Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Perkembangan Kognitif vs Kecerdasan Anak
20 August 2021
Perkembangan Kognitif vs Kecerdasan Anak
foto: ilustrasi (ayahbunda)


itoday - Dalam acara Jumpa Pakar Ayahbunda & Philips Avent, Psikolog RSIA Grand Family Ellen Susila, M.Psi., menjelaskan, tiap anak membutuhkan stimulasi yang berbeda yang sesuai usianya agar kemampuan kognitif dan kecerdasan otaknya bisa meningkat dengan optimal.

Kognitif

Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya apa itu perkembangan kognitif? Kognitif , dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berhubungan dengan atau melibatkan kognisi; berdasar kepada pengetahuan faktual yang empiris.

Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), dan evaluasi (evaluation). Seperti yang dijelaskan Jean Piaget (1896-1980), psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori ini, teori kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan atau mempresentasikan kemampuan rasional (akal) berdasarkan kenyataan.

merujuk pada Piaget, Ellen mengemukakan empat (4) tahapan perkembangan kognitif. Di antaranya adalah:

Tahap Sensomotorik (0-2 Tahun)
- Terbatas pada kemampuan gerak motorik dan panca indera.
- Keinginan memegang barang dan menyentuh.
- Mengeksplorasi sekitar.

Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
- Menjadi egosentris (menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran).
- Mulai meniru orang-orang di sekitarnya.
- Belum mampu berpikir abstrak.

Tahap Operasional Konkrit (7-11 Tahun)
- Egosentris mulai menghilang (mulai melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain).
- Mulai berkelompok dan senang bekerjasama.
- Mampu berpikir sistematis.
- Memiliki motivasi.

Tahap Operasional Formal (11-15 Tahun)
- Kemampuan berpikir lebih tinggi.
- Mampu menganalisa dan berpikir abstrak.
- Problem solving baik.

Kecerdasan

Kecerdasan adalah kapasitas seseorang untuk belajar dan menguasai pengetahuan dan untuk memahami konsep serta suatu hubungan tertentu.

Ada dua (2) faktor yang memengaruhi kecerdasan. Yaitu genetik dan lingkungan.

Kecerdasan yang dipengaruhi lingkungan bisa dikembangkan melalui stimulasi:

1. Kebutuhan fisik-biologis (gizi/nutrisi) untuk pertumbuhan otak.

2. Kebutuhan emosi (kasih sayang) untuk kecerdasan emosi. Yakni dengan mengajak anak berbicara dan bernyanyi, menggendong, memeluk, bermain cilukba/menyembunyikan mainan.

Stimulasi ini penting dilakukan, karena sel otak sudah dibentuk sejak janin berada di dalam kandungan (usia kehamilan 3-4 bulan) dan sistem sel antar otak mulai bekerja maksimal sejak usia janin 6 bulan hingga anak berusia 3 tahun. Itulah mengapa, ibu hamil juga harus mengajak janinnya mengobrol sejak masih dalam kandungan.

Saat anak berada di usia sekolah dan remaja, hubungan antar sel di otak akan semakin kompleks dan pertumbuhannya pun semakin melambat. Stimulasi yang dilakukan pun harus lebih beragam, yaitu dengan memberikan stimulasi variatif (stimulasi dari lingkungan yang bervariasi) agar anak memiliki banyak variasi kecerdasan (multiple intelligence) seperti yang dikemukakan Howard Gardner.

1. Stimulasi kecerdasan linguistik: mengajak bernyanyi/bicara, membacakan cerita, mengajak bermain, memanggil nama, dll.

2. Stimulasi kecerdasan naturalis: mengajak bermain di pantai/pegunungan, berjalan di rumput, memelihara ikan atau binatang, memelihara tanaman di rumah.

3. Stimulasi kecerdasan logika matematika: mengajak bernyanyi bertema angka, menghitung mainan yang dimiliki, dll.

4. Stimulasi kecerdasan interpersonal: bermain bersama dengan anak lain yang lebih muda/tua dari si anak, berbagi/sharing, bersalaman dengan orang lain (usia 9-12 bulan), mengenalkan orang baru.

5. Stimulasi kecerdasan intrapersonal: mengajak bayi tersenyum, menjauhkan diri dari kata kasar dan sifat emosional di depan bayi, menceritakan perasaan kita kepada anak.

6. Stimulasi kecerdasan visual spatial: menggantung atau menggerakan benda berwarna mencolok seperti lingkaran atau benda kotak atau benda berbunyi.

7. Stimulasi kecerdasan kinestetik: merangsang anak merangkak (6-8 bulan), lalu duduk dan berlatih berdiri sambil berpegangan, memasukkan mainan ke wadah, minum dari gelas, melatih berjalan (9-12 bulan).

8. Stimulasi kecerdasan musikal: memainkan alat musik, bernyanyi, mendengarkan musik.

Disarankan
Stimulasi dilakukan setiap hari dalam suasana yang senang dan bahagia, serta disesuaikan dengan usia anak.

sumber: ayahbunda.co.id
Kemen PPPA Carikan Pengasuh untuk Anak Yatim Piatu Korban Covid19
19 August 2021
Kemen PPPA Carikan Pengasuh untuk Anak Yatim Piatu Korban Covid-19
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menekankan pentingnya perlindungan bagi anak-anak yang menjadi yatim piatu yang orangtuanya meninggal dunia setelah terpapar Covid-19.

Para anak yatim piatu menjadi tanggung jawab Kemen PPPA untuk memastikan agar mereka tetap mendapat hak salah satunya pendidikan, juga memberikan perlindungan khusus anak. Oleh sebab itu, diperlukannya peran pengasuh pengganti bagi anak-anak tersebut.

"Tujuannya agar proses belajar mengajar anak masih tetap bisa dilakukan,” kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA Lenny Rosalin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/8/2021).

Bekerjasama dengan berbagai pihak terkait dan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemen PPPA turut berperan dan mencari pengasuh pengganti tersebut.

Lenny mengungkapkan, saat ini jumlah anak-anak yang terpisah dengan orangtua yang meninggal atau sakit di masa pandemi Covid-19 makin bertambah.

Kondisi itu tentunya berdampak besar bagi anak, tidak hanya proses belajar yang terganggu tetapi juga mentalnya.

Di samping memastikan hak anak atas pendidikan, pemantauan kondisi psikis juga dilakukan.

“Kita bekerja sama dengan para psikolog untuk melakukan healing agar anak tidak terganggu psikisnya. Untuk memastikan bahwa secara jiwanya anak tetap sehat, tidak terganggu meskipun di hari-hari awalnya memang sulit bagi anak-anak kita," ujarnya.

Anak-anak yang terdampak itu dikumpulkan untuk belajar bersama. Lenny menegaskan bahwa yang paling penting anak-anak tersebut jangan sampai meninggalkan pendidikannya.

Menurutnya, peran sentral orangtua dalam pengasuhan kini bertambah untuk mendampingi anak dalam proses belajar formal tersebut. Orangtua, pengasuh, maupun berbagai pihak lain juga harus bekerjasama dalam berperan memastikan pendidikan anak tidak terhambat.

Menurut Lenny, salah satu kunci untuk menghadapi tantangan dalam pendidikan selama pandemi adalah dengan kehadiran inovasi.

“Inovasi sangat dibutuhkan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki sarana terbatas. Jadi tidak selalu tergantung oleh pemerintah (pusat). Di beberapa daerah, Pemda banyak yang melakukan inisiatif."

"Misalnya, membuka Kantor Kepala Desa untuk anak-anak yang tidak memiliki perangkat atau media untuk belajar. Kami mengapresiasi hal ini sehingga anak-anak dapat belajar bersama-sama di sana. Kita perlu mendorong (inovasi) dan siapapun dapat melakukannya terutama di masa yang sulit ini,” tuturnya.

sumber: suara.com
Anak yang Mandiri Anak yang Merdeka
17 August 2021
Anak yang Mandiri, Anak yang Merdeka
foto: ilustrasi (shutterstock)

itoday - Kita semua sepakat, ingin membesarkan anak yang mandiri. Di dalam kemandirian itu terdapat rasa percaya diri mampu melakukan segala hal tanpa dibantu, dan bebas dari rasa takut.

Anak-anak yang mandiri punya keterampilan yang memadai untuk menolong dirinya sendiri. Artinya, Anda membekalinya dengan keyakinan bahwa mereka bisa. Bukannya menakut-nakuti, atau meragukan kemampuannya.

Anak yang mandiri adalah anak yang merdeka. Anak yang meredeka adalah anak yang terbebas dari ketidakbisaan dan bebas dari rasa tidak dipercaya.

Ciri-ciri anak mandiri

“Aku bisa sendiri!” Bunda ingat, kapan anak pertama kali mengatakan itu, kemudian merebut sendok dari tangan Bunda karena ia tak ingin disuapi.
Umur 9 bulan ketika bayi sudah bisa memasukkan benda-benda ke dalam mulut, adalah waktunya anak didorong untuk mencoba makan sendiri.

Respon yang dia inginkan:
“Baik, mari kita coba. Bunda pegang mangkoknya, kamu ambil potongan buahnya, dan makan sendiri.” Anda memberinya harga diri yang positif karena tidak memperlakukannya seperti bayi.

“Wah, banyak sekali mainanku….”
Begitu anak bisa berjalan sambil kedua tangannya memegang benda, saatnya anak diajak menyimpan kembali mainannya. Di usia 2 tahun anak sudah lebih mahir melakukannya.

Respon yang dia inginkan:
“Yuk, kita simpan mainannya. Ini keranjang robot, ini keranjang mobil, ini keranjang balok, ini keranjang boneka. Kita sama-sama masukkan ke dalam keranjang. Satu…dua…tiga!” Anda mengajarnya klasifikasi, yang akan mempermudah hidupnya kelak.

“Kubawa mainanku, boleh?”
Anak-anak senang membawa mainannya saat bepergian. Ia tidak mau lagi mainannya disimpan di dalam tas bunda. Karena saat di dalam mobil dalam perjalanan, ia langsung dapat memainkan mainannya tanpa menunggu bunda.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh. Ini tasmu, masukin mainanmu, lalu bawa sendiri. Tas bunda nggak muat.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa dia cukup besar untuk membawa barangnya.

“Nggak mau itu, ini aja!”
Anak Anda mulai menolak stelan baju yang Anda siapkan. Sadar akan warna meski belum tahu namanya, ia membuat stelan sendiri, atau memilih baju dari keranjang cucian yang baru diangkat dari jemuran. Maunya itu lagi, itu lagi.

Respon yang dia inginkan:
“Baju itu memang bagus sih. Tapi kalau dicuci, pakai, cuci, pakai, nanti cepat rusak. Kamu boleh kok, pilih sendiri yang lain. Bajumu bagus-bagus.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa pilihannya dihargai dan kesempatan menentukan diri sendiri.

“Aku bukan dedek-dedek, nggak mau pakai diaper ya…”
Saat dia mulai masuk PAUD, dia sadar bahwa teman-temannya sudah tidak pakai diaper. Umur 3 tahun biasanya anak merasa risih kalau harus pipis dengan cara ngompol.

Respon yang dia inginkan:
“Betul, memang kamu sudah jadi anak besar. Tapi bawa celana di tasmu ya, buat ganti kalau basah ketumpahan minum.” Anda memberinya keyakinan bahwa dia bisa tidak ngompol. Kalau ternyata gagal, “Nggak apa-apa. Besok pasti bisa.”

“Roda bantunya dilepas aja…”
Usia 3 tahun anak sudah mencapai keseimbangan yang baik. Wajar kalau ia sudah paham prinsip mengemudi sambil mengayuh pedal sepedanya.

Respon yang dia inginkan:
“Bunda bisa lho, nglepas roda bantunya. Nggak perlu tunggu ayah, yuk kita lepas.” Anda memberinya rasa percaya bahwa skillnya bagus. Anda juga memberi contoh kemandirian Anda.

“Boleh bantu?”
Usia 4 tahun merasa diri sudah besar, merasa dapat melakukan banyak hal di rumah seperti mencuci piring, menyapu, menyiram tanaman, menyikat wastaffel, dan lain-lain.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh bantu siram tanaman pakai wadah air yang ini untuk tanaman di pot besar. Tanaman di pot yang kecil-kecil pakai sprayer. Terima kasih, sayang.” Menjadi anak besar adalah keinginan setiap anak. Mereka bosan menjadi anak kecil. Kalau dia terus-terusan bertanya, sabar adalah kuncinya. “Pot besar yang mana? Pot kecil yang mana? Ini pot besar apa kecil, Bunda? Oh, pot besar tanamannya besar ya Bun? Kalau pot besar disemprot pakai sprayer, memangnya kenapa?” Sabar, sabar, dan sabar.

“Aku mau main sepeda di lapangan sama teman-teman”
Anak usia 5 tahun sudah paham arti teman. Bagi anak usia 5 tahun, teman memberi banyak pengetahuan, pengalaman, sekaligus sebagai competitor.

Respon yang dia inginkan:
“Ya, mainlah. Nanti dijemput mbak kalau waktunya mandi. Kalau jatuh jangan nangis, ya. Kalau luka langsung pulang, cuci lukanya dan diobati.” Anda menghargai teman-temannya, membantunya belajar mengenali orang lain. Anda juga mendorongnya untuk menjaga diri.

sumber: Imma Rachmani (ayahbunda.co.id)
Cara Mengatasi Stres pada Anak Sesuai Usia
25 July 2021
Cara Mengatasi Stres pada Anak Sesuai Usia
foto: ilustrasi (cnnindonesia)

itoday - Masa pandemi tak pelak membuat banyak orang stres, tak terkecuali anak dan remaja. Tak ada aktivitas pergi ke sekolah, tak ada agenda berlibur, atau bermain bersama teman-teman rentan membuat anak stres.

"Anak-anak di segala usia sedang mengalami masa sulit. Tiap orang dewasa, jika Anda perhatikan, merasa cemas yang kini meningkat. Dan anak-anak merasakannya," kata psikolog perkembangan dan klinis, Nancy S. Molitor, mengutip dari Healthline.

Respons stres pada anak bakal berbeda tiap tahapan usia. Lihat kondisi anak dan terapkan solusi sesuai usia agar anak lebih tenang.

1. Anak 4-7 tahun
Regresi atau perilaku mundur menjadi salah satu tanda stres pada anak-anak usia 4-7 tahun. Regresi menjadi respons anak terhadap situasi.

Lebih jelas, regresi merupakan perilaku yang tak sesuai dengan usia. Misal, anak berusia 4 tahun bisa kembali mengompol seperti yang kerap mereka lakukan pada usia 2 tahun.

Selain itu, Molitor melanjutkan, anak juga akan terlihat lebih cemas dari biasanya. "Mereka [anak] mungkin lebih takut dan cemas dari biasanya. Mereka juga akan merasa cemas saat jauh dari Anda," jelasnya.

Gejala-gejala tersebut menjadi normal terjadi pada anak di tengah masa pandemi. Hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua adalah tetap patuh pada jadwal atau rutinitas.

2. Anak 7-10 tahun

Masuk usia 7 tahun ke atas, anak lebih bisa sadar akan situasi sekarang. "Mereka mungkin sangat ketakutan, tak hanya soal kesehatan mereka tetapi untuk kesehatan seluruh anggota keluarga," kata terapis anak, Katie Lear.

Menurutnya, kekhawatiran atau kecemasan ini bisa diluapkan lewat amarah yang membuat anak-anak cepat marah. Mereka perlu informasi yang bisa diterima sesuai usia, mulai dari penularan dan bagaimana cara melindungi diri mereka.

"Anda bisa membuka obrolan tentang pandemi bersama anak dengan bertanya pada anak tentang apa yang mereka dengar soal virus corona. Anda mungkin terkejut saat mendengar rumor dan informasi salah yang tersebar di kalangan anak-anak," jelas Lear.

Selain itu, orang tua juga penting untuk mengingatkan pentingnya menjaga jarak fisik, mencuci tangan, dan memakai masker. Terangkan bahwa segala aturan itu tak hanya dilakukan untuk melindungi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

3. Anak 10-13 tahun

Anak usia 10-13 tahun menjadi kelompok yang mendapatkan beban besar dari konsep sekolah daring. Anak harus mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak dengan sedikit bimbingan dari guru. Anak-anak yang umumnya termotivasi untuk berprestasi di sekolah akan kesulitan untuk mengarahkan diri dan membagi waktu.

"Ini dapat mengakibatkan penurunan nilai dan bertengkar dengan orang tua ketika saatnya masuk ke kelas atau menyelesaikan pekerjaan rumah," kata Lear.

Membantu anak usia 10-13 tahun, lanjut Lear, sama dengan menjaga ekspektasi tetap realistis. Orang tua perlu mengapresiasi apa yang telah dilakukan anak untuk berusaha belajar dengan baik.

4. Anak 13-17 tahun

Masa sekolah menengah tampaknya tak lagi mengesankan saat pandemi. Molitor mengatakan, pada usia ini, anak akan mengalami banyak kehilangan. Mereka juga terputus dengan teman sebaya yang berpotensi memengaruhi perkembangan masa remaja.

"Apa yang saya dengar dari banyak orang tua adalah anak-anak merespons dengan kecenderungan mudah marah, tidur sepanjang hari, dan begadang sampai larut," kata Molitor.

Remaja juga disebut rentan mengalami depresi dan perasaan putus asa. Untuk mengatasinya, Lear menyarankan agar orang tua mencermati betul perubahan besar pada tingkah laku anak yang bisa menjadi tanda awal depresi, seperti menarik diri dari keluarga, mengisolasi diri di kamar, dan perubahan kebiasaan makan juga tidur.

Dia menyarankan agar orang tua membantu anak untuk tetap terhubung dengan teman-temannya secara daring. Orang tua harus bisa menyadari anak bahwa mereka masih memiliki masa depan dan masa sulit ini tak akan berlangsung selamanya.

sumber: cnnindonesia
Mengenal Money Parenting yang Penting Diterapkan kepada Anak
22 July 2021
Mengenal Money Parenting yang Penting Diterapkan kepada Anak
foto: ilustrasi (ist)

itoday - Uang merupakan alat transaksi yang sangat penting untuk menujang kehidupan hari ini dan masa depan. Dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik, maka kebutuhan kita tetap dapat terpenuhi meskipun pemasukan mulai menipis.

Tidak hanya penting diketahui oleh orang dewasa, hal-hal dasar tentang keuangan pun penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Oleh sebab itu, menjadi sebuah keputusan yang baik jika orang tua menerapkan money parenting kepada anak-anak mereka.

Apa itu money parenting? Money parenting adalah proses mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab finansial dan sosial yang berkaitan dengan uang. Money parenting dilakukan untuk mewariskan tentang bagaimana para orang tua menyikapi keuangan kepada anak-anak mereka.

Dengan mengajarkan cara pengelolaan uang kepada anak sedini mungkin maka diharapkan anak bisa merasakan manfaatnya ketika beranjak dewasa yang mana permasalahan keuangan di fase dewasa jauh lebih kompleks.

Lalu, langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menerapkan money parenting pada anak? Simak tipsnya sebagai berikut:

Mulailah Sesegera Mungkin

Untuk menerapkan money parenting, maka mulailah secepat mungkin. Berdasarkan sebuah penelitian, usia anak yang tepat untuk mulai dikenalkan money parenting adalah ketika anak menginjak 3 tahun. Kemudian, Moms dapat mengajarkan anak tentang pentingnya kebiasan belanja yang baik ketika anak memasuki usia 4 atau 5 tahun.

Nah, pada saat anak telah berusia 7 tahun, maka Moms dapat mengenalkan kepada anak tentang pentingnya menabung.

Bimbing dengan Menunjukkan Contoh

Perilaku orang tua di hadapan anak besar kemungkinan akan dijadikan sebagai contoh oleh mereka. Maka dari itu, ketika Moms memiliki penghasilan yang besar, Moms tidak boleh menikmatinya secara berlebih-lebihan. Karena hal tersebut dapat memicu anak untuk melakukan hal yang sama.

Berikanlah contoh yang baik dan benar dalam menggunakan uang kepada anak. Moms dapat mengajarkan kepada anak tentang bagaimana cara menjaga pengeluaran agar tetap terkendali. Tunjukkan juga cara memanfaatkan uang yang tepat misalnya menggunakan uang untuk membayar tagihan secara tepat waktu.

Mulai dari Hal-Hal Kecil

Tips ini dapat Moms terapkan dengan memberikan uang saku yang sedikit untuk anak.

Mungkin akan terkesan sebagai orang tua yang pelit, namun hal ini ternyata memiliki dampak positif. Dengan begitu, anak-anak akan mengerti caranya memahami batasan dan menghargai hal-hal yang mereka punya sekali pun itu kecil.

Ajarkan Anak tentang Pentingnya Bekerja untuk Menghasilkan Uang

Agar anak-anak tidak kaget ketika sudah memasuki dunia pekerjaan di masa depan, maka Moms perlu mengajarkan mereka tentang itu sedini mungkin.

Moms dapat meminta anak untuk melakukan pekerjaan kecil di rumah terlebih dahulu jika ingin mendapatkan uang. Moms bisa menyuruh mereka untuk membereskan mainan atau merapikan kamar dan memberikan mereka imbalan uang setelah anak-anak berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

Selain akan membuat anak termotivasi, hal tersebut juga dapat menghilangkan fantasi polos anak-anak tentang uang yang bisa jatuh dari langit.

Bimbing Mereka untuk Menabung

Tips money parenting terakhir yang bisa Moms lakukan adalah dengan membantu mereka untuk mulai menabung.

Moms bisa membelikan celengan lucu dan mengajarkan kepada anak bagaimana cara mengumpulkan uang di dalam celengan. Ajak anak untuk menyetorkan uang ke celengan sesering mungkin.

Ketika memasuki sekolah dasar, Moms bisa membuatkan mereka rekening tabungan sekaligus menunjukkan seperti apa cara kerjanya.

Tak perlu ragu untuk menerapkan money parenting kepada anak-anak mulai dari sekarang ya Moms!

sumber: momsmoney.id
Jangan Berharap Anak Selalu Nurut pada Orang Tua
19 July 2021
Jangan Berharap Anak Selalu Nurut pada Orang Tua
foto: ilustrasi (ist)

itoday - Kebanyakan orang tua merasa bangga dan senang jika anaknya selalu menurut. Hal ini karena mengasuh anak penurut itu dinilai lebih mudah. Apapun perintah atau perkataan orang tua selalu didengar dan dipatuhi tanpa dibantah.

Dengan memiliki anak yang penurut, kita sebagai orang tua tidak perlu banyak usaha. Cukup sekali memberi instruksi, anak langsung mengiyakan, sehingga orang tua bisa menghemat tenaga, sebab tak perlu menyuruh anak berulang kali.

Kedengarannya menyenangkan, ya, kalau punya anak penurut. Jadi terbayang kondisi rumah bebas drama, tidak ada teriakan, tidak ada adu mulut karena anak nurut saja apa kata orang tua.

Namun kalau menurut ahli, tampaknya orang tua jangan bangga dulu kalau punya anak penurut. Meski tugas pengasuhan terasa mudah, tetapi menjadi penurut itu bukan hal yang baik untuk perkembangan kepribadian anak.

Anak-anak yang terbiasa menjadi penurut, dikatakan cenderung tidak bisa membela dirinya dan kurang bertanggung jawab atas tindakan mereka. Hal ini karena anak yang penurut hanya tahu bagaimana mematuhi perintah. Ketika ia kemudian berhadapan dengan situasi yang membuatnya harus membuat keputusan sendiri, dia pun menjadi bingung.

"Anak-anak yang penurut akan tumbuh menjadi orang dewasa yang penurut juga. Mereka cenderung tidak bisa membela diri mereka sendiri, sehingga lebih mungkin dimanfaatkan. Mereka juga hanya mampu mengikuti perintah tanpa bertanya, dan tanpa bisa bertanggung jawab atas tindakan mereka," kata Dr. Laura Markham, seorang psikolog klinis dari Universitas Columbia, Amerika Serikat, seperti dikutip dari wowparenting.

Beberapa kerugian atau kelemahan yang berpotensi dialami anak jika menjadi penurut:

- Tidak mampu membuat keputusan yang mandiri saat dibutuhkan.

- Selalu bergantung pada instruksi orang tua ketika menghadapi masalah sekecil apa pun.

- Mengalami tekanan teman sebaya, karena cenderung tidak tahu bagaimana menangani situasi tanpa kehadiran orang tua.

- Tidak dapat mengekspresikan diri dan keinginannya dengan bebas, karena takut tidak disayang lagi kalau membantah.

- Tidak punya inisiatif dan kemungkinan ketika sudah dewasa hanya mendengarkan dan menerima perintah dari atasannya.

Yang perlu digarisbawahi adalah konteks terkait kepatuhan anak. Memang, setiap orang tua tentu ingin anak selalu patuh pada perkataan orang tua karena merasa kepatuhan ini adalah standar keberhasilan dalam mengasuh dan mendidik anak.

Namun, jangan berekspektasi anak akan menjadi penurut sepenuhnya. Membantah, memberontak itu juga merupakan hal yang lumrah.

Melalui itu, anak berupaya untuk menyuarakan keinginannya, dan ia butuh didengarkan oleh orang tuanya. Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan dihargai kemauannya.

Kita tidak harus menjadi orang tua yang membiarkan anak membantah terus-terusan atau sebaliknya patuh melulu. Yang terbaik adalah menjadi orang tua yang kooperatif mendengarkan keinginan anak, serta menghargai pendapat anak.

Izinkan anak mencari solusi dari kesulitan yang ia hadapi, tanpa Anda mengintervensi setiap perbuatannya.

sumber: ayahbunda