Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Sekjen PAN Bantah Giring PSI soal Anies Pembohong
21 September 2021
Sekjen PAN Bantah Giring PSI soal Anies Pembohong
foto: Eddy Soeparno (cnnindonesia)


itoday - Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menyanggah pernyataan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Giring Ganesha, yang menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai pembohong.

Menurutnya Anies pasti menerima banyak gugatan--baik dalam bentuk pidana atau perdata--bila merupakan seorang pembohong.

"Andaikata Pak Anies seorang pembohong, tentu banyak gugatan baik hukum pidana atau perdata, dan sampai saat ini saya belum lihat itu," kata Eddy kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (21/9).

Secara pribadi, ia mengaku melihat Anies sebagai sosok intelektual yang memiliki integritas serta kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Menurut Eddy, salah satu masalah pelik yang diselesaikan Anies adalah terkait pemberian jaminan kepada warga DKI Jakarta mendapatkan vaksinasi Covid-19.

"Buktinya vaksinasi DKI menduduki nomor pertama dari seluruh Indonesia. Jadi, dari aspek penanganan permasalahan, saya kira Pak Anies sudah melaksanakan dengan baik," tuturnya.

Sebagai seorang pemimpin, Eddy melanjutkan, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Namun, ia meminta semua pihak menyampaikan pandangan secara objektif.

Sebelumnya, Giring menuding Anies sebagai pembohong. Giring menyebut Anies kerap berpura-pura peduli terhadap masyarakat di tengah kesulitan masyarakat saat pandemi Covid-19.

"Pura-pura peduli adalah kebohongan Gubernur Anies di tengah pandemi dan penderitaan rakyat. Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat, sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan presiden 2024," kata Giring dalam keterangan resminya, Senin (21/9) kemarin.

Giring mengaku mencatat Anies kerap menampakkan diri peduli dengan penderitaan rakyat di masa pandemi di hadapan media. Namun, ia mengajak publik untuk menguji kebenaran citra peduli Anies itu dengan melihat penggunaan uang rakyat melalui APBD DKI di masa pandemi.

APBD DKI, tuding Giring, digunakan Anies untuk kepentingan ego pribadinya semata. Salah satunya dengan menggunakan Rp1 triliun untuk menggelar acara balap mobil Formula E.

Uang muka acara Formula E, kata dia, dibayar Anies pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan negara dalam keadaan darurat pandemi. Padahal, acara balap mobil itu tak berguna bagi masyarakat yang tengah tertimpa musibah pandemi.

"Uang sebanyak itu dihabiskan Anies di tengah penderitaan rakyat yang sakit, meninggal dunia, dan hidupnya susah karena pandemi. Uang Rp 1 triliun dia keluarkan padahal rakyat telantar tidak bisa masuk rumah sakit yang penuh. Rakyat kesulitan makan karena kehilangan pekerjaan, " ujar Giring.

sumber: cnnindonesia.com
Giring Fitnah Anies Lakukan Pembohongan Ketua PKS Siapa Menabur Dia Menuai
21 September 2021
Giring Fitnah Anies Lakukan Pembohongan, Ketua PKS: Siapa Menabur Dia Menuai!
foto: Mardani Alisera (rmol)


itoday - Pernyataan kontroversial Politikus PSI, Giring Ganesha, menihilkan potensi Gubenur DKI Jakarta, Anies Baswedan, maju ke panggung Pilpres tahun 2024 pada akhirnya bukan hanya dikritik netizen, tapi juga kalangan politisi lainnya.

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, menjadi salah seorang yang menanggapi pernyataan Giring. Menurutnya tidak tepat jika Giring menjadikan penilaian pribadinya sebagai kampanye menghapus pamor Anies di mata masyarakat.

Karena, dia menganggap Giring hanya sedang mencari popularitas dengan menyebut Anies telah melakukan pembohongan publik. Sehingga, Mardani menyinggung Giring dengan sebuah pepatah lama.

"Siapa menabur dia akan menuai," kata Mardani Ali Sera kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa siang (21/9).

Giring yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSI sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2024.

Akan tetapi, Mardani mengaku tidak melihat Giring sebagai satu ancaman bagi Anies, meskipun melakukan cara-cara fitnah. Justru, dia melihat satu kelebihan Anies yang bisa menjawab serangan-serangan yang ada. Yaitu, sikapnya yang masih biasa saja ketika mendapat pujian atau cacian.

"Tak tumbang karena di caci dan tak terbang karena dipuji. Semua bebas berpendapat. Dan tugas Mas Anies fokus bekerja melayani warga Jakarta. Biar warga saja yang menilai," tandas Mardani.

Dalam keterangan tertulisnya, Giring mengaku tidak rela jika Anies Baswedan menjadi presiden di 2024. Bahkan Giring menyebut sang gubernur sebagai pembohong.

"Pura-pura peduli adalah kebohongan Gubernur Anies di tengah pandemi dan penderitaan rakyat. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohong, jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies Baswedan," kata Giring dalam keterangan resminya, Senin kemarin (20/9).

Alih-alih mendapat banyak dukungan, pernyataan tersebut kini malah menjadi viral di media sosial. Giring yang kini menjadi Plt Ketum PSI menggantikan Grace Natalie yang sedang studi di luar negeri itu malah banjir hujatan dari warganet.

"Apalagi rakyat Indonesia amit-amit sampai memilih kamu Giring, hancur NKRI?" kata akun Twitter @IanMarwan1 dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (21/9).

Tak sedikit pula warganet yang kembali mengungkit syahwat politik Giring yang ingin maju menjadi presiden 2024 mendatang. Alih-alih mendukung, warganet balik bertanya tentang prestasi yang telah diraih Giring di kancah perpolitikan Tanah Air.

"Anda siapa woy Giring Ganesha? Kagak ada prestasi... Mau jadi presiden...," kata akun @Arfatgl29.

"Giring belum jadi presiden udah nuduh sembarangan apa lagi pas jadi presiden," cuit @MrYudha_.

"Amit-amit dah, jangan sampai Giring jadi presiden, band-nya aja ditinggalin demi kepentingan pribadi. Ntar jadi presiden NKRI, untuk kepentingan pribadi, kepentingan negara dan rakyat diabaikan lagi," ujar @syahrulsyah88.

sumber: rmol.id
Mantan Petinggi Polri Banyak Kasus Penistaan Agama Islam Tak Diproses di Era Jokowi
21 September 2021
Mantan Petinggi Polri: Banyak Kasus Penistaan Agama Islam Tak Diproses di Era Jokowi
foto: Joko Widodo (okezone)


itoday - Murkanya Irjen Polisi Napoleon Bonaparte terhadap pelaku penista agama Islam, M Kece, tengah jadi sorotan masyarakat. Tak hanya dipukuli, wajah dan tubuh M Kece juga dilumuri kotoran di dalam sel tahanan Mabes Polri.

Sang Jenderal tegas menyatakan, ia murka karena M Kece telah menghina Allah, Nabi, dan Islam. Jenderal bintang dua itu pun menegaskan siap bertanggung jawab atas tindakan tersebut.

Terkait hal ini, Redaksi meminta tanggapan kepada mantan petinggi Polri, Brigadir Jenderal (Purn) Anton Tabah Digdoyo, via telepon Senin petang (21/9).

Anton pun sepakat dengan Napoleon bahwa di era Jokowi banyak kasus Penistaan Agama, terutama terhadap agama Islam. Tapi umat mengeluh karena banyak kasus tersebut yang tidak diproses hukum.

Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini heran dengan maraknya kasus penistaan agama yang terjadi pada era Jokowi ini. Mulai dari kasus Ade Armando. Abu janda, Jozeph Paul Zhang, dll. Terbaru kasus M Kece ini. Dan semuanya seperti ada pembiaran.

"Kondisinya mirip tahun 60-an ketika PKI berkuasa," ujar Anton Tabah.

Di Indonesia sendiri, lanjut Anton, UU penistaan agama sangat keras bagi siapapun yang melakukan penistaan agama. Bahkan dikategorikan dengan kejahatan sangat serius, karena sangat berpotensi menimbulkan konflik sosial luas.

"Kasus penistaan agama masuk crime index karena derajat keresahan sosialnya sangat tinggi," jelas Anton.

Anton lalu menyoroti kerjasama antara Indonesia dengan Pemerintah Komunis China. Menurut penilaiannya, tiap kerjasama dengan China, bangsa Indonesia justru selalu merugi.

Herannya, tegas Anton, meski dinilai merugi namun Jokowi tetap menjalin kerjasama dengan China, yang tak pernah dilakukan sejak era 2 presiden sebelumnya.

"Belajar dari pengalaman tersebut, maka RI dilarang buka kerjasama dengan negara-negara komunis termasuk China. Cukup jalin hubungan diplomatik saja. Taati KUHP pasal 107e," pungkasnya.

sumber: rmol.id
Gatot Nurmantyo Ada Upaya Seolaholah Konstitusional untuk Mengganti Pancasila
18 September 2021
Gatot Nurmantyo: Ada Upaya Seolah-olah Konstitusional untuk Mengganti Pancasila
foto: Gatot Nurmantyo (rmol)


itoday - Persoalan ideologi menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia hari ini. Terlebih, ada upaya dari kelompok tertentu yang mencoba mengubah landasan berbangsa bagi Indonesia, yakni Pancasila.

Begitu dikatakan Dewan Pembina Universitas Cokroaminoto, Gatot Nurmantyo dalam orasi ilmiah pada sidang senat Universitas Cokroaminoto di Jakarta, Rabu (15/9).

"Masalah yang dihadapi bangsa kita adalah masalah ideologi, karena secara seolah-olah sistematimatis dan konstitusional terdapat banyak rencana dan telah dijalankan dengan sangat rapih untuk mengganti dasar negara, Pancasila," ujar Gatot Nurmantyo.

Ada dua gejala yang disebutkan Gatot dari dugaan manuver politik untuk mengubah Pancasila. Pertama, adalah lahirnya Keputusan Presiden 24/2016 tentang Hari Lahir Pancasila, yang menurutnya merupakan peristiwa yang luar biasa.

"Lalu Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) menjadi RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (RUU BPIP), sangat potensial dan mengarah terbentuknya sentra politik sebagai perpanjangan tangan partai tertentu," katanya.

sumber: rmol.id
Penangkapan Mahasiswa UNS Bukti Jokowi Tak Paham Makna Demokrasi
14 September 2021
Penangkapan Mahasiswa UNS Bukti Jokowi Tak Paham Makna Demokrasi
foto: Gde Siriana (rmol)


itoday - Penangkapan 10 mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) saat kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (13/9), membuat yakin publik akan kemerosotan demokrasi Indonesia di kepemiminan Presiden Joko Widodo.

Begitu penilaian Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gde Siriana Yusuf, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (14/9).

"Saya kira situasi ini (penangkapan mahasiswa UNS) karena Presiden Jokowi tidak paham makna demokrasi," ujar Gde Siriana.

Kejadian penangkapan yang dilakukan aparat kepada 10 mahasiswa UNS saat menyampaikan aspirasinya menggunakan poster, dinilai Gde Siriana, seharusnya tidak terjadi.

Karena sepatutnya Kepala Negara mendengarkan dan bukan mengerahkan aparat di Jalanuntuk membuat kondusif masyarakat. Di samping itu, kejadian ini juga terulang setelah sebelumnya dialami pria peternak unggas saat Jokowi kunjungan kerja ke Blitar

"Ketidakpahaman demokrasi ini juga dilihat dari giant koalisi di kabinet, sehingga check and balance di DPR jadi tidak ada atau tidak efektif," tutur Gde Siriana.

Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) ini menambahkan, kepemimpinan politik yang tidak memahami demokrasi yang berjalan di nearanya sama saja dengan kegagalan pemerintahan.

"Jadi enggak pernah nyambung dengan apa yang dituntut rakyat dan mahasiswa," demikin Gde Siriana Yusuf.

sumber: rmol.id
Ngabalin Cemooh RR Punya Otak Septic Tank Jerry Massie Inilah Gaya Buzzer Tak Beretika
13 September 2021
Ngabalin Cemooh RR Punya Otak Septic Tank, Jerry Massie: Inilah Gaya Buzzer, Tak Beretika!
foto: Ali Mochtar Ngabalin (rmol)


itoday - Cemoohan yang dilontarkan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin kepada Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli, dikecam banyak pihak.

Pasalnya, pernyataan Ngabalin menanggapi kesediaan Rizal Ramli membantu menyelesaikan masalah keuangan PT Garuda Indonesia Persero (Tbk) dengan syarat mengubah Presdiential Threshold menjadi 0 persen, malah bersifat ejekan yang ak mendidik.

Ngabalin menyebut isi otak Rizal Ramli hanya Septic Tank, dan melabeli RR sebagai orang yang menyimpan dendam kepada Pemerintah lantaran kena pecat Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu dari banyak pihak yang mengecam pernyataan Ngabalin terhadap RR ialah Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie. Dirinya malah balik melabeli Ngabalin sebagai orang yang tak berpendidikan, karena tidak memiliki etika.

"Saya lihat bahasa bang Ngabalin kayak tak beretika dan punya sopan santun. Kayaknya waktu di kuliah tak belajar etika dan tata krama. Atau hanya banyak belajar tata boga?" ketus Jerry dalam sambungan telpon dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin sore (13/9).

Di samping itu, Jerry mengaku heran dengan posisi dan peranan Ngabalin di KSP. Sebabnya, sejauh ini dia hanya sering tampil ke media dengan gaya komunikasi yang mirip dengan pendengung alias buzzer.

"Nah, bahasa ini seperti gaya para buzzer yang menyerang RR, orang hebat kok di bilang Septic Tank. Otak Nagbalin dan Rizal Ramli beda antara langit dan bumi," ucap Jerry.

"Orang kalau cerdas lingiustik verbal bahasa polite (sopan) dan juga santun," tandasnya.

sumber: rmol.id