Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Kiat Bagi Waktu Main dengan Anak Saat WFH
13 September 2021
Kiat Bagi Waktu Main dengan Anak Saat WFH
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Dokter spesialis anak dari FKUI-RSCM, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, membagikan kiat bagi orang tua yang sedang bekerja dari rumah (work from home / WFH) untuk bermain dengan si kecil. Dia mengatakan badan PBB yakni WHO dan UNICEF menyarankan orang tua untuk menyempatkan setidaknya waktu 30 menit bersama anak, per anak, untuk melakukan quality time.

"Ini penting sekali untuk membangun hubungan berkualitas itu, karena bonding akan ikut mengembangkan kemampuan sosial anak, dan fungsi-fungsi lainnya, dan jangan sampai kita sebagai orang tua terlewat momen-momen itu," kata dr. Mesty dalam jumpa pers, ditulis pada Jumat (10/9).

Dia mengatakan bahwa orang tua harus terlibat dalam tumbuh-kembang anak lewat bermain bersama. Meskipun bekerja dari rumah mungkin lebih menantang, orang tua harus bisa membedakan waktu untuk bekerja dan bermain bersama buah hati.

"Caranya bagaimana? Misalnya, orang tua bisa membuat spot khusus yang bisa diidentifikasi oleh anak bahwa orang tuanya sedang bekerja, sehingga anak juga tahu kalau ini adalah waktunya ayah-bunda bekerja, sehingga harus bermain sendiri untuk sementara waktu," jelas dia.

"Bagaimana kalau ada pekerjaan yang urgent di waktu bermain? Kita harus minta maaf karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Situasi di rumah tidak harus selalu ideal, yang penting adalah bagaimana kita bisa komunikasikannya dengan anak-anak," ujarnya.

Jika anak terpaksa bermain sendiri, dr. Mesty mengatakan orang tua perlu mengetahui bahwa terdapat mainan-mainan yang sesuai dengan usia dan fase pertumbuhannya. Namun, jika terlalu terobsesi dan berlebihan memberikan stimulasi, juga tidak baik.

"Di sisi lain, ketika anak sedang bermain sendiri, anak juga tidak boleh untuk di-over-stimulate, karena anak harus mengetahui adanya rasa bosan dan akhirnya bisa bermain sendiri dengan apa yang ada di sekelilingnya untuk memacu imajinasi dan kreativitasnya," ujarnya.

Selain itu, kata dia, orang tua juga bisa membangun rutinitas untuk anak-anak. Dengan memiliki jadwal beraktivitas, anak akan terbiasa untuk bersiap, dan akan cenderung lebih menerima harinya dan bahagia.

Saat disinggung mengenai penggunaan gawai, dr. Mesty memaparkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, 43 persen anak-anak berusia 0-5 tahun tidak mencapai potensi perkembangan sesuai umur karena banyak diberikan gawai. Anak yang diberikangawai biasanya tidak bermain dengan permainan yang sesuai usianya.

"Sekarang ini juga mulai ada tren gangguan sensorik, karena indera-indera sensori anak tidak terlatih dengan optimal karena pemberian gadget terlalu dini," kata dr. Mesty.

Dia mengatakan, idealnya, carilah mainan yang merangsang sensori sehingga anak bisa mengenal tekstur, bermain outdoor yang menunjang keseimbangan. Selain itu bermain bisa menyiapkan kemandirian dan hubungan sosial mereka. Yang tak kalah penting, bermain langsung dan bertemu orang, bisa menghasilkan interaksi dua arah yang penting bagi kemampuan sosial anak agar terasah.

Sementara itu, gerai mainan edukatif Early Learning Centre (ELC) kembali menggaungkan kampanye #ELCMainSamaAnak. Kampanye ini dilatarbelakangi oleh banyaknya orang tua dengan kesibukan tinggi dan kurangnya edukasi seputar pentingnya meningkatkan bonding dengan anak melalui bermain bersama.

ELC ingin mengajak para orang tua agar dapat meluangkan waktu lebih banyak bermain bersama anak menggunakan mainan edukasi yang tepat. Mainan edukasi seperti ELC Little Senses, Pretend Play dan Outdoor Toys menjadi mainan yang paling diminati selama pandemi.

sumber: republika.co.id
Menanamkan Pendidikan Karakter pada Diri Anak
11 September 2021
Menanamkan Pendidikan Karakter pada Diri Anak
foto: Buku Kasih Sejuta Benda (wahyudiuntung)


itoday - Selama ini, banyak penulis yang mengangkat kisah tentang Ibu. Perempuan yang begitu besar jasanya dalam keluarga itu menjadi salah satu sumber cerita yang menarik untuk dikisahkan. Tak heran, jika banyak pengarang yang mengangkat sosok seorang ibu sebagai ide cerita.

Cerita dengan tema kasih sayang ibu juga ditulis Lisma Laurel dalam cerpen Kasih Sejuta Bunda. Cerpen yang dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerpen Lintang 2019 ini berkisah tentang anak bernama Clara.

Dikisahkan bahwa, Clara baru saja kehilangan sang Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Ia harus terbiasa ke taman bermain tanpa Ibu. Sepeninggal Ibu, ia tinggal bersama Ayah yang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, wajar jika Clara selalu kangen dan rindu pada Ibu.

Suatu hari Clara sedih bukan main saat teman-temannya menertawakan kepangan rambutnya yang tebal sebelah. Clara sebal. Itu ulah Ayah yang tidak bisa mengepang rambut Clara dengan benar, sebagaimana Ibu biasa mengepang rambutnya. Untung ada ibu Lisa yang baik. Ibu Lisa bersedia mengepang rambut Clara agar tidak diejek lagi oleh teman-temannya. Lisa dan Clara juga berteman baik.

Mendengar cerita Clara, Ayah berjanji akan semakin dekat dengan anaknya. Ayah bersedia menjadi ibu bagi Clara. Menggendongnya, memeluknya, mengikat rambutnya, dan mencurahkan kasih sayang laiknya seorang ibu (hlm. 15).

Selain Kasih Sejuta Bunda, buku ini juga memuat beberapa cerpen yang terpilih sebagai pemenang Lomba Menulis Cerita Anak Indiva. Kotak Ajaib Milik Juro karya Saptorini mengisahkan perjuangan seorang anak bernama Juro yang bekerja di sebuah Toserba milik Pak Yukio. Juro tak pernah lelah bekerja. Ia begitu bersemangat mengantarkan pesanan pada pelanggan. Sampai Etsu, temannya, kaget dan bertanya-tanya kenapa Juro bisa begitu bersemangat dan tak pernah mengeluh meskipun capek bekerja.

Juro bercerita pada Etsu bahwa, ia punya kotak ajaib yang membuatnya selalu semangat bekerja. Kotak itulah yang membuat Juro selalu bekerja dengan giat. Kotak tersebut merupakan kotak ajaib yang selalu memompa semangat Juro untuk bekerja dengan penuh semangat. Etsu penasaran, apa kira-kira isi kotak milik Juro?

Dalam cerpen ini, Saptorini begitu lihai memasukkan unsur ketegangan dalam cerita. Tak hanya Etsu yang dibuat penasaran tentang kotak ajaib milik Juro. Pembaca juga dibikin ingin segera tahu tentang kotak ajaib tersebut. Teka-teki kotak ajaib Juro berhasil terungkap saat Etsu nekat melihat isi kotak di kamar Juro. Saat Juro belum datang mengantarkan pesanan ke pelanggan. Apa isi kotak ajaib milik Juro yang berhasil ditemukan Etsu tersebut? (hlm. 26).

Cerita Sarabba Kakek Agung karya S. Gegge Mappangewa juga menarik untuk disimak. Gegge yang selama ini banyak menulis cerita anak dan remaja memasukkan unsur lokalitas dalam cerpennya. Gegge menceritakan tentang kegundahan seorang kakek yang tinggal sebatang kara di dalam kebun miliknya.

Banyak orang mengira bahwa kakek Agung jahat karena suka mengejar anak-anak di kampung. Padahal, kakek Agung hanya kangen pada anaknya yang dulu ikut pamannya ke Surabaya, karena dia tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Kakek Agung mengira anaknya sudah meninggal. Karena itu, dia selalu suka mengejar anak-anak kecil di sekitarnya dan memberi mereka Sarabba, minuman tradisional berisi campuran jahe dan gula jawa racikan kakek Agung (hlm. 109).

Cerita lain yang juga memasukkan unsur lokal berupa makanan tradisional dikisahkan Zurnila Emhar Ch dalam cerpen Palai Bada untuk Ayah. Cerita bermula dari kecemburuan Izza pada kakaknya yang selalu dipuji oleh ayah. Kakaknya yang juara kelas kerap mendapat sanjungan—yang menurutnya—terlalu berlebihan sehingga membuat dia cemburu.

Izza mengadu pada ibu kalau ayah selama ini hanya memuji kakaknya. Sementara ia tak pernah dipuji. Ibu berusaha meyakinkan Izza kalau dia juga bisa membuat ayah bangga dengan prestasi dan kreativitasnya. Karena sering membantu ibu di dapur, Izza tahu makanan apa yang kerap disajikan untuk keluarga.

Izza berinisitif untuk membuat Palai Bada (semacam pepes berisi ikan teri) seperti yang dibuat nenek saat mereka pulang kampung lebaran kemarin. Ibu setuju dan ayah pasti suka dengan masakan tersebut.

Benar kata ibu. Ayah ternyata memuji kemampuan Izza memasak Palai Bada. Izza jadi ingat kata-kata ibu, “Orang yang tidak juara kelas bukan berarti bodoh. Mungkin mereka akan juara di bidang lainnya.” (hlm. 74).

Buku setebal 144 halaman ini berisi 11 cerpen dengan berbagai tema menarik. Selain cerita-cerita di atas, masih banyak cerita lain yang mampu menggugah semangat dan menginspirasi pembaca. Seperti tentang bakti pada orangtua yang lazim dilakukan oleh seorang anak (Gara-Gara Kemarau), persahabatan antarteman di sekolah yang tak seharusnya menjadi renggang oleh permasalahan sepele (Seruit Persahabatan), bagaimana menghargai karya dan kreativitas teman (Pembatas Buku Gratis), tentang ikatan kasih sayang antara adik dan kakak (Nada yang Tak Biasa), dan cerita-cerita lainnya.

Buku kumpulan cerita ini ditulis oleh sejumlah penulis dengan latar belakang yang bermacam-macam. Dosen, pendidik, guru lest, ibu rumah tangga, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMA.

Setiap cerita yang ditulis memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Wajar jika para dewan juri lomba memilih kesebelas cerita sebagai unggulan untuk dibukukan dalam Kasih Sejuta Bunda. Dari segi tema, mayoritas penulis mengisahkan tentang persahabatan dan kasih sayang pada orang tua. Tema yang cukup sering diangkat dalam cerita-cerita pembentuk karakter anak.

Cerita-cerita dalam buku ini juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca bisa dengan mudah mengakrabi setiap karakter tokoh yang ditampilkan dalam setiap cerita. Ada yang pendiam, pemberani, penakut, bahkan tokoh yang usil (antagonis). Semua disajikan dengan menarik dan unik. (*)

sumber: Untung Wahyudi (suara.com)
Anak yang Mandiri Anak yang Merdeka
10 September 2021
Anak yang Mandiri, Anak yang Merdeka
foto: ilustrasi (shutterstock)


itoday - Kita semua sepakat, ingin membesarkan anak yang mandiri. Di dalam kemandirian itu terdapat rasa percaya diri mampu melakukan segala hal tanpa dibantu, dan bebas dari rasa takut.

Anak-anak yang mandiri punya keterampilan yang memadai untuk menolong dirinya sendiri. Artinya, Anda membekalinya dengan keyakinan bahwa mereka bisa. Bukannya menakut-nakuti, atau meragukan kemampuannya.

Anak yang mandiri adalah anak yang merdeka. Anak yang meredeka adalah anak yang terbebas dari ketidakbisaan dan bebas dari rasa tidak dipercaya.

Ciri-ciri anak mandiri

“Aku bisa sendiri!” Bunda ingat, kapan anak pertama kali mengatakan itu, kemudian merebut sendok dari tangan Bunda karena ia tak ingin disuapi.
Umur 9 bulan ketika bayi sudah bisa memasukkan benda-benda ke dalam mulut, adalah waktunya anak didorong untuk mencoba makan sendiri.

Respon yang dia inginkan:
“Baik, mari kita coba. Bunda pegang mangkoknya, kamu ambil potongan buahnya, dan makan sendiri.” Anda memberinya harga diri yang positif karena tidak memperlakukannya seperti bayi.

“Wah, banyak sekali mainanku….”
Begitu anak bisa berjalan sambil kedua tangannya memegang benda, saatnya anak diajak menyimpan kembali mainannya. Di usia 2 tahun anak sudah lebih mahir melakukannya.

Respon yang dia inginkan:
“Yuk, kita simpan mainannya. Ini keranjang robot, ini keranjang mobil, ini keranjang balok, ini keranjang boneka. Kita sama-sama masukkan ke dalam keranjang. Satu…dua…tiga!” Anda mengajarnya klasifikasi, yang akan mempermudah hidupnya kelak.

“Kubawa mainanku, boleh?”
Anak-anak senang membawa mainannya saat bepergian. Ia tidak mau lagi mainannya disimpan di dalam tas bunda. Karena saat di dalam mobil dalam perjalanan, ia langsung dapat memainkan mainannya tanpa menunggu bunda.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh. Ini tasmu, masukin mainanmu, lalu bawa sendiri. Tas bunda nggak muat.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa dia cukup besar untuk membawa barangnya.

“Nggak mau itu, ini aja!”
Anak Anda mulai menolak stelan baju yang Anda siapkan. Sadar akan warna meski belum tahu namanya, ia membuat stelan sendiri, atau memilih baju dari keranjang cucian yang baru diangkat dari jemuran. Maunya itu lagi, itu lagi.

Respon yang dia inginkan:
“Baju itu memang bagus sih. Tapi kalau dicuci, pakai, cuci, pakai, nanti cepat rusak. Kamu boleh kok, pilih sendiri yang lain. Bajumu bagus-bagus.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa pilihannya dihargai dan kesempatan menentukan diri sendiri.

“Aku bukan dedek-dedek, nggak mau pakai diaper ya…”
Saat dia mulai masuk PAUD, dia sadar bahwa teman-temannya sudah tidak pakai diaper. Umur 3 tahun biasanya anak merasa risih kalau harus pipis dengan cara ngompol.

Respon yang dia inginkan:
“Betul, memang kamu sudah jadi anak besar. Tapi bawa celana di tasmu ya, buat ganti kalau basah ketumpahan minum.” Anda memberinya keyakinan bahwa dia bisa tidak ngompol. Kalau ternyata gagal, “Nggak apa-apa. Besok pasti bisa.”

“Roda bantunya dilepas aja…”
Usia 3 tahun anak sudah mencapai keseimbangan yang baik. Wajar kalau ia sudah paham prinsip mengemudi sambil mengayuh pedal sepedanya.

Respon yang dia inginkan:
“Bunda bisa lho, nglepas roda bantunya. Nggak perlu tunggu ayah, yuk kita lepas.” Anda memberinya rasa percaya bahwa skillnya bagus. Anda juga memberi contoh kemandirian Anda.

“Boleh bantu?”
Usia 4 tahun merasa diri sudah besar, merasa dapat melakukan banyak hal di rumah seperti mencuci piring, menyapu, menyiram tanaman, menyikat wastaffel, dan lain-lain.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh bantu siram tanaman pakai wadah air yang ini untuk tanaman di pot besar. Tanaman di pot yang kecil-kecil pakai sprayer. Terima kasih, sayang.” Menjadi anak besar adalah keinginan setiap anak. Mereka bosan menjadi anak kecil. Kalau dia terus-terusan bertanya, sabar adalah kuncinya. “Pot besar yang mana? Pot kecil yang mana? Ini pot besar apa kecil, Bunda? Oh, pot besar tanamannya besar ya Bun? Kalau pot besar disemprot pakai sprayer, memangnya kenapa?” Sabar, sabar, dan sabar.

“Aku mau main sepeda di lapangan sama teman-teman”
Anak usia 5 tahun sudah paham arti teman. Bagi anak usia 5 tahun, teman memberi banyak pengetahuan, pengalaman, sekaligus sebagai competitor.

Respon yang dia inginkan:
“Ya, mainlah. Nanti dijemput mbak kalau waktunya mandi. Kalau jatuh jangan nangis, ya. Kalau luka langsung pulang, cuci lukanya dan diobati.” Anda menghargai teman-temannya, membantunya belajar mengenali orang lain. Anda juga mendorongnya untuk menjaga diri.

sumber: ayahbunda.co.id (Imma Rachmani)
Khawatir Berlebih pada Anak Simak 4 Ciriciri Orang Tua yang Posesif
09 September 2021
Khawatir Berlebih pada Anak? Simak 4 Ciri-ciri Orang Tua yang Posesif
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Rasa khawatir wajar muncul di benak orang tua yang tidak ingin anaknya kenapa-napa.

Namun, khawatir yang berlebihan juga tidak baik karena kita bisa jadi orang tua yang posesif dan berlebihan.

Hal ini tentunya bisa menimbulkan efek yang kurang bagus untuk pertumbuhan anak.

Nah, jika Kawan Puan sering khawatir pada anak tapi belum tau apa saja tanda orang tua posesif, berikut PARAPUAN rangkum ulasannya menurut Bright Side.

1. Sering Membicarakan Kecemasan di Depan Anak

Orang tua yang cemas sering mengulangi informasi yang sama lebih dari sekali dan kecemasan itu selalu ditunjukkan kepada anak.

Misalnya, jika kamu melihat anjing liar sebagai ancaman dan membicarakannya dengan nada menyeramkan, pada akhirnya anak akan mengembangkan fobia.

Cara inilah yang membuatmu mentransfer ketakutan pada anak-anak. Anak-anak yang terlalu sering dilarang biasanya lebih rentan terhadap kecemasan dan kekhawatiran.

Solusi : Dalam pengasuhan, orang tua memiliki peran memegang kendali.

Alih-alih menggambarkan anjing liar seperti monster yang menakutkan, ajari anak tentang apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat dan pastikan kamu tidak terlalu mendramatisasi.

Kendalikan emosi kamu sehingga pembicaraan tersebut tidak terdengar seperti ketakutan.

2. Mengawasi Aktivitas Anak Penuh Waktu

Orang tua yang cemas cenderung paranoid dan posesif. Seperti memeriksa nilai mata pelajaran anak setiap hari, menonton penampilan mereka di latihan olahraga dan memastikan semuanya dilakukan dengan sangat teliti.

Akibatnya, anak akan berusaha menjadi perfeksionis dan tanpa kesalahan. Selain itu, saat kamu mendapatkan mereka melakukan kesalahan atau nilainya turun, kamu akan marah kepadanya.

Solusi : Sadarilah bahwa sebagai orang tua kamu tidak dapat mengontrol semua yang dilakukan anak-anak.

Sebaliknya, fokus lah pada sesuatu yang mereka minati tanpa memaksa.

Misalnya, mereka menunjukkan minat bermusik, tanyakan apakah mereka ingin kursus musik untuk mengembangkan bakatnya. Bukan malah mendorongnya untuk kursus matematika atau sepak bola yang kurang diminati.

3. Memuaskan Segala Keinginan Anak

Salah satu kewajiban orang tua untuk memberikan keinginan dan memenuhi kebutuhan anaknya, tapi tidak segalanya harus dituruti.

Setiap kali anak mengamuk, kamu langsung buru-buru menghiburnya. Bagi orang tua yang cemas, amukan biasanya berarti kebutuhan yang kuat.

Apabila mereka tidak memuaskannya, kecemasan merayapi pikiran orang tua dan menyesal karena tidak bisa memenuhinya.

Solusi : Alih-alih mencoba menenangkan anak saat mengamuk atau tantrum, jangan perhatikan mereka.

Sering kali amukan digunakan sebagai senjata agar orang tua ikut kalut dan luluh. Cepat atau lambat, amukan itu akan berlalu dengan sendirinya.

Jika anak kamu berperilaku tidak baik karena kecemasan atau mengamuk, bicarakan dengan mereka tanpa menghakimi setelah amukannya reda.

4. Tidak Membiarkan Anak Memiliki Privasi

Orang tua yang cemas tidak membiarkan anak-anaknya menyimpan sesuatu dari mereka. Baginya, jika anak-anak menyembunyikan sesuatu, maka itu pasti sesuatu yang mengerikan dan mengkhawatirkan.

Mendorong anak untuk memberi tahu pada orang tua tentang segalanya membuat mereka tidak memiliki privasi.

Padahal, rahasia juga sangat penting untuk perkembangan anak. Ini akan membentuk kesadaran batin, otonomi, dan imajinasi.

Solusi : Ada dua jenis rahasia, yaitu baik (kejutan) dan buruk (situasi yang membuat anak sedih atau malu).

Biarkan mereka menyimpan rahasianya sendiri, kamu bisa ikut campur tangan hanya ketika kamu merasa situasinya tidak terkendali atau mungkin mengancam jiwa.

Nah, itulah tanda-tanda orang tua posesif dan suka mengkhawatirkan segalanya yang dilakukan anak ya, Kawan Puan.

Jika perhatian itu terlalu berlebihan, anak justru merasa tidak nyaman berada dekat orang tuanya.

sumber: kompas.com
Seberapa Penting Belajar Keterampilan Dapur di Sekolah
08 September 2021
Seberapa Penting Belajar Keterampilan Dapur di Sekolah?
foto: ilustrasi (thinkstock)


itoday - Banyak orangtua di negara maju yang menginginkan anak-anak mereka bisa belajar keterampilan dapur dan memasak di sekolah.

Sebab, jika anak-anak sudah terampil di dapur sejak kecil, maka mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, terutama dalam hal menyiapkan makanan sendiri.

Perusahaan garansi rumah yang menyediakan asuransi, Cinch Home Services mensurvei sebanyak 1.007 orang tentang kebiasaan mereka di dapur untuk menilai pengetahuan dasar cara merawat peralatan dapur.
Survei tersebut juga bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak orang yang benar-benar tahu tentang menjaga dapur dan keterampilan dasar di dapur.

Semua peserta adalah orang Amerika yang mencakup empat generasi dari Baby Boomers hingga Generasi Z.

Para peserta diberikan survei besar yang menanyakan tentang berbagai kebiasaan dan bagaimana mereka melakukan aktivitas di dapur.

Survei tersebut pun menanyakan bagaimana orang menggunakan mesin pencuci piring mereka dan bagaimana mereka seharusnya meletakan barang di dapur.

Lalu, mereka juga ditanya bagaimana menyimpan sisa makanan, bagaimana menentukan apakah daging sudah busuk, dan apakah mereka mencuci buah dan sayuran atau tidak.

Hasil survei

Berdasarkan hasil survei, rata-rata orang tidak tahu banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan dapur.

Sebanyak 59 persen peserta mengakui bahwa mereka mencairkan daging giling beku pada suhu kamar di konter dapur dan 35 persen melakukan ini untuk mencairkan ayam.

Kemudian, satu dari empat peserta survei mengira wadah plastik tidak bisa dibersihkan di mesin pencuci piring. Padahal bisa.

Berikutnya, sebanyak 85 persen peserta berpikir bahwa keterampilan dapur dan memasak perlu ditambahkan ke kurikulum sekolah karena itu adalah ide yang bagus.

Survei tersebut juga meminta para peserta untuk menilai diri mereka dan bagaimana mereka merawat dapur.

Setiap generasi memberi nilai yang tinggi yakni "A" pada diri mereka masing-masing dan kelompok orang yang lebih muda merasa lebih percaya diri terhadap penilaian itu.

sumber: kompas.com
Apa itu Tiger Parenting Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
07 September 2021
Apa itu Tiger Parenting? Metode yang Dewakan Kesuksesan Anak
foto: ilustrasi (kompas)


itoday - Metode tiger parenting merupakan salah satu pola asuh yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan para orangtua di seluruh dunia.

Pola asuh tiger parenting pertama kali diperkenalkan oleh penulis Amy Chua lewat bukunya, Battle Hymn of the Tiger Mother.

Wanita yang merupakan profesor hukum di Universitas Yale, AS ini menulis tentang pengaruh kebudayaan Cina, yang dimilikinya, dalam pola pengasuhannya.

Dalam buku Tiger Mom ini, ia mengungkapkan soal jenis parenting yang dipraktikkannya dalam mendidik anak-anaknya. Beberapa hal yang dilakukannya memicu pro kontra dari banyak pihak sementara yang lain mendukungnya.

Namun Chua yakin, berdasarkan contoh kasus tiger parenting yang dijalani dan ditulisnya, cara itu amat bermanfaat. Menurutnya, dampak positif tiger parenting terlihat dari kesuksesan anak-anaknya di sekolah maupun studi musik yang dijalaninya.

Apa itu Tiger Parenting?

Tiger parenting adalah metode pengasuhan yang bersikap keras dan otoriter secara terang-terangan. Gaya pengasuhan seperti ini terlihat dingin, menuntut, dan sering kali tidak mendukung secara emosional.

Chua, yang mendeskripsikan dirinya sebagai Tiger Mom, melakukannya dengan cara melarang anak perempuannya menonton televisi, bermain game komputer, menginap, berkencan, atau mendapatkan nilai kurang dari A.

Pesan utamanya adalah keberhasilan akademik wajib dicapai dengan pengorbanan apapun termasuk kekurangan waktu bermain dan kelonggaran lainnya untuk anak.

Namun tiger parenting berbeda dengan otoriter parenting. American Psychological Association (APA) mengatakan, tiger parenting mencakup pola asuh negatif dan positif tingkat tinggi sekaligus.

Misalnya keberadaan aturan ketat sekaligus kehangatan dan dukungan penuh dari orangtua pada anak.

Para tiger mom maupun dad merupakan orang yang mempraktikkan strategi pengasuhan positif dan negatif secara bersamaan.

Banyak Pro Kontra

Gaya pengasuhan Amy Chua menuai pro kontra dari banyak pihak. Ada yang memberikan reaksi keras karena menganggap tiger parenting tidak akan menghasilkan perkembangan yang optimal pada anak.

Banyak yang menilai, bukunya itu hanya ditulis berdasar pengalaman pribadinya. Bukunya tidak didukung penelitian ilmiah yang dapat mempertimbangkan perbedaan antar keluarga dan berbagai kemungkinan hasilnya.

Sementara itu, para pendukungnya berkeras kesuksesan akademis dan musik anak-anak Chua merupakan bukti efektivitas metode ini.

Souzan Swift, PsyD, seorang psikolog di Amerika Serikat mengatakan kesuksesan anak adalah hal utama dan terpenting dalam tiger parenting.

"Anak-anak sering kali menuruti permintaan orangtua mereka karena takut akan hukuman,” jelasnya.

Ia mengatakan anak-anak membutuhkan penerimaan dan cinta dari orangtuanya. Oleh sebab itu, tiger parenting mungkin saja bisa berpengaruh buruk pada kesehatan mental anak.

Gaya mengasuh ini tampak berniat positif untuk menunjang kesuksesan anak dalam hal akademis.

Namun ini mungkin mengikat harga diri dan penerimaan anak dengan tingkat kesuksesan mereka, yang dapat menciptakan banyak tekanan dan stres.

sumber: kompas.com