Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Terbaru

Jauh dari Pemilik Mandat PDIP Nasib Politik Ganjar Tetap di Pusaran Ketidakpastian
24 November 2021
Jauh dari Pemilik Mandat PDIP, Nasib Politik Ganjar Tetap di Pusaran Ketidakpastian
foto: Ganjar Pranowo (rmol)


itoday - Munculnya dukungan relawan tidak akan dapat memastikan nasib politik Ganjar Pranowo mendapatkan tiket di calon presiden (Capres) dari PDI Perjuangan.

Pandangan ini disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu petang (24/11).

Dedi meyakini, kondisi politik Ganjar saat ini masih ada dalam pusaran ketidakpastian. Sebab, Ganjar bukanlah politisi yang dekat di lingkaran inti PDIP.

"Kondisi sekarang, Ganjar tetap saja berada di pusaran ketidakpastian, mengingat ia jauh dari lingkaran pemilik mandat Parpol (PDIP)," demikian kata Dedi.

Lebih lanjut Dedi menganalisa, Megawati selaku Ketua Umum PDIP adalah sosok politisi matang. Catatan Dedi, Megawati bukanlah tipe pemimpin yang gampang terbawa situasi politik.

"Megawati selama ini bukan tipe pemimpin yang latah dengan situasi, banyak keputusan Megawati yang cukup detail dan matang," pungkas Dedi.

Dukungan terbaru bagi Ganjar Pranowo datang dari elemen relawan Jokowi Mania (Joman). Ketua Umum DPP Joman Immanuel Ebenezer menyatakan kelompok relawan berubah bentuk menjadi Ganjar Pranowo Mania.

Alasan kuat membentuk GP Mania karena, sampai saat ini kenaikan elektabilitas Ganjar tidak bisa dibendung.

sumber: rmol.id
AHY Moeldoko Halalkan Segala Cara Termasuk Membeli Hukum
24 November 2021
AHY: Moeldoko Halalkan Segala Cara, Termasuk Membeli Hukum
foto: Agus Yudhoyono (republika)


itoday - Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, (AHY) telah mendengarkan masukan dan diperingatkan para seniornya di TNI terkait Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko. Bahkan, para seniornya mengatakan bahwa mantan panglima TNI itu akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

"KSP Moeldoko akan melakukan langkah apapun, bahkan menghalalkan segala cara, termasuk upaya yang senior saya katakan, yaitu upaya membeli hukum," ujar AHY dari Amerika Serikat, Rabu (24/11).

Namun, ia yakin bahwa hukum di Indonesia akan selalu tegak menghadapi pihak-pihak yang seperti itu. Selama Partai Demokrat terus memperjuangkan dan itu mendapat dukungan oleh rakyat dan ridho dari Tuhan.

"Hukum akan tetap tegak, hukum tetap tidak akan bisa dibeli selama kita berjuang di atas kebenaran," ujar putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Menurutnya, hal tersebutlah yang tak dimiliki oleh Moeldoko dan orang-orang yang menjerumuskannya untuk mengambil alih Partai Demokrat. Bahkan, kata AHY, para senior TNI heran dengan perbuatan yang dilakukan oleh Moeldoko.

"Bagi kami, putusan hukum ini adalah wake up call bagi para perusak demokrasi. Jangan ada lagi niat sedikitpun bagi siapa pun, bahkan meski mereka sedang berada di kursi kekuasaan, untuk mengambil alih kepemimpinan sebuah partai politik melalui upaya KLB ilegal," ujar AHY.

Di samping itu, ia mengapresiasi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang menolak permohonan gugatan yang diajukan oleh mantan kader Partai Demokrat Jhoni Allen Marbun kepada Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly. Penolakan itu tertuang di laman resmi Mahkamah Agung (MA) dengan nomor perkara 150/G/2021/PTUN-JKT.

"Keputusan hukum ini adalah kemenangan bagi rakyat Indonesia, karena keputusan itu tetap melindungi hak-hak politik rakyat, yang berusaha dirampas oleh KSP Moeldoko melalui upaya-upaya politik dan upaya-upaya hukum," ujar AHY.

sumber: republika.co.id
Temuan Mengejutkan TB Hasanuddin soal Heboh Anak Jenderal TNI
23 November 2021
Temuan Mengejutkan TB Hasanuddin soal Heboh 'Anak Jenderal TNI'
foto: TB Hasanuddin (detik)


itoday - Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan bersama ibunda terlibat cekcok dengan seorang wanita yang mengaku 'anak jenderal TNI' di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin turun tangan menyelidiki pelat mobil TNI yang ditumpangi wanita tersebut.

Ternyata, terdapat sejumlah temuan mengejutkan. TB Hasanuddin membeberkannya kepada detikcom. Berikut rangkumannya:

1. Mobil Brigjen TNI Dinas di BIN

Mobil berpelat TNI AD yang digunakan wanita mengaku anak jenderal TNI itu bernomor 75194-03. Dia menyebut mobil tersebut merupakan kendaraan dinas milik Kodam Jayakarta.

"Kendaraan tersebut digunakan oleh Brigjen TNI yang kini telah pindah tugas ke BIN," ucapnya.

2. Sedang Bersama Brigjen TNI

Berdasarkan penelusurannya, Hasanuddin mengatakan, saat kejadian itu, rupanya wanita tersebut juga bersama seorang perwira tinggi TNI berpangkat brigjen.

"Dari informasi yang kami dapat, ternyata perempuan itu bersama pria berpangkat brigjen," kata TB Hasanuddin.

Hasanuddin belum menjelaskan lebih lanjut siapa brigjen TNI itu. Dia masih menelusuri apa hubungan antara pria berpangkat brigjen TNI itu dan wanita yang memaki Arteria beserta ibunya tersebut.

"Terkait hubungan keduanya masih kami telusuri," ucapnya.

Hasanuddin pun berharap perseteruan Arteria dan wanita itu tidak berkepanjangan. Dia meminta kedua pihak menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan.

"Dari kasus di atas saya berharap tidak berkepanjangan dan dapat diselesaikan secara kekeluargaan," tuturnya.

Panglima TNI Buka Suara

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa buka suara soal kasus ini. Jenderal Andika menyebut pihaknya akan melakukan penelusuran.

"TNI akan telusuri dulu pihak-pihak yang ada di video ini," ujar Jenderal Andika Perkasa kepada detikcom.

Jenderal Andika mengatakan bila terdapat dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh anggota TNI, maka akan diproses ke peradilan militer.

"Namun bila pihak yang diduga melakukan tindak pidana bukan anggota TNI, akan diproses di peradilan umum," lanjutnya.

Duduk Perkara
Untuk diketahui, Arteria Dahlan dan ibunda terlibat ribut-ribut dengan wanita yang mengaku anak jenderal TNI. Arteria mengungkapkan kronologi ribut-ributnya hingga tasnya disepak.

"Pas landing di bandara, staf saya itu nurunin barang," kata Arteria.

Arteria mengaku duduk di kursi ekonomi dalam penerbangan tersebut, tepat di belakang kursi kelas bisnis. Arteria menyebut rombongannya kemudian dianggap menghalangi jalan.

"Kita kan sama-sama di ekonomi, pas di belakang bisnis. Entah kenapa kami dianggap menghambat jalan, (tapi) pintunya belum dibuka," kata Arteria.

Arteria menyebut wanita mengaku anak jenderal TNI itu ingin terlihat berbeda dan dia tidak masalah dengan hal itu. Arteria menekankan dirinya dan keluarga tidak menghalangi jalan, apalagi ibunya berusia 80 tahun.

"Dia ingin memperlihatkan dia agak berbeda. Tapi kita kan tidak mempermasalahkan. Dia bilang barang bawaan saya banyak, orang saya bertiga bawa koper dua, wajar kan?" kata Arteria.

"Orang tua saya 80 tahun, dia butuh penyangga tulang itu, memang harus kita bawa, ditenteng-tenteng begitu. Kalau kami kelebihan, itu ada otoritasnya," imbuh politikus PDIP itu.

Arteria menyebut barang bawaannya sudah difoto-foto oleh polisi. Namun Arteria heran tasnya sampai disepak.

"Sudah difotoin semua sama polisi itu semua, orang kita bertiga, koper cuma dua. Ditendanglah tas itu, disepak, ibu saya kan cuma 'Kok begitu?', cuma begitu saja. Disepak lah istilahnya," kata Arteria Dahlan.

Arteria juga menceritakan bahwa wanita itu sempat mengatakan kenal dengan Megawati, Ketum PDI Perjuangan (PDIP).

"Iya waktu ditelepon kan dia bilang kenal sama Bu Megawati. Saya bilang enggak ada masalah," kata Arteria.

Dia juga sempat ditelepon oleh Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi. Dalam percakapan di telepon, ia mengatakan Prasetio sempat membujuknya agar segera berdamai.

"Tiba-tiba Pak Pras telepon, 'udah damai aja'," ujarnya.

Namun Arteria justru mempertanyakan balik kepada Prasetio mengenai duduk perkara yang ia alami. Setelahnya, Prasetio menceritakan sosok anggota TNI yang melatarbelakangi keluarga wanita tersebut.

"Anda tahu masalahnya, enggak?'. Dia nyebut, 'Ini orang siapa, siapa, siapa'," lanjutnya.

sumber: detik.com
Pakar Ramal Prabowo Sulit Menang di 2024 Suara di Jabar Tergerus
23 November 2021
Pakar Ramal Prabowo Sulit Menang di 2024, Suara di Jabar Tergerus
foto: Prabowo Subianto (cnnindonesia)


itoday - Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin, memperkirakan perolehan suara Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di Jawa Barat (Jabar) bakal mengalami penurunan bila maju kembali menjadi calon presiden (capres) Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 mendatang.

Menurutnya, konstruksi pemilih di Jabar senantiasa berubah dari pemilu ke pemilu, serta karakter masyarakat Jabar mudah terpesona dan kecewa.

"Kita lihat konstruksi pemilih Jabar selalu berubah-ubah setiap pemilu. Kita melihat ada kemungkinan pergeseran setelah itu, masyarakat Jabar mudah terpesona dan kecewa," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/11).

Ia melanjutkan, perolehan suara Prabowo di Pilpres 2024 mengalami penurunan dibandingkan Pilpres 2019 terbuka karena masyarakat Jabar ingin mencari sosok yang bisa memberikan harapan baru.

"Bisa saja masyarakat Jabar, punya harapan baru, harapan pada capres-capres baru yang lebih menjanjikan dan memberi harapan," kata Ujang.

Berangkat dari itu, dia berkata, peluang bagi sosok capres lain untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2024 di Jabar terbuka. Menurutnya, salah satu sosok capres yang berpeluang merebut pemilih Prabowo di Jabar ialah Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto.

Dia berkata, Airlangga dan Golkar bisa memenangkan kontestasi Pilpres 2024 di Jabar asalkan bisa memaksimalkan kekuatan untuk memperoleh simpati masyarakat Jabar. Ditambah lagi bekal dari suara partai Golkar yang cukup besar di Jabar.

"Semua capres punya kans itu, termasuk Airlangga. Golkar punya kans menang di Jabar, tinggal bagaimana Golkar mampu memaksimalkan kekuatan yang ada untuk mendapat simpati rakyat Jabar.

Sebagai informasi, Prabowo bersama Sandiaga Uno dinyatakan memenangkan kontestasi Pilpres 2019 di Jabar. Prabowo-Sandi meraih 16.077.446 suara sah. Jumlah itu setara dengan 59,93 persen suara sah di Jabar.

Sementara itu, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin hanya memperoleh 10.750.568 suara atau 40,07 persen suara sah.

Sebelumnya, nama Prabowo kembali di jagokan menjadi capres 2024. Bahkan Prabowo menjadi jawara di beberapa survei nasional dengan elektabilitas tertinggi di pilpres 2024. Di tambah lagi, relawan Prabowo-Puan Maharani belakangan muncul.

Analis komunikasi politik Gun Gun Heryanto memprediksi bakal ada tiga poros pada Pilpres 2024 mendatang. Berdasarkan pergerakan parpol terkini, menurutnya, pada Pilpres 2024 memiliki kecenderungan akan terdapat tiga poros.

Kemungkinan, poros pertama akan diisi PDIP dan Gerindra yang bisa saja mencalonkan pasangan Prabowo-Puan, bertarung dengan poros bentukan Golkar dan NasDem yang akan mengusung Airlangga serta poros bentukan PKB, PPP, PAN, dan Demokrat.

"Secara chemistry tidak ada masalah Prabowo dan Puan. Sementara poros kedua, akan diinisiasi oleh Golkar dan NasDem. Golkar akan menjadikan Airlangga sebagai kandidat yang didorong. Entah itu RI 1 atau RI 2," ucap Gun Gun kepada CNNIndonesia.com.

Wacana pembentukan poros PDIP dan Gerindra dengan calon Prabowo-Puan pun semakin kuat setelah Megawati, Prabowo, dan Puan menggelar pertemuan untuk membahas dinamikan politik nasional jelang pelantikan Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima TNI di Istana Kepresidenan pada Rabu (17/11).

sumber: cnnindonesia.com
OPM Klaim Bunuh Prajurit TNI Pimpinan MPR Apalagi yang Ditunggu Densus 88
22 November 2021
OPM Klaim Bunuh Prajurit TNI, Pimpinan MPR: Apalagi yang Ditunggu Densus 88?
foto: ilustrasi (rmol)


itoday - Gerak Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam memberantas terorisme kembali dipertanyakan.

Hal ini seiring klaim dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang bertanggung jawab atas serangan di Yahukimo yang menyebabkan satu prajurit TNI meninggal dunia.

Menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Densus 88 Antiteror tidak perlu lagi ragu untuk bergerak ke Papua. Apalagi, OPM terang mengakui aksi teror mereka.

“Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat OPM malah sudah mengumumkan aksi teror mereka,” ujarnya lewat akun Twitter pribadi, Senin (22/11).

Politisi PKS ini juga menekankan bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sudah resmi mengumumkan bahwa KKB di Papua termasuk organisasi Teroris.

“Dan tupoksi Densus 88 pun juga sudah dipublikasikan. Jadi apalagi yang ditunggu oleh Densus 88?” tutupnya.

sumber: rmol.id
Jika Desakan MUI Bubar Serius Din Syamsuddin Siap Turun ke Jalan Pasang Badan
22 November 2021
Jika Desakan MUI Bubar Serius, Din Syamsuddin Siap Turun ke Jalan Pasang Badan
foto: Din Syamsuddin (rmol)


itoday - Desakan pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari pihak-pihak tertentu tidak perlu ditanggapi serius.

Namun, jika desakan tersebut benar dan serius adanya, mantan Ketua Umum MUI Profesor Din Syamsuddin siap turun ke jalan bersama umat Islam untuk menentang desakan itu.

"Ketahuilah kalau ada pihak, siapapun mereka, yang berani membubarkan MUI, maka mereka akan berhadapan dengan umat Islam di seluruh Tanah Air,” tegasnya kepada wartawan Senin siang (22/11).

“Sebagai yang pernah memegang amanah sebagai Ketua Umum MUI dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI saya siap turun lapangan," sambung Din Syamsuddin.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menilai, desakan pembubaran MUI boleh jadi benar adanya. Jika demikian, maka itu menunjukkan bahwa kelompok anti Islam atau islamofobia mulai merasa mendapat dukungan dari rezim berkuasa.

Ini ditandai dengan diamnya para penguasa dan terkesan membiarkan seruan tersebut. Kelompok anti Islam, sambung DIN, akhirnya merasa mendapatkan momentum dengan penangkapan sejumlah ulama atau mubaligh untuk menyuarakan pembubaran MUI.

Sementara jika desakan itu tidak benar adanya, maka hal tersebut hanya sebuah manuver untuk mengalihkan perhatian dari masalah besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini. Juga menunjukkan adanya pelanggaran etika kekuasaan yang sedang didesakkan penyelesaiannya oleh sebagian rakyat.

"Mereka hanya ingin mengetes air (testing the water),” katanya.

Atas dasar itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menilai sebaiknya semua pihak tetap waspada, namun tetap kepala dingin menyikapi desakan dari kelompok yang ingin MUI dibubarkan.

"Sesungguhnya mereka adalah kelompok pengecut yang hanya bisa mengumbar kata-kata tapi tidak berani melaksanakannya. Kita semua jangan beralih perhatian untuk terus melakukan amar makruf nahyi munkar terhadap kerusakan struktural dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya.

sumber: rmol.id