Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Psikolog Githa Bahagiastri: Stop Kekerasan Anak! Hapus Kesesatan Mitos Tradisional

Parenting
Psikolog Githa Bahagiastri: Stop Kekerasan Anak! Hapus Kesesatan Mitos Tradisional 1
foto: Githa Bahagiastri (ist)


itoday - Pertumbuhan angka kekerasan terhadap anak cukup memprihatinkan. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat angka kekerasan terhadap anak. Di antaranya, kekerasan pada anak dianggap urusan internal keluarga. Di sisi lain, masih ada mitos tradisional yang turut melanggengkan kekerasan pada anak.

Penegasan itu disampaikan konsultan perlindungan anak Githa Bahagiastri pada webinar YABII (Yayasan Amal Bhakti Ibu Indonesia) yang digelar pada Sabtu (30/07/2022).

Psikolog klinis ini membeberkan sejumlah mitos yang masih berkembangan. Padahal, fakta di lapangan mitos tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Menurut Githa, berkembang mitos bahwa seorang anak harus diperlakukan keras agar ke depan menjadi anak yang tangguh. “Faktanya, anak yang diperlakukan kasar, keras terus menerus akan mengalami luka psikologis yang bersifat jangka panjang yang mempengaruhi tumbuh kembangnya,” beber Githa.

Pengurus YABII ini juga menyebut mitos sesat, pemberian hukuman fisik diperlukan agar anak patuh dan disiplin. Sejatinya, anak patuh hanya saat terlihat oleh orang lain.

Mitos lain yang disoal Githa adalah tidak perlunya anak diberikan pujian dengan tujuan agar anak tidak puas hati. “Padahal, anak yang tumbuh dengan kritikan, minim apresiasi cenderung merasa kurang percaya diri, sulit untuk bersikap mandiri,” tegas Githa.

Githa mengingatkan, mitos “kata-kata keras, menghina, merendahkan masih lebih baik dibandingkan kekerasan fisik,” tidaklah benar. Faktanya, kekerasan emosional dan fisik sama-sama memiliki dampak bagi anak.

Perbedaan gender antara anak laki-laki dan perempuan juga mempengaruhi mitos yang berkembang. “Ada mitos anak laki-laki wajar selalu berkelahi, bersikap kasar malahan itu bagus. Ini salah. Anak laki-laki yang mampu mengembangkan kemampuan komunikasi dan empati akan lebih baik dalam bekerja sama dengan orang lain,” jelas Githa.

Sejumlah fakta lain dibeberkan Githa. Menurut Githa, angka kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dekat seperti orang tua, anggota keluarga cukup tinggi. Salah satu penyebabnya, orang tua belum memahami cara pengasuhan. Ada mitos, pengasuhan dengan hukuman fisik masih dianggap cara yang efektif.

“Kekerasan meninggalkan dampak fisik dan psikologis jangka panjang pada anak. Jika kita berbicara pengasuhan, bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik tapi juga psikologis seperti kebutuhan untuk diterima, dipeluk, ditenangkan,” beber Githa.

Lebih lanjut Githa mengingatkan, bahwa kekerasan terhadap anak tidak saja terkait kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, tetapi juga kekerasan psikis dan neglect.

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang sengaja melukai mengakibatkan rasa sakit, jatuh, luka. “Kekerasan psikis merupakan perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, rendah diri, merendahkan atau mempermalukan,” terang Githa.

Sementara kekerasan seksual terhadap anak adalah melibatkan anak dalam aktifitas seksual yang ia tidak pahami, tidak bisa memberi persetujuan, secara perkembangan belum siap, melanggar hukum. “Sedangkan neglect adalah mengabaikan kebutuhan anak secara fisik ataupun emosional, ataupun pendidikan,” kata Githa.

Red
Parenting Psikolog Githa Bahagiastri: Stop Kekerasan Anak! Hapus Kesesatan Mitos Tradisional