Facebook
Twitter
Instagram
Logo Header  Footer
021-4567890mail@mailcontoh.com
Logo Header  Footer

Mayjen (Purn) Tri Tamtomo Tantang Bintang Dua (Purn) yang ‘Lecehkan’ Alutsista Anak Negeri

Politik
Mayjen (Purn) Tri Tamtomo Tantang Bintang Dua (Purn) yang ‘Lecehkan’ Alutsista Anak Negeri 1
foto: Mayjen (Purn) Tri Tamtomo (ahmad sanusi - itoday.co.id)

itoday - Mantan Ketua Bidang Alih Teknologi dan Ofset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Mayjen (Purn) Tri Tamtomo menyatakan kegeramannya dengan pihak-pihak yang mencoba ‘mematikan’ industri pertahanan (inhan) sekaligus mengabaikan perintah Presiden RI.

Tidak tanggung-tanggung, mantan Pangdam I/Bukit Barisan itu, mengarahkan telunjuk ke purnawirawan “bintang dua” TNI AL. Sang purnawirawan AL itu menyebut kapal selam buatan Korea Selatan jelek, buruk dan tidak layak untuk menjadi salah satu armada tempur TNI AL.

Padahal, seperti diketahui, TNI AL sudah mendapat tiga unit kapal selam hasil kerjasama PT PAL Indonesia dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan. Yakni, KRI Nagapasa-403 (dibangun di Korsel dengan tenaga kerja dari Daewoo), KRI Ardadedali-404 (dibangun di Korsel dengan bantuan tenaga kerja dari PT PAL), dan Alugoro-405 (diproduksi di Surabaya).

Tri Tamtomo mengingatkan, Presiden Joko Widodo juga sudah menginstruksikan bahwa kegiatan industri pertahanan yang sudah dikerjasamakan dengan negara sahabat yang sudah berjalan, supaya dilanjutkan.

“Yang menarik, ini ada pernyataan yang disampaikan oleh anak bangsa, mantan prajurit TNI AL berpangkat bintang dua yang menyatakan kapal selam buatan Korea Selatan jelek, buruk dan tidak layak. Alasannya berisik, sehingga mudah diketahui oleh musuh,” ungkap Tri Tamtomo kepada itoday (28/12/2021).

Mantan sekretaris utama Lemhanas ini pun mengungkapkan kesaksiannya saat mengikuti sea trial KRI Alugoro 405. Saat itu Tri Tamtomo sebagai staf ahli timlak KKIP. “Darimana itu dasar pernyataan jenderal TNI AL itu! Alugoro 405 dari Banyuwangi masuk sebelah utara pulau Bali dengan waktu tempuh 7 jam. Dari jam 10.00 WITA, sampai setelah magrib kita baru kembali. Saya lihat dari buritan sampai ke tempat peluncuran terpedo. Saya hitung ada 8! Dengan berbagai manuver, saya lihat ke tempat teropong, dapur, sampai buntut, tidak ada rembesan air. Padahal dengan menuver lengkap, turun, menukik, datar, menukik sampai dengan naik ke atas. Itu nikmat semuanya! Sampai dengan kita sholat Ju’mat di atas palka tidak ada goncangan. Ini suatu hal yang luar biasa,” beber Tri Tamtomo.

Kepada semua pihak, Tri Tamtomo menegaskan bahwa jika sudah menjadi keputusan politik yang harus dijalankan, jangan dihambat. “Jadi kalau itu sudah menjadi keputusan politik yang harus berjalan, tolong dijalankan. Jangan kita sebagai bagian dari sapu lidi, mengilik-kilik yang bener jadi salah, yang salah jadi bener. Ini keliru! tegas Tri Tamtomo.

Secara tegas, Tri Tamtomo “menantang” jenderal bintang dua TNI AL itu untuk menghapus tudingan yang tidak benar soal kapal selam hasil kerjasama RI-Korea Selatan. “Saya minta orang-orang model seperti ini kalau belum merasakan bagaimana duduk di kapal selam jangan asal komentar. Saya sebagai mantan prajurit TNI, saya minta ini dijawab, dan yang bersangkutan menghapus tudingan tidak benar itu. Saya minta kalau beliau merasa tersinggung tolong komunikasi dengan saya. Jangan Anda mematikan industri pertahanan dan mengabaikan perintah presiden. Kapan kita akan maju?” tegas Tri Tamtomo.

Tak hanya itu, Tri Tamtomo menegaskan, jika industri pertahanan RI mau maju karya anak bangsa jangan dibilang sebagai barang jelek, meskipun baru bisa memproduksi.

“Kapal selam KRI Cakra itu di-overhoul oleh anak bangsa! Panglima TNI menyatakan hasilnya bagus, dan layak untuk berlayar dengan persyaratan tertentu. Jangan sampai kebanggaan kita ini dimatikan, hanya untuk mendapatkan kapal jenis lain yang penggunanya akan kerepotan. Sementara dari bahan baku setengah mati mendapatkannya,” pungkas Tri Tamtomo.

Red

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-QUVYOgOOJ4
Politik Mayjen (Purn) Tri Tamtomo Tantang Bintang Dua (Purn) yang ‘Lecehkan’ Alutsista Anak Negeri