan perangkat saat tidak digunakan. Tetapkan batasan secara konsisten dan tidak ada negosiasi.

sumber: republika.co.id
Kemnaker dan PBNU Susun Modul Community Parenting Ini Kegunaannya
18 September 2021
Kemnaker dan PBNU Susun Modul Community Parenting, Ini Kegunaannya
foto: Ida Fauziah (detik)


itoday - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bekerja sama dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) melakukan penguatan pengasuhan anak secara bersama (community parenting) dengan menghadirkan modul Community Parenting Desmigratif. Ini dilakukan untuk pengembangan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).

"Kepedulian kita semua terhadap perkembangan anak-anak PMI dapat menjadi lebih nyata, terutama melalui penyusunan konsep dan model pembangunan community parenting di Desmigratif," ujar Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/9/2021).

Ida menyatakan modul yang akan dikembangkan ini bukan saja untuk anak-anak PMI, melainkan juga pekerja migran, untuk pengganti orang tua dan lingkungan sekitar, serta untuk fasilitator/Petugas Desmigratif.

"Hal ini berarti pendekatan pelaksanaannya sudah sangat komprehensif, mengambil berbagai sudut pandang dan pihak-pihak yang terlibat," ujarnya.

Ia mengingatkan konsep dan model pembangunan community parenting di Desmigratif dapat saja berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, terutama karena adanya perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

"Saya yakin dengan expert meeting ini akan memperkaya konsep pembangunan komunitas keluarga Desmigratif dan menaruh harapan besar terhadap modul yang akan dihasilkan," ucapnya.

Ida Fauziyah juga menyatakan semua anak, tak terkecuali anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri, merupakan generasi penerus bangsa yang akan menentukan kejayaan bangsa Indonesia di masa datang.

Namun, kata Ida, dalam pelaksanaan pilar Community Parenting ditemukan beberapa permasalahan di lapangan, seperti anak-anak kerap mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang tuanya yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI), kesulitan dana untuk sekolah dan keperluan sehari-hari, bermasalah dalam lingkungan masyarakat dikarenakan sering dianggap anak yang tidak memiliki keluarga yang utuh, dan pengasuhan anak-anak PMI oleh keluarga asuh biasanya kurang optimal dibandingkan dengan pengasuhan yang dilakukan orang tua kandung.

sumber: detik.com
Virus RSV Berisiko Serang AnakAnak setelah Pandemi Covid19 Kenali Gejalanya
14 September 2021
Virus RSV Berisiko Serang Anak-Anak setelah Pandemi Covid-19, Kenali Gejalanya
foto: ilustrasi (pexels)


itoday - RSV salah satu jenis virus yang berisiko menyerang anak-anak. Selama masa pembatasan sosial akibat pandemi virus corona Covid-19, anak-anak akan lebih rentan terinfeksi virus RSV.

Karena, kekebalan orang dewasa dana anak-anak mengalami penurunan selama masa pembatasan sosial dan penguncian akibat virus corona Covid-19.

"Musim dingin ini bisa meningkatkan munculnya penyakit musiman, seperti pilek dan flu. Sehingga sangat penting untuk meningkatkan kekebalam alami selama pandemi virus corona Covid-19," kata Dr Yvonne Doyle, direktur medis di Public Health England dikutip dari The Sun.

Dr Yvonne Doyle pun mengingatkan pentingnya tetap melakukan kebiasaan baik setelah pandemi virus corona Covid-19 berlalu nantinya. Karena, cara ini bisa melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar.

Kebiasaan baik ini termasuk mencuci tangan secara teratur, menggunakan masker untuk mencegah partikel virus menyebar ke orang lain, mencuci tangan dan tidak bertatap muka dengan orang lain bila sedang tidak sehat.

RSV adalah virus yang sangat umum dan hampir semua anak terinfeksi ketika mereka berusia 2 tahun. Pada anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa, gejala RSV termasuk batuk, pilek, pilek dan demam .

Tingkat kasus positif RSV pun telah mencapai puncaknya sekitar 16 persen pada tahun 2021 ini, terutama pada bulan Juli 2021. Meskipun telah turun sedikit, para ahli memperkirakan kasus RSV ini akan meningkat seiring datangnya musim dingin.

Dalam beberapa kasus, RSV dapat mengancam jiwa. Beberapa anak di bawah usia dua tahun, terutama yang lahir prematur atau memiliki masalah kesehatan jantung bisa menderita penyakit serius.

RSV dapat berkembang menjadi bronkiolitis, infeksi inflamasi pada saluran udara bagian bawah yang dapat membuat seseorang sulit bernapas.

Faktor risiko lain untuk bronkiolitis adalah tidak disusui, terpapar perokok, dan memiliki saudara kandung di sekolah. Bronkiolitis biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah sekitar dua minggu dan Anda bisa merawat Anda di rumah dengan cara yang sama seperti pilek.

NHS mengatakan sekitar 1 dari 3 anak di Inggris akan mengembangkan bronkiolitis selama tahun pertama kehidupan mereka. Kondisi ini paling sering mempengaruhi bayi antara usia tiga dan enam bulan.

“Pada usia dua tahun, hampir semua bayi akan terinfeksi RSV dan hingga setengahnya akan menderita bronkiolitis," jelas NHS.

Gejala awal bronkiolitis mirip dengan flu biasa, tetapi bisa berkembang selama beberapa hari, seperti demam tinggi, batuk kering terus-menerus, kesulitan makan, pernapasan yang cepat dan mengi.

sumber: suara.com
Kiat Bagi Waktu Main dengan Anak Saat WFH
13 September 2021
Kiat Bagi Waktu Main dengan Anak Saat WFH
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Dokter spesialis anak dari FKUI-RSCM, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, membagikan kiat bagi orang tua yang sedang bekerja dari rumah (work from home / WFH) untuk bermain dengan si kecil. Dia mengatakan badan PBB yakni WHO dan UNICEF menyarankan orang tua untuk menyempatkan setidaknya waktu 30 menit bersama anak, per anak, untuk melakukan quality time.

"Ini penting sekali untuk membangun hubungan berkualitas itu, karena bonding akan ikut mengembangkan kemampuan sosial anak, dan fungsi-fungsi lainnya, dan jangan sampai kita sebagai orang tua terlewat momen-momen itu," kata dr. Mesty dalam jumpa pers, ditulis pada Jumat (10/9).

Dia mengatakan bahwa orang tua harus terlibat dalam tumbuh-kembang anak lewat bermain bersama. Meskipun bekerja dari rumah mungkin lebih menantang, orang tua harus bisa membedakan waktu untuk bekerja dan bermain bersama buah hati.

"Caranya bagaimana? Misalnya, orang tua bisa membuat spot khusus yang bisa diidentifikasi oleh anak bahwa orang tuanya sedang bekerja, sehingga anak juga tahu kalau ini adalah waktunya ayah-bunda bekerja, sehingga harus bermain sendiri untuk sementara waktu," jelas dia.

"Bagaimana kalau ada pekerjaan yang urgent di waktu bermain? Kita harus minta maaf karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Situasi di rumah tidak harus selalu ideal, yang penting adalah bagaimana kita bisa komunikasikannya dengan anak-anak," ujarnya.

Jika anak terpaksa bermain sendiri, dr. Mesty mengatakan orang tua perlu mengetahui bahwa terdapat mainan-mainan yang sesuai dengan usia dan fase pertumbuhannya. Namun, jika terlalu terobsesi dan berlebihan memberikan stimulasi, juga tidak baik.

"Di sisi lain, ketika anak sedang bermain sendiri, anak juga tidak boleh untuk di-over-stimulate, karena anak harus mengetahui adanya rasa bosan dan akhirnya bisa bermain sendiri dengan apa yang ada di sekelilingnya untuk memacu imajinasi dan kreativitasnya," ujarnya.

Selain itu, kata dia, orang tua juga bisa membangun rutinitas untuk anak-anak. Dengan memiliki jadwal beraktivitas, anak akan terbiasa untuk bersiap, dan akan cenderung lebih menerima harinya dan bahagia.

Saat disinggung mengenai penggunaan gawai, dr. Mesty memaparkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, 43 persen anak-anak berusia 0-5 tahun tidak mencapai potensi perkembangan sesuai umur karena banyak diberikan gawai. Anak yang diberikangawai biasanya tidak bermain dengan permainan yang sesuai usianya.

"Sekarang ini juga mulai ada tren gangguan sensorik, karena indera-indera sensori anak tidak terlatih dengan optimal karena pemberian gadget terlalu dini," kata dr. Mesty.

Dia mengatakan, idealnya, carilah mainan yang merangsang sensori sehingga anak bisa mengenal tekstur, bermain outdoor yang menunjang keseimbangan. Selain itu bermain bisa menyiapkan kemandirian dan hubungan sosial mereka. Yang tak kalah penting, bermain langsung dan bertemu orang, bisa menghasilkan interaksi dua arah yang penting bagi kemampuan sosial anak agar terasah.

Sementara itu, gerai mainan edukatif Early Learning Centre (ELC) kembali menggaungkan kampanye #ELCMainSamaAnak. Kampanye ini dilatarbelakangi oleh banyaknya orang tua dengan kesibukan tinggi dan kurangnya edukasi seputar pentingnya meningkatkan bonding dengan anak melalui bermain bersama.

ELC ingin mengajak para orang tua agar dapat meluangkan waktu lebih banyak bermain bersama anak menggunakan mainan edukasi yang tepat. Mainan edukasi seperti ELC Little Senses, Pretend Play dan Outdoor Toys menjadi mainan yang paling diminati selama pandemi.

sumber: republika.co.id
Menanamkan Pendidikan Karakter pada Diri Anak
11 September 2021
Menanamkan Pendidikan Karakter pada Diri Anak
foto: Buku Kasih Sejuta Benda (wahyudiuntung)


itoday - Selama ini, banyak penulis yang mengangkat kisah tentang Ibu. Perempuan yang begitu besar jasanya dalam keluarga itu menjadi salah satu sumber cerita yang menarik untuk dikisahkan. Tak heran, jika banyak pengarang yang mengangkat sosok seorang ibu sebagai ide cerita.

Cerita dengan tema kasih sayang ibu juga ditulis Lisma Laurel dalam cerpen Kasih Sejuta Bunda. Cerpen yang dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerpen Lintang 2019 ini berkisah tentang anak bernama Clara.

Dikisahkan bahwa, Clara baru saja kehilangan sang Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Ia harus terbiasa ke taman bermain tanpa Ibu. Sepeninggal Ibu, ia tinggal bersama Ayah yang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, wajar jika Clara selalu kangen dan rindu pada Ibu.

Suatu hari Clara sedih bukan main saat teman-temannya menertawakan kepangan rambutnya yang tebal sebelah. Clara sebal. Itu ulah Ayah yang tidak bisa mengepang rambut Clara dengan benar, sebagaimana Ibu biasa mengepang rambutnya. Untung ada ibu Lisa yang baik. Ibu Lisa bersedia mengepang rambut Clara agar tidak diejek lagi oleh teman-temannya. Lisa dan Clara juga berteman baik.

Mendengar cerita Clara, Ayah berjanji akan semakin dekat dengan anaknya. Ayah bersedia menjadi ibu bagi Clara. Menggendongnya, memeluknya, mengikat rambutnya, dan mencurahkan kasih sayang laiknya seorang ibu (hlm. 15).

Selain Kasih Sejuta Bunda, buku ini juga memuat beberapa cerpen yang terpilih sebagai pemenang Lomba Menulis Cerita Anak Indiva. Kotak Ajaib Milik Juro karya Saptorini mengisahkan perjuangan seorang anak bernama Juro yang bekerja di sebuah Toserba milik Pak Yukio. Juro tak pernah lelah bekerja. Ia begitu bersemangat mengantarkan pesanan pada pelanggan. Sampai Etsu, temannya, kaget dan bertanya-tanya kenapa Juro bisa begitu bersemangat dan tak pernah mengeluh meskipun capek bekerja.

Juro bercerita pada Etsu bahwa, ia punya kotak ajaib yang membuatnya selalu semangat bekerja. Kotak itulah yang membuat Juro selalu bekerja dengan giat. Kotak tersebut merupakan kotak ajaib yang selalu memompa semangat Juro untuk bekerja dengan penuh semangat. Etsu penasaran, apa kira-kira isi kotak milik Juro?

Dalam cerpen ini, Saptorini begitu lihai memasukkan unsur ketegangan dalam cerita. Tak hanya Etsu yang dibuat penasaran tentang kotak ajaib milik Juro. Pembaca juga dibikin ingin segera tahu tentang kotak ajaib tersebut. Teka-teki kotak ajaib Juro berhasil terungkap saat Etsu nekat melihat isi kotak di kamar Juro. Saat Juro belum datang mengantarkan pesanan ke pelanggan. Apa isi kotak ajaib milik Juro yang berhasil ditemukan Etsu tersebut? (hlm. 26).

Cerita Sarabba Kakek Agung karya S. Gegge Mappangewa juga menarik untuk disimak. Gegge yang selama ini banyak menulis cerita anak dan remaja memasukkan unsur lokalitas dalam cerpennya. Gegge menceritakan tentang kegundahan seorang kakek yang tinggal sebatang kara di dalam kebun miliknya.

Banyak orang mengira bahwa kakek Agung jahat karena suka mengejar anak-anak di kampung. Padahal, kakek Agung hanya kangen pada anaknya yang dulu ikut pamannya ke Surabaya, karena dia tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Kakek Agung mengira anaknya sudah meninggal. Karena itu, dia selalu suka mengejar anak-anak kecil di sekitarnya dan memberi mereka Sarabba, minuman tradisional berisi campuran jahe dan gula jawa racikan kakek Agung (hlm. 109).

Cerita lain yang juga memasukkan unsur lokal berupa makanan tradisional dikisahkan Zurnila Emhar Ch dalam cerpen Palai Bada untuk Ayah. Cerita bermula dari kecemburuan Izza pada kakaknya yang selalu dipuji oleh ayah. Kakaknya yang juara kelas kerap mendapat sanjungan—yang menurutnya—terlalu berlebihan sehingga membuat dia cemburu.

Izza mengadu pada ibu kalau ayah selama ini hanya memuji kakaknya. Sementara ia tak pernah dipuji. Ibu berusaha meyakinkan Izza kalau dia juga bisa membuat ayah bangga dengan prestasi dan kreativitasnya. Karena sering membantu ibu di dapur, Izza tahu makanan apa yang kerap disajikan untuk keluarga.

Izza berinisitif untuk membuat Palai Bada (semacam pepes berisi ikan teri) seperti yang dibuat nenek saat mereka pulang kampung lebaran kemarin. Ibu setuju dan ayah pasti suka dengan masakan tersebut.

Benar kata ibu. Ayah ternyata memuji kemampuan Izza memasak Palai Bada. Izza jadi ingat kata-kata ibu, “Orang yang tidak juara kelas bukan berarti bodoh. Mungkin mereka akan juara di bidang lainnya.” (hlm. 74).

Buku setebal 144 halaman ini berisi 11 cerpen dengan berbagai tema menarik. Selain cerita-cerita di atas, masih banyak cerita lain yang mampu menggugah semangat dan menginspirasi pembaca. Seperti tentang bakti pada orangtua yang lazim dilakukan oleh seorang anak (Gara-Gara Kemarau), persahabatan antarteman di sekolah yang tak seharusnya menjadi renggang oleh permasalahan sepele (Seruit Persahabatan), bagaimana menghargai karya dan kreativitas teman (Pembatas Buku Gratis), tentang ikatan kasih sayang antara adik dan kakak (Nada yang Tak Biasa), dan cerita-cerita lainnya.

Buku kumpulan cerita ini ditulis oleh sejumlah penulis dengan latar belakang yang bermacam-macam. Dosen, pendidik, guru lest, ibu rumah tangga, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMA.

Setiap cerita yang ditulis memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Wajar jika para dewan juri lomba memilih kesebelas cerita sebagai unggulan untuk dibukukan dalam Kasih Sejuta Bunda. Dari segi tema, mayoritas penulis mengisahkan tentang persahabatan dan kasih sayang pada orang tua. Tema yang cukup sering diangkat dalam cerita-cerita pembentuk karakter anak.

Cerita-cerita dalam buku ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca bisa dengan mudah mengakrabi setiap karakter tokoh yang ditampilkan dalam setiap cerita. Ada yang pendiam, pemberani, penakut, bahkan tokoh yang usil (antagonis). Semua disajikan dengan menarik dan unik. (*)

sumber: Untung Wahyudi (suara.com)