Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Pengamat Tanpa Megawati Indonesia Tetap akan Baikbaik Saja
05 June 2022
Pengamat: Tanpa Megawati, Indonesia Tetap akan Baik-baik Saja
foto: Megawati Soekarnoputri (ist)


itoday - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak perlu cemas dan khawatir berlebihan dengan kondisi Indonesia sepeninggal dirinya. Sebab, Indonesia akan tetap baik-baik saja.

Begitu kata pengamat politik dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menanggapi kekhawatiran Megawati usai melihat anak muda zaman sekarang yang terlalu banyak bersenang-senang di zona nyaman.

"Megawati Soekarnoputri tak perlu cemas keadaan Indonesia bila ia tidak ada. Indonesia akan baik-baik saja,” ujar Jamiluddin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (5/6).

Menurutnya, generasi muda Indonesia tidak perlu diragukan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan akan bertanggung jawab menerima estafet tersebut. Sehingga, Megawati tidak perlu khawatir akan kondisi bangsa Indonesia yang akan ditinggalkannya nanti.

"Mereka akan menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda dengan yang ada sekarang, termasuk gaya kepemimpinan Megawati di kala menjadi presiden,” ucapnya.

"Jadi, Megawati duduk manis saja dengan membiarkan generasi muda berkreasi. Cara mereka memimpin tak perlu harus sama dengan yang sudah dilakukannya,” demikian Jamiluddin.

sumber: rmol.id
Ketum Projo Bilang Surya Paloh Sodorkan GanjarAnies ke Jokowi Waketum Nasdem Klaim Aja Itu
03 June 2022
Ketum Projo Bilang Surya Paloh Sodorkan Ganjar-Anies ke Jokowi, Waketum Nasdem: Klaim Aja Itu
foto: Anies Baswedan (rmol)


itoday - DPP Partai Nasdem menilai pernyataan Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi yang menyebut Surya Paloh telah menyodorkan usulan duet Ganjar-Anies kepada Presiden Joko Widodo hanyalah sebatas klaim politik semata.

Sebab, yang tahu persisi inti pembicaraan Surya Paloh dan Jokowi hanyalah mereka berdua. Itu lantaran pertemuan empat mata tanpa melibatkan pihak lain.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Nasdem Ahmad Ali saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu di Jakarta, Jumat (3/6).

“Kalau kita baca beliau (Budi Arie) punya pernyataan itu kan ya menempatkan dirinya begitu penting terhadap Pak Jokowi kan? Pembicaraan itu antara Pak Surya dengan Pak Jokowi, berarti hanya Pak Surya dan Pak Jokowi yang tahu kan apa yang mereka bicarakan. Sehingga ya mungkin itu klaim lah ya,” kata Ahmad Ali.

Ahamd Ali menegaskan bahwa hubungan antara Surya Paloh dan Jokowi sudah seperti sahabat yang hampir setiap bulannya melakukan pertemuan. Sehingga, ia meyakini bahwa keduanya sekalipun bertemu tidak akan membahas Pilpres 2024.

“Setahu saya, Pak Surya keteku Pak Jokowi selalu bicara tentang hal-hal kebangsaan ya. Sehingga tidak ada spesifik membicarakan tentang pilpres,” katanya.

Namun begitu, Ahmad Ali menyebut bahwa benar Surya Paloh pernah menyebut nama Ganjar dan Anies saat menggelar pertemuan bersama Forum Pemred beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, kata Ahmad Ali, itu pun obrolan sebatas diskusi lepas. Disebutkan, menurut salah satu Anggota Forum Pimred, jika Anies dan Ganjar diduetkan maka akan mencegah polarisasi pada Pilpres 2024 nanti.

“Memang waktu itu Pak Surya sempat dalam Forum Pemred menyebut pasangan Anies-Ganjar. Tapi apakah kemudian itu adalah proposal (ke Jokowi), enggak juga sih menurut saya. Karena waktu itu kan diskusi lepas. Jadi, ada salah satu Pemred yang kemudian mengusulkan itu (Anies-Ganjar) untuk menyelesaikan menurutnya bahwa ketika dua figur ini dipasangkan itu akan menyelesaikan sebagian permasalahan polarisasi yang selama ini terjadi,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Ahmad Ali menilai bahwa Projo terlalu berlebihan jika menyebut Surya Paloh menyodorkan nama Ganjar-Anies ke Presiden Jokowi.

“Kalau menyetor nama sih saya kurang apa ya kurang pas lah dalam bahasa, Pak Surya dan Pak Jokowi kalau berdiskusi itu kan diskusi sebagai sahabat,” tuturnya.

“Harusnya teman-teman relawan Jokowi yang banyak terlibat di relawan itu mbok juga bisa menahan diri seperti apa yang disampaikan oleh Pak Jokowi (Ojo Kesusu). Kalau teman-teman Projo ikut-ikutan bicara soal urusan politik apalagi luar, internal partai tertentu, itu nanti akan justru membuat kegaduhan kan, dan membuat situasi politik semakin panas, semakin liar,” demikian Ahmad Ali.

sumber: rmol.id
Sinyal Prabowo untuk Siapa Anies Baswedan Sandiaga Uno Atau Rizal Ramli
02 June 2022
Sinyal Prabowo untuk Siapa, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Atau Rizal Ramli?
foto: Prabowo Subianto dan Surya Paloh (rmol)


itoday - Pertemuan lima jam bersama Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh seolah telah membuat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto legowo untuk tidak memaksakan diri maju pada Pilpres 2024 mendatang.

Prabowo yang sudah ikut dalam 3 gelaran pilpres terakhir seperti ingin mengambil peran sebagai king maker dengan mengatakan “tidak usah saya” kepada wartawan usai pertemuan tersebut.

Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy, Satyo Purwanto mengatakan, persamaan dan pertemanan yang lama dengan Surya Paloh, membuat Prabowo memiliki kesamaan komitmen kebangsaan.

Satyo menilai, pertemuan yang berlangsung sekitar lima jam di Nasdem Tower, Jakarta pada Rabu (1/6) dianggap bukan sekadar makan siang atau silaturahmi biasa, melainkan rangkaian safari politik yang dilakukan oleh Prabowo yang telah dilakukan sejak Idulfitri. Di mana, Prabowo telah berkunjung ke pondok-pondok pesantren dan para kyai kharismatik Nahdlatul Ulama (NU).

"Namun sinyal bahwa 'tak harus Prabowo' menjadi sesuatu yang menarik untuk dianalisa, bahwa kapasitasnya untuk menjadi penentu keputusan dan sangat mungkin sebagai agregator terjadinya pusaran koalisi sangat mungkin dilakukan oleh Prabowo," ujar Satyo kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (2/6).

Menurut Satyo, jika saja opsi sebagai "king maker" diambil oleh Prabowo dan memberikan legasi calon presiden (capres) potensial kepada orang yang dianggap layak untuk diusung dengan kriteria yang disebutkannya, maka terdapat beberapa nama yang cocok.

"Maka jika kita berimajinasi tidak berlebihan kiranya bisa saja yang dimaksud oleh Prabowo mungkin saja, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, ataupun Rizal Ramli," kata Satyo.

Bukan tanpa alasan, Satyo membeberkan alasannya menyebut ketiga nama tersebut. Di mana, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta saat ini dianggap sebagai salah satu jawara elektabilitas. Apalagi, Partai Nasdem termasuk yang paling awal mem-branding Anies sebagai salah satu capres yang akan diusulkan.

Sementara Rizal Ramli selaku ekonom senior, kata Satyo, memenuhi kriteria pengalaman dan kepakaran sebagai teknokrat mumpuni. Tidak hanya itu, pria yang akrab disapa RR tersebut juga punya kedekatan khusus dengan Prabowo. Bahkan ide-ide ekonomi kerakyatan mantan Menteri Perekonomian era Gus Dur ini sempat dijadikan rujukan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 lalu.

Sedangkan Sandiaga Uno yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, adalah kader Gerindra yang sudah teruji loyalitasnya. Sandi juga sempat jadi pendamping Prabowo pada pilpres 2019.

"Dan Sandiaga memenuhi kriteria sebagai calon pemimpin yang memiliki kapasitas di bidang ekonomi kreatif dan kerakyatan," pungkas Satyo.

sumber: rmol.id
Pengamat Prediksi Tiga Partai Ini Bakal Usung Anies di Pilpres 2024
31 May 2022
Pengamat Prediksi Tiga Partai Ini Bakal Usung Anies di Pilpres 2024 
foto: Anies Baswedan (rmol)


itoday - Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah memprediksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bakal mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.  Selain PKS, Partai Nasdem juga diprediksi bakal mengusung Anies untuk maju memperebutkan RI-1 di 2024. 

"PKS dan Nasdem tidak miliki pergesekan berarti, bahkan miliki kecocokan jika yang terusung adalah PKS, dengan konsekuensi Anies menjadi bagian dari Nasdem," kata Dedi kepada Republika, Senin (30/5/2022).

Peluang terbangunnya koalisi antara PKS dan Partai Nasdem sangat terbuka. Dedi menilai PKS terlihat lebih siap dengan partai politik manapun, termasuk dengan Partai Nasdem. 

"PKS pada dasarnya tidak alergi terhadap Parpol mitra  dengan siapapun mereka terlihat siap bergabung," ujarnya. 

Selain PKS dan Partai Nasdem, menurutnya, partai lain yang juga berpeluang mengusung Anies di Pilpres 2024 mendatang adalah Partai Demokrat. Dedi mengatakan, jika dibandingkan PKB, Partai Demokrat lebih memiliki kedekatan dengan PKS dan Partai Nasdem. 

"Paling mungkin (usung Anies) adalah Demokrat, hal ini karena partai PKB itu lebih dekat kecenderungannya bergabung dengan Golkar, sehingga Demokrat  lah yang paling memungkinkan bersama Nasdem dan juga PKS mengusung Anies baswedan," ucapnya. 

Sebelumnya, Anies hadir dalam Milad ke-20 PKS, Ahad (29/5/2022). Anies mendapat sambutan meriah saat tiba di lokasi. Bahkan, ia juga diteriaki 'presiden' oleh simpatisan PKS yang hadir dalam acara tersebut.

Menanggapi itu, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menilai meriahnya sambutan terhadap Anies wajar mengingat mayoritas massa yang hadir merupakan warga Jakarta. Terlepas dari itu, PKS memiliki kedekatan dengan Anies.

"Memang Mas Anies dekat dengan PKS dan PKS juga dekat dengan Mas Anies, sampai sekarang PKS pokoknya fokus menjaga anies sukses gubernur sampai Oktober 2022," ucapnya, Senin (30/5/2022).

Ia tak menampik Anies menjadi salah satu nama yang dipertimbangkan. Namun saat ini, PKS masih melakukan komunikasi politik dengan sejumlah pihak terkait. 

"Kalau posisi sekarang PKS masih tetap mengusung dr Salim. Kan internal dulu sampai satu tahap kita selesai, kita taruh semua put on the table baru kita putuskan yang terbaik," ujarnya.

sumber: republika.co.id
Ketidakhadiran Jokowi di Acara BIN Tanda Ada Kerenggangan Serius dengan Megawati
31 May 2022
Ketidakhadiran Jokowi di Acara BIN Tanda Ada Kerenggangan Serius dengan Megawati
foto: Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri (rmol)


itoday - Acara peresmian Smart Campus Dr. (HC) Ir. Soekarno Medical Intelligence Wangsa Avatara Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat semakin menunjukkan adanya masalah serius antara Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Hal itu dikarenakan Jokowi tidak hadir dalam acara yang dihadiri Megawati tersebut. Padahal, acara ini diselenggarakan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dan dihadiri oleh para pejabat kelas wahid.

"Acara Projo yang dihadiri oleh Gubernur Ganjar saja Jokowi hadir. Jika Jokowi dan Wapresnya tidak hadir di acara BIN di Sentul ini jadi tanda tanya? BIN itu lembaga negara. Kenapa Jokowi bahkan wapresnya Maruf Amien tidak hadir?" ujar Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (31/5).

Muslim mengingatkan bahwa acara yang diselenggarakan oleh kelas relawan seperti Pro Jokowi (Projo) saja, Jokowi hadir. Sehingga cukup beralasan jika publik mulai menerka-nerka alasan di balik Jokowi tidak hadir di acara kenegaraan itu.

"Apakah acara relawan Jokowi lebih penting dibandingkan dengan acara BIN? Ketidakhadiran Jokowi di sini akan perkuat spekulasi hubungan yang tidak mesra bahkan renggang dan tegang antara Jokowi dan Megawati," katanya.

Apalagi kata Muslim, di beberapa acara sebelumnya juga tidak terjadi pertemuan antara Jokowi dengan Megawati. Salah satunya, saat acara pernikahan adiknya Jokowi, Idayati dengan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman.

Ketidakhadiran Megawati juga bisa diartikan bahwa hubungannya dengan Jokowi sudah mulai berjarak. Karena acara yang bersifat kekeluargaan pun tak dapat mempertemukan Mega dan Jokowi.

“Jadi yang semula sering cium tangan seperti anak dan orang tua itu. Jadi acara di BIN semakin menegaskan memang antara Mega dan Jokowi sedang ada masalah serius. Dan hal ini bisa mengakibatkan Mega bisa ambil sikap atas posisi Jokowi," pungkas Muslim.

sumber: rmol.id
Viral Pemotor Khilafah Islamiyah Bagikan Selebaran Kesbangpol Jaktim Mulai Bergerak
31 May 2022
Viral Pemotor Khilafah Islamiyah Bagikan Selebaran, Kesbangpol Jaktim Mulai Bergerak
foto: Pemotor Khilafah Islamiyah (suara)


itoday - Viral pemotor khilafah Islamiiyah bagikan selebaran di Jalan Raya Bogor sudah diatensi Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Timur. Kekinian Kesbangpol Jaktim menelusuri kasus konvoi motor yang membawa atribut khilafah di Cawang tersebut.

Kepala Suku Badan Kesbangpol Jakarta Timur, Ahmad Yani mengatakan, pihaknya sedang mencari informasi terkait identitas pengendara motor yang terekam dalam video viral tersebut.

Kesbangpol memiliki tugas untuk melakukan pembinaan kesatuan bangsa, termasuk mencegah paham yang bertentangan dengan dasar negara.

"Upaya mencari informasi Intel Kesbangpol bersama Intel Kodim. Sikap Kesbangpol tetap monitor dan mewaspadai," kata Ahmad Yani di Jakarta, Selasa.

"Tupoksi kami melaporkan setiap gerak gerik kejadian yang dianggap bisa mengancam keutuhan negara kita NKRI," ujar Ahmad Yani.

Sebelumnya, sebuah viral di media sosial video konvoi sejumlah pengendara motor membawa poster dan bendera Khilafatul Muslimin saat melintas di wilayah Cawang, Jakarta Timur pada Minggu (29/5).

Berdasarkan kesaksian warga rombongan pengendara sepeda motor itu diketahui sempat membagikan selebaran saat melintas di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Belum diketahui motif dan tujuan rombongan konvoi motor tersebut membagikan selebaran kepada sejumlah warga.

"Rombongan tersebut berhenti dan membagikan selebaran khilafah, kurang lebih lima menit sambil menunggu rekan-rekannya," kata salah seorang petugas keamanan toko buku di Jl. Raya Bogor, Sholeh. 

sumber: suara.com