Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Jangan Luput Pantau Gejala MIS-C Setelah Anak Sembuh dari Covid-19

Parenting
Jangan Luput Pantau Gejala MIS-C Setelah Anak Sembuh dari Covid-19 1
foto: ilustrasi (republika)


itoday - Ketua Satgas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Yogi Prawira mengingatkan agar orang tua menjaga anandanya agar tak sampai terkena Covid-19. Andaikan anak pernah terinfeksi, pantau kesehatannya hingga selesai masa akutnya.

"Jika memang sudah diketahui anak kena Covid-19, terus pantau selama tiga sampai enam pekan ke depan, ada gejala lain muncul tidak, jika ya mungkin sindrom peradangan multisistem pada anak (MIS-C)," kata dr Yogi dalam sebuah diskusi virtual, disimak di Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Dr Yogi menjelaskan, MIS-C sering terjadi pada anak-anak yang sehat-sehat saja ketika positif Covid-19. Mereka tidak bergejala atau gejala ringan saat itu.
Kondisi itulah yang dialami Cooper Hayton. Anak berusia 11 tahun dari Inggris tersebut sempat mengalami efek samping langka dari Covid-19.

Empat pekan setelah dites positif Covid-19, Hayton mengalami demam, berhenti makan, dan mengeluh sakit di tubuhnya. Demamnya berlanjut dan sekujur tubuhnya ruam.

Wajah Hayton menjadi bengkak ketika berjuang dengan sindrom peradangan multisistem. Bibirnya merah tua dan mata merah.

Hayton akhirnya pulih setelah mendapatkan antibiotik untuk tiga malam, imunoglobulin untuk satu malam, dan steroid selama tiga malam. Obat-obatan itu diberikan di rumah sakit untuk menekan sistem kekebalannya.

Persoalannya, anak-anak yang dirawat intensif dengan kondisi tersebut masih dapat mengalami kabut otak, kelelahan, dan perubahan nafsu makan. Rumah Sakit Great Ormond Street mengindikasikan sindrom peradangan multisistem dapat memengaruhi pikiran dan tubuh anak.

Jadi, waspadalah terhadap suasana hati anak begitu mereka kembali ke rumah. Normal jika anak tampak merasa cemas, murung, dan mudah tersinggung. Ini karena sindrom tersebut serta gangguan sehari-hari yang dibawa oleh Covid-19 kepada semua orang.

"Luangkan waktu untuk pulih dan jangan mencoba melakukan terlalu banyak aktivitas di awal, secara bertahap tingkatkan seberapa banyak yang mampu dilakukan dan jangan sedih jika Anda memiliki hari-hari buruk dan juga hari-hari baik," ujar pihak rumah sakit.

Sindrom peradangan multisistem pada anak adalah kondisi yang sangat langka, terjadi pada kurang dari satu persen anak-anak yang terjangkit penyakit tersebut. Hanya sekitar satu hingga lima dari 100 ribu yang kemudian mengembangkannya perlu dirawat di rumah sakit.

Akan tetapi, sindrom itu dapat menyerang anak-anak yang sehat sekitar empat sampai enam pekan setelah terkena infeksi SARS-CoV-2. Sering kali, karena gejalanya bisa dikacaukan dengan sesuatu yang lain, dokter kehilangan tanda-tanda kuncinya hingga luput terdiagnosis.

Ribuan orang tua telah berkumpul bersama secara online untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat dan petugas medis mengenai risiko sindrom tersebut. Mereka merasa anak-anaknya tidak didiagnosis secara akurat.

Kelompok pendukung Paediatric Inflammatory Multisystem Syndrome-TS Covid-19 dibentuk pada Oktober 2020 untuk membantu mempercepat diagnosis. Kelompok ini menemukan sebagian besar kasus salah diagnosis setidaknya sekali.

Juru bicara kelompok pendukung, Joanna Buckmaster, mengatakan bahwa informasi tentang sindrom tersebut belum luas disebarkan. Padahal, orang tua perlu mengetahuinya.

"Meskipun ada upaya luar biasa dari staf National Health Society (NHS), sayangnya masih terjadi kesalahan diagnosis," ujar Buckmaster, seperti dilansir laman The Sun, Jumat (18/3/2022).

sumber: republika.co.id
Parenting Jangan Luput Pantau Gejala MIS-C Setelah Anak Sembuh dari Covid-19