Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Studi Iklan Rokok Masih Targetkan AnakAnak
25 August 2021
Studi: Iklan Rokok Masih Targetkan Anak-Anak
foto: ilustrasi Kawasan Dilarang Merokok (republika)


itoday - Lentera Anak melakukan penelitian terkait iklan rokok terhadap 533 responden anak secara daring, 180 diantaranya dilakukan secara langsung. Program Manager Yayasan Lentera Anak, Nahla Jovial Nisa mengatakan terdapat hubungan antara rokok yang diiklankan dan yang dibeli anak.

"Ada hubungan antara rokok yang dipilih dengan iklan yang diingat. Hasil uji statistik membuktikan adanya hubungan bermakna antara merk rokok dan dipilih dengan industri yang mengeluarkan rokok yang diingat," kata Nahla, dalam webinar yang diselenggarakan oleh Lentera Anak, Selasa (24/8).

Berdasarkan survei yang dilakukan, 64 persen anak adalah pelajar di sekolah. Nahla mengatakan, dirinya juga bertanya mengenai slogan-slogan yang berhubungan dengan rokok kepada para respondennya. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa banyak rokok yang dibeli responden karena terpengaruh iklan.

Hampir 100 persen responden, atau 99,4 persen pernah melihat iklan rokok. Persentase iklan rokok yang paling banyak dilihat responden, sejalan dengan merk rokok yang dikonsumsi oleh mereka.

Berdasarkan penelitian ini, Nahla mengatakan saat ini anak-anak Indonesia masih ditargetkan melalui iklan rokok. "Ternyata, banyak anak-anak memilih merk rokok dari satu industri, dimana industri itu juga mendanai, memberikan CSR untuk penghapusan pekerja anak," kata dia.

Hasil kajian ini merekomendasikan perlunya sinergi pemerintah, lembaga non-pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional untuk menghentikan eksploitasi industri rokok. Khususnya segala kegiatan yang menargetkan anak-anak, seperti iklan, promosi, dan sponsor rokok.

sumber: republika.co.id
Orangtua Perlu Waspada Baby Walker Bisa Mengancam Keselamatan Anak
24 August 2021
Orangtua Perlu Waspada, Baby Walker Bisa Mengancam Keselamatan Anak
foto: ilustrasi baby walker (ist)


itoday - Masing-masing anak memiliki waktu yang berbeda untuk akhirnya mulai bisa berjalan. Umumnya, bayi bisa berjalan saat berusia 12-18 bulan.

Tak jarang orangtua menggunakan alat bantu jalan seperti baby walker. Ini adalah jenis perlengkapan bayi yang memiliki rangka beroda dengan kursi yang di bagian tengah, terkadang dengan ikat pinggang untuk menjaga bayi tetap di tempatnya, yang memungkinkan bayi mencoba berjalan menggunakan kaki mereka.

Meski dipercaya dapat membantu bayi berjalan, namun penggunaan baby walker ini sangat tidak direkomendasikan oleh ahli.

Dilansir dari Boldsky, para ahli menganggap bahwa baby walker adalah salah satu perlengkapan bayi terkenal yang telah mengakibatkan beberapa masalah terkait bahaya kesehatan dan keselamatan pada anak-anak.

Baby walker cenderung menyeret bayi untuk berjalan, meskipun mereka belum sepenuhnya siap untuk melakukannya. Karena bayi tidak memiliki kendali penuh atas langkah kakinya, saat berada di baby walker, kemungkinan mereka menabrak benda berbahaya sangat tinggi.

Bayi dengan alat bantu jalan seperti ini tinggi kemungkinannya jatuh dari tangga, patah tulang atau mengalami cedera fisik.

Jika Anda sebagai orangtua bersikeras untuk menggunakan alat bantu jalan, gunakan alat bantu jalan yang tidak akan menghalangi perkembangan anak. Seperti alat bantu jalan yang dirancang dengan cara di mana seorang anak dapat memegangnya dari belakang dan mendorongnya sambil berjalan, ini yang akan dapat dilakukan oleh seorang anak ketika dia dapat berdiri di atas kakinya dan sudah siap untuk berjalan.

Namun, pastikan bahwa orang dewasa selalu mengawasi anak Anda apa pun jenis perlengkapan bayi yang digunakan.

Sebagai orangtua, tugas yang paling utama adalah menjaga bayi tetap aman. Jadi, sangat disarankan agar orangtua berhenti membeli baby walker, terlepas dari seberapa canggih atau mahal alat tersebut.

Biarkan bayi mencapai tonggak perjalanannya saat dia siap. Jangan mencoba memaksa mereka berjalan dengan menggunakan baby walker.

sumber: suara.com
4 Cara Asuh Orang Tua yang Malah Menghambat Kreativitas Anak Hindari
23 August 2021
4 Cara Asuh Orang Tua yang Malah Menghambat Kreativitas Anak, Hindari!
foto: Ilustrasi (suara.com)


itoday - Kreativitas sangatlah penting, apalagi kalau sudah terjun ke dunia kerja. Orang yang kreatif, sangat dicari perusahaan karena biasanya berorientasi pada solusi. Dan kreativitas ini bisa dilatih sejak dini.

Sayangnya, justru karena cara asuh orang tua yang salah, bisa mematikan atau menghambat kreativitas anak, sehingga ketika dia besar, sulit untuk mengambil inisiatif. Karena itu, yuk, hindari beberapa cara asuh salah berikut ini!

1. Berlebihan memuji anak

Memuji anak bisa mendongkrak rasa percaya dirinya. Akan tetapi jika diberikan dalam porsi berlebihan, justru malah bisa mematikan kreativitas anak.

Anak jadinya hanya akan terdorong melakukan sesuatu jika dipuji. Dan mereka jadi berorientasi pada hasil, tapi gak menghargai proses usahanya.

2. Otoriter

Pengasuhan orang tua yang otoriter, juga bisa mematikan kreativitas anak. Anak terbiasa disuruh-suruh atau selalu menuruti keinginan orang tuanya, sehingga tak terlatih untuk mengandalkan daya pikirnya sendiri.

Cobalah untuk lebih memberi kebebasan pada anak. Biarkan dia memilih, dan jelaskan konsekuensi dari masing-masing pilihannya. Pengasuhan demikian, akan melatih anak untuk berpikir, mana yang kira-kira paling baik untuk dirinya.

3. Menuntut anak untuk sempurna

Hati-hati, lho, kendati maksudmu baik, supaya anak berprestasi, tapi menuntut hasil yang sempurna dari anak, malah bisa membuat mereka tertekan. Anak jadi takut untuk bereksplorasi atau mencoba-coba, karena orang tuanya selalu menuntut hasil yang bagus.

Hal tersebut membuat anak jadi gak kreatif. Selalu bermain di sisi aman saja.

4. Selalu menolak permintaan anak

Selalu mengiyakan permintaan anak memang gak baik. Anak jadi manja dan tak bisa memaknai hasil usaha atau kerja keras.

Akan tetapi, selalu menolak permintaan anak, ataupun ide-idenya, bisa mematikan kreativitas anak. Anak jadi malas berpikir, karena hasil pemikirannya selalu dibantah oleh orang tua. Akhirnya sikap ini terbawa sampai dia besar. Malas mikir!

Semua orang tua memang ingin memilih yang terbaik untuk anaknya. Sayangnya, sifat orang tua yang begitu menuntut anak, malah akan menjerumuskan anak jadi gak kreatif. Untuk itu, sebagai orang tua yang baik, hendaknya lebih bijak lagi dalam bersikap, agar tak sampai membawa pengaruh buruk bagi anak.

sumber: riva khodijah (suara)
Perkembangan Kognitif vs Kecerdasan Anak
20 August 2021
Perkembangan Kognitif vs Kecerdasan Anak
foto: ilustrasi (ayahbunda)


itoday - Dalam acara Jumpa Pakar Ayahbunda & Philips Avent, Psikolog RSIA Grand Family Ellen Susila, M.Psi., menjelaskan, tiap anak membutuhkan stimulasi yang berbeda yang sesuai usianya agar kemampuan kognitif dan kecerdasan otaknya bisa meningkat dengan optimal.

Kognitif

Sebelum melangkah lebih jauh, sebenarnya apa itu perkembangan kognitif? Kognitif , dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berhubungan dengan atau melibatkan kognisi; berdasar kepada pengetahuan faktual yang empiris.

Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), dan evaluasi (evaluation). Seperti yang dijelaskan Jean Piaget (1896-1980), psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori ini, teori kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan atau mempresentasikan kemampuan rasional (akal) berdasarkan kenyataan.

merujuk pada Piaget, Ellen mengemukakan empat (4) tahapan perkembangan kognitif. Di antaranya adalah:

Tahap Sensomotorik (0-2 Tahun)
- Terbatas pada kemampuan gerak motorik dan panca indera.
- Keinginan memegang barang dan menyentuh.
- Mengeksplorasi sekitar.

Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
- Menjadi egosentris (menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran).
- Mulai meniru orang-orang di sekitarnya.
- Belum mampu berpikir abstrak.

Tahap Operasional Konkrit (7-11 Tahun)
- Egosentris mulai menghilang (mulai melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain).
- Mulai berkelompok dan senang bekerjasama.
- Mampu berpikir sistematis.
- Memiliki motivasi.

Tahap Operasional Formal (11-15 Tahun)
- Kemampuan berpikir lebih tinggi.
- Mampu menganalisa dan berpikir abstrak.
- Problem solving baik.

Kecerdasan

Kecerdasan adalah kapasitas seseorang untuk belajar dan menguasai pengetahuan dan untuk memahami konsep serta suatu hubungan tertentu.

Ada dua (2) faktor yang memengaruhi kecerdasan. Yaitu genetik dan lingkungan.

Kecerdasan yang dipengaruhi lingkungan bisa dikembangkan melalui stimulasi:

1. Kebutuhan fisik-biologis (gizi/nutrisi) untuk pertumbuhan otak.

2. Kebutuhan emosi (kasih sayang) untuk kecerdasan emosi. Yakni dengan mengajak anak berbicara dan bernyanyi, menggendong, memeluk, bermain cilukba/menyembunyikan mainan.

Stimulasi ini penting dilakukan, karena sel otak sudah dibentuk sejak janin berada di dalam kandungan (usia kehamilan 3-4 bulan) dan sistem sel antar otak mulai bekerja maksimal sejak usia janin 6 bulan hingga anak berusia 3 tahun. Itulah mengapa, ibu hamil juga harus mengajak janinnya mengobrol sejak masih dalam kandungan.

Saat anak berada di usia sekolah dan remaja, hubungan antar sel di otak akan semakin kompleks dan pertumbuhannya pun semakin melambat. Stimulasi yang dilakukan pun harus lebih beragam, yaitu dengan memberikan stimulasi variatif (stimulasi dari lingkungan yang bervariasi) agar anak memiliki banyak variasi kecerdasan (multiple intelligence) seperti yang dikemukakan Howard Gardner.

1. Stimulasi kecerdasan linguistik: mengajak bernyanyi/bicara, membacakan cerita, mengajak bermain, memanggil nama, dll.

2. Stimulasi kecerdasan naturalis: mengajak bermain di pantai/pegunungan, berjalan di rumput, memelihara ikan atau binatang, memelihara tanaman di rumah.

3. Stimulasi kecerdasan logika matematika: mengajak bernyanyi bertema angka, menghitung mainan yang dimiliki, dll.

4. Stimulasi kecerdasan interpersonal: bermain bersama dengan anak lain yang lebih muda/tua dari si anak, berbagi/sharing, bersalaman dengan orang lain (usia 9-12 bulan), mengenalkan orang baru.

5. Stimulasi kecerdasan intrapersonal: mengajak bayi tersenyum, menjauhkan diri dari kata kasar dan sifat emosional di depan bayi, menceritakan perasaan kita kepada anak.

6. Stimulasi kecerdasan visual spatial: menggantung atau menggerakan benda berwarna mencolok seperti lingkaran atau benda kotak atau benda berbunyi.

7. Stimulasi kecerdasan kinestetik: merangsang anak merangkak (6-8 bulan), lalu duduk dan berlatih berdiri sambil berpegangan, memasukkan mainan ke wadah, minum dari gelas, melatih berjalan (9-12 bulan).

8. Stimulasi kecerdasan musikal: memainkan alat musik, bernyanyi, mendengarkan musik.

Disarankan
Stimulasi dilakukan setiap hari dalam suasana yang senang dan bahagia, serta disesuaikan dengan usia anak.

sumber: ayahbunda.co.id
Kemen PPPA Carikan Pengasuh untuk Anak Yatim Piatu Korban Covid19
19 August 2021
Kemen PPPA Carikan Pengasuh untuk Anak Yatim Piatu Korban Covid-19
foto: ilustrasi (suara)


itoday - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menekankan pentingnya perlindungan bagi anak-anak yang menjadi yatim piatu yang orangtuanya meninggal dunia setelah terpapar Covid-19.

Para anak yatim piatu menjadi tanggung jawab Kemen PPPA untuk memastikan agar mereka tetap mendapat hak salah satunya pendidikan, juga memberikan perlindungan khusus anak. Oleh sebab itu, diperlukannya peran pengasuh pengganti bagi anak-anak tersebut.

"Tujuannya agar proses belajar mengajar anak masih tetap bisa dilakukan,” kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA Lenny Rosalin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/8/2021).

Bekerjasama dengan berbagai pihak terkait dan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemen PPPA turut berperan dan mencari pengasuh pengganti tersebut.

Lenny mengungkapkan, saat ini jumlah anak-anak yang terpisah dengan orangtua yang meninggal atau sakit di masa pandemi Covid-19 makin bertambah.

Kondisi itu tentunya berdampak besar bagi anak, tidak hanya proses belajar yang terganggu tetapi juga mentalnya.

Di samping memastikan hak anak atas pendidikan, pemantauan kondisi psikis juga dilakukan.

“Kita bekerja sama dengan para psikolog untuk melakukan healing agar anak tidak terganggu psikisnya. Untuk memastikan bahwa secara jiwanya anak tetap sehat, tidak terganggu meskipun di hari-hari awalnya memang sulit bagi anak-anak kita," ujarnya.

Anak-anak yang terdampak itu dikumpulkan untuk belajar bersama. Lenny menegaskan bahwa yang paling penting anak-anak tersebut jangan sampai meninggalkan pendidikannya.

Menurutnya, peran sentral orangtua dalam pengasuhan kini bertambah untuk mendampingi anak dalam proses belajar formal tersebut. Orangtua, pengasuh, maupun berbagai pihak lain juga harus bekerjasama dalam berperan memastikan pendidikan anak tidak terhambat.

Menurut Lenny, salah satu kunci untuk menghadapi tantangan dalam pendidikan selama pandemi adalah dengan kehadiran inovasi.

“Inovasi sangat dibutuhkan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki sarana terbatas. Jadi tidak selalu tergantung oleh pemerintah (pusat). Di beberapa daerah, Pemda banyak yang melakukan inisiatif."

"Misalnya, membuka Kantor Kepala Desa untuk anak-anak yang tidak memiliki perangkat atau media untuk belajar. Kami mengapresiasi hal ini sehingga anak-anak dapat belajar bersama-sama di sana. Kita perlu mendorong (inovasi) dan siapapun dapat melakukannya terutama di masa yang sulit ini,” tuturnya.

sumber: suara.com
Anak yang Mandiri Anak yang Merdeka
17 August 2021
Anak yang Mandiri, Anak yang Merdeka
foto: ilustrasi (shutterstock)

itoday - Kita semua sepakat, ingin membesarkan anak yang mandiri. Di dalam kemandirian itu terdapat rasa percaya diri mampu melakukan segala hal tanpa dibantu, dan bebas dari rasa takut.

Anak-anak yang mandiri punya keterampilan yang memadai untuk menolong dirinya sendiri. Artinya, Anda membekalinya dengan keyakinan bahwa mereka bisa. Bukannya menakut-nakuti, atau meragukan kemampuannya.

Anak yang mandiri adalah anak yang merdeka. Anak yang meredeka adalah anak yang terbebas dari ketidakbisaan dan bebas dari rasa tidak dipercaya.

Ciri-ciri anak mandiri

“Aku bisa sendiri!” Bunda ingat, kapan anak pertama kali mengatakan itu, kemudian merebut sendok dari tangan Bunda karena ia tak ingin disuapi.
Umur 9 bulan ketika bayi sudah bisa memasukkan benda-benda ke dalam mulut, adalah waktunya anak didorong untuk mencoba makan sendiri.

Respon yang dia inginkan:
“Baik, mari kita coba. Bunda pegang mangkoknya, kamu ambil potongan buahnya, dan makan sendiri.” Anda memberinya harga diri yang positif karena tidak memperlakukannya seperti bayi.

“Wah, banyak sekali mainanku….”
Begitu anak bisa berjalan sambil kedua tangannya memegang benda, saatnya anak diajak menyimpan kembali mainannya. Di usia 2 tahun anak sudah lebih mahir melakukannya.

Respon yang dia inginkan:
“Yuk, kita simpan mainannya. Ini keranjang robot, ini keranjang mobil, ini keranjang balok, ini keranjang boneka. Kita sama-sama masukkan ke dalam keranjang. Satu…dua…tiga!” Anda mengajarnya klasifikasi, yang akan mempermudah hidupnya kelak.

“Kubawa mainanku, boleh?”
Anak-anak senang membawa mainannya saat bepergian. Ia tidak mau lagi mainannya disimpan di dalam tas bunda. Karena saat di dalam mobil dalam perjalanan, ia langsung dapat memainkan mainannya tanpa menunggu bunda.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh. Ini tasmu, masukin mainanmu, lalu bawa sendiri. Tas bunda nggak muat.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa dia cukup besar untuk membawa barangnya.

“Nggak mau itu, ini aja!”
Anak Anda mulai menolak stelan baju yang Anda siapkan. Sadar akan warna meski belum tahu namanya, ia membuat stelan sendiri, atau memilih baju dari keranjang cucian yang baru diangkat dari jemuran. Maunya itu lagi, itu lagi.

Respon yang dia inginkan:
“Baju itu memang bagus sih. Tapi kalau dicuci, pakai, cuci, pakai, nanti cepat rusak. Kamu boleh kok, pilih sendiri yang lain. Bajumu bagus-bagus.” Anda memberinya rasa percaya diri bahwa pilihannya dihargai dan kesempatan menentukan diri sendiri.

“Aku bukan dedek-dedek, nggak mau pakai diaper ya…”
Saat dia mulai masuk PAUD, dia sadar bahwa teman-temannya sudah tidak pakai diaper. Umur 3 tahun biasanya anak merasa risih kalau harus pipis dengan cara ngompol.

Respon yang dia inginkan:
“Betul, memang kamu sudah jadi anak besar. Tapi bawa celana di tasmu ya, buat ganti kalau basah ketumpahan minum.” Anda memberinya keyakinan bahwa dia bisa tidak ngompol. Kalau ternyata gagal, “Nggak apa-apa. Besok pasti bisa.”

“Roda bantunya dilepas aja…”
Usia 3 tahun anak sudah mencapai keseimbangan yang baik. Wajar kalau ia sudah paham prinsip mengemudi sambil mengayuh pedal sepedanya.

Respon yang dia inginkan:
“Bunda bisa lho, nglepas roda bantunya. Nggak perlu tunggu ayah, yuk kita lepas.” Anda memberinya rasa percaya bahwa skillnya bagus. Anda juga memberi contoh kemandirian Anda.

“Boleh bantu?”
Usia 4 tahun merasa diri sudah besar, merasa dapat melakukan banyak hal di rumah seperti mencuci piring, menyapu, menyiram tanaman, menyikat wastaffel, dan lain-lain.

Respon yang dia inginkan:
“Boleh bantu siram tanaman pakai wadah air yang ini untuk tanaman di pot besar. Tanaman di pot yang kecil-kecil pakai sprayer. Terima kasih, sayang.” Menjadi anak besar adalah keinginan setiap anak. Mereka bosan menjadi anak kecil. Kalau dia terus-terusan bertanya, sabar adalah kuncinya. “Pot besar yang mana? Pot kecil yang mana? Ini pot besar apa kecil, Bunda? Oh, pot besar tanamannya besar ya Bun? Kalau pot besar disemprot pakai sprayer, memangnya kenapa?” Sabar, sabar, dan sabar.

“Aku mau main sepeda di lapangan sama teman-teman”
Anak usia 5 tahun sudah paham arti teman. Bagi anak usia 5 tahun, teman memberi banyak pengetahuan, pengalaman, sekaligus sebagai competitor.

Respon yang dia inginkan:
“Ya, mainlah. Nanti dijemput mbak kalau waktunya mandi. Kalau jatuh jangan nangis, ya. Kalau luka langsung pulang, cuci lukanya dan diobati.” Anda menghargai teman-temannya, membantunya belajar mengenali orang lain. Anda juga mendorongnya untuk menjaga diri.

sumber: Imma Rachmani (ayahbunda.co.id)