Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Kekhawatiran Terbesar Orang Tua Saat Anak Kembali ke Sekolah
24 November 2021
Kekhawatiran Terbesar Orang Tua Saat Anak Kembali ke Sekolah
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Banyak orang mungkin berpikir Covid-19 berpengaruh besar terhadap kesehatan mental anak pada masa pandemi. Akan tetapi, survei menunjukkan bahwa sekolah justru menjadi masalah terbesar yang memengaruhi kesehatan mental anak sepanjang 2021.

Hal ini diungkapkan oleh Parentkind melalui Parent Voice Report 2021. Laporan ini memuat bukti rinci baru mengenai pandangan orang tua terhadap kesehatan mental, sekolah, dan edukasi anak mereka.

Kekhawatiran orang tua mengenai kesehatan mental anak sempat menurun pada masa lockdown dan penutupan sekolah tatap muka. Akan tetapi, kekhawatiran ini kembali meningkat seperti sebelum pandemi setelah anak mulai kembali ke sekolah.

Ada lima kekhawatiran terbesar orang tua yang dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Lima kekhawatiran tersebut adalah stres terkait ujian sekolah (55 persen), gangguan kecemasan (54 persen), stres terkait PR dari sekolah (49 persen), perundungan (49 persen), dan tekanan yang membuat anak merasa harus selalu terlibat di media sosial (48 persen).

Masalah serupa bahkan ditemukan pada anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Menurut orang tua, 30 persen anak yang duduk di sekolah dasar mengalami stres akibat PR dari sekolah, 32 persen mengalami masalah kecemasan, dan 29 persen bergelut dengan perundungan.

"Parent Voice Report 2021 kami menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan merupakan prioritas utama bagi hampir 90 persen orang tua. Kesehatan mental bagi orang tua adalah area yang sangat penting untuk difokuskan oleh sekolah dan kurikulum," ujar CEO Parentkind John Jolly, seperti dilansir di Banbury Guardian.

Pentingnya kesehatan mental anak telah semakin disadari belakangan ini. Pandemi Covid-19 semakin membuat banyak orang menyoroti hal ini. "Sayangnya, sekolah itu sendiri tampak sebagai kontributor besar terhadap buruknya kesehatan mental anak, dan ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi ini," kata Jolly.

sumber: republika.co.id
Penting Ayah Harus Ajarkan Akhlak Sejak Anak Usia Dini
23 November 2021
Penting, Ayah Harus Ajarkan Akhlak Sejak Anak Usia Dini
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Akademisi dari UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muridan, mengingatkan pentingnya memberikan pendidikan akhlak bagi anak sejak usia dini. Dengan begitu, mereka nantinya terbiasa berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama.

"Penanaman akhlak sejak dini pada anak akan membantunya berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, agar dapat selamat baik di dunia maupun di akhirat," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dikutip Rabu (17/11).

Muridan mengatakan, Hari Ayah Nasional dapat menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan kembali peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak, termasuk dalam memberikan pendidikan akhlak. Ia menyebut, ayah adalah sosok yang luar biasa.

"Dalam konteks agama, posisi ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai pemimpin ayah dibebani tanggung jawab yang berat, yaitu melindungi, mendidik, dan mengajarkan akhlak yang baik terhadap anak-anaknya," kata Kepala Laboratorium Fakultas Dakwah Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto itu.

Muridan menjelaskan bahwa ayah berperan penting dalam mendidik dan mengawal perkembangan anak. Ia mengatakan, mendidik anak bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab ibu, tetapi menjadi tugas bersama ayah.

"Mengawal dan mendidik anak sebenarnya bukan hanya dilakukan saat anak telah terlahir ke dunia hingga dewasa, tetapi seharusnya telah dimulai sejak awal, saat anak masih dalam kandungan," katanya.

Muridan mengatakan bahwa mengawal pendidikan anak saat masih dalam kandungan memang lazim dilakukan oleh ibu. Akan tetapi, sebenarnya ayah juga dapat berperan.

"Tidak boleh sosok ayah membiarkan ibu berjuang sendirian, sementara ayah hanya mengambil peran sebagai pencari nafkah," katanya.

Saat kelahiran anak, menurut Muridan, sosok ayah memiliki peran tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Peran tersebut adalah mendidik dan mengawal perkembangan anak.

"Sosok ayah menjadi pelengkap atas apa yang telah dilakukan oleh ibu dan ayah harus dapat menjadi teladan yang baik bagi keluarga, khususnya anak-anak," tuturnya.

sumber: republika.co.id
Vaksinasi Covid19 Bareng Vaksin Dasar Imun Jadi Kewalahan
19 November 2021
Vaksinasi Covid-19 Bareng Vaksin Dasar, Imun Jadi Kewalahan?
foto: ilustrasi (kemdikbud)


itoday - Vaksin Covid-19 kini bisa diberikan untuk anak berusia 5-11 tahun. Vaksin Covid-19 bisa diberikan beriringan dengan vaksin-vaksin rutin lain yang mungkin dibutuhkan anak dalam kelompok usia tersebut.

"Anda tak akan membuat sistem imun kewalahan dengan vaksin-vaksin ini," ungkap spesialis penyakit menular anak dan kepala AAP Global Immunization Advocacy Project Dr Margaret Fisher, seperti dilansir ABC News, Kamis (18/11).

Vaksin-vaksin rutin untuk anak perlu dilakukan untuk mencegah beragam penyakit pada anak. Sebagian di antaranya adalah penyakit campak, pertussis (batuk rejan), polio, dan difteri. Di masa pandemi, tak sedikit anak yang melewatkan vaksin-vaksin rutin ini.

"Bila Anak-anak membutuhkan vaksin rutin, kita bisa memberikannya bersamaan (dengan vaksin Covid-19) dalam satu waktu, atau kita akan memprioritaskan vaksin Covid-19 dulu saat ini, (Covid-19) masih menjadi kondisi kedaruratan dunia," ungkap spesialis anak, dr Natasha Burgert.

Meski dapat diberikan bersamaan, spesialis anak dr Alok Patel mengatakan, sebagian orang tua lebih memilih untuk memberikan jarak antara pemberian vaksin Covid-19 dan vaksin rutin pada anak mereka. Alasannya, para orang tua tak ingin anak mereka merasa kesakitan karena harus disuntik beberapa kali dalam satu waktu atau mengalami beberapa gejala setelahnya.

"Dan saya memahami itu," ungkap dr Patel.

Akan tetapi, memberikan jarak antara vaksin Covid-19 dan vaksin rutin bukan tanpa risiko. Semakin lama jarak yang diberikan, risiko anak untuk terpapar penyakit yang bisa dilindungi oleh vaksin pun semakin lama.

"Tak ada manfaat, tak ada bukti bahwa memberikan vaksin-vaksin itu di waktu yang bersamaan akan meningkatkan kejadian merugikan. Dan ada kerugian karena Anda membiarkan anak Anda menjadi rentan," jelas dr Fisher.

Sebagai tambahan, dr Patel juga menekankan pentingnya memberikan perlindungan yang tepat untuk anak. Saat ini, salah satu hal yang paling dia rekomendasikan adalah memberikan vaksinasi Covid-19 lengkap untuk anak.

"Tapi pastikan juga anak mendapatkan perlindungan lengkap terhadap penyakit-penyakit lain yang bisa dicegah dengan vaksin," kata dr Patel.

Waktunya kejar ketertinggalan

Dokter spesialis anak Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan, pandemi Covid-19 membuat cakupan imunisasi rutin dasar lengkap, termasuk campak, turun. Vaksinasi anak terhambat di seluruh dunia, bukan cuma di Indonesia.

Padahal, ancaman campak belum hilang. Penyakit akibat infeksi virus rubeola itu bisa diatasi dengan vaksin karena termasuk dalam Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

"Semua negara juga bermasalah dalam cakupan vaksinasi campak, bahkan negara seperti Thailand, Bangladesh, sampai India sudah ada kasus (campak)," ujar dr Hinky saat dihubungi Republika.co.id, Senin (15/11).

Hinky meminta masyarakat untuk lengkapi vaksinasi rutin dasar lengkap anaknya sehingga terhindar dari penyakit yang bahaya dan sangat menular. Melandainya kasus Covid-19 saat ini dapat menjadi momen untuk mengejar ketertinggalan vaksinasi lain.

Sementara itu, Badan-Badan PBB dan Aliansi Vaksin GAVI telah mengingatkan bahwa sekitar 80 juta bayi di bawah satu tahun di seluruh dunia terancam menghadapi risiko penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti difteri, campak, dan polio. Itu terjadi karena pandemi Covid-19 memicu keterlambatan imunisasi rutin tersebut.

"Data menunjukkan bahwa penyediaan layanan imunisasi rutin secara substansial terhambat, setidaknya di 68 negara. Kemungkinan ini akan memengaruhi sekitar 80 juta anak di bawah usia satu tahun yang tinggal di negara-negara itu," ujar Organisasi Kesehatan Dunia, Unicef, dan GAVI dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan menjelang KTT Vaksin Global Juni.

Sebanyak 80 juta anak-anak ini terancam tidak mendapatkan imunisasi rutin karena pandemi Covid-19. Hal itu antara lain disebabkan karena adanya pembatasan perjalanan, keterlambatan pengiriman vaksin, keengganan di antara beberapa orang tua untuk meninggalkan rumah di tengah kekhawatiran terkena virus corona, dan kurangnya petugas kesehatan.

"Kita tidak bisa membiarkan perjuangan kita dalam melawan satu penyakit (Covid-19) mengorbankan kemajuan jangka panjang dalam perjuangan kita melawan penyakit lain (difteri, campak, dan polio)," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore.

Dilansir dari laman resmi WHO, Fore menyarankan agar setiap negara sesegera mungkin melanjutkan imunisasi rutin. Ia mengingatkan bahwa imunisasi penting untuk mencegahdifteri, campak, dan polio pada anak.

"Imunisasi ini harus dimulai kembali sesegera mungkin atau kita berisiko menukar satu wabah mematikan dengan yang lain," katanya.

sumber: republika.co.id
Duh Indonesia Ternyata Kekurangan Center Bedah Jantung Anak
10 November 2021
Duh, Indonesia Ternyata Kekurangan Center Bedah Jantung Anak
foto: ilustrasi (elementsenvato)


itoday - Fakta memprihatinkan diungkap Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Esti Nurajadin yang mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan center pelayanan bedah jantung anak.

Hal ini menyebabkan anak yang lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) sulit mendapatkan penanganan, apalagi jika kondisinya sudah sangat urgent, misalnya anak yang lahir dengan PJB biru.

"Di Indonesia, center-center yang bisa melakukan operasi jantung anak itu yang complicated biru tidak banyak di seluruh Indonesia," ujar Esti dalam acara peringatan 40 tahun YJI, Senin (8/11/2021).

Selama 4 dekade lamanya, Esti dan para pengurus YJI yang sudah membantu 2.175 anak dengan PJB, merasakan sulitnya mencari pusat pelayanan operasi jantung anak yang terbilang rumit.

Bahkan kata Esti, kebanyakan ia membawa anak-anak tersebut ke Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, yang dikenal sebagai RS Pusat Jantung Nasional, yang juga rumah sakit ibu dan anak.

Sedikitnya center pelayanan sakit jantung anak, pada akhirnya membuat waktu tunggu anak dengan PJB jadi lebih lama untuk mendapat tindakan.

Apalagi dalam proses administrasi penyaluran bantuan YJI bisa mencapai 2 tahun, sehingga jika center pelayanan sakit jantung anak ditambah, akan mempercepat proses administrasi dari sisi kepengurusan dokter dan rumah sakit.

"Beberapa anak, saat kami dalam proses mengurus pendanaan dan mengurus dokter dan rumah sakit, dan pada waktu kami panggil lagi, si anak ini ternyata sudah meninggal," tutur Esti.

Sedangkan proses menunggu 2 tahun untuk anak dengan PJB biru sudah sangat terlambat. Ini karena kondisi anak lahir biru, ditandai adanya sumbatan di peredaran darah jantungnya yang menyebabkan ia kesulitan bernapas, yang membuat kulitnya berwarna biru.

sumber: suara.com
Anak 611 Tahun Bakal Dapat Vaksin Covid19 Orangtua Jangan Lupa Siapkan NIK Anak
09 November 2021
Anak 6-11 Tahun Bakal Dapat Vaksin Covid-19, Orangtua Jangan Lupa Siapkan NIK Anak
foto: ilustrasi (ist)


itoday - Teknis pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun masih disusun oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Selama program vaksinasi belum dilaksanakan, Kemenkes meminta orangtua untuk memastikan anak telah memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa NIK menjadi syarat anak bisa mengikuti program vaksinasi Covid-19.

"Kita menggunakan sistem koordinasi satu data, di mana untuk catatan pelaporan kita membutuhkan nomor induk kependudukan. Jadi selama belum memulai proses vaksinasi, saat ini orangtua bisa cek kembali sudah tahu belum nomor NIK anak-anaknya yang berusia 6 sampai 11 tahun. Kalau belum tahu nomornya itu ada di kartu keluarga," kata Nadia saat webinar Satgas Penanganan Covid-19, Senin (8/11/2021).

Ia menambahkan, syarat administrasi agar anak bisa disuntik vaksin Covid-19 memang cukup membawa kartu keluarga. Tapi, jika anak belum memiliki NIK, Nadia menyarankan agar orangtua segera mengurusnya ke kecamatan atau kelurahan setempat.

Terkait tempat pelaksanaan vaksinasi, Nadia mengungkapkan, kemungkinan besar akan bekerja sama dengan sekolah. Sehingga, pelaksanaannya kemungkinan tidak jauh berbeda seperti program bulan imunisasi yang sebelumnya rutin dilakukan tiap tahun.

"Kalau vaksinasi dilakukan di sekolah biasanya anak-anak lebih berani. Karena melihat teman-temannya enggak menangis setelah disuntik, jadi akan lebih termotivasi dibandingkan mereka harus datang ke puskesmas atau rumah sakit," tambah Nadia.

Begitu pula dengan anak-anak disabilitas, pelaksanaan program vaksinasi akan bekerja sama dengan sekokah luar biasa atau SLB maupun komunitas. Sedangkan, untuk anak-anak yang tidak berada di bangku sekolah, Nadia menyampaikan, vaksinasi akan juga dilakukan bekerjasama dengan Dinas Sosial.

"Seperti untuk anak jalanan dan sebagainya. Jadi yang kita lakukan untuk bagaimana proses vaksinasi anak 6 sampai 11 tahun bisa kita lakukan sebaik mungkin," pungkasnya.

sumber: suara.com
Viral Poster Vaksin COVID19 pada Anak Bisa Bikin Stroke Ini Faktanya
05 November 2021
Viral Poster Vaksin COVID-19 pada Anak Bisa Bikin Stroke, Ini Faktanya
foto: ilustrasi (kontan)


itoday - Vaksinasi COVID-19 untuk anak sudah dimulai di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bunda perlu memahami tentang pemberian vaksin ini pada buah hati, termasuk waspada terhadap penyebaran hoax atau berita tidak benar ya.

Belum lama ini, viral unggahan di Facebook tentang efek samping vaksin COVID-19 pada anak. Dalam unggahan tersebut tertulis narasi yang dibuat seseorang dan menyebut bahwa penyakit stroke yang menyerang anak-anak adalah efek samping dari vaksin COVID-19.

Vaksinasi COVID-19 untuk anak sudah dimulai di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bunda perlu memahami tentang pemberian vaksin ini pada buah hati, termasuk waspada terhadap penyebaran hoax atau berita tidak benar ya.

Belum lama ini, viral unggahan di Facebook tentang efek samping vaksin COVID-19 pada anak. Dalam unggahan tersebut tertulis narasi yang dibuat seseorang dan menyebut bahwa penyakit stroke yang menyerang anak-anak adalah efek samping dari vaksin COVID-19.

Narasi tersebut dibuat berdasarkan iklan atau poster yang ada di bus, Bunda. Isi poster yakni, 'Anak-anak juga bisa terkena stroke. Ketahui tanda-tanda bahayanya'.

Unggahan yang kadung viral ini langsung menuai respons dari masyarakat. Melansir dari laman covid19.go.id, postingan viral ini sudah dipastikan hoax atau berita tidak benar ya, Bunda.

Poster itu memang dipasang oleh yayasan non-profit asal Kanada, Achieving Beyond Brain Injury (ABBI), pada bulan Mei 2021 lalu. Namun, poster dibuat dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran atas Stroke pada Anak, bukan terkait vaksin COVID-19.

"Hal ini menjadi perhatian untuk kami karena foto yang dibuat pada Mei 2021 untuk bulan Peduli Stroke pada Anak, telah diambil oleh beberapa orang atau kelompok dan dibagikan di media sosial. Isinya pun menyimpang dari tujuan yang dimaksudkan," kata pendiri ABBI, dikutip dari Reuters.

Bunda perlu tahu nih. Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 bisa menyebabkan stroke pada anak. Penyakit stroke memang bisa dialami anak-anak, namun penyebabnya beragam. Apa saja penyebabnya?

Tim peneliti dari Universitas Columbia dan Universitas Brown, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa penyakit stroke pada anak disebabkan oleh penyakit jantung, kondisi hematologis, gangguan sindrom, dan metabolisme. Sama seperti orang dewasa, stroke pada anak juga bisa mengancam nyawa lho.
Mengutip laman John Hopkins Medicine, stroke pada anak atau stroke pediatrik adalah kondisi langka yang mempengaruhi satu dari setiap 4.000 bayi baru lahir dan 2.000 anak yang usianya lebih tua setiap tahun.

Stroke pada anak-anak dapat mengancam nyawa dan memerlukan penanganan medis dengan cepat. Bunda perlu tahu, stroke termasuk dalam 10 besar penyebab kematian pada anak-anak.

Stroke bisa menyebabkan kecacatan neurologis, dengan risiko gangguan kognitif dan motorik permanen jangka panjang pada anak. Nah, berikut faktor risiko yang bisa menyebabkan stroke pada anak:

- Penyakit jantung
- Masalah di pembuluh darah yang memasok darah ke otak
- Gangguan pembekuan darah
- Penyakit sel sabit (sickle cell disease)

Stroke pada anak biasanya terjadi secara tiba-tiba. Berikut 6 tanda anak terkena stroke:

- Kelemahan atau mati rasa di satu sisi tubuh
- Bicara cadel atau kesulitan bicara
- Mengalami masalah keseimbangan dalam berjalan
- Mengalami masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan
- Merasa lesu atau kantuk secara tiba-tiba
- Mengalami kejang

Bila Si Kecil mengalami tanda di atas, segera bawa ke dokter ya, Bunda. Penanganan segera diperlukan pada anak yang terkena stroke.

sumber: haibunda.com

Terpopuler