Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Mayjen (Purn) Tri Tamtomo: Abaikan 5 Aspek Militer, IKN Baru Bisa Jadi Killing Ground!

Politik
Mayjen (Purn) Tri Tamtomo: Abaikan 5 Aspek Militer, IKN Baru Bisa Jadi Killing Ground! 1
foto: Mayjen (purn) Tri Tamtomo (ahmad sanusi - itoday)


itoday - Perdebatan terkait pemindahan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur semakin sengit. Banyak pihak menilai, pemindahan IKN yang diperkuat dengan pengesahan UU IKN itu, mengabaikan hal-hal esensial dan strategis. Tak heran, mulai dari purnawirawan jenderal TNI, politikus, hingga aktivis akan menggugat UU IKN ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Mantan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen (purn) Tri Tamtomo turut bersuara keras, mengingatkan agar pemindahan IKN tidak gegabah dan mengesampingkan aspek pertahanan dan keamanan.

“Awas, jangan sampai IKN menjadi semacam killing ground yang kita gali sendiri. Bagaimana jika jukter (petunjuk territorial) kita tidak tahu sama sekali? Logistik, plus sarana pendukung operasi juga tidak tahu? Jangan ujug-ujug gegabah, yang penting diambil dulu, urusan belakang. Hari ini kita tidak boleh berpikiran seperti itu. Kita harus berpikiran yang jauh ke depan, keselamatan bangsa kita utamakan, VVIP dan VIP harus mampu bertugas dengan baik,” tegas Tri Tamtomo kepada itoday (01/02/22).

Secara khusus Tri Tamtomo menyoal pemindahan IKN dari tinjauan militer. Mantan Sekretaris Lemhanas ini menegaskan, pemindahan ibukota menyangkut keselamatan bangsa. Untuk itu, baik diminta ataupun tidak, TNI wajib memberikan masukan dengan kajian yang komprehensif menyangkut analisis “lima aspek militer”.

Lima aspek militer yang dimaksud adalah lima aspek medan yang digunakan pada taktik militer. Yakni, medan kritis (critical terrain/key terrain); lindung tinjau dan lindung tembak (cover and concealment); lapang tinjau dan lapang tembak (observation and field of fire); jalan pendekat (avanue of approach); dan rintangan (obstacles).

“Lima aspek militer itu jangan pernah dilupakan. Ini sangat-sangat luar biasa. Jika ibu kota akan dipindahkan ke wilayah Kalimantan, dari kaca mata militer terjadi pergeseran operasi. Lima aspek militer ini harus di-compare di dalam kajian komprehensif. Jadi plus dan minusnya harus dihitung. Termasuk memperhitungkan petunjuk teritorial (jukter) yang ada di wilayah calon ibukota negara,” beber Tri Tamtomo.

wawancara lengkap dengan Mayjen (purn) Tri Tamtomo klik di sini


Selanjutnya, kata Tri Tamtomo, harus dikaji juga analisa daerah operasi (ADO) di wilayah calon IKN. Dalam hal ini akan dibuat analisis potensi wilayah (anpotwil) dan analisis potensi pertahanan keamanan (anpothankam).

“Dalam anpotwil, isinya adalah ‘cumemu’ (cuaca-medan-musuh). Kalo bicara medan, mulai dari humus tanah dan sebagainya itu dihitung dengan cermat. Sungai misalnya, dihitung, apakah akan mendukung atau merugikan kita. Ini harus dibuat wargaming. Kedua, dari sisi anpothankam, dengan kondisi geografi di wilayah calon IKN, mampukah memberikan perlindungan,” urai Tri Tamtomo.

Terkait kondisi geografis calon ibu kota negara, Tri Tamtomo meminta TNI dan Strahan Kementerian Pertahanan membantu kajian dari aspek militer ini dengan seutuh-utuhnya.

“Calon IKN ada di belahan laut Sulawesi. Dihitung jarak ke kiri ataupun ke kanan, di wilayah ini ada Alki 2. Kemudian di Filipina Selatan ada Sabah. Apa yang terjadi di Sabah? Ini harus dihitung cermat. Di sebelah Kalimantan Utara, negara Malaysia. Apakah sarana-prasarana keamanan mendukung? Ini harus dihitung cermat, bagaimana terobosan langsung masuk, sampai dengan perlindungan udara. Dihitung juga daya jangkau senjata lintas datar dan senjata lintas lengkung yang bisa mencapai wilayah IKN. Ingat, Lanal kita adalah Tipe C. Berapa jarak tempuh calon IKN dengan pangkalan udara Supadio?” catat Tri Tamtomo.

Tak hanya itu, Tri Tamtomo mengingatkan, bahwa dalam kajian militer IKN baru harus dianalisis tentang strategi ‘escape’, yang menjadi tanggungjawab TNI dan Kementerian Pertahanan. Jika semua strategi escape bisa tercover, maka pihak yang berada di IKN baru akan aman.

“Yang paling utama adalah faktor keamanan. VVIP dan VIP harus dijaga. Kalau ini tercover, maka clear! Ingat, tugas pokok TNI adalah menyelamatkan NKRI, pemimpin besarnya, sampai pemerintahan yang ada di wilayah baru tersebut,” tegas Tri Tamtomo.

Pesan khusus pun disampaikan Tri Tamtomo untuk Panglima TNI dan Menhan agar membuat kajian militer yang spesifik untuk di-compare dengan kajian lainnya terkait IKN. “Kajian militer itu bisa disampaikan kepada Presiden untuk menjadi pertimbangan. Kalau iya, keputusan jalan. Kalau tidak, ini harus dipersiapkan terlebih dahulu. Jadi diminta atau tidak diminta harus memberikan pandangan saran dan pendapat. Keputusan terakhir ada di tangan Presiden,” kata Tri Tamtomo.

Tri Tamtomo juga mengingatkan agar para pejabat di Kemenhan ataupun TNI tidak mengabaikan kajian militer soal IKN. “Karena kalau kita mengabaikan ini, jika suatu saat kita diminta pertanggunganjawab, kita tidak bisa membela diri dan lepas dari tuntutan administrasi pemerintahan. Ini semua akan tersimpan di dalam arsip nasional. Hukum itu berlaku untuk seluruh anak bangsa,” imbau Tri Tamtomo.

Sebagai catatan, Tri Tamtomo menyampaikan kutipan pernyataan Presiden Soekarno yang disampaikan di Konggres AS, Washington DC pada 1956: “Perjuangan kami masih belum selesai.” “Tolong. Kita pindah ibukota, tetapi kewajiban mensejahterakan rakyat sudah selesai atau belum? Dan lainnya juga sudah selesai belum?” pungkas Tri Tamtomo.

Red
Politik Mayjen (Purn) Tri Tamtomo: Abaikan 5 Aspek Militer, IKN Baru Bisa Jadi Killing Ground!